Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Ekstra part 12


__ADS_3

“Ra, udah dong jangan diemin aku terus!” rengek Gunawan sembari mendudukkan diri di tepi ranjang.


Ia menatap Kiara yang serius memakaikan Kayla pakaian selepas memandikannya. Sebelum itu, ia mengusapkan minyak telon ke tubuh sang putri denga telaten. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Kiara dan Gunawan tidak akan keluar kamar sebelum jam delapan pagi dan turun untuk menikmati sarapan pagi bersama Rasti, karena menurut Gunawan waktu ini termasuk quality time bersama anak dan istrinya, sebelum ia beangkat kerja.


Raut wajah Kiara masih tertekuk dan tak menampilkan senyumnya sama sekali. Sejak semalam, Kiara seperti ini, lebih tepatnya ketika Kiara mebaca pesan manja dari wanita yang dulu pernah Gunawan gunakan sebelum berpacaran dengan Hanin dan akhirnya insyaf.


“Aku tidak tahu, dia dapat nomorku dari mana? Sudah dua tahun aku tidak pernah ketemu atau komunikasi sama dia,” ucap Gunawan lirih.


Namun, Kiara di sana tetap bungkam.


“Ra, bicara dong. Aku rindu kamu yang cerewet.”


“Oh, jadi aku cerewet?” tanya Kiara seperti orang yang akan mengajak perang.


“Bukan-bukan, bukan gitu. Tapi biasanya kamu kan banyak bicara.”


“Oh, jai aku banyak bicara?”


“Ya ampun salah lagi kan. Emang nih mulut ngga bisa di ajak kompromi.” Gunawan memukul mulutnya sendiri.


Sementara Kiara yang sudah selesai memakaikan pakaian pada putrinya pun segera menggendeng Kayla dan hendak keluar kamar.


“Ra, tunggu. Ini belum jam delapan.” Gunawan melihat ke arah jam dinding. “baru jam tujuh, Ra, aku mau main dulu sama Kayla dan kamu.”


Lalu, Kiara memberikan Kayla ke gendongan Gun. “Ya udah, kalau gitu pegang Kayla. Aku mau mandi.”


Kiara bergegas berjalan ke kamar mandi.


“Aku mandiin ya, sayang. Kayla aku kasih si Bibi dulu.”


Kiara mengeryitkan dahinya. “Kamu bukannya udah mandi?”


“Tapi aku masih bau lagi.” Gun mengendus ketiaknya kiri dan kanan.


Kiara ingin sekali tertawa, tetapi ia tahan. Ia percaya, bahwa sang suami memang tidak pernah bermain wanita lagi diluar, tapi ia cukup kesal karena Gunawan menjawab chat wanita itu. Walau gun menjawab wanita itu dengan isi pesan yang standar, tapi intinya tetap saja Gun meladeni wanita itu dan itu berarti sama saja membuka jalan untuk kembali seperti dulu.


Kiara langsung masuk ke kamar mandi. Namun, tangan Gun menahan pintu yang hendak Kiara tutup itu.

__ADS_1


“Jangan di kunci! Nanti aku balik lagi, oke!” kata Gunawan yang langsung keluar kamar untuk mencari si Bibi dan menitipkan Kayla padanya.


Kiara hanya tersenyum ketika suaminya sudah berlari keluar.


****


“By, kamu lihat cincin aku ngga?” tanya Hanin saat ia kembali ke kamar mandi dan ternyata cincin pernikahan yang setiap hari ia sematkan di ajri manisnya itu tidak ada di tempat.


“Mana aku tahu.” Kenan mengerdikkan bahunya sembari tetap menyuapkan makanan ke mulut.


Mereka tengah berada di meja makan, sedangkan Kevin di ajak Lastri untuk berjalan-jalan di seputar taman apartemen.


“Hah.” Hanin menghelakan nafasnya sembari mendudukkan diri tepat di samping sang suami.


“Biasanya kamu yang beresin. Tadi kan abis aku selesai dari kamar mandi, kamu langsung masuk.”


“Aku ngga tahu. Lagian kamu tuh selalu menaruh cincin itu sembarangan. Itu cincin pernikahan kita, Sayang. Menghilangkannya sama saja kamu telah menghilangkan hati kamu untukku.”


“Ish, lebay banget. Ya ngga gitu dong. Aku beneran lupa. Tadi tuh aku lepas karena aku bersihin pup nya Kevin.”


“Uhuk .. Uhuk .. Uhuk ...” Kenan tersedak, karena Hanin membicarakan masalah pup di meja makan.


Sebenarnya, bukan masalah pembicaraan yang tidak etis. Kenan tidak sekaku itu, tapi maslaahnya memang Kenan sengaja mengerjai sang istri. Ia memang menemukan cincin itu dan ia kantongi. Ia sengaja ingin mengerjai Hanin karena hari ini adalah anniversary mereka. Dan, yang membuat Kenan kesal adalah Hanin tidak mengingat bahwa hari ini hari spesial.


“By, kamu lihat kan? Jangan-jangan kamu umpetin di kantong ya?” tanya Hanin yang tidak percaya dengan pengakuan sang suami, pasalnya ia tahu betul bahwa Kenan suka mengerjainya.


Tangan Hanin meraba kantong celana Kenan, hingga meraba bagian miliknya.


“Aww ... aww ... jangan di sentuh! Memang mau tanggung jawab?” tanya Kenan dengan senyum menyeringai.


Hanin langsung melepaskan tangannya dan duduk tegap seperti semula. ‘Ish dasar mesum.”


Lalu, Kenan mendekatkan wajahnya pda sang istri “Kamu udah selesai kan?”


Ya, Hanin memang sudah melewati masa nifasnya, bahkan sudah lewat dari seminggu ia selesai melewati masa itu.


“Ngitungin aja sih kamu,” ucap Hanin sembari matanya melirik ke arah sang suami.

__ADS_1


Kenan tertawa.


“Berarti, nanti malam siap dong?” tanya Kenan yang kemudian asyik menikmati sandwich dengan arah mata melirik pada Hanin dan menaik turunkan alisnya.


“Ish sebel banget sama wajah mesum kamu.” Hanin kembali memposisikan duduk tegap di meja makan dan melirik lagi ke arah sang suami.


Kenan pun masih dengan ekspresi yang sama, menatap sang istri dengan senyum menyeringai dan menaik turunkan alisnya sembari memasukkan sandwich itu ke mulut.


Hanin yang melihatnya pun hanya memonyongkan bibir dan ekspresi itu kembali membuat Kenan tertawa.


Selesai menghabiskan sandwich itu ke mulut, kemudian Kenan minum dan langsung berdiri.


“Oke, aku berangkat dulu. Pokoknya, aku pulang, cincin itu sudah ada di jari kamu.”


Hanin menaruh makannanya lagi ke piring. Ia menengadahkan kepalanya menatap sang suami. “Kalau belum ketemu gimana?”


“Ya, pastinya ada hukuman untuk itu.”


“By ... Jangan!” rengek Hanin.


“Hmm ... udah lama juga ngga hukum kamu,” kata Kenan sembari meluyur meninggalkan Hanin yang masih duduk di meja makan.


Hanin pun berdiri dan hendak mengantarkan sang suami hingga ke lantai dasar, sekalian menemui Kevin yang masih bersama Lastri di bawah sana.


“By, aku masih takut,” kata Hanin.


“Takut kenapa?” tanya Kenan.


Hanin mengambil jas Kenan yang berwarna hitam dan memakaikannya apda tubuh tegap sang suami.


“Aku masih takut melakukan itu, kata orang paska melahirkan, melakukan itu lagi sangat sakit. Seperti ketika pertama kali gitu.”


“Bagus dong,” jawab Kenan santai.


“Ish, kamu. Aku serius.”


“Aku juga serius, Sayang. Sangat serius menanti datangnya malam.”

__ADS_1


“Kenaaan ...” teriak Hanin, karena Kenan sudah berjalan menuju pintu dan hendak keluar. Ia tak henti tertawa, karena berhasil membuat suara lengkingan nyaring itu terdengar dari mulut sang istri.


__ADS_2