Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Ya Tuhan, Apa dosaku?


__ADS_3

Di pagi yang sama, ketika Kenan menerima telepeon dari Mr. Anderson. Di kediaman Aditama, Rasti pun menerima semprotan dari Alin.


“Rasti ... Rasti ....” teriak Alin dengan tergesa-gesa melangkahkan kakinya masuk ke rumah besar itu.


“Mommy Alin. Ada apa?” Sapa Kiara yang melihat kedatangan ibunda Vanesa itu.


“Mami sepertinya masih di kamar.”


“Susruh Mamimu keluar, aku ingin bertemu. Sekarang!” Alin membulatkan matanya ke arah Kiara.


Kiara heran melihat kemarahan Alin, pasalnya wanita itu tidak pernah menampilkan sisi yang seperti ini.


“Ada apa, Alin? Mengapa teriak-teriak?” tanya Rasti yang sudah keluar dari kamar dan mendapati sahabatnya tengah bersuara tinggi di depan putrinya.


“Ada apa, ada apa. Apa kau tidak tahu? Kenan telah memutuskan pertunangannya dengan putriku?”


Sontak, Rasti dan Kiara terkejut.


“Apa?” tanya mereka bersamaan.


“Itu tidak mungkin, Lin,’ ucap Rasti.


“Kemarin, putramu datang. Aku pikir dia datang untuk makan malam dan membicarakan pernikahan. Ternyata, dia malah datang membawa berita buruk. Putramu kurang ajar, Rasti. Kalian telah mempermalukan keluargaku.” Alin menangis.


Rasti menghampiri Alin dan merangkul bahunya. “Mungkin Kenan sedang banyak tekanan pekerjaan, Jeng. Aku yakin putrku tidak akan berbuat seperti itu.”


“Tapi, Kenan sudah jelas-jelas memutuskan pertunangan itu. Putramu menyerahkan cincin pertunangannya pada James dan bilang kalau dia tidak mencintai Vanesa. Sekarang Vanesa tidak keluar kamar dari kemarin, tidak mau makan, dan sangat terpuruk.” Alin masih menangis.


Kiara hanya diam dan hanya menjadi pendengar. Ia sangat kenal sang kakak, jika Kenan sudah mengambil keputusan, maka memang seperti itulah yang akan terjadi.


“Tenang, Jeng. Aku akan bicara pada Kenan. Putraku akan kembali pada putrimu.” Rasti mencoba menenangkan Alin.


“Tapi, James sudah tidak mau menerima Kenan, karena katanya Kenan sudah menikah,” jawab Alin lirih.


“Apa?” Rasti dan Kiara kembali terkejut.


“Itu ngga mungkin,” ucap Kiara tak percaya.


“Iya, itu tidak mungkin, Jeng. Jika Kenan menikah, aku pasti tahu. Aku sangat mengenal putraku, dia selalu meminta izinku untuk melakukan sesuatu, apalagi menikah,” sahut Rasti.


“James mendengar Kenan berkata seperti itu dan dia yakin tidak salah dengar.”


Rasti memeluk Alin. “Tenanglah, Jeng. Aku yakin inni hanya sebuah kesalahan. Aku tidak pernah melihat Kenan dekat dengan wanita manapun. Tenanglah, aku akan menemui Kenan dan bertanya langsung padanya.”


Alin masih menangis. “Suruh Kenan ke rumahku, Ras. Aku tidak bisa membujuk Vanessa untuk keluar kamar.”


Alin mengangguk. “Iya, Lin. Pasti.”


Lalu, Alin pun pamit dan pulang. Sementara, Kiara dan Rasti menemani kepulangan Alin hingga wanita paruh baya itu masuk ke dalam mobil dan mobilnya keluar dari gerbang rumah Rasti.

__ADS_1


“Ra, kamu percaya kakakmu sudah menikah?” tanya Rasti.


Kiara terdiam dan mengangkat bahunya.


“Mami jadi ingin segera ke kantor kakakmu.”


Kiara da Rasti melangkah untuk masuk ke dalam rumah. Rasti segera mengambil ponsel dan menelepon anak lelakinya untuk di mintai keterangan tentang apa yang telah di ucapkan sahabatnya tadi.


Tut ... Tut ... Tut ....


Rasti menelepon putranya melalui panggilan video call. Ia berdiri mondar mandir, menunggu Kenan mengangkat telepon darinya.


Namun, di luar rumah itu, terdengar pula sapaan seseorang, dia adalah Gunawan.


“Assalamualaikum.”


Rasti dan Kiara langsung menoleh ke sumber suara itu.


“Waalaikumusalam.” Rasti menyempatkan menjawab salam Gunawan dan menyuruh menantunya duduk di meja makan, karena Rasti dan Kiara sedang berada di sana.


Kiara menatap malas wajah pria yang masih berstatus suaminya.


“Mau apa kamu, Mas?” tanya Kiara.


“Aku ingin menjemputmu, Ra.”


Kiara menggeleng. “Keputusanku sudah bulat, Mas.”


Rasti yang sedang menelepon Kenan dari jarak yang cukup jauh, karena Rasti memisahkan diri saat Kenan mengangkat teleponnya dan ia tak mendengar perdebatan yang terjadi antara putrinya dengan sang suami.


“Tapi sekarang aku mau, aku sudah siap, Mas. Lagian bukankah ini yang kamu mau sejak dulu. Kenapa sekarang kamu tidak mau?” tanya Kiara kesal.


“Karena kamu sedang hamil anakku.”


“Tenang, Mas. Aku akan merawat anak ini dengan baik.”


Gunawan menggeleng. “Aku juga ingin merawat anakku dengan baik.”


“Kita bisa berbagi waktu untuk menemui anak ini nanti,” sambung Kiara.


Lagi-lagi Gunawan menggeleng. “Aku ingin kita merawat anak ini bersama.”


Kali ini Kiara yang menggelengkan kepalanya. “Tidak, Mas. Tidak bisa. Aku sudah mengambil keputusan. Aku sudah tidak ingin bersamamu. Maaf.”


Kata-kata yang baru saja Kiara ucapkan, cukup menusuk hati Gunawan. Entah, Mengapa lagi-lagi hatinya tercubit, sama seperti saat melihat Kiara tertawa bersama Vicky kemarin sore.


“Kiara ...” Rasti melangkah mendekati putrinya yang sedang bersama sang suami.


Rasti tidak sengaja mendengar percakapan terakhir putrinya dengan sang suami, sesaat setelah Kenan menutup sepihak panggila telepon darinya.

__ADS_1


“Apa Mami tidak salah dengar? Kalian ingin bercerai?” tanya Rasti dengan nada yang cukup tinggi.


Ia sungguh pusing, dipusingkan dengan tingkah kedua anaknya yang sedang bermasalah dalam urusan cinta.


“Saya tidak ingin pisah dari Kiara, Mam,” ucap Gunawan.


Rasti menoleh ke wajah menantunya yang lesu. Lalu, kembali menatap putrinya tajam.


“Kiara ...” teriak Rasti.


“Kiara sudah tidak mencintai, Mas Gun, Mom.”


Jedar


Gunawan terkejut. Ia sungguh terkejut dengan pernyataan dari wanita yang selama ini selalu mengejarnya dan mengais cinta darinya.


“Apa?” tanya Rasti yang juga terkejut denga pernyataan sang putri, pasalnya Kiara selalu membanggakan suaminya walau sang suami salah atau terkadang bersikap cuek pada keluarganya.


“Apa Mami tidak salah dengar, Ra?” tanya rasti lagi.


Kiara menggeleng.


“Tapi kamu sedang hamil, Ra.” Rasti benar-benar tak habis pikir.


“Memang kenapa kalau Kiara lagi hamil, Mam. Kiara bisa merawat anak ini dengan baik, nanti. Percayalah!” Kiara melirik ke arah Rasti dan Gunawan bergantian.


Rasti terduduk lemas, sembari memegang kepalanya yang pening. “Ya, Tuhan. Apa dosaku? Mengapa putraku putriku seperti ini?”


“Mam, maafkan Kiara.” Kiara bertekuk lutut di hadapan sang ibu.


“Ra, aku minta maaf. Maaf jika aku selalu menyakitimu, tapi sekarang aku ingin memulai hubungan kita dari awal. Demi anak kita,” ucap Gunawan lirih.


Kiara berdiri dan menghampiri Gunawan. “Tidak perlu, Mas. Aku tidak ingin anak ini menjadi tameng. Seharusnya dari awal aku sadar, bahwa aku memang tidak akan pernah mendapat cintamu. Jadi memang lebih baik kiat berpisah dan mencari kebahagiaan kita masing-masing.”


Gunawan menggeleng. “Tidak, Ra.”


“Ini yang terbaik, Mas. Percayalah! Aku akan merawat anak ini dengan baik dan kita bisa berbagi waktu untuk mengurusnya. Aku tidak akan egois dan memiliki anak ini sendiri.”


Gunawan terdiam dan mulai kembali berkata, “kamu sedang tidak stabil, Ra. Mungkin ini hormon dari kehamilanmu.” Ia menarik nafasnya kasar. “Aku akan membiarkanmu menginap di sini beberapa hari, setelah itu aku akan menjemputmu. Aku yakin kamu hanya butuh waktu unuk sendiri. Aku pun begitu.”


Rasti hanya bisa memijat pelipisnya sembari melihat adegan pasangan suami istri itu.


“Mam, Gun pamit. Nanti, Gun ke sini lagi untuk menjemput Kiara.”


Rasti mengangguk dan mengulurkan tangannya kepada Gunawan yang hedak pencium punggung tangan ibu mertuanya itu sebelum pergi.


“Baiklah, Gun. Terima kasih atas pengertianmu.”


Rasti tidak pernah tahu, apa yang terjadi pada rumah tangga sang putri secara detail.

__ADS_1


Kiara menatap kepergian Gunawan, lalu menatap sang ibu yang masih menatap tajam ke arahnya. Rasti butuh penjelasan. Ia butuh penjelasan dari Kiara dan Kenan tentang yang terjadi hari ini.


__ADS_2