
Attar berdiri di depa rumah Rea. Sudah dua kali ia ke rumah ini, tetapi gerbang rumah ini masih terkunci sempurna dibalut dengan gembok kecil.
Semalam, setelah mengantar Sila, Attar langsung ke rumah ini dan mendapati keadaan seperti ini. Ia pun pulang dan berencana akan kembali ke rumah ini paginya, karena ia pikir Rea sudah tidur.
“Orangnya ngga ada dari kemarin, Mas.” Kata tetangga Rea yang kebetulan melintas saat Attar masih berdiri di sana.
“Oh, kemana ya bu?” tanya Attar.
“Ngga tahu ya. Kemarin sih ada dua orang bdannya gede-gede jemput Nisa sama Thia pake mobil Alph*rd.”
Attar mengeryitkan dahi. Ia terdiam dan berpikir. “Oh, gitu. Baik bu terima kasih.”
Lalu, Attar berjalan keluar gang itu, menuju mobilnya yang terparkir di jalan besar.
Namun, sesaat sebelum Attar memasuki mobil, mobil Vicky datang dan memarkir asal did epan mobil Attar.
“Rea.” Attar memanggil Rea yang baru saja keluar dari mobil Vicky.
Ya, Rea pulang ke rumahnya untuk mengambil beberapa pakaian, juga pakaian, baju sekolah, juga peralatan sekolah Thia dan Nisa, karena mulai besok mereka diboyong Vicky untuk tinggal di apartemennya.
Rea menoleh. “Kak Attar.”
Vicky yang keluar dari mobil itu pun melihat Attar yang berlari menghampiri istrinya. Sedangkan Thia dan Nisa juga hanya menjadi penonton.
“Kemana aja kamu, Re? Aku mencarimu dari semalam.” Attar memegang bahu Rea.
Namun, Rea mencoba melepas kedua tangan Attar sembari melirik ke arah Vicky.
“Hei, udah gue bilang jangan ganggu pacar gue!” kata Attar melooto ke arah Vicky.
Vicky tersenyum meledek. Attar tidak tahu saja bahwa kekuatan Vicky lebih besar darinya karena saat Vicky bukan hanya menjadi pacar Rea, tapi istri.
Vicky menghampiri Rea dan menarik lengan kanannya. “Ayo, Re.”
“Eh, jangan paksa cewek gue!” Attar pun menarik lengan kiri Rea.
“Lu siapa?” tanya Vicky menantang.
“Gue pacarnya dan Lu siapa? Lagian lu ngintilin cewek gue terus sih. Udah diketusin sama cewek gue juga.”
Vicky geram. Ia pun hendak memukul Attar.
“Om, Jangan!” Rea menahan tangan Vicky.
“Lu mau tahu gue siapa? Hah. Gue itu ...”
“Om,” teriak Rea sembari menggelengkan kepalanya. Ia memotong perkataan Vicky yang hendak memberitahu bahwa saat ini rea adalah istrinya.
“Om, tolong beri aku waktu untuk bicara baik-baik dengan Attar.”
Vicky menghelakan nafasnya. Ia terdiam sejenak dan berpikir. “Baiklah.”
Vicky yang jauh lebih dewasa dari kedua orang ini pun mengalah. Ia mengajak Thia dan Nisa untuk berjalan lebih dulu menuju rumah Rea.
Sedangkan Rea dan Attar berjalan di belakangnya. Rea mengajak Attar memasuki rumahnya. Vicky membiarkan Rea dan Attar berbincang di teras.
“Re aku minta maaf,” ujar Attar.
Dari dalam, Vicky melihat Attar yang tengah bersimpuh. Ia sengaja tidak keypoh seperti Thia dan Nisa yang sengaja berada di balik jendela teras itu untuk emndengar percakapan Attar dengan sang kakak. Vicky tetap duduk di depan laayr televisi sembari sesekali melirik ke arah istrinya bersama sang mantan kekasih.
“Om, sini denger,” kata Nisa melambaikan tangan ke arah Vicky.
Vicky hanya tersenyum dan menggeleng. Ia percaya pada Rea. Ia yakin Rea mengerti apa yang harus dilakukan sekarang, mengingat ia sudah tak lagi berstatus lajang.
“Kita audah tidak ada hubungan apa-apa lagi, Kak. Sejak dua malam yang lalu, kita sudah putus,” ujar Rea.
“Tidak, Re. Aku tidak terima. Aku akan tidak terima kita putus. Kamu tetap pacar aku dan besok Mam sama Papa akan datang ke sini untuk melamar kamu. Kita tidak perlu tunangan. Aku ingin langsung menikah.”
“Terus, bagaimana Sila? Gila kamu, Kak. Habis manis sepah di buang.”
“Dia yang menyodorkan tubuhnya, Re. Bukan aku yang mau,” sanggah Attar.
“Tapi kamu menikmati ‘kan? Dasar lelaki buaya.”
“Itu karena aku tidak ingin merusakmu, Re. Aku emncintaimu.”
“Tidak mau merusakku tapi merusak anak orang. sama saja. Kalau kamu tidak mau merusak wanita. Cukup puasa dan tahan.”
Attar menunduk.
“Sekarang aja, kamu udah mendua. Apalagi nanti kalau udah nikah, kamu pasti akan melakukan yang sama,” ucap Rea kesal.
__ADS_1
“Tidak Re. Aku janji ini yang pertama dan terakhir. Aku janji.” Attar mengangkat dua jarinya ke atas.
“Bulsh*t.”
“Re. Aku mohon.” Attar terus bersimpuh di kaki Rea.
“Teman-teman kuliahku banyak yang seperti itu dan aku jadi ikut-ikutan. Sebenarnya aku tidak ingin seperti itu, tapi Sila selalu menggodaku. Aku hanya manusia biasa, Re. Aku tergoda. Tetapi aku bisa pastikan ini tidak akan terulang. Aku mohon, Rea. Please!” Attar terus membujuk Rea dengan wajah meyakinkan.
Rea terdiam. Sesaat ia terhipnotis oleh wajah Attar yang meyakinkan dan sedih hingga airmata itu menggenang di pelupuk matanya.
“Ish, kok Kak Rea ngga langsung bilang sih kalau udah nikah,” kata Thia kesal di balik jendela itu.
“Iya, kan kalo bilang udah nikah. Selesai. Pasti kak Attar ngga nguber-nguber lagi,” sahut Nisa.
Mendengar percakapan Nisa, Vicky pun menjadi keypoh. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri kedua adik Rea. Ia ikut menguping.
“Please, Re. Maafin aku ya,” ucap Attar lirih. “aku tahu kamu masih mencintaiku ‘kan?”
Rea terdiam. Dadanya bergemuruh campur bingung. Satu sisi ia ingin memberi kesempatan apda Attar, tapi keadaan tidak lagi memungkinkan karena dirinya sudah berstatus istri.
“Re, kamu masih emncintaiku ‘kan?” tanya Attar lagi.
Perlahan Rea menganggukkan kepalanya.
“Yes.” Attar berdiri dan memeluk tubuh Rea yang sedang duduk. “Aku tahu kamu sangat mencintaiku dan selalu memaafkanku.”
Di dalam sana, rahang Vicky mengeras. Tangannya pun terkepal. Selama ini, ia memang tidak pernah bersikap tegas pada Rea. Hingga ketika Rea masih belum siap untuk memberikan nafkah batin pada Vicky pun, Vicky masih sabar dan menerima. Tapi melihat Rea yang tidak memiliki sikap seperti ini, sepertinya Vicky pun harus lebih tegas.
Brak
Vicky membuka pintu itu dan membulatkan matanya ke arah Attar.
“Jangan ganggu istri gue!”
Attar melongo mendengar teriakan Vicky.
“Eh bocah ingusan. Lu ngga tau siapa gue? Mulai sekarang jangan pernah muncul di depan istri gue lagi!”
“Re, apa-apaan ini? Apa maksud pria tua ini?” tanya Attar dengan melirik ke arah Rea dan Vicky bergantian.
“Pria tua katanya?” batin Vicky kesal. “kurang ajar.”
“Loh, loh. Kok malah kamu yang marah ke aku. Harusnya kamu belain aku, Re. Kamu sadar, kamu tuh istri aku. Masa iya aku diem aja kamu dipeluk dia.” Vicky menunjuk ke wajah Attar.
“Asal lu tahu, gue sama Rea udah nikah,” kata Vicky telak.
Sontak Attar terkejut. Ternyata pria tua ini sudah mendahuluinya.
“Re, katakan itu bohong. Dia bohong ‘kan?” Attar menunjuk ke arah Vicky. “Itu ngga bener ‘kan?”
Rea terdiam. Melihat Rea diam dan tak bersuara, Vicky semakin geram.
“Lu ngga liat apa tanda ini?” Vicky menunjuk leher Rea yang dipenuhi kissmark.
“Apaan sih, Om.” Rea mengelak tangan Vicky yang menyibak rambut panjangnya sehingga tanda di leehr jenjangnya itu terlihat jelas.
“Ini bukti kalau Rea udah jadi milik gue. Dua malam kita melakukannya. Karena apa? Karena Rea istri gue.”
Attar bengong dan menggelengkan kepala. Ia tahu persis apa tanda itu karena ia pun sering melakukannya itu kepada Sila.
“Tega kamu, Re. Ini yang kamu berikan pada keluarga aku yang selalu membantumu. Mama pasti kecewa.” Attar melangkah mundur.
“Kak, biar Rea jelasin.” Rea menarik lengan Attar, tapi Attar menampiknya.
Pria itu segera melangkah menuju gerbang kecil itu dan segera pergi berlari keluar.
Vicky dan Rea berdiri mematung di teras.
Rea menghampiri Vicky. “Puas kamu? Baru saja aku akan memebritahunya baik-baik, tapi kamu merusak semuanya.”
Rea meninggalkan Vicky dan masuk ke dalam rumah. Vicky pun mengejar Rea.
“Kamu kelamaan ngomongnya. Dari tadi harusnya kamu langsung to the poin,” jawab Attar.
“Aku kenal Attar bukan satu dua tahun, Om. Aku kenal Attar bukan dengan Attarnya saja, tapi kedua orang tuanya. Dulu orang tuanya yang selalu membantu keluargaku di saat sulit. Apa kata Mama sama Papa nya Attar nanti? Aku hanya menjaga hubungan itu.”
“Alasan.” Entah kemana larinya kelembutan Vicky. Sungguh ia geram melihat Rea yang di sentuh Attar sedari tadi, dari mulai tangan dan memeluk tubuh miliknya.
Tanpa kata, Rea masuk ke kaamrnya. Vicky pun kembali mengejar Rea dan masuk ke kamar itu.
“Kaluar, Om. Aku lagi ingin sendiri,” kata Rea.
__ADS_1
Vicky menggeleng. “Ngga akan. Selama ini aku selalu bersikap lembut padamu, Re. Tapi sepertinya kamu memang tidak bisa dilembutkan.”
Vicky mengunci kamar itu dan melepaskan kucni itu dari tempatnya, lalu mengantogi kuncinya. Perlahan ia berjalan emnuju Rea.
“Om, mau apa?” tanya Rea takut, karena tatapan Vicky dudah tidak lagi bersahabat.
“Meminta hakku tentunya,” jawab Vicky dengan mata dipenuhi kabut gairah.
“Aku belum siap, Om.”
“Aku tidak bisa lagi menunggu.” Vicky terus melangkah maju, sedangkan Rea memundurkan langkahnya hingga terbentur ranjang dan terjatuh.
“Jangan melakukan hal yang akan membuatku jadi membencimu, Om.”
“Bukankah malam itu kamu ingin menyerahkan dirimu padaku? Ayo kita lakukan sekarang!” Vicky menindih tubuh Rea yang terus berangsur mundur di atas ranjang itu.
Dengan cepat, tangan Vicky menarik kaki Rea dan kembali sejajar pada tubuh mereka dan meniondihnya.
Cup
Vicky langsung ******* bibir ranum itu.
“Hmm ... “ Rea berusaha berontak. Namun kaki Rea dijepit erat oleh kedua kaki Vicky hingga tak bisa bergerak dan kedua tangan Rea diangkat ke atas.
Dengan brutal Vicky menelusuri bibir itu dan menggigitnya. Lalu, bibir Rea pun terbuka. Vicky pun langsung mengambil kesempatan itu dan menelusuri rongga terdalam mulut Rea.
Seperti tidak ada hari esok, Vicky terus ******* bibir itu hingga dada Rea sesak karena pasokan oksigen dalam dadanya terasa hampir habis.
“Mmmpphh .... Ah. Hah!” Nafas Rea terengah-engah saat Vicky melepas tautan itu.
Lalu Vicky mengulang kembali.
“Om, Eum ...” Bibir itu kembali di *****.
Kemudian, turun ke leher dan kembali memberi tanda di sana.
“Om lepas!”
Vicky seakan tuli. Ia terus menjelajahi tubuh Rea.
Rea bergidik ngeri melihat Vicky yang sedang di selimuti marah dan gairah. Vicky merobek semua kain yang melekat di tubuh Rea, hingga Rea kuwalahan menutupi area intimnya.
Vicky menangkap tangan Rea untuk membuka tangan itu dari bagian vitalnya.
“Jangan!” Rea tetap bertahan menutupi asset berharganya itu.
“Sekarang semua di tubuhmu adalah milikku, Re. Ingat itu!” dengan satu hentakan Vicky membuka kedua tangan Rea yang menutupi dadanya. Lalu ia ******* bagian itu dan menyesapnya.
“Ah, Om. Lepas.” Lenguh Rea. Sungguh ia baru merasakan sensasi ini.
Lidah Vicky berputar memanjakan bagian itu hingga Rea merasa antara sakit dan nikmat.
“Ah ... Eum ... Aww ..” Rea menggigit bibir bawahnya yang sudah bengkak akibat ulah Vicky tadi.
Vicky tersenyum dan menyudahi aksinya. Ia menatap kedua bola mata Rea. “Suka?”
Rea memalingkan wajahnya. Namun, dengan cepat Vicky menarik wajah itu agar menatapnya kembali. “Aku akan buat kamu merasakan nikmat yang lebih dari itu.”
Vicky tersenyum menyeringai dan Rea kembali memalingkan wajahnya.
“Ah.” Benar saja, rasa apa itu? Sensasi apa itu? Rea merasakan tubuhnya akan meledak ketika Vicky memainkan lidahnya di bawah sana.
“Oh ... Om. Oh .... Eum.” Rea terus melenguh merasakan sensasi yang semakin menggila.
Vicky terus menggerakkan lidahnya di sana. gerakan itu pun semakin lincah diiringi gerakan tangan pada bagian paling sensitif itu.
“Aaahh ...” akhirnya lenguhan panjang itu terdengar karena Rea merasakan pelepasan untuk pertama kalinya.
Vicky kembali menyeringai. “Enak?”
Tanpa di sadari Rea menganggukkan kepalanya dan Vicky pun tersenyum. Lalu, perlahan tapi pasti Vicky akhirnya menjebol keperawanan sang istri.
Di luar kamar itu, Thia sengaja menyuruh Nisa memakai earphone, ketika kedua insan itu mulai bertengkar hingga teriakan tidak yang bukan seperti sedang kesakitan pun terdengar dari sana.
"Pakai lagi earphone-nya!" Thia kembali menyumpal telinga sang adik.
"Ini suaranya ke kencengan kak," Nisa mengusap telinganya karen Thia memutar volume yang cukup tinggi.
Thia cukup tahu apa yang dilakukan kakak dan suaminya di sana. Ia sudah cukup tahu hal itu.
Kedua adik Rea menjadi saksi drama percintaan sang kakak. Tapi, akhirnya mereka bisa bernafas lega, karena sang kakak mendapatkan suami yang mereka juga sukai.
__ADS_1