Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Vicky dan Rea 3


__ADS_3

Sesampainya di Labuan Bajo, para peserta diberi waktu untuk berbenah di kamar masing-masing hingga menunggu makan malam. Penjelajahan tempat wisata indah di kota ini, pertama akan dimulai besok setelah makan pagi bersama.


****


“Sadewa Bumi,” panggil Rea ketika kembali mengabsen peserta untuk melakukan penjelajahan pertama sesuai jadwal, setelah mereka tadi menikmati makan pagi bersama.


Satu persatu nama peserta Rea sebutkan. Ia sengaja melewati nama Vicky karena sejak ia melihat pria itu di Resio saat makan pagi, pria itu tak nampak lagi hingga kini.


“Mas Adi, dimana om Vicky?” tanya Rea.


Hampir semua peserta yang ikut dalam touring ini berusia di atas Rea dan Rea memanggilnya dengan panggila Kak atau Mas ketika bersama, kecuali saat absen saja. Namun dengan Vicky, entah mengapa lidah Rea terbiasa memanggilnya dengan panggilan itu, mengingat Vicky memang peserta paling tua di antara yang lain, selain Adi. Bahkan Adi saja sudah memiliki dua anak.


“Gue juga ngga liat dari tadi. Coba lu cek ke kamarnya.” Jawab Adi.


Kemudian, Rea dengan cepat menuju lift dan naik ke kamar om mesum itu.


Di dalam kamar, Vicky baru saja keluar dari kamar mandi setelah melepaskan hajad pagi, kebiasaannya yang akan mulas-mulas jika pagi-pagi sudah terisi nasi.


Rea sudah berada di dalam kamar itu. sebelumnya ia mencoba mengetuk-ngetuk kamar yang tidak dikunci ini, tetapi Vicky tidak menyahut, sehingga Rea berinisiatif untuk masuk.


“Aaa ...” teriak Rea dan membalikkan tubuhnya ketika ia melihat Vicky keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan boxer pendek dan tipis itu, menampilkan tonjolan di bagian bawah sana.


“Pakai celanamu!” teriak Rea sembari memejamkan matanya. Seumur-umur, Rea baru melihat tonjolan pria di sana.


“Celanaku ada di depanmu.”


Vicky memang meninggalkan jeans panjangnya di atas tempat tidur, tepat di depan Rea berdiri dan tengah membelakanginya.


Rea membuka matanya dan meraih jeans berwarna biru dongker itu. “Ini.” Ia memberikan pada Vicky dengan tangan ke belekang dan tetap pada tubuh yang membelakangi Vicky.


Namun, Vicky melangkah cepat, meraih jeans-nya dan duduk di tepi tempat tidur tepat didepan Rea.


“Ih, apa kamu ngga malu?” tanya Rea kesal dan kembali membalikkan tubuhnya lagi.


“Nggalah, ngapain malu sama calon istri,” jawab Vicky asal.


“Cepet keluar! Teman-teman yang lain sudah menunggu di bawah.” Rea tak menggubris pernyataan Vicky tadi. Ia malah memilih untuk keluar dari kamar itu.


Tetapi Vicky langsung mencekal tangan Rea. “Tunggu!” Ia memasang wajah memelas agar Rea menunggunya hingga selesai memakai celana itu.


Rea menatap pergelangan tangannya yang dipegang oleh Vicky. “Lepas, ngga?” ancamnya.


Vicky pun menatap tangannya yang memegang pergelangan tangan itu. “Oke.” Ia langsung mengangkat kedua tangannya ke atas.

__ADS_1


“Udah cepet pakai celanamu. Dasar mesum!”


Vicky tertawa dan kembali memakai jeans yang baru separuh masuk ke dalam kedua kakinya.


“Re, tolongin dong!”


“Apa?”


“Ini resletingku macet.” Vicky menunduk dan kesusahan menutup bagian itu.


“Ck, ada-ada aja sih,” kesal Rea, yang bingung bagaimana membantu pria itu.


“Tolongin dong!” Vicky tetap berusaha menaikkan resleting yang masih susah untuk dinaikkan.


“Gimana nolonginnya?” tanya Rea bingung.


“Aku tahan bawahnya, kamu tarik resletingnya ke atas!” pinta Vicky.


Kedua tangan Rea hendak meraih resleting itu, tetapi ia urungkan. “Ngga ah.”


Vicky gemas melihat ekspresi malu-malu Rea.


“Ganti celana aja sih,” kata Rea.


“Tanggung. Malas buka koper lagi,” jawab Vicky yang sengaja mengerjai gadis itu.


Kedua kepala mereka menunduk memegang resleting itu. Rea mencoba melakukan apa yang diperintahkan Vicky. Ia menarik resleting itu dan Vicky menahan ujungnya di bawah.


“Aaah,” tiba-tiba Vicky teriak karena miliknya terjepit, karena Rea menarik resleting dengan kasar. “Kejepit, Rea.”


“Oh, Sorry. Maaf maaf,” Rea mendongakkan kepala, begitupun Vicky.


Wajah keduanya tampak dekat, bahkan jika Vicky maju sesenti saja, maka bibir mereka akan bersentuhan.


Seketika, dada Rea berdegup kencang, karena ini adalah kali pertama ia berada posisi yang seperti ini dengan lawan jenis. Walau ia memiliki kekasih, tetapi tak pernah ada sekalipun mereka dalam posisi ini.


Sepersekian detik, mereka terdiam dan saling bertatapan. Rea seperti terhipnotis dengan tatapan Vicky, entah mengapa ia hanya mematung dan tidak berusaha untuk segera pergi menjauh dari om mesum itu.


Vicky tidak menyia-nyiakan kesempatan. Entah mengapa ia pun tergoda sekali dengan bibir ranum itu. tanpa aba-aba dan dengan kejadian yang begitu cepat, Vicky ******* bibir itu. Satu tangannya memeluk pinggang Rea dan satu tangannya lagi menarik tengkuk Rea.


“Mmmpphh ...” Rea berusaha melepaskan diri. Namun, kedua tangan Vicky mengukung tubuh itu untuk menerima ciumannya.


Vicky benar-benar tidak melepaskan bibirnya yang tengah memakan bibir itu, walau bibir lawannya tidak terbuka, namun Vicky tetap berusaha.

__ADS_1


Rea maih mencoba untuk terlepas hingga otaknya berpikir bagaimana cara untuk terlepas dan akhirnya ...


Bugh


Lutut kanan Rea terangkat dan menendang milik Vicky.


“Ah,” Vicky meringis dan melepaskan ciuman itu. ia memegang miliknya yang linu.


“Rasain. Dasar om mesum jelek!” umpat Rea yang kemudian segera pergi keluar dari kamar itu.


Tubuh Vicky sedikit membungkuk karena sensai linu yang maih terasa di bagian bawahnya. Ia memegang miliknya kesakitan. Namun, arah matanya tetap melihat ke arah Rea yang akan keluar dari kamarnya.


“Re, apa itu ciuman pertamamu?” tanya Vicky, seorang penjelajah wanita. Ia tahu betul bagaimana Rea tidak bisa membalas ciumannya tadi, bukan karena ia tak bisa melainkan karena memang gadis itu tidak berpengalaman.


Vicky sangat ahli berciuman, dari semua wanita yang ia cium, pasti akan berakhir membalas hingga panas, walau semula wanita itu tak menyukai Vicky, tetapi sekali cium wanita itu kemudian akan terlena. Vicky memang terkenal ahli dalam hal itu, tapi ternyata keahliannya tidak berlaku untuk gadis aneh yang bernama Rea.


Rea membalikkan tubuhnya, menatap tajam ke arah Vicky sembari menunjukkan bagian belakang telapak tangan dengan jari tengah yang teracung ke atas sebagai tanda mengajak perang.


Vicky kembali tertawa, ia meresleting celananya yang memang sebenarnya tidak rusak. Sungguh, bibir Rea sangat memabukkan. Ia akan mengambil cara untuk bisa mencium bibir itu lagi.


Berbeda dengan Vicky, justru Rea tengah mengusap-usap kasar bibirnya sembari berjalan menuju lift dan kembali bergabung pada rombongan di bawah yang sudah menunggu mereka. Ia terus mengumpat Vicky, pria yang selalu membuatnya sial jika bertemu.


#Flashback Off#


Vicky tersenyum menyeringai, mengingat kejadian itu. Ia pun memegang bibirnya. “Manis.”


Dalam otaknya berpikir sembari jarinya bergerak menghitung berapa kali ia sudah menyentuh bibir itu hingga kini dan itu berhasil membuat Rea semakin membencinya. Namun hal itu tak menyurutkan Vicky untuk semangat mendapatkan gadis itu.


“Ah, kalo diinget. Gue udah kaya Kenan waktu ngejar Hanin dulu. Tapi bedanya, yg gue hadepin bukan cewek lembut macam Hanin,” gumam Vicky sembari mengacak rambutnya dan menggelengkan kepala.


Lalu ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah semalaman berada di rumah sakit.


Visual Andrea dipanggil Rea



Visual Althia adik pertama Rea yang dipanggil Thia



Visual Alfatunisa adik kedua Rea yang dipanggil Nisa


__ADS_1


*********************************************


Next partnya Kenan Hanin ya guys, Muaacchhh .....


__ADS_2