Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Dikejar masa lalu


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Misya masih terus berusaha mendatangi kantor Kenan. Namun, sikap Kenan masih sama, ia meminta Siska agar wanita yang bernama itu tidak diperbolehkan masuk ke ruangannya. Alhasil, Misya selalu tertahan di lobby. Wanita itu pun tak pernah lelah memberi pesan pada Kenan, padahal tak satu pun pesan itu di balas, bahkan dibaca.


Misya hampir putus asa. Tetapi jika pesan itu datang dari Marcel, Kenan membalas walau sekarang terkadang balasan itu hanya sekedarnya saja, tidak seperhatian dulu.


“Cel, apa waktu kamu jalan dengan Om Kenan, kamu berbuat salah?” tanya Misya pada putra saat mereka menikmati sarapan pagi.


Marcel sudah lengkap memakai seragam. Ia menggeleng. “Tidak, Marcel merasa tidak mengucapkan kata yang salah atau sikap yang salah pada om Kenan. Kami baik-baik saja. Terakhir om Kenan mengantarku pulang pun, dia mengelus pucuk kepalaku.”


"Oh, tapi mengapa pesan Mami tidak di balas ya? Padahal Mami hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menemanimu waktu itu.”


“Mungkin om Kenan sibuk.”


Lalu Marcel mengambil ponselnya yang tergeletak di sisi kanan tangannya. Ia mengambil ponsel itu dan mengotak-atik.


“Pesanku selalu di balas, Ma. Ini!” Marcel menunjukkan satu hari kemarin mereka berbincang melalui aplikasi itu.


Misya mengerutkan dahi. “Tapi kok Mama ngga. Bahkan Mama ga bisa ketemu dia di kantornya.”


“Mungkin Mama menganggunya,” jawab Marcel santai.


“Menganggu?” tanya Misya bingung. “Mengganggu apa maksudmu?”


Marcel mengangkat bahunya. Ia tidak ingin terlalu banyak terlibat urusan orang dewasa. Walau ia menyadari bahwa Kenan sangat risih jika sang ibu mendekatinya.


****


Di apartemen. Kenan sudah berada di kursi makan terlebih dahulu. Ia baru saja mendaratkan b*k*ngnya di kursi itu. Lalu, arah matanya tertuju pada sang istri yang sudah tampak rapih dan cantik tengah membawa satu nampan kecil hasil masakan buatannya.


“Hari ini kamu mau kemana?” tanya Kenan yang melihat Hanin dari atas sampai bawah.


“Ke rumah Mami. Sudah lama aku tidak ke sana. Kangen juga sama Kayla.”


“Kenapa harus berdandan secantik ini? Mau ketemu Gunawan juga?” tanya Kenan kesal.


“Ya ampun, By. Kamu tuh Mas Gun terus yang di cemburuin. Dia itu udah berubah, udah bucin sama Kiara.”


Kenan terdiam dan menerima piring yang sudah lengkap dengan makanan di dalamnya dari sang istri. Kenan pun sudah mengetahui itu, karena beberapa kali bertandang ke rumah Rasti, Kenan sering menemukan banyak tanda di area leher atau dada sang adik ketika sang adik tengah menyusui Kayla di hadapannya. Terlihat juga Gunawan yang sangat perhatian dan menunjukkan cinta pada anak dan istrinya sekarang.


“Terus ngapain dandan secantik ini, kalau hanya ke rumah Mami?”


Kenan melirik ke arah sang istri. Namun yang ditatap hanya tersenyum. Kali ini, Hanin senang jika Kenan cemburu, entah mengapa rasanya ia semakin merasa sangat dicintai. Padahal sebelumnya, Kenan memang sudah seperti ini terhadapnya ketika cemburu.


“Ngga tahu, sejak hamil aku memang senang dandan. Bahkan senang datang ke salon perawatan.” Hanin mendudukkan diri di depan Kenan, setelah piringnya terisi makanan. "Kamu tidak keberatan kan?”


“Untuk ke salon perawatan, aku tidak keberatan karena aku juga menyukainya. Tapi jika keluar rumah berdandan cantik seperti ini. Aku keberatan.”


Sungguh, semakin hari sang istri memang semakin cantik dan sexy, membuat Kenan semakin tak bisa jauh darinya dan semakin bertekuk lutut.


“Baiklah,” ucap Hanin lesu.


“Tidak perlu menggunakan lipstik, Sayang. bibirmu sudah merah. Cukup menggunakan lip glos saja.”


Saat ini, Hanin memang berdandan cukup menyolok dari biasanya. Walau menurut Hanin dandanan ini masih dalam batas wajar, tetapi bagi Kenan dandanan itu terlihat cantik dan Hanin hanya boleh seperti ini saat pergi bersamanya atau ketika menyambut kehadirannya di rumah.

__ADS_1


Hanin memonyongkan bibir untuk mencoba melihat tanpa cermin, hingga Kenan pun tergelak dan menggelengkan kepala. Sang istri benar-benar menggemaskan.


“Jangan pasang ekspresi seperti itu atau aku tidak jadi berangkat kerja.”


“Jangan!” Hanin langsung mengangkat kelima jarinya tepat di hadapan Kenan.


Kenan pun kembali tertawa.


Setelah menghabiskan sarapan, Hanin mengantarkan suaminya sampai pintu.


“By, nanti sore jangan lupa jadwal kontrol si dede.” Hanin mennunjuk perutnya yang kian membulat.


Usia kehamilan Hanin, kini sudah memasuki trimester terakhir.


“Aku ga lupa, Sayang. Nanti sore aku langsung ke rumah sakit. Dari rumah Mami, nanti kamu di antar Pak Udin langsung ke sana ya!”


Jarak rumah sakit itu memang berada di tengah-tengah antara kantor Kenan dan rumah Rasti, sehingga jika Kenan menjemput Hanin dahulu ke rumah Rasti lalu ke rumah sakit, maka akan terlalu banyak makan waktu.


Hanin mengangguk.


Sedangkan tangan Kenan masih mengelus perut bulat itu. Lalu, Kenan berjongkok mensejajarkan dirinya pada perut bulat itu.


“Papa kerja dulu ya. Sehat-sehat kamu di sana. Kami menanti kehadiranmu. Muaah.” Kenan mengecup perut yang berbalut dres berwarna pink.


Hanin pun mengelus kepala sang suami yang berada di bawah sana.


“Iya, Papa. Aku di sini selalu sehat. Jangan khawatir!” ucap Hanin dengan suara seperti anak kecil.


Kenan menengadahkan kepalanya untuk menatap sang iss tri dengan senyum. Lalu, ia berdiri dan mengecup pucuk kepala Hanin.


Hanin tersenyum dan mengangguk.


“Hati-hati, Hubby.” Hanin melambaikan tangannya saat Kenan sudah berada di pintu luar.


Kenan pun melakukan yang sama dan tak lupa ia memberi ciuman jarak jauh, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar lorong. Hanin menatap punggung itu yang semakin jauh. Ia menutup kembali pintu itu dengan terus tersenyum sambil mengelus perutnya.


Hanin kembali menuju kamar dan membersihkan make up tadi, lalu berganti dengan make up natural. Entah mengapa hari ini ia ingin menggunakan eyeliner dan blush on, walau sebenarnya pipi Hanin sudah merona tanpa menggunakan benda itu.


Tak lama setelah itu, Hanin mengajak Bi Lastri untuk mendatangi kediaman utama Aditama. Selain ia ingin berkunjung ke rumah itu, Hanin juga mendapat pesan bahwa Bi Lastri beberapa hari di butuhkan di rumah itu karena dua pelayan Rasti bersamaan mendadak pulang kampung dengan urusan yang sama-sama urgen. Satu kerabat pelayannya sedang mendapat musibah di kampung, sehingga harus pulang dan satu lagi merayakan pernikahan putrinya di kampung.


“Non, nanti di apartemen Non sendirian dong, kalo Bibi balik ke rumah Nyonya,” kata Bi Lastri saat mereka sudah berada di mobil yang dikendarai Syamsudin.


“Tidak apa, Bi. Kalau bosan di apartemen, saya bisa main ke kantor Tuan muda.”


Bi Lastri tersenyum. “Iya juga sih, Non. Tapi saya lebih betah tinggal sama Non Hanin.”


“Kenapa?” tanya Hanin.


“Soalnya Non ga pernah marah-marah. Kalau Nyonya, salah sedikit saja marah. Terus saya seneng banget ngeliat Non sama Den Kenan becanda terus. Bahagia liatnya, saya jadi ikut bahagia. Soalnya dulu, Den Kenan itu mukanya asem, jarang ketawa.”


“Oh, ya?” tanya Hanin sembari tersenyum lebar.


“Iya, kalah dah sayur asem mah.”


Sontak Hanin tergelak. Begitu pun Syamsudin yang berada di depan, pria pruh baya itu pun tertawa.

__ADS_1


“Hush ... kamu Bi, bisanya nyinyirin Tuan muda aja,” sahut Syamsudin.


“Ya, kan emang bener. Pak Udin juga setuju kan sama saya.” Bi Lastri menoel pundak Syamsudin dari belakang.


“Iya sih.” Syamsudin kembali tersenyum dan mengangguk.


“Berarti saya berhasil dong, Bi,” ucap Hanin.


“Beuh bukan berhasil lagi, Non. Tapi TOP dah. Saya malah ga percaya Den Kenan sikapnya bisa seperti sekarang.” Bi Lastri tertawa geli, membuat Hanin ikut tertawa di iringi Syamsudin.


“Sepertinya telinga Kenan di sana pasti sedang berdengung,” ucap Hanin yang masih tertawa mendengar ocehan Bi Lastri mengenai suaminya.


Benar saja, di kantor Kenan tersentak saat telinga sebelah kanannya berdengung kencang. Ia pun berhenti bicara.


“Kenapa, Ken?” tanya Vicky.


Mereka tengah berbincang mengenai rancangan strategi di beberapa lini.


“Ngga, kuping gue cuma berdengung,” jawab Kenan.


“Ada yang ngomognin tuh,” sahut Vicky.


“Siapa?” tanya Kenan bingung.


“Siapa lagi kalau bukan dua wanita yang lagi cinta-cintanya sama lu.”


“Dua?” tanya Kenan lagi.


“Ya, Hanin sama Misya.”


Kebetulan sebelumnya Misya dan Marcel memang membicarakan Kenan. Lalu, di sambung oleh Hanin dan kedua pelayan Rasti yang juga membicarakan pria itu.


“Apaan sih Misya di bawa-bawa,” sanggah Kenan yang tak terima nama itu di sebut.


Walau Vicky tahu betul sejauh mana wanita itu mencoba mendekati bosnya, karena Kenan memang selalu terbuka pada sahabat sekaligus asistennya itu dalam hal apapun termasuk pesan-pesan yang dikirimkan Misya padanya.


"Lu kan lagi di kejar masa lalu," ucap Vicky.


"Masa lalu yang belum pernah gue mulai. Jadi itu namanya bukan masa lalu, Vick," jawab Kenan tegas.


Vicky mengangguk, jawaban Kenan memang benar. Kemudian, ia kembali bersuara. "Lu ga niat mau poligami kan?”


“Sial lu.” Kenan menimpuk Vicky dengan ballpoin dan mengenai perutnya.


Vicky tertawa dan beranjak dari kursi. Kebetulan perbincangan mereka mengenai pekerjaan sudah selesai.


“Pahala Ken, itung-itung melihara anak yatim, sekalian pelihara ibunya juga,” ledek Vicky yang sudah berdiri di depan pintu dan membuka pintu dan hendak keluar.


“Set*n lu.” Kenan kembali menimpuk asistennya dengan ballpoin yang lain yang berada di sana.


Kali ini mengenai kepala Vicky, membuat pria itu meringis sekaligus tertawa dan menutup pintu itu. Ia tahu bahwa Kenan tidak akan melakukan itu, karena ia tahu seperti apa tingkat kebucinan Kenan pada istrinya itu.


Tidak ada terlintas di benak Kenan sedikit pun tentang Misya, karena Hanin sudah lebih dari apapun. Kehadiran Hanin dan buah hati yang tengah berada di perut wanita yang ia cintai itu sudah sangat melengkapi hidupnya.


Vicky berjalan menuju ruangannya kembali sembari tetap tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia bahagia melihat semua sahabatnya bahagia dengan istrinya masing-masing. Kini, giliran dirinya ingin bahagia memiliki keluarga seperti kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2