
Rea mengerjapkan mata dan melihat ke arah tangan yang sedang melingkar di pinggangnya. Ia mengusap wajahnya seraya menutup mata. Akhirnya, ia resmi menjadi milik om mesum ini. Pria yang selalu membuatnya jengkel, kini adalah suaminya dan yang telah mengambil sesuatu yang Rea jaga setengah mati.
Di kala teman-teman sekolahnya melepaskan kehormatan itu pada kekasihnya masing-masing, Rea bersikukuh memegang prinsip untuk tidak melakukan hal yang sama, walau teman-temannya mengatakan dirinya kolot, tapi biarlah, ia memegang janji pada kedua orang tuanya dan ia juga ingin menjadi sosok yang panut untuk di contoh kedua adiknya.
Perlahan, Rea memindahkan tangan Vicku dari pinggangnya. Ia berusaha bangkit untuk duduk dan bersandar pada dinding ranjang.
“Ssshh ... Ah,” Rea sedikit merintih saat menggerakkan tubuhnya.
Rasa nyeri di bagian kewanitaannya itu masih terasa. Tubuhnya pun masih lemas karena kelakuan Vicky yang terus menerus menggunakannya. Tapi, sepertinya ia pun menikmati pergulatan semalam, karena setelah ronde selanjutnya Rea justru malah memasang diri untuk disentuh.
Rea kembali menutup wajahnya pada kedua tangan. Ia menggelengkan kepala kala mengingat malam itu. Seketika wajahnya bersemu merah, saat ia ingat bahwa dirinya mengangguk ketika Vicky bertanya "enak?”
Kemuidna, perlahan ia membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya tadi. Dan ternyata, wajah Vicky sudah berada tepat di depan wajahnya.
“Ah, Om. Ngagetin.”
Vicky tersenyum. “Kenapa wajahmu merah begitu?”
Rea menggeleng. “Ngga apa-apa.”
Rea mencoba beranjak dari ranjang itu, tapi dengan cepat Vicky memeluk pinggangnya yang polos dari bawah selimut. Kepala Vicky tepat berada di baah dua gunung kembar Rea yang kenyal.
Lalu, kepala Vicky naik dan ******* p*ting Rea yang menantang dengan satu tangannya lagi meremas bagian sebelahnya.
“Om, ah.” Lenguhan Rea terdengar merdu, membuat Vicky semakin berhasrat. “Om, udah. Aku mau lihat Thia dan Nisa di luar. Mereka pasti belum sarapan.”
Sontak Vicky melepaskan mulutnya dari benda kenyal yang kini akan menjadi candunya itu.
“Oh, ya ampun. Sekarang hari senin ya?” tanya Vicky.
Rea mengangguk sembari menjepit selimut di kedua ketiaknya untuk menutupi tubuh polos itu.
“Sekarang jam?” Vicky bertanya dan langsung melihat jam di dinding itu. “Ya ampun sudah jam sembilan.”
Rea ikut menoleh ke arah jam dinding. Pagi ini banyak yang telah ia lewatkan karena pergulatan itu. “Thia dan Nisa pasti sudah berangkat.”
“Iya, sudah siang,” jawab Vicky yang kemudian merebahkan tubuhnya kembali.
“Kamu ngga kerja?” tanya Rea pada suaminya.
Vicky kembali memeluk Rea. “Ngga, aku sengaja cuti dua hari karena ingin menghabiskan waktu denganmu.”
“Apan sih, Om.” Rea menggoyangkan tubuhnya, agar Vicky tidak bergelayutan manda pada tubuhnya.
Vicky tersenyum. “Semalam kamu liar juga, Sayang.”
Wajah Rea kembali bersemu merah. “Udah jangan diingat!”
Vicky semakin gemas. Ia menempatkan wajahnya tepat di depan wajah Rea. Lalu mengleus rambut dan pipi mulus itu. keduanya masih duduk di atas ranjang.
“Terima kasih ya, Sayang. Kamu telah memberikan sesuatu yang berharga itu untukku.”
“Karena, Om maksa.” Rea cemberut. Sementara Vicky tertawa.
“Abis kalau ngga maksa, ngga bakalan dapet.”
Rea memonyongkan bibirnya.
Kemudian, tangan vicky beralih pada bagian kewanitaan yang berbalut selimut tebal. “Di sini masih sakit?”
__ADS_1
Rea mengangguk.
“Maaf.” Vicky mengecup kening, pipi, dan bibir itu sekilas. “Tapi kamu benar-benar bikin aku candu.”
Tangan Vicky kembali bergerilya, meremas dada Rea bergantian.
“Ah, Om. Udah. Kita belum sarapan.” Darah Rea kembali berdesir hanya dengan satu sentuhan.
“Tapi aku mau sarapan kamu dulu, sekali aja.”
“Om ....” rintih Rea sembari merasakan tangan Vicky yang sudah menari di bagian kewanitaannya lagi dengan lembut.
“Om,” panggil Rea dengan mata yang mulai sayu dan menggingit bibir bawahnya.
Lalu, Vicky mencium bibir itu, menggantikan gigi Rea yang semula menggigitnya.
“Mmpph ... Oh, Om.”
“Panggil aku Mas, Sayang.”
“Om, ah. Please!” Tangan dan bibir Vicky semakin intens di tempatnya masing-masing.
“Aku bilang, panggil aku Mas, Sayang. kalau tidak akan aku buat kamu tersiksa seperti ini terus.”
Lalu, Vicky menurunkan kepalanya hingga ke dada Rea dan kembali melanjutkan aktifitas yang sebelumnya ia lepas tadi.
“Mas,” rintih Rea lagi, karena sensasi ini semakin menggila. “Mas, Please.”
“Please, apa sayang?”
“Langsung ke intinya aja, Mas. Aku udah ngga .. Eum ...”
Lalu, mereka kembali melakukan olahraga pagi. Setelah semalam, olahraga itu pun sudah mereka lakukan hingga menjelang subuh, tetapi rupanya tidak menyurutkan gelora yang tengah melanda kedua insan ini.
Vicky bagai singa lapa yang bertahun-tahun tidak makan, sedangkan Rea seperti orang yang baru mencicipi makanan terlezat dan ingin mengulang makanan itu lagi.
Syukurnya, mereka sudah menghalalkan hubungan ini, sehingga apapun yang mereka lakukan sah sah saja. Vicky benar-benar sudah bertobat. Ia ingin mengikuti jejak kedua temannya yang bahagia dengan menikah, memiliki seseorang yang menemani di saat suka dan duka, karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan teman hidup untuk menemaninya dalam menjalani hidup. Ia berharap Rea segera hamil dan melahirkan buah hati untuknya sebagai pelengkap kebahagiaan mereka, juga untuk mengikat Rea karena seorang wanita pasti akan semakin luluh dengan hadirnya buah hati.
****
Tepat pukul dua belas siang, Vicky hendak pamit pada Rea untuk keluar rumah dan menjemput Nisa. Sebelumnya, Ia juga sudah bertemu ketua rukun tetangga di rumah Rea untuk memperkenalkan diri sebagai suami Rea sekaligus memperlihatkan kertas yang menyatakan mereka telah menikah, agar tidak terjadi fitnah. Vicky mendatangi kediaman pemuka warga itu juga untuk meminta beberapa tanda tangan dari mereka sebagai syarat mengurus surat-surat resmi pernikhannya ke kantor urusan agama.
“Kamu beneran ngga mau ikut?” tanya Vicky.
Rea menggeleng. “Ngga, Mas. Aku mau kerjain tugas kuliah yang belum selesai, tinggal satu lagi. Besok terakhir dikumpulin karena mau libur semester.”
“Baiklah, kalau begitu aku tinggal ngga apa-apa ya.”
Rea mengangguk dan tersenyum. “Iya, ngga apa-apa.”
Vicky mencium pipi dan kening Rea dengan tetap meemgang wajah cantik itu. “Mau dibawain makan siang apa?”
“Apa aja, bareng sama yang Nisa mau,” jawab rea tersenyum.
Kini, ia tidak bisa lagi galak pada pria ini karena Vicky terlihat begitu tulus menyayangi kedua adiknya. Pantas saja Thia dan nisa juga kekeh menjodohkan dirinya dengan pria ini.
“Ya udah nanti aku bawain.” Vicky kembali mengecup kening Rea dan bibir itu sekilas. “hati-hati di rumah sendirian.”
“Iya.”
__ADS_1
Lalu, Vicky keluar dari rumah itu menuju sekolah Nisa. sebenarnya sekolah Nisa dan Thia berdekatan, hanya saja Thia pulangnya lebih sore, sehingga Vicky harus kembali pulang terlebih dahulu setelah menjemput Nisa.
Baru lima belas menit Vicky pergi. Ternyata di luar ada yang mengetuk pintu rumah itu.
Tok ... Tok ... Tok ...
“Ck, apa sih Mas. Pasti ada yang ketinggalan ya?” tanya Rea, karena pikirnya itu adalah Vicky.
Rea berjalan malas ke arah pintu itu.
Ceklek
Saat pintu ia buka, Rea melihat Papa dan Mama Attar.
“Mama ... Papa ...”
“Boleh kami masuk, Re?’ tanya Mama Attar.
Rea mengangguk dan membuka lebar pintu itu. Ia juga mempersilahkan kedua orang tua Attar untuk duduk.
“Sebentar, Ma, Pa. Rea buatka minum.”
“Tidak perlu Rea. Mama dan Papa hanya sebentar. Kami hanya ingin mendengar jawaban darimu langsung,” ujar Mama Attar dengan wajah yang tidak bersahabat.
Tidak pernah, Rea melihat wajah Mama Attar yang seperti ini. begitu juga Papa Attar yang biasanya ramah, sekarang terlihat dingin.
“Kata Attar kamu sudah menikah. Apa itu benar?” tanya Mama Attar to the poin.
“Ma, Rea bisa jelasin ini.” Rea yang duduk di samping Mama Attar mencoba memegang tangan wanita paruh baya itu.
Namun, tangan Rea langsung ditampik oleh Mama Attar. “Kamu tega sekali, Re. Ini balasan dari kamu atas kebaikan kami.”
Rea menggeleng. “Tidak begitu, Ma.”
“Kamu mengkhianati Attar,” ujar Papa Rea.
Rea kembali menggeleng. “Tidak, Pa. Tidak begitu. Justru Kak Attar yang sudah mengkhianati Rea.”
“Terus kamu membalasnya? Seharusnya kalian bicarakan baik-baik dulu, bukan tiba-tiba menikah seperti ini,” jawab Mama Attar.
“Lagi pula, kalau kalian langsung menikah berarti kamu sudah lama menjalin hubungan dengan pria itu. atau mungkin sebenarnya kamu yang lebih dulu mengkhianati Attar. buktinya kalian secepat ini menikah,” sambung Papa Attar.
“Atau kamu sudah hamil dengan pria itu?” tanya Mama Attar dan menuduh Rea dengan kejam.
Rea kembali menggelengkan kepalanya. “Tidak Ma, Pa. Tidak seperti itu. Mama tolong. Rea bukan wanita seperti itu.”
“Lalu apa? Sudah menjadi tunangan orang, berani menerima lamaran orang lain bahkan sudah menikah dengan orang itu. Mama benar-benar kecewa Rea.”
“Ya, Papa juga. kamu mempermalukan kedua orang tuamu. Kalau mereka masih hidup, pasti emreka juga kecewa padamu.”
Mama dan Papa Attar terus memojokkan Rea, hingga Rea tak tahan dan menangis.
“Tidak seperti itu, Ma. Pa.” Rea bingung harus mulai menjelaskan darimana, karena ia pun terkejut ketika terbangun dan harus di dandani pengantin, lalu saat keluar dari kamar tiba-tiba ia telah sah menjadi istri om mesum itu.
Vicky dan Nisa sudah berada di dalam mobil. Mereka masih berada di jalan.
“Kita kemana, Om? Beli makan siang dulu ya?” tanya Nisa antusias, karena perutnya memang sangat lapar.
“Kita pulang dulu aja ya. Kok Om Vicky rasanya tidak tenang meninggalkan kakakmu sendiri di rumah. Nanti kita ke restoran bareng sambil nunggu Kak thia pulang terus jemput dia.”
__ADS_1
Nisa langsung mengangguk. “Oke.”