
Hanin memasuki bandara, lalu menyusuri melewati boarding pass. Ia terus berjalan ke dalam gedung itu hingga sampai di ruang check in. Ia memang sudah memesan tiket sejak berada di dalam mall siang tadi.
Hanin duduk di di kursi yang tersedia di sana. Tepat pukul 15.30, ia mengambil ponselnya lalu mengetik sebuah pesan.
“By, Maaf. Aku berangkat ke rumah Kak Nida sekarang. Aku sudah sangat merindukannya. Jangan khawatir! Aku akan baik-baik saja dan mungkin akan lama di sana. Tidak apa ya, By. Saat ini, aku sudah ada di ruang check in. Bye, Ken Ken Jelek.”
Hanin menekan lama tombol yang terletak di samping yang ada pada benda elektronik itu. Ia menonaktifkan ponselnya, lalu memasukkan kembali benda itu ke dalam tas. Hanin menarik nafas panjang. Ia tak ingin Kenan mengetahui keberadaannya atau meneleponnya, karena ia yakin jika ponselnya tetap menyala, maka Kenan akan tahu kemana pun ia pergi. Dan, pria itu pasti akan menyusulnya.
“Maaf, Ken. aku benar-benar sedang ingin sendiri,” gumam Hanin.
Kemudian, Hanin masuk ke dalam ruang check in. Ia sudah melewati pemeriksaan passpor dan tiket. Lalu, ia duduk menunggu untuk masuk ke dalam kabin.
Di luar sana, Kenan tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun, sayang walau ia berada di jalan yang bebas hambatan, tetap saja di jam seperti ini ia tidak bisa mengemudikan mobilnya diatas seratus kilometer perjam.
“Sh*t.” Kenan terus mengumpat dan membunyikan klakson ketika ada mobil yang menghalangi atau berjalan lambat di jalur kanan.
Ia benar-benar tidak ingin ditinggal oleh Hanin, walau hanya satu malam. Sejak menikah dengan wanita yang selalu ia sebut wanita penggoda itu, Kenan praktis tidak bisa memejamkan matanya saat tidur jika tidak memeluk tubuh itu, mencium aroma khas yang menurutnya hanya ada di tubuh sang istri.
Dret ... Dret ... Dret ...
Ponsel Kenan berdering menampilkan nama Vicky. Lalu, dengan cepat Kenan menggeser tombol hijau di layar ponsel itu dan meloudspeakernya.
“Gimana Vick, udah ketemu?” tanya Kenan.
“Udah. Hanin naik Gar*da tujuan kuala lumpur pukul 16.00.”
“Dua puluh menit lagi.” Kenan menatap jam di tangan kanannya. Lalu fokus menyetir kembali.
“Yap. Lu bisa telepon pimpinan maskapai itu, supaya saat check in anak buahnya di sana bisa nahan Hanin dan ga bisa masuk kabin.”
“Ya.”
Kenan juga sudah berpikir demikian. Kebetulan ia pun kenal baik dengan pimpinan maskapai itu.
Sambungan dengan Vicky pun selesai, kemudian ia memelankan kecepatan mobilnya, sembari menekan nomor telepon pimpinan maskapai yang akan dinaiki sang istri.
__ADS_1
Orang yang Kenan telepon pun langsung mengangkatnya. Semula Kenan berbasa-basi hingga akhirnya ia meminta bantuan.
“Oke, nanti saya whatsapp nomor ponsel yang menghubungkan kamu dengan pegawaiku yang ada di bagian check in,” ucap suara pria yang Kenan telepon.
“Terima kasih, Pak.”
“Ya. Saya bisa menahan istrimu agar tidak masuk ke dalam kabin.”
“Oke, sekali lagi terima kasih pak,” jawab Kenan senang.
Kenan menutup sambungan telepon itu. Sudut bibirnya terbentuk senyuman. Ia yakin sang istri tidak bisa melakukan perjalanan.
Di bandara, lebih tepatnya di ruang check in, pesawat yang akan Hanin tumpangi sudah bisa dimasuki. Di sana terdengar jenis pesawat dan rute perjalanan disebutkaan jelas oleh pengeras suara. Hanin segera bangkit dari duduknya dan berdiri mengantri di antara para penumpang yang lain. Mereka bersiap masuk ke kabin dengan menyiapkan passpor dan tiket yang akan diperiksa oleh petugas sebelum memasuki kabin pesawat itu.
Antrian itu cukup panjang, hingga satu persatu masuk dan sampailah pada Hanin. Dua petugas yang berjenis kelamin pria ddan wanita itu pun memandangi Hanin sembari melihat passpor dan tiketnya. Petugas wanita itu tampak melihat dirinya dari ujung kepala hingga kaki.
“Ibu sedang hamil?’ tanya petugas wanita.
Hanin mengangguk. “Iya.”
“Berapa usia kehamilan ibu? Karena jika memasuki usia kehamilan lebih dari 28 minggu, tidak diperkenankan untuk melakukan perjalanan,” ucap petugas wanita itu lagi.
“Iya saya tahu. Makanya saya masih berani melakukan perjalanan jauh karean usia kehamilan saya belum di atas 28 minggu. Baru kemarin memasuki trimester terakhir. Ini surat peemriksaan saya kemarin dan semua sehat.”
Kedua petudas itu bergantian melihat hasil pemeriksaan yang Hanin berikan. Karena kegiatan Hanin yang masih cukup lama, akhirnya datanglah dua petugas lagi untuk melanjutkan antrian di belakang Hanin, sedangkan wanita hamil itu di beri tempat terpisah.
“Tetap saja, Bu. Kami tidak bisa membiarkan ibu melakukan perjalan, sangat riskan.” Kali ini petuga pria yang bicara.
Raut wajah Hanin sudah kesal. Pasalnya ia pernah mengantarkan Nida pulang ke KL dalam keadaan hamil dan usianya sama seperti usia kehamilan dirinya saat ini dan waktu itu Nida diperbolehkan masuk.
Tiba-tiba satu petugas pria berlari menghampiri kedua petugas yang sedang menginterogasi Hanin. ia memberi telepon yang ada di genggaman pria berlari tadi pada peugas pria yang menginterogasi Hanin sebelumnya.
“Bu, silahkan duduk dulu, saya tanya pimpinan dulu apa anda bisa melakukan perjalanan atau tidak,” ucap petugas wanita itu ramah dan menuntun Hanin kembali duduk.
Hanin menghela nafasnya. Ia melihat gerak gerik ketiga petugas itu. Dua orang petugas pria dan satu orang petugas wanita. Mereka berbisik membicarakan Hanin, hingga salah satu dari mereka mengangkat telepon itu.
__ADS_1
“Ya, pak.”
“Bagaimana? Apa istri saya bisa kalian tahan?” tanya suara bas laki-laki di sana yang merupakan suami dari wanita hamil yang sedang menunggu dengan kesal.
“Iya, Pak. Kami tidak memberangkatkan istri anda.”
Hanin mendengar sekilas percakapan itu, walau semula pandangan matanya tertuju pada sekeliling. Sontak Hanin mengerti mengapa ia tertahan dan tidak diperbolehkan melakukan perjalanan. Semua ini karena kuasa sang suami. Ya, ia memang tidak bisa bergerak, karena semua gerak geriknya tidak luput dari sang suami.
Hanin kembali menarik nafasnya. Ia akan mencari cara lain. Namun, saat ini ia akan menurut dahulu.
Tak lama kemudian, kedua petugas itu menghampiri Hanin.
“Bu, maaf ya, ternyata pimpinan kami tidak memperbolehkan ibu melakukan perjalanan, karena ibu sedang hamil besar,” ucap petugas wanita.
“Iya, bu. Sekarang ibu bisa istirahat di ruangan kami, hingga suami ibu menjemput,” sahut si petugas pria.
“Jadi ini karena suami saya? Bukan karena peraturan yang tidak memperbolehkan?” tanya Hanin.
Kedua petugas itu pun mengangguk bergantian.
“Kami minta maaf, Bu,” ucap kedua petugas itu bersaling silang.
Hanin pasrah, ia tidak ingin protes atau mencari keributan, membuat pandangan mata semua orang tertuju padanya. Tidak, Hanin bukan tipe wanita bar-bar.
Lalu, ia mengikuti langkah kedua petugas itu. Mereka membawa Hanin ke sebuah ruangan yang nyaman, hingga menunggu Kenan datang, karena seperti itulah titah si penguasa.
Di sana, Hanin masih di temani petugas wanita tadi. Sepuluh menit, ia duduk di sana. Lalu, Hanin beranjak dari duduknya dan menghampiri petugas wanita itu.
“Mbak, saya ingin ke toilet,” ucap Hanin.
Petugas wanita itu pun hanya mengangguk. Kebetulan hingga saat ini, Kenan belum juga tiba.
Hanin bergegas keluar dari ruangan itu. Ia sudah seperti seorang tawanan di ruang sana, rasanya sesak. Sungguh, ia ingin keluar dari semua ini sejenak. Hanin masih belum siap menjadi istri putra mahkota, yang semua gerak geriknya di awasi, diatur, dan menuntut banyak hal. Terkadang bukan hanya Kenan yang mengaturnya, tetapi sang ibu s*ri pun sering mengatakan ini boleh dan ini tidak boleh, harus begini dan begitu. Hal itu cukup membuat Hanin lelah.
Sebelumnya, ia hanya rakyat jelata yang mandiri, sangat berbanding terbalik dengan hidupnya kini. Dan, ia baru menyadari bahwa ia masih belum siap dengan hidupnya sekarang.
__ADS_1