Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Meluapkan dahaga atas nama cinta


__ADS_3

Hari semakin malam, Rasti kembali ke kediaman Aditama ditemani oleh Syamsudin, sedangkan Gunawan diperbolehkan untuk berada di ruang perawatan yang sama bersama sang istri dan sang putri berada di box yang berbeda dan tidak jauh dari ranjang pasien Kiara.


Ini semua permintaan Kenan pada pihak rumah sakit. Kemungkinan, besok pagi Kiara diperbolehkan pulang, karena ia melahirkan secara normal, jadi tidak perlu waktu yang lama untuk menginap di rumah sakit. Namun, Kiara menunggu Gunawan diperbolehkan pulang, karena mereka ingin pulang ke rumah bersama.


“Masih, sakit?” tanya Gunawan saat mereka tengah berbaring bersama di ranjang pasien itu.


Gunawan mengelus bagian sensitif sang istri.


“Ya, masih. Jahitannya pun masih terasa,” jawab Kiara.


“Terima kasih atas perjuanganmu, Sayang.” Gunawan mengecup kening Kiara.


“Kamu sendiri, bagaimana kepalamu? Apa masih sakit?” tanya Kiara.


“Sudah tidak, apalagi melihat Kayla. Aku semakin sehat dan rasanya ingin segera pulang.”


“Tapi sebelum pulang, kamu tetap harus cek untuk memastikan lagi bahwa kondisimu sudah baik-baik saja.”


"Ya, itu sudah pasti,” jawab Gunawan tersenyum manis ke arah Kiara.


Kiara menatap suaminya dan mengusap wajah itu. “Terima kasih, aku tidak menyangka kamu rela berkorban untukku.”


“Kamu juga rela berkorban untuk putriku.” Gunawan mengambil telapak tangan Kiara yang berada di wajahnya, lalu mengecup tangan itu.


“Maaf, Ra. Maaf, kalau dulu aku ..”


Kiara langsung menutup bibir Gunawan dengan jari telunjuknya. “Jangan ingat lagi yang dulu. Sekarang kita harus berjalan ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang. Oke.”


Gunawan kembali mengembang senyum. “Oke.”


“Ya sudah tidur.” Kiara sudah memposisikan dirinya yang tidur terlentang. Sedangkan Gunawan memiringkan tubuhnya ke arah sang istri sembari satu tangannya memeluk perut Kiara yang sedikit masih buncit.


“Sampai kapan kira-kira aku harus puasa?” tanya Gunawan pelan.


Kiara menoleh ke arah sang suami. “Memang kamu sudah bisa melakukan itu? bukannya kepalamu masih sakit.”


“Iya sih, masih agak pusing sedikit.”


“Ya udah sih.” Kiara menepuk paha suaminya yang panjang.


Gunawan pun tertawa. “Baiklah.” Ia mengecup pipi Kiara. “Ayo tidur, karena tengah malam kamu akan bangun untuk menyusui Kayla lagi.”


Kiara tersenyum dan menuruti sang suami untuk memejamkan kedua matanya.


Di tempat yang lain. Hanin baru saja selesai membersihkan diri. Kenan dan Hanin sampai di apartemen beberapa jam yang lalu. Kemudian Kenan yang langsung membersihkan diri di susul sang istri. Kenan sengaja meminta sang ibu untuk tinggal di apartemen itu, karena sudah cukup lama mereka tidak menempati tempat ini.


Keduanya masih belum bicara. Sepanjang perjalanan menuju apartemen ini, mereka masih sama-sama diam. Belum ada satu orang pun yang memulai pembicaraan sejak selesai memakan bakso di restoran rumah sakit itu.


Kenan menatap punggung Hanin yang membelakanginya, karena saat ini Hanin tengah bercermin. Hanin memberikan vitamin pada rambutnya dan mengusap-ngusap rambut panjangnya itu.


Kenan terus menatap punggung mulus Hanin yang terbuka. Rasanya ia tak kuat ingin mengecup dan memakan tubuh itu. Namun, melihat Hanin yang juga tidak mau memulai pembicaraan terlebih dahulu, membuat Kenan meneguhkan pendirian.


Setelah bercermin, Hanin pun berdiri dan hendak melangkahkan kakinya mendekat ke arah Kenan. Kenan menunduk pura-pura membaca buku, karena ia tahu betul bahwa saat ini gerakan kaki Hanin akan menuju ke arahnya.


“Ayo, Sayang! ajak aku bicara duluan,” gumam Kenan. ternyata sikap arogan seorang Kenan masih ada.

__ADS_1


Tetapi langkah Hanin tidak berhenti di depan Kenan. Ia justru msih berjalan lurus melewati tempat Kenan yang sedang duduk di atas ranjang itu. Hanin mendekati pintu kamar dan hendak membukanya.


Sontak keegoisan itu pun runtuh dan Kenan menoleh ke arah Hanin yang akan meninggalkannya sendiri di kamar.


“Kamu mau kemana?” mau tidak mau, Kenan memulai pembicaraan terlebih dahulu.


“Ke dapur, aku haus,” Jawab Hanin santai.


Kenan berdiri dan mengikuti langkah istrinya.


Hanin sampai di dapur, di ikuti oleh Kenan di belakangnya, tanpa suara. Hanin mengambil gelas, begitu pun Kenan. Hanin membuka lemari es dan meminum mengambil botol di dalam sana lalu menuangkannya ke dalam gelas yang ia pegang dan menutup kembali lemari es itu. Sementara Kenan meminum air biasa dan memeperhatikan istrinya sembari menyandarkan tubuhnya pada marmer kitchen set.


Hanin meneguk sedikit minuman itu, lalu berjalan menuju ruang televisi. Kenan mengeryitkan dahi, ternyata Hanin tidak kembali ke kamar mereka. Entahlah, kali ini Hanin pun ingin egois, ia sedang tidak ingin mengalah. Memang ibu hamil mood-nya naik turun.


“Loh, kok kamu malah duduk di sini?” tanya Kenan.


“Aku ingin menonton tivi, kamu saja ke kamar dan tidur lebih dulu,” jawab Hanin tanpa melliat ke arah Kenan.


Rasanya Hanin begitu dingin, tidak pernah Kenan melihat istrinya seperti ini. Rasanya hati Kenan sedih. Ia memang keterlaluan, hingga mendiamkan sang istri seperti ini. Padahal di restoran tadi itu, bukan sepenuhnya kesalahan sang istri. Hanin memang wanita ramah. Dirinya saja yang terlalu possesif.


Kenan mendudukkan diri persis di samping Hanin. Ia sengaja menghadapkan tubuhnya pada tubuh Hanin yang menatap lurus ke layar televisi sembari menekan remot untuk mendapatkan acara yang ia inginkan.


“Kamu kenapa? Dari tadi diam saja.” Tanya Kenan.


“Kamu kan yang diemin aku,” jawab Hanin dengan pandangan tetap mengarah ke arah televisi.


“Harusnya aku yang marah, tapi kenapa kamu yang malah jadi marah?” Kenan menatap wajah Hanin yang tak menatap wajahnya.


Hanin diam dan tetap menekan remot itu. “Ih kok ga ada acara yang bagus sih.” Hanin tetap fokus pada televisi.


“Ih, apaan sih Ken.” Hanin mencoba merebut lagi remot itu.


Hanin masih mengejar remot itu, hingga tanpa sengaja memeluk tubuh Kenan untuk mendapatkan remot yang berada di belakang tubuhnya.


“Kalau orang lagi ngomong tuh, lihat lawan bicaranya,” ucap Kenan lagi.


Hanin menarik nafasnya kasar dan berhadapan dekat dengan sang suami. “Kamu nyebelin.”


Hanin menghepaskan tubuhnya bersandar pada punggung sofa. Ia pun bergeser agar sedikit menjauh dari Kenan.


Kenan tersenyum melihat ekspresi istrinya. Ternyata, Hanin juga bisa bersikap egois. Wanita itu, ternyata lebih kuat mendiamkan dirinya. Sedangkan, Kenan tidak akan sanggup seperti itu, walau sebenarnya ia pun pria egois dan arogan.


Kenan mendekati Hanin, hingga tubuhnya menempel pada tubuh sang istri. “Ternyata kamu kuat juga ngediemin aku.”


“Tergantung,” jawab Hanin menggantung.


“Tapi aku ngga kuat ngediemin kamu lama, Sayang.”


Hanin lansung menoleh ke arah Kenan.


“Habis kamu nyebelin, Ken. Masa’ begitu aja cemburu sih. Terus ngediemin aku,” ucapnya kesal.


“Itu karena aku sangat mencintaimu, Sayang.”


“Tapi ngga gitu juga, Ken.”

__ADS_1


“Coba kalau aku seperti itu, sama perempuan lain. emang kamu ngga cemburu,” sahut Kenan, membuat Hanin terdiam.


Hanin hanya mengerucutkan bibir. Sebenarnya, ia pun wanita pencemburu. Mungkin, ia pun akan cemburu melihat Kenan berbincang dan bersenda gurau dengan perempuan lain, walau kecemburuan itu tidak ia tampakkan.


“Kamu cemburu juga kan? Karena kamu juga sangat mencintaiku,” ucap Kenan lagi.


“Ih, narsis.” Sahut Hanin.


“Biarin narsis. Hmm ..” Kenan menekan sedikit pinggang Hanin dengan jari telunjuknya, membuat tubuh Hanin tersentak geli.


“Ken geli,” teriak Hanin di iringi tawa karena Kenan melakukan berulang.


“Biarin, siapa suruh bikin orang kesel,” ucap Kenan sembari tertawa.


“Kenaaan.” Suara Hanin berteriak hingga melengking nyaring. “Ken Ken jelek.”


Mereka tertawa dengan tangan Kenan yang terus menggelitiki istrinya.


“Kenan, stop! Aaaa... Aw hahahaha...” Hanin tertawa dan Kenan terlihat puas menjahili istrinya.


Lalu, Kenan memeluk tubuh Hanin yang tengah tersengal-sengal karena tawanya tadi.


“Ken, neyebelin banget sih.” Hanin lemas.


“Biarin. Itu baru hukuman pertama.” Kena tertawa puas.


“Memang ada hukuman kedua?” tanya Hanin menoleh ke arah suaminya.


“Tentu saja.” Kenan menaik turunkan alisnya.


Hanin kembali lemas. Ia tahu bentuk hukuman kedua itu.


“Ken,” panggil Hanin lirih.


“Apa, sayang?” Kenan tersenyum sembari mempersiapkan kuda-kuda untuk menggendong istrinya dan membawa ke tempat peraduan mereka.


“Kamu ngga capek?” tanya Hanin yang sudah berada dalam gendongan sang suami.


Hanin meengalungkan tangannya pada sang suami dan mencoba bernegosiasi.


“Ngga.” Kenan menggeleng sembari tersenyum.


“Capek dong," ucap Hanin, membuat Kenan menoleh ke arah istrinya dan tersenyum.


“Orang ngga capek, di suruh capek.” Kenan pun tertawa.


“Kamu lelah butuh istirahat, Ken.” Hanin masih bernegosiasi untuk bisa langsung tidur tanpa adanya ritual itu terlebih dahulu.


Kenan mendudukkan istrinya di atas ranjang.


“Ya, aku memang butuh istirahat. Dan istirahatku adalah menjelajahi tubuhmu.”


“Kenaaaaan ...” teriak Hanin lagi.


Namun, Kenan tak menghiraukan suara lengkingan itu. Ia tetap menindih tubuh sang istri dan memulai ritual malam panjang yang penuh dengan nikmat. Meluapkan dahaga atas nama cinta.

__ADS_1


__ADS_2