
Sore itu, Riza pun langsung kembali ke apartemen, setelah meninggalkan Vanesa di sana hingga jam pulang kerja tiba.
Riza sampai di apartemen dan membuka pintu itu. Ia melihat Vanesa yang berdiri di hadapannya. Vanesa yang memang selalu menggunakan pakaian sexy itu pun, saat ini tengah mengenakan kemeja panjang Riza tanpa bawahan dan dua kancing bagian atas kemeja sengaja dilepas.
“Bagus, kamu mengurungku di sini seharian,” ucap Vanesa sinis.
Riza melewati Vanesa dan membantingkan dirinya di sofa.
“Terpaksa, aku lakukan ini. Daripada kamu berkeliaran tidak jelas.”
“Tidak jelas. Apa maksudmu? Hah!” tanya Vanesa berteriak sembari berjalan mendekati Riza. “Maksudmu aku wanita tidak jelas yang mudah melakukan one night begitu? Brengs*k!”
Vanesa bicara persis di depan wajah Riza.
“Aku tidak bicara seperti itu. Justru, saat ini aku sedang menyelamatkanmu,” jawab Riza santai.
“Menyelamatkanku atau memanfaatkanku? Hah!” Vanesa kembali berkata dengan nada tinggi persi di depan wajah Riza. Ia menaiki sofa dengan emosi dan menindih tubuh Riza yang tengah duduk.
“Kamu marah atau ingin mengulang tadi malam?” tanya Riza dengan seringai licik.
Vanesa pun langsung bangun dan berdiri menhindari pria itu. Riza tersenyum ke arah Vanesa. Sungguh, ia rindu wanita ini. walau semula ia sempat melupakan Vanesa setelah kehadiran Hanin beberapa waktu di kantor itu.
Riza bangkit dan Vanesa segera menghindar, karena Vanesa pikir, Riza akan mendekatinya atau menciumnya. Ternyata Riza memang benar-benar akan berjalan melewati Vanesa saja dan beralih ke dapur, karena tenggorokannya terasa kering. Namun, Riza brhenti sejenak dan menepuk b*k*ng Vanesa.
“Aww, kurang ajar.” Vanesa mengikuti langkah Riza dengan cepat dan menarik tangan pria itu.
“Hei, keluarkan aku dari sini. Aku ingin pulang,” teriak Vanesa lagi.
Riza menoleh ke arah Vanesa. “Aku tahu kamu sedih. jadi istirahatlah di sini.”
“Ngga. aku mau pulang Riza. Daddy pasti sudah mencariku,” rengek Vanesa.
“Di luar tidak aman. Kamu sedang di buru wartawan. Hari ini, tunanganmu ... ups sorry maksudku mantan tunanganmu mengumumkan pernikahannya di media. Dia juga memperkenalkan istrinya tadi di kantor,” ucap Riza santai, sembari membuka lemari es dan mengambil air mineral di sana.
“Kamu bekerja di perusahaan Kenan?” tanya Vanesa tak percaya.
__ADS_1
Pasalnya, ia hanya sekali dua kali menginjakkan kakinya ke perusahaan eksport milik Kenan di kota ini. Kalau pun ia ke kantor itu, ia tak pernah sekali pun berpapasan dengan Riza di sana. Dan, biasanya Kenan menyuruhnya menunggu di hotel, ketika Kenan berada di kantor ini.
Riza mengangguk.
“Kenapa?” tanya Vanesa lagi.
“Hanya ingin mengenal pria yang selalu kamu puja itu, lebih jauh. Ternyata dia cukup gentlement.” Riza meneguk air mineral itu dan meletakkannya di atas meja kitchen set.
Vanesa terdiam. Ia tak mampu berkata-kata. Ternyata pria yang selalu ia puja, tidak lagi bisa ia miliki.
“Sudahlah, Van. Sejak dulu, Kenan memang hanya menganggapmu sahabat. Kau saja yang terlalu memujanya.”
Riza kembali menghampiri beberapa makanan yang ada di atas kitchen set itu. ia membuka satu persatu mangkok yang tertutup.
“Kamu buat makanan untukku?” tanya Riza.
“Cih, buat apa? Memang aku istrimu.”
Riza tersenyum. “Mungkin, sebentar lagi.” Ia mendekati Vanesa dan berdiri berhadapan tanpa jarak.
Riza yakin, selama Vanesa berpacaran dengan Kenan, Kenan tidak akan menyentuh mantan pacarnya itu, karena Riza tahu betul sosok Kenan yang dingin dan workaholic. Berbanding terbalik dengan Vanesa yang maunya di perhatikan dan manja. Vanesa bukanlah tipe wanita yang disukai Kenan.
“Dasar, kurang ajar!” gerutu Vanesa dengan menggertakkan kakinya dan berjalan mengikuti Riza.
****
Di kediaman James, Alin menelepon salah satu temannya yang merupakan produser program berita-berita selebriti.
“Halo, Jeng.” Alin bersuara, ketika panggilan telepon itu di angkat.
“.....”
“Jeng, ada hot news tentang keluarga Jeng Rasti.”
“.....”
__ADS_1
“Iya, benar. Aku mau membocorkan rahasia besar keluarga itu. tentang skandal Kiara, putri bungsu Jeng Rasti.”
Lalu, Alin menceritakan semua skandal itu, termasuk siapa Hanin dan apa motif Kenan menikahi wanita itu.
“Jadikan ini trending topik, besok pagi ya Jeng! Pokoknya hotline news. Suami saya akan mentrasfer uang ke rekeningmu.” ucap Alin tertawa, bersama James di sampingnya.
Orang yang di sana pun setuju. Kemudian, Alin menutup telepon itu dengan senyum merekah, diiringi senyum menyeringai dari suaminya.
Semula, skandal itu memang benar adanya, tapi kini semua telah berubah. Kiara dan Kenan sudah menyadari kesalahannya dan memulai mendapatkan cinta. Namun, orang-orang yang merasa tersakiti akibat ulah ‘K’ bersaudara itu, membuat mereka harus berjuang dahulu untuk meraih kebahagiaan nanti.
Ting
Tiba-tiba ponsel James berbunyi, terlihat ada pesan balasan dari sang putri.
“Vanesa, Mom,” kata James membuka ponselnya.
Alin langsung menggeserkan tubuhnya agar lebih dekat pada suaminya dan ikut membaca pesan itu.
“Sorry, Dad. Nesa baru memberi kabar. Nesa baik-baik saja. Saat ini, Nesa sedang berada di rumah teman. Mungkin Nesa akan lama di sini, karena menghindari wartawan yang akan menanyakan perasaan Nesa karena pernyataan Kenan itu.”
James dan Alin ikut sedih. Sedari sore pun memang kediamannya di buru oleh banyak wartawan yang ingin menemui putrinya. Untung saja, rumah James menyediakan banyak petugas keamanan, yang memudahkan para wartawan itu untuk pergi dari depan rumahnya.
Lalu, James menggoyangkan jarinya di atas keypad ponsel itu untuk membalas pesan sang putri.
“Tenang, Sayang. Daddy telah membalas apa yang telah Kenan lakukan hari ini. Besok para wartawan itu tidak lagi mengejarmu, tapi mengejar kediaman Kean.”
Di sana, Vanesa pun sedang memegang ponselnya. Seketika pesan dari sang ayah langung ia baca dan segera di balas.
“Daddy mengatakan skandal Kiara ke media?”
James membaca balasan itu.
“Jangan salahkan Daddy! Putra Kean sendiri yang memulai genderang ini. Kamu tahu, Daddy pantang untuk di tantang.” Balas James.
Vanesa membaca balasan dari sang ayah. Ia tak menyangka hubungan yang begitu harmonis antara keluarganya dengan keluarga Kenan. Kini harus berakhir tragis. Tanpa Vanesa sadari, semua itu berawal dari obsesinya yang membuta.
__ADS_1