Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Airmata terakhir


__ADS_3

Kenan dan Hanin tengah menikmati makan malam bersama Rasti.


“Ken, kamu akan tinggal di sini ‘kan?” tanya Rasti, menghentikan sejenak tangannya yang sedari tadi menyuapkan makanan itu ke mulut.


Kenan pun meletakkan sendoknya. Ia menoleh ke arah sang istri, yang mulutnya tengah menggelembung karena isi di dalamnya yang belum tertelan.


“Bagaimana, Sayang?” tanya Kenan.


Hanin menutup mulutnya untuk menelan makanan yang sudah terlanjur berada di dalam. Sementara mata Rasti dan Kenan tertuju padanya untuk mendapatkan jawaban. Hanin belum menjawab dan sesegera mungkin, ia menelan makanan yang ada di mulutnya itu, membuat Rasti tersenyum dan Kenan pun demikian.


Rasti ingin sekali tertawa, tapi ia menahan dengan menutup mulutnya. Ternyata, ayah dan anak memiliki selera yang sama. Ia teringat saat baru berada di rumah ini, kelakuannya tidak jauh berbeda dengan Hanin sekarang. Hanya saja, semakin lama, ia terlatih untuk bisa tampil elegan, hingga menjadi seperti saat ini.


“Maaf,” ucap Hanin, setelah makanan yang ada di dalam mulut itu tertelan.


“Minum dulu.” Kenan menyodorkan gelas yang berisi air putih.


Hanin tersenyum dan menerima minumn itu. Sungguh, Kenan semakin gemas dengan kelakuan sang istri, membuatnya ingin menerkam lagi. Apalagi sejak tadi pagi, ia belum memakan bibir ranum itu.


“Aku ingin menemani Mami di sini,” kata Hanin, setelah menghabiskan air yang Kenan berikan tadi.


“Kamu tidak keberatan?” tanya Kenan lagi, pada istrinya.


Hanin tersenyum dan menggeleng. “Tentu tidak. Aku malah senang, karena jadi tidak bosan sendirian pas kamu tinggal ke kantor.”


Kenan tersenyum. “Syukurlah, kalau begitu.”

__ADS_1


Sebelumnya, Kenan memang akan tinggal di apartemen miliknya, karena ia menginginkan sebuah privasi. Ia juga menghargai sang istri, yang mungkin menginginkan privasi dalam rumah tangganya.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Rasti pada Kenan dan Hanin dengan arah mata tertuju pada keduanya bergantian.


Setelah selesai makan malam bersama, mereka pun berbincang sejenak. Rasti menanyakan kabar Kiara pada Kenan. Namun, seperti biasa, Kenan pasti menutupi semua hal buruk pada sang ibu mengenai adiknya. Ia akan menjawab semuanya baik-baik saja. Walau, Kenan pun masih belum tau firasat buruknya tentang sang adik itu benar atau tidak.


Di rumah Gunawan. Kiara terbangun dengan tubuh yang remuk, bagian intinya pun terasa perih. Namun, perutnya tak lagi sakit. Ia menatap ke samping dan melihat sang suami masih terlelap. Ia lupa belum menyelesaikan makanan untuk makan malam, karena Gunawan langsung mengajaknya ke kamar ini dengan paksa.


Dret .. Dret ... Dret


Ponsel Kiara berbunyi. Perlahan, Kiara berjalan mendekati ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Ia melihat pesan dari Vicky.


“Ra, Kamu baik-baik saja?”


“Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih. Mulai sekarang, tidak perlu mengkhawatirkan aku, karena aku sudah kembali pada suamiku. Kami akan memulai semuanya dari awal.”


Seketika airmata Kiara luruh lagi. Kali ini, ia tidak ingin meminta bantuan pada sang kakak. Ia akan menelan sendiri kepahitan ini. Ia menerima konsekuensi atas apa yang ia lakukan sebelumnya, karena Gunawan juga tidak akan melepaskannya begitu saja. Biarlah, ia menanggung semua resiko ini sendiri, tanpa mengeluh lagi.


“Ini airmata terakhir, Kiara. Mulai sekarang ga boleh cengeng. Oke!” gumam Kiara pada dirinya sendiri.


“Kamu juga pasti kuat.” Kiara kembali berkata pada dirinya sendiri sembari mengelus perut yang usianya sudah memasuki dua belas minggu.


Kiara beralih ke kamar mandi. Ia membersihkan bagian sensitifnya sembari meringis. Kini, ia sudah tidak memiliki hati untuk siapa pun, ia hanya mengikuti alur hidupnya saja. Mungkin, ini memang hukuman atas dosa yang telah ia lakukan dan ia menerimanya dengan pasrah.


Selesai membersihkan diri, ia beralih ke dapur.

__ADS_1


“Non,” sapa si Bibi, saat Kiara sudah berada di dapur.


Kiara tersenyum. “Tadi, saya belum menyelesaikan masakan untuk makan malam, Bi.”


“Oh, ini sudah saya teruskan sedikit, Non. Saya tidak berani memasak, karena Bapak hanya ingin masakan buatan, Non Kiara.” Si Bibi menunjuk ke arah sayuran dan bahan-bahan makanan yang sudah ia potong rapih beserta bumbunya.


Kiara kembali tersenyum. “Terima kasih, Bi.”


Kemudian, Kiara memulai menumis masakan itu.


Gunawan terbangun. Aroma masakan itu tercium, hingga kamar. Aroma masakan yang Gunawan sukai. Gunawan masih terduduk di atas tempat tidur itu. Ia menekuk lututnya dan menopangkan kedua tangannya pada lutut itu. Ia mengusap wajahnya kasar, saat mengingat betapa kasarnya perlakuan dirinya tadi pada sang istri. Ia masih mengingat dengan jelas rintihan itu.


Perlahan, Gunawan beranjak dari tempat tidur itu dan beralih ke kamar mandi. Ia membersihkan diri, lalu beralih ke dapur. Perutnya sudah sangat lapar.


Kaki Gunawan menuruni anak tangga itu perlahan. Ia melihat sang istri yang tengah menata makanan di meja makan. Tidak terlihat kesedihan di raut wajah Kiara. Wanita itu tampak biasa saja, padahal baru beberapa jam yang lalu, ia menyiksa wanita itu.


Gunawan mendekati Kiara dan berdiri sambil memegang kursi meja makan itu. Kiara menoleh ke arah sang suami dan tersenyum.


“Ayo makan, Mas.”


Senyum Kiara, membuat hati Gunawan teriris. Wanita ini, memang mampu memporak-porandakan hati Gunawan. Wanita ini yang membuat hati Gunawan hancur, sedih, dendam. Namun, sekaligus perih dengan melihat sikapnya yang seolah tidak tersakiti, padahal ia pun merasa sudah sangat menyakiti wanita ini.


Gunawan menarik kursi dan duduk di sana. Kiara tetap melayani sang suami dengan mengambil piring dan mengisi semua lauk pauk di dalamnya, seperti dulu.


Mereka pun, makan bersama dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2