
Beberapa menit kemudian, di bawah sana Kenan masih berbincang dengan Misya dan Rasti. Namun, Kenan resah dan nampak tak fokus lagi dengan pembicaraan itu. Arah matanya menelusuri seluruh sudut yang nampak dari tempat ia duduk untuk mencari Hanin.
"Ken, iya kan?" tanya Rasti antusias.
"Ah, Apa, Mam?" Kenan kembali bertanya, karena tak fokus.
Kenan baru menoleh lagi ke arah ibunya.
"Mami bilang ke Misya, dulu kamu pernah menyukai Misya kan? Iya kan, Ken?"
"Masa sih? Misya ngga tau loh, Mam." Misya tampak tersipu malu dan senang.
"Nggak, Jangan dengerin Mami, Mis! Mami emang suka ngada-ngada," jawab Kenan.
Misya pun memudarkan sedikit senyum yang tadi mengembang. Kenan memang pria yang sulit ditaklukkan.
"Ih ngada-ngada apa? Mami ingat betul, dulu kamu pernah curhat ke Mami dan bilang seperti itu," sanggah Rasti.
Kenan memang anak laki-laki yang dekat dengan ibunya. Sejak dulu, ia selalu bercerita apapun pada sang ibu.
"Apaan sih, Mam. Ngga."
Kenan menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin Misya memiliki harapan kepadanya. Walau hal itu memang pernah terjadi, tapi itu dulu. Itu pun hanya sekedar menyukai dan bukan berarti mencintai, karena setiap orang pasti pernah menyukai sesuatu dan hanya sekedar menyukai tanpa ingin memiliki.
Kenan pun meninggalkan kedua wanita beda generasi itu.
"Kamu mau kemana, Ken?" tanya Rasti.
"Mencari Hanin, Mam. Kok dari tadi dia ngga keliatan."
Kenan mencari ke sekeliling penjuru rumah ini di lantai satu. Namun, sang istri tetap tidak ia temukan. Kenan ke dapur dan menanyakan Hanin pada beberapa pelayannya di sana.
"Tadi Non Hanin sempat berbincang pada kami sambil makan di sini. Terus ke depan lagi, Den," jawab si Bibi ketika ditanya oleh Kenan.
"Di depan ga ada, Bi. Coba bantu cari ya, Bi."
Kenan tampak kebingungan. Ia mengusap dahinya yang sedari mengeluarkan keringat. Panik? Iya, Kenan sangat panik, karena tidak biasanya Hanin seperti ini. Ia selalu minta izin ketika akan pergi.
Kemudian, Kenan kembali ke ruang utama. Langkahnya yang sedang mencari Hanin, seringkali terhalang oleh para tamu yang menyapanya. Kenan pun menjawab seadanya para tamu itu karena saat ini fokusnya hanya pada sang istri.
__ADS_1
"Ken, lu kenapa?" tanya Vicky, melihat bosnya kebingungan.
"Hanin, Vick. Dimana ya? Kok gue cari-cari ga ada?"
Kepala Kenan masih celangak celinguk ke kanan dan kiri.
"Lah tadi bukannya sama lu? Kan lu gandeng dia buat kenalin ke para tamu."
"Iya, tapi terus misah dan gue ngga lihat lagi. Gue juga terlalu asyik berbincang dengan Mami dan Misya," jawab Kenan.
"Lagian, tau ada istri malah ngobrol sama cewek lain. Hanin cemburu dan mungkin dia kabur."
Perkataan Vicky semakin membuat Kenan takut.
"Kabur? Ga mungkin." Kenan menggelengkan kepalanya. "Cari, Vick sampe ketemu. Kalo ga ketemu, gue ga bakal jadi saksi buat nikahin lu sama cewek itu."
"Haish... iya gue pasti bantu cari tapi ga usah pake ngancem juga kali. Dasar!" Vicky hendak keninggalkan Kenan, tapi ia menoleh lagi ke arah sahabatnya itu. "Makanya, Jangan bikin ibu hamil sensi! Baru kehilangan beberapa menit aja udah kalang kabut lu."
"Udah, jangan banyak ngomong. Cari!" Ketus Kenan.
"Iya."
Wajah Kenan langsung sumringah. "Thanks, Gun."
Kenan menepuk pundak Gunawan dan dengan cepat melesatkan kakinya ke atas.
"Sayang," panggil Kenan, setelah membuka pintu kamar, tetapi ia tak menemukan sosok wanita yang sangat ia cintai itu.
Dengan tergesa-gesa, Kenan menelusuri semua penjuru lantai dua rumah mewah keluarga Aditama.
"Sayang," panggil Kenan lagi, ketika membuka ruang kerja.
Namun, Hanjn tetap tak ada.
Kenan pun membuka semua pintu satu persatu dengan kasar. "Hanin, kamu dimana?"
Kenan memegang kepalanya yang pusing, karena mencari kesana kemari, tetapi sosok yang ia cari tak kunjung ia temui.
Kaki Kenan melangkah ke ruang baca, karena biasanya Hanin suka berada di sini, karena ia memang suka membaca.
__ADS_1
Brakk ...
Kenan membuka kasar pintu itu. Ia mengerlingkan pandangan ke seluruh ruangan itu dari ambang pintu. Namun sosok istrinya tetap tidak ia lihat di sana.
Bagaimana bisa terlihat? sedangkan Hanin tertutupi lemari besar dan meja besar itu. Hanin yang sedang memakai earphone pun tak mendengar teriakan Kenan.
Lalu, beberapa saat setelah Kenan menutup kembali pintu itu dan kembali ke lantai satu, Hanin melepas earphone-nya.
Sebelum Kenan kembali turun ke lantai satu, ia masih menatap ruang baca. Walau ia tak menangkap keberadaan sang istri di sana, tapi entah mengapa ruangan itu terasa hangat, tidak seperti biasanya. Kakinya pun seolah mengajak ke ruang itu lagi. Namun, ia terfokus lagi untuk mencari Hanin.
Seketika kehilangan Hanin menghebohkan acara itu. Kenan yang arogan dan tempramen itu segera memerintahkan semua orang untuk mencari istrinya dengan marah-marah.
Akhirnya, si macan tutul kembali pada habitat aslinya, setelah sekian lama ia menjinak karena sang betina. Kini, gaya marah-marah Kenan kembali kumat karena kehilangan betina-nya yang baru terhitung beberapa jam.
Semua pelayan dan penjaga rumah itu berkeliling area ke seluruh penjuru rumah, hingga ke mini market yang berada di luar area rumah ini, karena siapa tahu Hanin bepergian ke tempat itu sendirian.
Semua orang mencari Hanin, tapi tak ada satu pun yang menemukan. Hal itu semakin membuat Kenan frustrasi.
"Kenan sampe segitunya, Mam? Mungkin istrinya lagi ke mini market atau keluar sebentar," bisik Misya yang melihat Kenan begitu khawatir dan kebingungan mencari istrinya.
"Begitulah Kenan, Mis. Dia bucin banget sama istrinya. Mami juga kesel melihatnya," ujar Rasti.
Misya menghelakan nafas. Sepertinya ia memang tak bisa mendekati Kenan. Jika ia memaksa untuk mendekati pria itu, ia khawatir akan mendapatkan penolakan.
Sedangkan di ruang baca, Hanin malah tertidur. Saat membaca buku itu dan melepas earphone-nya, tiba-tiba ia mengantuk dan tertidur dalam keadaan duduk. Hanin yang cuek, tidak tahu bahwa di luar sana, semua orang kena marah si macan tutul alias suaminya, karena mengira bahwa dirinya kabur. Apalagi, semalam sang istri sempat mengungkapkan hal itu.
Di taman belakang, Kenan duduk lemas. Ia tampak frustrasi dan mengusap wajahnya kasar. Ia ingat lagi perkataan Hanin saat mereka berbincang semalam.
"Tidak, tidak. Aku tidak akan biarkan kamu pergi. Tidak akan. Kamu hidupku, Han. Aku akan mati tanpamu." gumam Kenan sembari menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku, Sayang. Maaf akhir-akhir ini aku menekanmu yang menginginkan anak laki-laki. Maaf aku selalu membuatmu sedih."
Kenan meneteskan airmata. Ia sudah tak memikirkan lagi para tamu di sana, karena yang ia pikirkan hanya Hanin dan Hanin. Ia mengadahkan kepalanya seraya bersandar pada kursi taman yang terbuat dari besi itu. Sungguh kepalanya pusing.
Seketika, Rasti yang berada di belakang Kenan, menghentikan langkahnya. Ia hendak mendekati putranya yang terduduk lemas di sana. Tetapi ia malah mendengar jelas perkataan Kenan dan itu membuat hati Rasti tersentil. Sebegitu besarkah cinta putranya pada Hanin? Sebegitu frustrasinya Kenan kehilangan Hanin yang mungkin sedang keluar sebentar?
Rasti mengaku kalah. Ia memang harus mengalah pada wanita yang sudah mendapatkan cinta putranya. Mungkin seperti ini juga yang dirasakan Marry, ibu Kean, saat ia harus mengalah pada dirinya yang telah mendapatkan cinta yang besar dari sang putra.
"Maafkan aku, Kean. Maaf aku terlalu serakah dan egois."
Seketika Rasti pun lemas dan bagian bawah kelopak matanya menggenang.
__ADS_1