Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Oh, my God


__ADS_3

Di malam yang sama, tetapi tempat yang berbeda. Vanesa masih larut dalam kesedihan. Sejak keluar dari apartemen Kenan, ia hanya berputar-putar kota itu. Semula ia duduk di sebuah taman dengan terus menangis. Air matanya tak kunjung berhenti, walau sebenarnya hatinya menyadari bahwa sejak awal Kenan memang hanya menjadikannya sebagai sahabat. Namun, Vanesa terlalu percaya diri, ia memastikan bahwa lambat laun Kenan pasti akan mencintainya, karena tidak ada pria yang tidak bertekuk lutut padanya.


Setelah hari semakin malam, ia pun beralih ke sebuah club yang memang hanya di datangi oleh kalangan atas. Sudah dua belas tahun lebih, ia tak lagi menginjak club itu. Pertama kali ia diperkenalkan tempat ini oleh mantan pacar yang telah mengambil kehormatannya. Saat itu, mereka tengah merayakan kelulusan di sebuah tempat romantis yang sejuk di lembang dan berjalan-jalan ke sebuah pusat kota yang dijuluki dengan kota kembang itu.


Malam semakin larut, Vanesa pun semakin mabuk. Ia terus menenggak alkohol itu.


“Nona, anda sudah sangat mabuk,” ucap bartender yang tidak ingin memberi Vanesa minuman lagi.


“Belum, aku belum mabuk,” jawab Vanesa parau.


Vanesa masih meminta gelasnya diisikan oleh miniman haram itu.


“Aku mau lagi,” ucap Vanesa lirih.


“Tidak bisa, Nona. Anda sudah sangat mabuk,” jawab bartender itu.


“Aku tidak mabuk.” Vanesa menghentakkan gelas itu dengan nada tinggi. “Sudah berapa kali aku bilang kalau aku tidak mabuk. Aku masih ingin minum.”


Vanesa terus berteriak tidak jelas, membuat orang-orang yang ada di sekelilingnya pun ikut menoleh. Sedari tadi, sejak wanita itu duduk di taman hingga sampai di club ini, ponselnya terus berdering. Sang ayah terus menelepon putrinya yang tak kunjung memberi kabar. Namun, Vanesa mengabaikan suara deringan yang tidak terdengar nyaring dari dalam tasnya.


Kemudian, seorang pria yang mengenal Vanesa pun hendak menghampiri. Namun, penjaga club yang berbadan besar dan berjas safari itu terlebih dahulu menghampiri Vanesa.


“Nona, mohon maaf. Anda tidak boleh menggangu pengunjung yang lain,” ucap penjaga keamanan itu.


Si bartender pun memberi kode kepada penjaga keamanan itu untuk membawa Vanesa keluar.


“Ayo, ikut kami!”


Satu pria bertubuh besar dan berjas yang sama itu pun ikut menghampiri dan membantu temannya membopong lengan Vanesa untuk berdiri dan mengeluarkan wanita itu dari sana.


“Lepas! Aku tidak mabuk. Dasar bod*h. Aku tidak mabuk, kau dengar! Hah!” teriak Vanesa seperti orang gila.


“Stop! Lepaskan dia!” ucap pria yang sedari tadi memperhatikan Vanesa yang sedang berbuat keributan.


“Kau mengenalnya?” tanya salah satu penjaga keamanan itu.


“Ya, saya mengenalnya.”


“Baiklah. Ini!” kedua pria bertubuh besar itu memberikan Vanesa pada pria yang juga bertubuh tinggi tegap walau ototnya tidak sebesar kedua pria yang membawa tubuh Vanesa tadi.


Wajah acak-acakan Vanesa, membuat orang tidak begitu mengenalinya. Apalagi airliner yang Vanesa gunakan sudah meleleh berantakan di wajah cantik itu.


“Lain kali, jangan ajak temanmu yang merepotkan ini kesini!” ucap salah satu penjaga keamanan itu.


“Baik.” Pria itu mengangguk.


Lalu, pria itu membawa Vanesa ke dalam mobil.


“Kenan, jangan tinggalin aku!” racau Vanesa sembari mengelus dada pria itu.


“Masuklah, Van!” Pria itu menuntun Vanesa untuk duduk di dalam mobilnya dengan sabar.


“Nan, kamu ingin membawaku pulang? Iya?’ tanya Vanesa tersenyum dengan nada khasnya orang mabuk.


Pria itu tahu, bahwa saat ini Vanesa adalah seorang model yang sudah bertunangan dengan pengusaha muda yang sangat ia kenal, karena pria itu bekerja di perusahaan pengusaha muda itu.


“Nan, aku rindu kamu.” Vanesa menggelayut manja ke tubuh pria itu.


“Ya, ya aku pun merindukanmu, Van,” balas pria itu dan mendudukkan Vanesa dengan posisi yang benar serta memasangkan seatbelt pada wanita yang tengah mabuk berat itu.

__ADS_1


Kemudian, pria itu pun membawa Vanesa ke apartemennya, karena sangat tidak mungkin jika pria itu memulangkan Vanesa ke Jakarta dengan keadaan malam yang kian larut. Sesampainya di apartemen, pria itu membopong tubuh Vanesa yang sempoyongan dan berjalan lambat, membuatnya tidak sabar, lalu menggendong tubuh Vanesa ala bridal.


“Kita berteman sejak kecil, Nan. aku yakin kamu juga mencintaiku. Kamu tidak mencintai istrimu.” Vanesa masih meracau di sela-sela perjalanan menuju kamar pria itu.


“Nan. Kenan Aditama.” Vanesa terus mengucapkan nama pria pujaan hatinya, membuat hati pria itu pun teriris mendengarnya.


“Berhenti mengucap nama itu, Van,” Pria itu geram. Namun Vanesa menghiraukannya.


Pria itu menekan passcode, hingga pintu itu pun terbuka. Ia memasukkan Vanesa ke dalam kamar dan merebahkan tubuh itu perlahan di atas tempat tidur besar itu.


“Kamu tidak pandai minum, Van. Selalu menyusahkan jika sedang mabuk,” ucap pria itu sembari melepaskan high heels yang melekat di kaki jenjang Vanesa.


Ia pun mengelus kaki mulus Vanesa. Sungguh, ia rindu dengan tubuh mantan kekasihnya dulu. Ya, pria ini adalah mantan kekasih Vanesa sewaktu SMA dan dialah orang pertama yang telah menyentuh mantan tunangan sekaligus sahabat Kenan itu.


“Hmm ...” Vanesa melenguh saat bibir pria itu menelusuri ujung kaki hingga perutnya.


“Nan, Eum ...” Vanesa terus melenguh dengan menyebut nama yang bukan nama pria itu.


Sontak pria itu pun menindih tubuh Vanesa dan wajahnya berhadapan dengan wajah wanita yang sedang mabuk berat itu.


“Sudah berapa kali aku bilang. Jangan sebut pria itu di hadapanku,” Pria itu membentak Vanesa, hingga Vanesa terdiam dan mengerjapkan matanya berulang kali, menatap wajah pria itu dengan seksama.


Cup ... tiba-tiba pria itu ******* bibir Vanesa. Semula Vanesa menolak. Namun, pria itu memaksa hingga Vanesa membalas pangutan itu.


Keduanya, saling ******* bibir, lidah, dengan ganas dan menuntut.


“Mmpphh ...” Vanesa melenguh saat nafasnya sudah terasa hampir habis.


Pria itu pun melepaskan pangutan itu.


“Aku merindukanmu, Van. Sangat rindu.” Ucap pria itu.


Vanesa masih tidak sadar, siapa pria yang tengah menindihnya. Ia terus mengerjapkan kedua matanya ke arah pria itu. Otaknya ingin menolak karena tubuh dan parfum yang pria itu gunakan bukanlah parfum dan tubuh pria pujaannya. Namun, Vanesa ingin mengulang pangutan itu dan menerima sentuhan lain dari bibir pria ini.


****


Pagi pun tiba, Hanin dan Kenan tertidur pulas dalam keadaan polos. Mereka tertidur di atas sofa yang cukup besar dengan saling berpelukan.


Rasti bangun lebih dulu dan melihat lagi pemandangan itu. Ia hanya tersenyum dan menggelengkan lagi kepalanya. Ia sengaja tidak membangunkan pasangan ini, karena ia tahu pasangan ini tidak lagi bersuara setelah malam yang semakin larut. Walau Rasti tidak bisa tidur karena suara itu. Namun, ia tetap tidak bisa bangun siang.


Rasti beralih ke dapur dan membuatkan sarapan.


Hanin mengerjapkan kedua matanya untuk terjaga, karena ia mendengar suara dentuman alat dapur. Ada seseorang di dapur. Ia pun menghirup aroma kopi dan roti panggang. Hanin melonggarkan pelukannya pada pria yang masih setia memeluknya erat. Ia memindahkan tangan Kenan yang memeluk pinggangnya, lalu perlahan bangkit.


“Mami?” tanya Hanin dalam gumaman. Jika benar yang berada di dapur itu adalah ibu mertuanya, pasti ia akan sangat malu. Ia benar-benar menantu yang tidak punya etika, pikirnya. Bukannya ia yang membuat sarapan, ini malah sang mertua yang saat ini tengah berada di sini sebagai tamu.


Hanin memungut pakaiannya dan memakai pakaian itu terburu-buru. Lalu, langkahnya langsung menuju dapur.


“Mami ...” panggil Hanin malu.


“Hai, morning,” jawab Rasti santai menoleh ke arah Hanin, lalu kembali meneruskan aktifitasnya.


“Mami, biar Hanin saja yang melakukan ini.” Hanin menghampiri Rasti dan berusaha meraih alat dapur yang di pegang oleh ibu mertuanya itu.


“Sudah tidak apa,” ucap Rasti yang menahan alat dapur yang sedang ia pegang.


“Jangan Mami! Biar Hanin saja yang membuatkan sarapan untuk Mami dan Kenan.”


Rasti tersenyum dan menggeleng. Matanya melirik ke arah tubuh Hanin yang banyak tercetak tanda merah ulah sang putra, karena Hanin kembali memakai tangtop dan celana hotpants yang ia pakai semalam.

__ADS_1


“Sudah tidak apa. Lagi pula, lebih baik kamu bersihkan tubuhmu. Aroma percintaan masih melekat di sana.” Rasti tersenyum tanpa menoleh ke arah Hanin.


Seketika Hanin membeku. Ia mencium aroma tubuhnya yang memang sangat lekat dengan aroma putra Rasti. Hanin tertunduk malu. “Maaf, Mam.”


“Loh, mengapa meminta maaf?” tanya Rasti menaikkan alisnya. “Kamu sudah melayani putraku dengan baik. Sekarang bersih-bersihlah. Biar Mami yang melanjutkan ini. lagi pula, ini sudah hampir selesai.” Rasti menunjuk roti panggang yang terjejer rapih dan siap untuk di sajikan.


“Terima kasih, Mam.” Hanin perlahan mendekati Rasti dan dengan ragu mencium pipi ibu mertuanya. Ia rindu melakukan ini. ia rindu mencium seorang ibu.


Rasti menepuk pipi Hanin dari samping. “Ya, sama-sama. Mandilah. Bau putraku sangat melekat disini,” ledek Rasti.


Hanin tersenyum dan langsung masuk ke kamarnya untuk mandi.


Sementara, Kenan baru terbangun setelah beberapa menit kemudian. Ia memungut boxernya dan memakai pakaian itu. ia berjalan menuju meja makan, sudah terlihat sang ibu tengah merapihkan meja itu. meja yang semula kosong, tiba-tiba sudah terisi oleh makanan.


“Hai, Ken.” Rasti menoleh ke arah putranya yang masih bertelanjang dada.


“Hai, Mam,” jawab Kenan santai sembari menyugarkan rambutnya ke belakang.


“Sepertinya, tidurmu nyenyak sekali,” ledek Rasti.


“Ya, Mam sangat nyenyak,” jawab Kenan yang tidak menyadari bahwa aktifitasnya semalam bersama sang istri membuat sang ibu tidak bisa tertidur nyenyak.


“Mami juga nyenyak tidurnya?” tanya Kenan yang berdiri sembari memegang sandaran kursi makan itu.


Rasti duduk dan hendak menuangkan kopi. “Ya, tidur Mami tidak pernah senyenyak semalam.”


Kenan tersenyum. “Baguslah kalau begitu. Kenan tinggal dulu ya, Mam. Ken ingin mandi rasanya gerah sekali tidur di sofa.”


Rasti tersenyum dan mengangguk. Putranya semakin pandai berbohong.


“Oh ya, Ken.” panggil Rasti saat Kenan hendak meninggalkannya.


Kenan langsung membalikkan tubuhnya dan menatap wajah sang ibu. “Ya, Mam.”


“Hari ini, apa rencanamu?” tanya Rasti.


“Kenan ada meeting sebentar di kantor Aditama Eksport, Ken ingin memperkenalkan Hanin sebagai istri Ken di hadapan para karyawan Ken di kota ini, karena Hanin pernah bekerja di sana. Lalu, Ken akan mengantar Mami pulang dan sorenya Ken ada janji untuk konferensi pers.”


“Kamu akan memperkenalkan Hanin pada media?” tanya Rasti.


Kenan mengangguk. “Sudah tidak ada lagi yang ditutupi Mam.”


“Jika James bereaksi?” tanya Rasti lagi.


“Kenan akan hadapi.”


Rasti pun tersenyum dan Kenan membalas senyum itu, lalu pamit ke kamarnya.


Hanin yang sudah rapih dan terlihat segar itu berdiri di ambang pintu kamar dan mendengar percakapan ibu bersama putranya itu. Ia tersenyum, saat langkah Kenan semakin mendekat ke arahnya. Sungguh. Semakin hari ia sangat mencintai pria ini.


“Morning,” ucap Kenan, sembari melingkarkan tangannya pada pinggang sang istri yang berdiri di hadapannya. “Kamu meninggalkanku lagi.”


Kenan tidak suka, jika Hanin terbangun lebih dulu dan tidak ada di sampingnya saat ia membuka mata.


“Maaf, Ken. Aku mendengar Mami memasak di dapur, jadi aku bergegas bangun dan ingin menggantikan Mami. Tapi Mami melarang dan menyuruhku untuk mandi karena katanya bauku seperti baumu.”


“Mami tahu, semalam kita ...” Kenan tidak melanjutkan perkataannya.


Hanin mengangguk. “Sepertinya begitu.”

__ADS_1


“Oh, my God.” Kenan menepuk keningnya, ia menoleh ke belakang dan melihat sang ibu yang juga sedang menatap pintu kamar Kenan, yang tembus ke arah meja makan.


Rasti tersenyum menyeringai, membuat putranya malu.


__ADS_2