Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Senang berdandan


__ADS_3

Sore ini, Kiara diperbolehkan pulang dari rumah sakit, begitu pun Gunawan. Suami dari Kiara itu sudah tampak lebih sehat. Kiara memang sudah lebih dulu diperbolehkan pulang. Namun, Ia sengaja menunggu Gunawan benar-benar pulih, agar dapat pulang dari tempat ini bersama.


Di sana, Rasti sudah berada di ruangan itu untuk membantu membereskan kepulangan putri dan cucunya. Rasti meminta kesediaan Gunawan untuk tinggal di kediaman keluarga Aditama, mengingat Kiara memang membutuhkan dirinya untuk mendampingi mengurus Kayla. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Gunawan menyetujui itu. Ia pun sudah memboyong si Bibi yang ada di rumahnya, untuk membantu keperluan Kiara di rumah besar Aditama.


Kiara duduk di sofa sembari menyusui Kayla, sedangkan Gunawan membantu Rasti membereskan barang dan pakaian.


“Mam, Kakak sana Hanin akan jemput ke sini juga?” tanya Kiara pada Rasti.


“Tadinya seperti itu, tapi Mami bilang ngga usah. Mai suruh mereka menunggu saja di rumah,” jawab Rasti dengan menoleh ke arah putrinya sambil tetap berbenah.


“Oh.” Kiara membulatkan bibirnya.


Terlintas di benak Kiara tentang Vicky, karena pria itu praktis tak terlihat, sejak ia melahirkan. Padahal sebelumnya, saat Gunawan koma, Vicky rajin berkunjung ke rumah sakit dan melihat keadaan Gunawan. Bahkan, Kiara beberapa kali di antar dan di jemput Vicky ke rumah sakit ini, ketika Kiara akan menemani suaminya yang pada saat itu masih koma.


Namun, di depan Gunawan, Kiara tidak mau menyebut nama Vicky, atau menanyakan keberadaannya. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman, mengingat saat ini hubungannya dengan Gunawan sudah sangat baik.


****


Di kediaman Aditama, Hanin dan Kenan baru saja mendekorasi ruang keluarga untuk menyambut cucu pertama keluarga ini. Mereka dibantu oleh kedua pelayan dan satu tukang kebun yang bertugas menaiki tangga untuk memasang balon-balon berwarna warni dan di dalamnya berisi kertas-kertas kecil, sehingga ketika diledakkan, maka balon itu akan menghamburkan butiran kertas itu.


Tukang kebun yang biasa di panggil Paijo, sedang berada di tangga darurat untuk menempel balon-balon itu tepat di atas pintu utama.


“Pak, balonnya kurang banyak, tambah lagi ini,” ucap Hanin menyerahkan beberapa balon yang sudah menggelembung.


Paijo mengangguk dan menerima balon itu.


Di belakang Hanin, Kenan kembali jahil. Ia meniupkan satu balon, yang sengaja akan ia ledakkan persih di samping Hanin yang sedang serius melihat Paijo menata balon itu.


Hanin menengadahkan kepalanya ke atas, sembari memantau pekerjaan Paijo. Ia berdiri dengan menyanggak kedua tangannya pada pinggang,


“Nah seperti itu. Bagus.” Hanin tersenyum melihat hasil penataan Paijo yang dilakukan sesuai perintahnya.


Kenan ikut berdiri di samping sang istri dengan balon yang ia simpan di belakangnya.


“Wah, bagus juga,” ucap Kenan.


“Iya dong,” sahut Hanin tersenyum dan menoleh ke arah Kenan.


Lalu, ia kembali melihat dekorasi yang lain. Namun, sesaat sebelum Hanin beranjak untuk melihat dekorasi yang ada di ruang keluarga. Kenan memanggil.


“Sayang.”


Hanin langsung menoleh, dan ...


Door ...


Hanin tersentak. Ia kaget karena Kenan meledekkan balon itu persis di depan wajahnya.


“Kenaaaan,” teriak Hanin, ingin sekali memukul suaminya itu, tetepi Kenan berhasil kabur darinya.

__ADS_1


Kenan tertawa. Ia berjalan cepat ke dalam, begitu dengan Hanin yang mengejarnya.


“Kamu rese. Aku kaget tau,” rengek Hanin bercampur kesal.


Kenan masih tertawa.


“Ngga lucu,” ketus Hanin sembari bertolak pinggang, menatap suaminya yang tertawa dan mendaratkan tubuhnya di sofa.


Kenan menatap wajah Hanin yang kesal. “Maaf, becanda.”


Hanin cemberut. Semula ia memang ingin mengejar Kenan dan memukul suaminya itu, tetapi Hanin malah melangkahkan kakinya menuju kamar. Akhir-akhir ini, ia memang sedikit sensi. Entah mengapa ia sedikit arogan dan ingin selalu dinomorsatukan.


Kenan yang melihat Hanin tidak ikut duduk di sampingnya dan malah meninggalkannya itu, lalu bangkit dan mengikuti langkah Hanin. Ia berjalan cepat dan menarik lengan Hanin.


“Hei, kok marah.”


Hanin melepaskan cekalan tangan itu. “Aku mau mandi.”


“Kalau begitu, ikut.”


Kemudian, Kenan menarik lengan Hanin untuk segera memasuki kamar mandi yang berada di kamarnya. Hanin terpaksa mengkuti langkah kaki suaminya.


“Ken, aku mau mandi sendiri,” ucap Hanin saat mereka berdiri di depan kamar mandi.


“Bareng, Sayang. Aku juga mau mandi.” Kenan mendaratkan kedua tangan di bahu Hanin dan memaksa tubuh itu untuk berjalan di depannya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Kenan menutup pintu itu setelah mereka sudah berada di dalam. Hanin berdiri malas menatap Kenan yang sudah menanggalkan pakaiannya dan tersenyum.


Kenan mendekati sang istri dan menangkup wajahnya. Ia menempelkan bibirnya pada bibir ranum Hanin.


Cup


Kenan ******* bibir itu, tetapi Hanin masih diam dan belum membalasnya, membuat Kenan melepaskan kembali ciuman itu.


“Masih marah? Kan aku udah minta maaf. Ini tanda maaf aku. Kalau kamu tidak membalas ciumanku, berarti kamu masih marah.”


Kenan kembali ******* bibir itu dan di lepaskan lagi, karena Hanin masih saja diam seperti patung. Padahal Hanin sengaja mengerjai Kenan. sesekali, ia pun ingin mengerjai suaminya yang jahil itu.


“Kalau masih belum membalas ciumanku, aku akan menggigitnya hingga bengkak.”


Kenan menatap kedua bola mata Hanin. Begitu pun Hanin, yang menatap tajam ke arah Kenan.


“Dasar arogan, pemaksa.” Hanin mendorong dada Kenan dan membalikkan tubuhnya untuk berjalan ke arah bath up.


Kenan tersenyum menatap punggung Hanin yang terbuka dan berjalan mendekatinya. Hanin baru saja menanggalkan kaos kebesaran milik Kenan. Hanin memang sering memakai kaos Kenan yang besar, karena kaos itu seperti dress, jika di pakai oleh Hanin.


Hanin tengah membelakangi Kenan. Ia masih berbalut bra dan kain yang menutupi bagian sensitifnya. Kemudian, Ia mengangkat kedua tangannya untuk menggulung rambutnya tinggi ke atas.


Kenan memeluk tubuh Hanin dari belakang. kedua tangannya sudah berada di pinggang itu. “Kalau aku tidak pemaksa, kamu belum tentu akan jadi milikku,” bisik Kenan.

__ADS_1


Kenan membalikkan tubuh Hanin. Ia kembali mencium bibir ranum Hanin dan Hanin mengalungkan kedua tangannya itu ke leher Kenan. Hanin membalas pangutan sang suami yang mulai sedikit liar. Di tengah bibir yang menyatu di sertai belitan lidah keduanya, jemari tangan Kenan bergerak ke atas dan membuka pengait kain yang menutupi kedua gunung kembar sang istri. Jemari itu pun merobek kain tipis yang membungkus bagian bawah tubuh itu. Bagian yang menjadi tempat favorit para suami.


“Mmmpphh ....” lenguh Hanin untuk meminta Kenan menyudahi pangutan itu, karena dadanya ingin menghirup udara.


Kemudian, Kenan mengakhiri pangutan itu. Ia pun melepas bibir kesukaannya. Namun, kedua tangan Kenan masih aktif bermain di dada dan bagian sensitif itu.


“Eum ... Ken, kita hanya mandi saja kan?” tanya Hanin dengan suara sensual.


Kenan tersenyum menatap mata Hanin yang sayu. Ia menggeleng.


“Kamu sudah basah, Sayang.”


“Ken,” rengek Hanin menahan tangan Kenan yang semakin cepat mempermainkan miliknya di bawah sana.


“Jangan di tahan, Sayang.”


Kenan terus menatap wajah sang istri. ia sangat menyukai kondisi Hanin yang seperti ini. Hanin tampak tak berdaya.


“Ken, lakukan cepat,” ucap Hanin.


Kenan tersenyum lebar. “Dengan senang hati, Sayang.” Ia pun menggendong tubuh sang istri seperti koala dan mendudukkannya di marmer wastafel.


Kenan memberi kenikmatan pada sang istri, hingga Hanin benar-benar terbuai oleh sentuhan itu dan tidak mampu untuk menolaknya. Hanin menonggakkan kepalanya ke atas sembari meremas rambut Kenan. Ia merasakan bagian-bagian inti tubuhnya yang dipermainkan lihai oleh sang suami, hingga serasa terbang ke langit ke tujuh.


****


Setelah mandi bersama di selingi dengan kegiatan merengkuh nikmat itu, Hanin dan Kenan merapihkan diri.


Di depan cermin, Hanin memoleskan wajahnya dengan make tipis. Hampir setiap hari ia berdandan, padahal sebelumnya, ia paling hanya memakai lip gloss bening strawbery dan krim wajah saja. Tetapi kini, ia selalu menggunakan make up setiap hari, walau hanya berada di dalam rumah saja.


Kenan sedikit membungkukkan tubuhnya dan memeluk tubuh Hanin yang tengah duduk di depan cermin dari belakang.


“Sekarang, kamu selalu memakai ini.” Kenan menunjuk pada alat-alat kosmetik yang sedang Hanin pegang dan digunakan.


Hanin tersenyum membalas tatapan Kenan dari balik cermin.


“Iya, aku juga ga tau kenapa? Rasanya jika tidak berdandan, wajahku pucat. Kamu tidak menyukainya?”


Kenan memutar tubuh Hanin. ia pun berjongkok tepat di hadapan sang istri.


“Tidak ada yang tidak aku suka dalam dirimu. Lagi pula menggunakan atau tidak menggunakan make up, bagiku kamu tetap terlihat cantik.”


“Haish, gombal.” Hanin tersenyum malu.


Kenan pun ikut tersenyum. “Benar.”


“Hmm ... atau mungkin aku sedang mengandung anak perempuan. Karena kata orang, jika ibunya suka berdandan, maka kemungkinan anak yang di kandung berjenis kelamin perempuan,” kata Hanin dengan ceria.


Sontak, Kenan terdiam. Ia tak lagi tersenyum dan menatap Hanin datar.

__ADS_1


Ya, seperti kata Rasti sebelumnya, yang menginginkan cucu sepasang. Ternyata, Kenan pun menginginkan bayi laki-laki sebagai penerus keluarga Aditama sekaligus pemimpin perusahaan-perusahaan yang ia kembangkan sekarang.


Hanin pun ikut terdiam dan tidak lagi tersenyum ceria. Ia juga kembali ingat dengan perkataan Rasti.


__ADS_2