
Tepat pukul sebelas malam, Hanin terbangun. Tiba-tiba kedua matanya mengerjap dan terbuka. Dari balik selimut, ia merasakan tangan kekar melingkar di perutnya yang polos Hanin mencoba membalikkan tubuhnya perlahan dan mencoba memindahkan tangan Kenan yang mesih berada di perutnya. Setelah di rasa aman, Hanin mencoba bangkit.
“Ah,” jeritnya.
Hanin kembali menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia tak kuat untuk bangkit, karena seluruh tubuhnya terasa remuk. Kenan benar-benar memakan dirinya, hingga tak tersisa.
Kruk ... Kruk ...
Hanin merasakan perutnya berbunyi. Ia merasakan sekaligus perutnya yang sakit karena lapar dan bagian intinya yang sakit karena ulah Kenan. Hanin kembali bangkit perlahan. Ia sedih melihat kondisinya yang mengenaskan. Lalu, ia melihat lagi ke arah Kenan yang tidur pulas.
“Kamu jahat! Kamu buat tubuhku sakit semua. Hiks ... Hiks ... Hiks,” ucap Hanin lirih sembari menangis.
Hanin kembali mencoba menggerakkan tubuhnya. Dan, akhirnya ia berhasil bangkit dengan posisi yang masih berada di atas ranjang persis di samping tubuh Kenan yang tidur terlentang. Hanin terduduk dan sedikit menyikap selimut tebal berwarna grey itu. Ia melihat tanda merah di dada, bahu, perut dan pahanya. Ia kembali menutup tubuhnya yang polos itu dengan selimut tadi. Ia menekukkan lututnya dan memeluk erat lutut itu. Hanins engaja memelankan isakan tangisnya. Ia masih tak percaya dengan hidupnya sekarang. Ia sudah tak lagi gadis, sudah menjadi istri dari pria yang sama sekali belum ia cintai sepenuhnya. Namun, sentuhan pria yang masih tertidur itu tak pernah bisa ia tolak.
Hanin kembali menangis, menangisi nasib, menangisi kelemahan diri, dan kebodohannya karena mudah sekali terlena oleh sentuhan Kenan, si pria psyco.
Sejak Hanin terjatuh lagi ke ranjang saat ia hendak bangkit, tidur Kenan sudah terganggu. Pria itu pun terbangun, hanya saja matanya sengaja masih terpejam. Ia ingin melihat apa yang dilakukan sang istri. Ia pun mendengar lirihan suara Hanin tadi. Kenan menatap punggung Hanin yang polos. Tangannya terangkat dan menyentuh punggung itu.
Hanin tersentak dan menoleh ke belakang.
“Kenapa menangis?” tanya Kenan.
Hanin kembali menangkup lututnya dan menyandarkan kepalanya pada lutut itu sembari menggeleng. “Tidak apa-apa.”
Kenan bangkit. Hatinya ikut sedih melihat wanita yang berada dekat di hadapannya ini tengah lesu dan sedih. Kenan menangkup tubuh Hanin dan memeluknya erat.
“Hei, Kenapa menangis? Kamu menyesal memberikan kehormatanmu untukku?”
Kepala Hanin langsung menggeleng cepat, kemudian beralih menjadi mengangguk.
Kenan menatapnya dan tertawa. “Jadi sebenarnya, kamu menyesal atau tidak?”
“Ngga tau. Di bilang menyesal, seharusnya ngga karena kamu suamiku dan memang kamu yang seharusnya mendapatkan itu. Tapi di bilang ngga menyesal, seharusnya iya karena akhirnya aku sudah tidak lagi gadis dan sudah tidak bisa lagi menggoda laki-laki.” Jawab Hanin asal dengan suara pelan sembari tetap menyandarkan kepalanya pada kedua lutut yang ia peluk.
Kenan mengeryitkan dahi dan melepaskan pelukannya. “Jadi, kamu membenarkan bahwa kamu adalah wanita penggoda?”
“Kamu duluan yang memberi predikat itu padaku. Jadi sekalian saja bukan?” ucap Hanin menantang, sambil melirik sinis ke arah Kenan.
Kenan kembali menjatuhkan tubuh Hanin, hingga tubuh itu kembali terlentang. Lalu, ia menindihnya. “Kalau begitu layani aku lagi, wanita penggoda.”
Hanin memukul dada Kenan bertubi-tubi. “Brengs*k. Pyco! Menyebalkan!”
Kenan menahan kedua tangan Hanin dengan kedua tangannya ke samping kepala Hanin. “Katanya tubuhmu remuk, tapi kamu cukup kuat untuk memukulku.”
“Ken, jelek. Mengapa kamu menyebalkan sekali,” teriak Hanin.
“Karena kamu duluan yang membuatku kesal.”
“Lepas.” Hanin berusaha berontak.
“Enggak.”
__ADS_1
“Kenan.”
“Apa? Hmm ....” Kenan menatap wajah menggemaskan Hanin tanpa jarak, karena wajah Hanin yang sedang kesal itu semakin menggemaskan menurutnya.
Kenan kembali menciumi leher jenjang Hanin.
“Ken, sudah. aku ingin istirahat dulu.”
Kepala Kenan menggeleng dengan tetap melanjutkan aksinya.
“Ken aku lapar, sumpah! Kamu tega banget.”
Kenan melepaskan aksinya. Baru saja ia akan menggigit leher itu, menciptakan kembali warna merah keuangu-unguan di bagian yang lain.
“Ya ampun, kamu lapar?” tanya Kenan panik.
Hanin mengangguk. “Lapar, sakit, remuk. Semua jadi satu.” Ucapnya memelas.
Kenan tertawa. “Itu baru hukuman pertama. Akan ada hukuman kedua nanti.”
Kemudian, Kenan bangkit dan tidak lagi menindih tubuh Hanin. Ia berdiri dan mengambil ponselnya. Ia menekan pesanan makanan online.
Hanin melirik sinis ke arah Kenan.
“Mau makan apa?” tanya Kenan pada Hanin yang sedang berusaha kembali bangkit.
Hanin tak menjawab pertanyaan Kenan. Ia masih terlalu kesal dengan sikap pria itu yang seenaknya.
“Han, mau makan apa?” tanya Kenan lembut, sembari mendekatkan tubuhnya pada Hanin yang masih duduk di atas ranjang.
“Hei, aku tanya baik-baik.” Kenan menjepit dagu Hanin dan memaksa wajah sang istri melihat ke arahnya.
“Ish, pemaksa!” Hanin menepis tangan Kenan yang berada di dagunya.
“Makanya kalau aku tanya, di jawab.”
“Bodo.” Hanin berusaha berdiri, walau kakinya masih terasa lemas dan tidak bertenaga.
“Ah.”
Tubuh Hanin terjatuh. Lalu dengan cepat Kenan menahan tubuh polos yang hanya di balut dengan selimut tebal.
“Hmm ... ini ulahmu.” Hanin kembali memukul dada Kenan yang hendak membantunya berdiri.
“Tapi kamu juga menikmatinya,” ledek Kenan tersenyum.
“Ish, nyebelin.. nyebelin.” Hanin terus memukul dada bidang Kenan.
Kenan hanya menanggapi dengan tertawa, karena memang tidak di pungkiri saat penyatuan itu Hanin pun menikmatinya. Sang istri juga menikmati setiap sentuhan Kenan yang melenakan dan tidak bisa di tolak.
“Baiklah, aku tanggung jawab.”
__ADS_1
Hap
Kenan menggondong Hanin ala bridal.
“Kamu mau kemana? Ke kamar mandi?” tanya Kenan lembut.
Hanin terdiam. Tiba-tiba jantungnya kembali berdegup kencang. Sikap lembut Kenan sampai hingga menyentuh relung dada Hanin terdalam.
Hanin mengangguk. Lalu Kenan membawa tubuh sang istri, ke tempat yang dia mau. Hanin ingin membersihkan sisa-sisa percintaan yang membuat tubuhnya lengket. Kemudian, Kenan mendudukkan Hanin di kloset.
“Ada lagi yang kamu butuhkan?” tanya Kenan lembut dengan menatap wajah Hanin.
Hanin pun membalas tatapan itu. Ia terus melihat ke kedua bola mata Kenan. Sorot mata pria itu benar-benar menunjukkan kasih sayang yang tulus.
Perlahan, Hanin menggelengkan kepalanya.
Kenan kembali tersenyum dan mengacak-acak rambut Hanin. “Baiklah, kalau tidak ada keperluan lain. aku tinggalkan kamu sendiri di sini. jika sudah selesai, panggil aku. Aku akan menggendongmu lagi.”
Tanpa Hanin sadari, ia menyungging senyum. Senyum yang sangat manis. Mungkin ini adalah efek dari sikap manis yang Kenan tunjukkan.
“Jadi kita damai?” tanya Hanin, saat Kenan hendak meninggalkannya di kamar mandi itu.
Kenan menoleh ke arah Hanin lagi dan berjongkok lagi tepat di hadapannya. “Bukan hanya damai, tapi mulai saat ini, kita akan menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh. Walau semula aku menikahimu karena Kiara atau apapun. Yang jelas saat ini. kita bukanlah pasangan suami istri bohongan.”
“Kenapa?” Hanin menatap wajah Kenan, dekat.
Tangan Kenan kembali terangkat dan mengelus kepala Hanin. “Karena aku di ajarkan untuk menjunjung tinggi pernikahan dan kesetiaan.”
“Lalu ... tunanganmu?”
“Sudah aku putuskan.”
Hanin terdiam.
Terlalu naif, jika ia ingin Kenan menjawab 'karena aku mencintaimu'.
Hanin tidak mungkin sepercaya diri itu. Dengan jawaban seperti ini saja cukup membuatnya memiliki alasan untuk mempertahankan pernikahan ini, karena ia pun diajarkan oleh orang tuanya hal yang sama bahwa hidup sekali dan menikah pun sebisa mungkin sekali. Paling tidak, mereka memiliki visi yang sama untuk melanjutkan pernikahan ini.
Hanin benar-benar tak menyangka pria menyebalkan ini, bisa tegas. Dan, yang lebih tidak menyangka lagi, bahwa dirinya lah yang Kenan pilih. Entah, ia ingin senang atau sedih, tapi yang jelas hatinya senang mendengar semua ini langsung dari mulut Kenan, si pria arogan itu.
Tanpa Hanin sadari, senyum itu kembali mengembang dari sudut bibirnya. Tidak di pungkiri, ia cukup berbungan mendengar jawaban Kenan. Dan, Kenan melihat ekspresi itu, hingga membuat senyumnya pun mengembang.
“Jangan lama-lama di sini! Aku tidak mau kamu sakit, karena malam kita masih panjang dan masih ada hukuman kedua menantimu.” ledek Kenan dengan merubah ekspresi senyumnya menjadi tersenyum licik, membuat Hanin kembali mengerutkan bibirnya.
Baru saja, hatinya senang. Tiba-tiba pria itu kembali membuatnya jengkel.
“Huft, dasar mesum!” Hanin melayangkan kepalannya ke udara, saat Kenan berbalik dan hendak melangkah pergi keluar kamar ini.
Sontak, Kenan membalikkan tubuhnya, seolah merasakan apa yang Hanin ingin lakukan padanya.
“Kenapa?” tanya Kenan yang melihat Hanin terkejut dan menurunkan kepalan tangannya.
__ADS_1
Hanin tersenyum maksa. “Ngga apa-apa.”
Kenan tahu kekesalan sang istri. Ia pun tersenyum dan kembali membalikkan tubuhnya untuk keluar. sungguh, hari-hari Kenan kini lebih berwarna dengan hadirnya wanita yang semula selalu ia sebut sebagai wanita penggoda. Wanita yang berhasil menggodanya lagi dan lagi, hingga ia memilihnya dan tidak akan pernah melepasnya, walau ia tahu akan ada banyak orang yang akan memisahkan dirinya dan Hanin.