Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Vicky dan Rea 7


__ADS_3

Only tell me that you still want me here


When you wander off out there


To those hills of dust and hard winds that blow


In that dry white ocean alone


Lost out in the desert


You are lost out in the desert


But to stand with you in a ring of fire


I'll forget the days gone by


I'll protect your body and guard your soul


From mirages in your sight


Lost out in the desert (desert, desert, desert)


Vicky tengah menyesap minuman bersoda di sebuah cafe. Ia duduk di sudut ruangan sembari mendengar alunan musik yang dinyanyikan Rea.


Rea tengah menyanyikan lagu Snow On The Sahara milik Anggun.


Malam ini, Vicky duduk sendiri. Isi Kepalanya memutar banyak kenangan yang mengisahkan jalan hidup yang sudah ia lewati. Ia menghelakan nafasnya panjang dan menatap lurus ke depan, ke arah wanita yang diincarnya.


If your hope scatter like the dust across your track


I'll be the moon that shines on your path


The sun may blind our eyes


I'll pray the skies above


For snow to fall on the Sahara


If that's the only place


Where you can leave your doubts


I'll hold you up and be your way out


And if we burn away


I'll pray the skies above for snow to fall on the 


Semula Kenan dan Gunawan berjanji akan menemaninya di cafe ini. Namun, lagi-lagi itu hanya janji karena akhirnya mereka akan membatalkan dengan alasan menemani istri dan anaknya.


Vicky memaklumi itu. Mungkin kelak ketika ia memiliki keluarga akan menjadi seperti Kenan dan Gunawan.


Tak lama kemudian, terdengar riuh tepukan tangan untuk Rea, karena wanita itu telah selesai menyanyikan empat lagu dengan suara merdunya dan lagu milik Anggun menjadi lagu terakhir yang ia nyanyikan malam ini.


Vicky ikut bertepuk tangan sembari tersenyum.


"Hei, dari tadi gue liat sepertinya lu terpesona banget sama penyanyi gue," ucap pria dari belakang tubuh Vicky seraya menepuk bahunya.


Vicky menoleh ke arah itu dan pria yang merupakan pemilik cafe ini pun langsung duduk di samping Vicky.


"Udah lama dia kerja sama lu?" tanya Vicky.


Kebetulan, Vicky memang kenal baik dengan pria ini. Walau ia tak pernah satu sekolah atau kuliah tetapi mereka menjadi teman yang cukup akrab ketika bertemu di sebuah komunitas jeep off road. Vicky, Kenan, dan Gunawan memang menyukai hobby itu sejak SMA, lalu mereka mulai mengikuti komunitas sejak pertengahan kuliah.


"Lumayan lama, udah empat tahunan lah, dari dia masih SMA kelas satu. Kebetulan Rea itu teman sekolah ponakan gue."


Vicky berbincang dengan pemilik cafe yang bernama Benny sembari arah mata mereka tertuju pada Rea yang terlihat bercengkrama dengan pemain musik lainnya di sana.


"Lu suka?" tanya Benny tersenyum menyeringai.


Benny seusia dengan Vicky. Ia juga sudah memiliki istri dan dua anak.


Vicky tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan itu. Ia kembali menyesap minumannya. Namun, sebagai pria yang sudah menemukan cinta, Benny pun tahu gelagat Vicky yang menyukai Rea.


"Pepet terus, Vick. Walau pun doi udah punya pacar. Tapi baru pacar, kadang malah ada yang udah punya suami, di embat aja."

__ADS_1


Vicky tertawa. Dulu ia juga pernah ingin merebut Kiara dari Gunawan yang berstatus istri orang.


"Tapi sepertinya Rea tidak seperti wanita yang lain. Orangnya agak susah didekati."


Vicky mengangguk. "Ya, benar."


Tiba-tiba Benny berdiri dan melambaikan tangannya ke arah Rea, karena sementara live show sedang diistirahatkan dan akan berganti dengan penyanyi yang lain.


Rea yang melihat ke arah Bosnya itu, segera menghampiri.


Vicky duduk santai sembari menunduk ke arah gelas di depannya. Ia tahu Benny akan memanggil Rea untuk menemaninya malam ini. Ia juga tahu bahwa temannya ini akan mendekatkan dirinya pada Rea. Apalagi Benny tahu kalau Vicky menyukai penyanyinya. Mengingat di komunitas itu hanya Vicky yang belum menikah, kalau pun ada yang jomblo, itu karena mereka bercerai.


"Iya, Bang." Rea antusias berjalan mendekati bosnya


"Ada yang mau kenalan sama kamu nih," kata Benny menunjuk ke arah Vicky.


Rea pun ikut melihat ke arah yang ditunjuk Benny.


Sontak Vicky menengadahkan kepalanya untuk menunjukkan wajahnya pada Rea dan Rea pun spontan melengos sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Ck ... Dia lagi, dia lagi," batin Rea. Sungguh, ia malas sekali melihat Vicky, karena pria ini seperti hantu yang selalu ada di sekitarnya.


Benny melihat ke arah Vicky dan Rea bergantian. "Kalian sudah saling kenal?"


Vicky tetao.menampilma senyum manis pada Rea, tetapi tidak untuk wanita itu. Rea terlihat datar.


Rea mengangguk.


Benny menepuk pundak Vicky. "Kanapa ngga bilang kalau lu udah kenal Rea, ck .. Ya udah gue tinggal lu bedua."


Benny hendak pergi dan ia berkata lagi pada Rea, "temani dulu temanku, Re. jam pulang kamu masih satu jam lagi kan?"


Dengan terpaksa Rea mengangguk. "Iya, Bang."


Benny mengedipkan sebelah matanya pada Vicky, membuat Vicky tertawa dan berkata, "thanks, bro."


"Oke, gue tinggal Vick." Benny kembali menepuk bahu Vicky dan pergi meninggal dua insan berlainan jenis ini.


Rea menggeser kursi di samping Vicky dan duduk. "Sepertinya kamu bukan orang sembarangan."


"Selain Mas Adi dan Bang Benny. Temanmu pemilik apalagi?" tanya Rea sinis.


Vicky tertawa. "Itu hanya kebetulan."


Rea pun berkata dengan pandangan lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Vicky. "Jadi malam ini, aku di booking kamu satu jam?"


Rea menoleh ke arah Vicky sembari menunjuk dirinya dan mengangkat jari telunjuknya ke atas.


Vicky pun menoleh ke arah Rea. "Menurutmu seperti itu?"


"Ck ... to the poin aja deh. Maksud kamu apa sih? sepertinya sekarang kemana pun aku berpijak selalu ada kamu. Kamu juga berhasil mendoktrin kedua adikku. Tujuan kamu apa?"


"Kamu," jawab Vicky santai.


"Aku?" tanya Rea sembari menunjuk dirinya.


Ia tidak pernah sepercaya diri itu, mengira Vicky menyukainya, karena ia pikir Vicky adalah salah satu om mesum yang hanya sekedar ingin menggodanya saja.


Vicky mengangguk.


"Kenapa?" tanya Rea.


"Karena aku menyukaimu."


Rea mengeryitkan dahi. "Gila, stres kali ya. Aku tuh udah punya pacar Om. lagian Om itu bukan tipeku."


"Bagus," jawab Vicky. "Aku memang mencari wanita yang tidak menyukaiku, karena itu adalah tantangannya dan aku suka tantangan."


Kini keduanya saling berhadapan. Mereka memutar kursi itu agar saling berhadapan.


"See ... Kita lihat saja nanti, apa kamu bisa menaklukanku."


Vicky tersenyum. Gadis ini memang berbeda, tingkat kepercayaan dirinya cukup tinggi. Walau ia layak untuk itu.


"Oh iya, ngomong-ngomong tentang pacarmu. Apa kalian masih pacaran? Aku lihat dia tak lagi menjemput dan mengantarmu kuliah. Atau ... dia sedang sibuk dengan pacar keduanya?"

__ADS_1


Rea terdiam. Lalu, tiba-tiba ponsel Rea berdering menampilkan sebuah pesan masuk dalam bentuk video.


"Aku diminta Thia untuk menyelidiki kekasihmu. yang ku kirim tadi hanya sebagian video yang aku punya. masih ada video yang lain."


Rea mengambil ponselnya yang tergeletak di meja tempat kedua tangannya bertumpu. Ia membuka pesan itu dan mendownloadnya. Namun, setelah itu tangannya gemetar, ia takut untuk membuka video itu. Ia takut untuk menerima kenyataan buruk.


"Kamu wanita yang pintar Rea. Aku pun tidak rela jika kamu dibohongi."


Rea menatap wajah Vicky. Sepertinya pria di depannya ini mengetahui kartu As kekasih Rea dan Rea meyakini bahwa Vicky tidak sedang menipu atau hanya memfitnah kekasihnya.


Rea sadar Vicky bukanlah orang sembarangan dan untuk mencari informasi seperti ini adalah hal yang mudah.


"Kamu ingin pulang? Aku antar." Vicky menawarkan diri.


"Waktu pulangku masih setengah jam lagi," jawab Rea.


"Kalau begitu aku tunggu."


Vicky mengalihkan pembicaraan dengan pembicaraan tentang dirinya yang juga memiliki dua adik. Entah Rea akan mendengarkan atau tidak, tapi ia ingin perlahan Rea tahu tentang dirinya. Ia juga menceritakan bahwa ia pernah berada di posisi Rea saat ini, tetapi ia beruntung karena mempunyai sahabat yang kaya raya. Vicky menceritakan tentang Kenan dan Gunawan. Namun, ia tak menceritakan tentang skandal itu.


Ternyata, Rea mendengarkan cerita Vicky. Obrolan mereka mulai hangat karena Rea tak lagi bersikap ketus dan dingin. Rea tak menyangka bahwa ia memiliki nasib yang sama dengan om mesum yang menyebalkan ini.


"Lalu, dimana adik-adik om sekarang?" tanya Rea.


Vicky tidak mempermasalahkan Rea yang memanggil dirinya dengan sebutan om. Justru ia suka mendengar panggilan itu, ia terkesan seperti sugar daddy.


"Mereka sudah menikah dan tinggal di kota berbeda. Adik pertamaku tinggal di semarang. Kebetulan dia baru ditugaskan di sana dan sudah memiliki satu anak, sedangkan adik kedua ku tinggal di Australia, dia sedang hamil."


Tiba-tiba bibir Rea menyungging senyum di balik telapak tangan yang menyangga dagunya. "Amazing. Ternyata kamu hebat."


Vicky ikut tersenyum. Ini adalah kali pertama Rea tersenyum padanya.


"Manis," batin Vicky.


"Mereka yang hebat dan memiliki kemauan tinggi." Vicky memuji kedua adiknya yang kala itu memang semangat untuk belajar dan meraih masa depan. "Aku hanya penyambung masa depan mereka."


Rea tersenyum lagi. Ternyata di balik kemesuman pria ini, terdapat tanggung jawab dan hati yang baik.


Vicky melihat jam di tangannya. "Sudah lebih dari setengah jam. Sepertinya aku banyak sekali bicara. Ayo pulang!" Ia berdiri dan mengajak Rea untuk pulang.


Rea mengangguk dan meminta waktu untuk berpamitan dengan temannya yang lain di sana.


****


Vicky memberhentikan mobilnya tepat di depan gang rumah Rea.


"Salam untuk Thia dan Nisa," ucap Vicky.


Rea mengangguk. "Terima kasih tumpangannya."


"Tidak masalah. Bahkan kalau kamu ingin aku mengantar dan menjeputmu setiap hari. Akan aku lakukan."


Rea menggeleng. "Aku bukan wanita lemah. Aku bisa kemana-mana sendiri."


"Ya ... ya ... aku hanya memberi penawaran." Vicky mengangkat bahunya.


Lalu, Rea membuka pintu mobil itu.


"Re, kalau kamu siap untuk lebih mengetahui apa yang kekasihmu lakukan pada asistennya. Datanglah ke apartemen dia, karena kekasihmu dan asistennya tinggal bersama di apartemen itu."


Deg


Rea mematung.


"Kamu tahu passcode apartemen kekasihmu kan?" tanya Vicky


Rea mengangguk.


"Datanglah malam-malam ke sana. Itu pun jika kamu siap."


Rea menoleh ke arah Vicky dan menatapnya.


"Kalau kamu ingin ditemani. Aku akan menemanimu. Telepon saja aku, jika kamu ingin ke tempat itu."


Rea menyungging senyum. Senyum manis yang cukup lebar. "Terima kasih, maaf aku telah salah menilaimu selama ini."

__ADS_1


Vicky pun tersenyum lebar. Satu langkah lagi, ia akan seperti Kenan dan Gunawan.


__ADS_2