
Hanin menata makanan yang baru saja ia masak ke dalam tempat makan berwarna ungu. Pagi ini, Kenan tidak sempat sarapan, karena selain sang suami yang memang terburu-buru karena ada pertemuan, kebetulan mereka pun bangun kesiangan.
Keduanya terlalu menikmati hukuman itu, hingga akhirnya mereka bangun kesiangan dan tidak menyadari alarm yang sudah berbunyi berkali-kali.
Hanin tersenyum melihat hasil tata-an makanan yang ada di dalam sana. “Perfect.”
Lalu, Ia pun mengingat lagi keriwehan pagi tadi, karena terburu-buru Kenan memakai celana panjangnya sembari menggosok gigi. Hanin pun ikut turun tangan memakaikan kemeja sang suami karena tangannya sibuk menerima telepon dari Vicky. Kemudian, saat memakai kaos kaki, entah mengapa kenan mengambil kaos kaki yang salah, padahal Hanin sudah menyiapkan sepasang di tempat itu. Alhasil Kenan memakai kaos kaki yang berbeda warna di kaki kanan dan kirinya.
Hanin terkekeh geli kala mengingat itu. “Hubby, kamu tuh lucu banget.” Gumam Hanin sembari menarik nafasnya kasar. Ia ingat betapa bencinya ia dulu kepada Kenan. Tapi kini, ia sangat mencintai pria itu.
Hanin yang sudah rapih dengan memakai dres berwarna cerah itu, pamit pada Bi Lastri dan hendak meninggalkan apartemen. Ia berjalan menuju lobby karena Kenan sudah menyiapkan supir kantornya untuk menjemput sang istri.
Di dalam mobil, Hanin mendial nomor suaminya untuk memastikan bahwa sang suami sudah berada di kantor saat ini.
“Halo, Sayang,” jawab Kenan, setelah mengangkat panggilan telepon Hanin.
“Halo. Kamu sudah di kantor.”
“Sudah,” jawab Kenan.
“Di sana kamu belum makan kan?” tanya Hanin, karena sebelumnya Kenan memang melakukan pertemuan di sebuah hotel dengan rekan bisnisnya.
“Belum. Aku sengaja menunggu makananku datang.”
“By,” rengek Hanin yang mengira sebutan makanan yang Kenan katakan bermakna tanda kutip.
“Iya, kan aku memang sedang menunggu makanan buatanmu datang.”
“Oh, aku kira makanan yang lain.”
Kenan tertawa geli. “Memang makanan apa yang ada di pikiranmu?”
Hanin menggelengkan kepalanya. “Ngga ada.” Sungguh ia merasa malu.
“Dasar mesum,” ucap Kenan tersenyum.
“Ish, itu karena kamu.”
Kenan kembali tertawa. “Ya sudah hati-hati di jalan. Aku menunggumu, menunggu makananku.”
__ADS_1
“Nyebelin.” Hanin merengutkan bibir, lalu menutup telepon itu.
Di sana, Kenan masih mengembang senyum sembari meletakkan ponsel yang baru saja ia gunakan. Ia membayangkan wajah Hanin yang pasti sedang cemberut karena ulahnya tadi. Lalu, ia pun menggelengkan kepalanya. Sungguh ia tak menyangka akan mencintai sang istri sebesar ini, padahal dulu ia begitu membencinya.
Tok Tok Tok
Pintu ruangan Kenan di ketuk oleh sekretarisnya.
“Masuk,” ucap Kenan.
Lalu, Siska langsung membuka pintu itu. “Maaf Pak, saya mengganggu.”
“Ada apa?” tanya Kenan.
“Di bawah, bagian resepsionis menelepon. Katanya ada seorang wanita mencari bapak.”
“Siapa?” tanya Kenan.
“Namanya Misya, Pak. Katanya teman baik Bapak.”
“Bilang saya sedang tidak ada di kantor,” jawab Kenan.
Kenan menarik nafasnya kasar. Ia mulai mempertimbangkan kata-kata Vicky kemarin. Sepertinya, ia memang harus membatasi kedekatannya dengan Marcel dan mencoba menghindari Misya, karena sepertinya Misya memang sengaja ingin mendekatinya, padahal wanita itu tahu bahwa saat ini ia sudah memiliki istri. Entah apa karena Rasti pernah mengatakan bahwa dulu ia pernah menyukai wanita itu, sehingga wanita itu menjadi penasaran.
“Bilang saja, hari ini saya tidak ada di kantor. Supaya wanita itu tidak datang lagi.”
Siska mengangguk. “Baik, Pak.” Lalu ia kelaur meningglkan ruangan itu.
Kenan tak menyangka Misya akan seagresif ini. Padahal yang ia tahu, Misya dulu tidak seperti ini. Kenan semakin bersyukur karena ia tak meneruskan rasa kagumnya itu pada Misya dulu, karena ternyata Misya bukanlah wanita yang patut untuk dikagumi. Sedangkan Kenan, tipe pria yang tidak suka di kejar wanita.
Di mata Kenan, secantik apapun seorang wanita, jika dia terlalu agresif maka hilang sudah kesan indah dimatanya untuk wanita itu. Namun berbeda dengan sang istri. Di mata Kenan, semakin Hanin agresif, maka terlihat semakin sexy dan menggemaskan, membuatnya selalu ingin cepat pulang ke rumah.
Di lobby, Misya keluar dari gedung ini dengan lesu. Ia ingin bertemu Kenan dengan alasan hendak mengucapkan terima kasih karena Kenan telah berkenan menemani putranya ke acara itu. Misay pun sudah membawa makanan kesukaan Kenan dulu.
Setelah Misya keluar dari gedung itu, mobil Hanin pun tiba. Mobil sedan eropa keluaran terbaru itu berhenti tapat di pintu lobby. Petugas keamaan disana langsung membuka pintu mobil penumpang. Semua karyawan di sana tahu, mobil sedan itu milik sang pemilik gedung ini.
“Siang, Bu,” ucap petugas keamanan yang berjaga di depan pintu lobby itu.
“Siang.” Hanin membalas senyum karyawan suaminya itu.
__ADS_1
Sepanjang jalan mnuju ruangan sang suami, Hanin di sapa dengan hormat. Hanin pun ikut menundukkan sedikit kepalanya sembari tersenyum kepada mereka.
“Istri Pak Kenan cantik ya,” ujar salah satu karyawan di sana.
“Iya, ga sombong lagi,” sahut salah satunya lagi.
Hanin mendengar sedikit perkataan demi perkataan yang tertuju padanya. Untungnya sebagian dari perkataan itu selalu positif, membuat Hanin terus mengembang senyum. Karena, walau sebaik apapun seseorang, pasti ada saja pihak yang tidak menyukai dan Hanin menerima jika ada karyawan sang suami yang nyinyir terhadapanya, karena rata-rata dari mereka semua tahu bahwa Hanin dulu adalah seorang karyawan juga yang bekerja di perusahaan sang suami.
“Pagi, Bu,” sapa Siska yang langsung berdiri dan mendekati Hanin, lalu menyalaminya.
“Pagi,” jawab Hanin membalas senyum siska dan uluran tangannya. “Sebenarnya ini pagi atau siang sih? Tadi bapak di bawah bilang ‘siang’?”
Siska tertawa. “Sebenarnya masih pagi, tapi sudah menjelang siang.”
“iya, benar.” Hanin ikut tertawa. “Oh iya aku hampir lupa menanyakan kabarmu? Lama kita tidak bertemu.”
“Saya ba ...”
“Sayang, kok malah di sini bukannya langsung masuk,” ucap Kenan menyela perkataan Siska yang hendak menjawab pertanyaan istri bosnya itu.
Kenan yang baru saja membuka pintu karena mendengar suara sang istri pun berjalan mendekati Hanin.
“Ayo ke dalam!” Kenan dengan posesif-nya, langsung menggandeng tangan Hanin dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan.
“Tunggu, By. Aku lagi ngobrol sebentar sama Siska.”
“Ck, ngga penting. Aku sudah lapar ingin memakan makananku.”
Hanin mengerutkan dahi dan merengek. “By.”
Kenan tertawa dan meraih jinjingan yang ada di tangan Hanin. “Iya ini makananku ‘kan? Memang kamu mikirnya apa?’
“Tau ah,” jawab Hanin dengan wajah yang sudah memerah dan meninggal Siska yang masih mematung di sana.
Kenan pun langsung menggandeng sang istri dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan itu, lalu menutupnya.
Siska bukanlah anak kemarin sore. Ia bisa menangkap percakapan seperti apa antara bos dan istrinya itu.
“Parah, si Bos. Ternyata, bener-bener macan.” Siska bergidik ngeri melihat keposesifan dan keagresifan bosnya itu. Ia sudah bisa memastikan jika memiliki suami seperti bosnya itu, ia pasti akan dibuat tidak bisa berjalan setiap hari. Ngeri.
__ADS_1