Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kenan, Vicky, dan Gunawan


__ADS_3

Lama Vicky dan Rea bertatapan. Arah mata Vicy sudah naik turun antara bibir dan mata Rea. Rea pun melihat itu. Ia tahu gelagat si om mesum ini yang hendak ingin melahap bibirnya. Namun, Vicky menahan keinginan itu. ia benar-benar tidak ingin memanfaatkan keadaan.


“Kamu sudah makan?” tanya Vicky memutus hasratnya yang menginguinkan bibir itu.


Rea menggeleng. Terakhir ia makan bersama Attar tadi sore dan kini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Cukup lama ia berjibaku dengan rasa keingintahuan yang berbuntut sakit hati. Lalu, ia terdampar di sebuah tempat seorang mantan cassanova. Seharusnya Rea khawatir berada di tempat ini, tapi sepertinya ia justru mendapat ketenangan.


“Aku akan membuatkanmu makanan. Sebentar!” Vicky segera bangkit dan beralih menuju dapur.


Ia kembali menoleh ke arah Rea. “Pakai bajumu kembali, kalau tidak aku tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu.”


Rea merengutkan bibir. Ia memang baru menggunakan kaosnya saja sementara celana jeans itu masih terkoyak di lantai. Entah apa yang ada di pikirannya tadi? Sungguh ia sangat bodoh sekaligus malu, karena ingin menyerahkan dirinya pada om mesum ini untuk meluapkan kemarahan atas apa yang ia lihat di apartemen attar tadi. Sungguh benar-benar bodoh dan memalukan, pikir Rea.


Vicky berada di dapur dan memasak mie kuah ala abang-abang tek tek. Ia membiarkan Rea duduk sendiri di ruang televisi. Bibirnya terus menyungging senyum. Ia memikirkan satu rencana.


Di Bali, Gunawan dan Kiara masih menikmati second honeymoon. Mereka asyik bersenang-senang dan meninggalkan Kayla dengan santai bersama Hanin dan Kenan di sana.


“Mas, aku kangen Kayla,” kata Kiara pada suaminya.


Gunawan dan Kiara baru saja selesai olahraga malam. Mereka berbaring di atas ranjang itu dengan saling berpelukan erat tanpa menggunakan kain sehelaipun. Tubuh mereka hanya ditutup oleh selimut tebal berwarna putih.


“Kayla aman bersama Hanin,” jawab Gunawan.


“Iya, tapi pasti Kakak kesal deh.”


Gunawan tertawa. “Tidak apa, sekali-kali bikin Kenan kesal.”


Kiara memukul pelan dada suaminya. “Pasti Hanin repot ngurus dua anak sekaligus. Terus nanti Kakak jadi ngga ke urus.”


Gunawan kembali tertawa. “Aku bisa bayangin tampang Kenan yang kesal.”


Kiara melirik ke arah suaminya. “Ish, kamu balas dendam ya.”


“Ngga sih, tapi terkadang kakakmu itu memang menyebalkan.”


Ya. Kenan memang tipe pengatur. Ia suka memerintah orang seenaknya dan tak jarang umpatan kasar sering terlontar untuk orang-orang yang tidak bekerja sesuai dengan yang ia perintahkan. Begitu pun Gunawan yang tak jarang mendapat semprotan, jika salah dalam strategi bisnis atau tentang mengurus Kiara dan Kayla. Terkadang Gunawan kesal dengan sikap Kenan yang masih suka ikut campur dengan urusan rumah tangga mereka.


Kiara mengangguk. “Iya sih, tapi dia baik. Mas.”


Gunawan mengangguk. “Ya, dia baik. Makanya dia juga mendapatkan istri yang baik.”


Kiara ikut menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Gun kembali mengeratkan pelukan itu. bibirnya pun kembali menelusuri bahu istrinya yang polos dan menggigitnya.


“Aww ... Mas.”


Gun tak menghiraukan rintihan Kiara. Ia malah tersenyum. Tangannya kembali bergerilya di permukaan kulit mulus itu. Meremas bongkahan padat yang menantang di bagian depan dan belakang itu.


“Ah, Mas.” Lenguh Kiara, apalagi ketika jari itu mempermainkan miliknya.


“Satu kali lagi boleh?” tanya Gun.


“Apa aku bi .. sa ... meno ... lak? Ah ...” jawab Kiara terbata-bata, karena aktifitas jari sang suami yang semakin cepat mempermainkan titik sensitifnya.


Gunawan menyeringai. Ia menatap lekat wajah istrinya yang bergairah.


“Mas ... Ayo cepat. Eum ...” Kiara menggigit bawah bibirnya, menahan sesuatu yang hendak bergejolak.


“Mas, jangan permainkan aku!” rengek Kiara lagi.


Gun hanya tersenyum melihat istrinya tersiksa gairah. “Cepat apa, Sayang?”


“Mas ...” rengek Kiara.


Gunawan pun langsung menyergap Kiara tanpa ampun. Mengeksekusi permintaan sang istri dan membuat Kiara dilanda nikmat tiada tara untuk kesekian kalinya.


Di sebuah gedung apartemen elite di kawasan Jakarta Selatan, Kenan menanti istrinya di dalam kamar. Ia sengaja tidak tidur terlebih dahulu, karena ingin melakukan sesuatu dengan sang istri. Lepas pulang kerja sore tadi, ia hampir saja bercinta dengan sang istri. Namun lagi-lagi gagal karena Kayla terbangun, padahal Kevin masih tidur.


Alhasil, malam ini Kenan berhasil membujuk Hanin untuk menidurkan Kevin di kamar yang sama dengan Kayla. Kamar yang memang sudah Kenan desaign untuk putranya saat sang putra sudah tidak lagi bayi, sehingga bisa tidur di kamar sendiri dan di temani oleh pengasuhnya saja. Ia tak ingin privasinya diganggu lebih lama.


Kenan bosan menunggu sang istri yang tak kunjung kembali ke kamar. Kemudian, Ia pun keluar kamar menuju kamar putranya.


Tap .. Tap .. Tap ..


Kenan sampai di pintu kamr Kevin dan berdiri bersandar pada dinding pintu. Ia melihat kesabaran Hanin dalam merawat kedua bayi kecil itu.


Hanin menggendong Kevin sembari berdiri dan menyusui putranya. Ia pun mennegok ke arah Kayla yang tengah berbaring di tempat tidurnya dengan memegang botol susunya sendiri. Kiara sudah menyiapkan ASI untuk putrinya, selama ia pergi.

__ADS_1


“Kevin belum tidur juga?” tanya Kenan sembari melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Hanin.


Saat ini, Hanin memang sengaja melepas satu tali gaun tidurnya yang berada di bahu karena ia sedang menyusui, membuat bahu mulus itu terpampang.


Bibir Kenan menyusup, mengecup bahu polos itu.


“Aku kira kamu sudah tidur,” kata Hanin setelah menoleh sedikit ke kepala sang suami yang bersandar di bahu belakang tubuhnya.


“Aku tidak bisa tidur. Dari tadi aku menunggumu.”


Hanin tersenyum. Satu tangannya mengelus kepala Kenan. “Maaf. Tadi aku kira Kevin udah terlelap. Eh pas di taroh di box. Dia nangis lagi.”


“Bi Lastri mana?” tanya Kenan yang tak melihat keberadan maidnya di kamar ini.


“Masih di bawah bersih-bersih dapur sama bersihin botol susunya Kayla.”


“Huh ..” Kenan menarik nafas. “Orang tuanya lagi enak-enak di Bali. Kita yang repot.”


Hanin tersenyum. “Ngga apa-apa, By. Aku ngga repot kok. Lagi pula Kayla udah bisa nyusu sendiri tuh lihat!”


Hanin menunjuk ke arah Kayla yang asyik menyusu dengan memegang botolnya sendiri padahal bayi yang sudah terlihat besar itu, matanya tengah terpejam.


Kenan tertawa. “Kok bisa sih tuh anak matanya merem, tangan dan mulutnya masih bergerak.”


Hanin ikut tertawa. “Iya, lucu ya.”


Tak lama kemudian, bibir Kevin pun tak lagi menghisap kuat susu sang ibu, pertanda Kevin sudah terlelap. Lalu, Hanin hendak menaruh sang putra di atas ranjangnya.


“Akhirnya kamu tidur juga, Nak,” ucap Kenan sembari mengelus kepala Kevin dari belakang tubuh Hanin.


Kenan yang sudah tak tahan menahan hasrat itu pun menjadikan bahu polos Hanin sebagai pelampiasannya. Ia menyesap dan menggigir bahu mulus itu, sesaat setelah tubuh Hanin kembali berdiri tegak selepas menunduk dan menaruh Kevin di tempat tidurnya.


“Aww ... Sshh ... By,” rengek Hanin.


Kenan tertawa. “Aku gemes, Sayang.”


Lalu, Hanin beralih ke ranjang Kiara. Ia melihat Kayla pun sudah terlelap dan mengambil botol susu yang terjatuh di samping wajah bayi cantik itu. Semakin lama, wajah Kayla semakin mirip dengan sang ibu. Lalu, Hanin meletakkan botol susu kosong itu di meja yang berada di samping ranjang Kayla.


Sementara Kenan terus menempel pada tubuh sang istri yang bergerak ke sana kemari dari belakang.


“Udah berapa hari nih, Sayang. kamu tega banget,” ucap Kenan manja.


“Besok pagi juga bisa sih.”


Kenan menggeleng. “Mau nya sekarang.”


Hanin kembali tertawa. “Dasar bayi gede. Ngga mau kalah sama bayi kecil,” Hanin mencubit ujung hidung suaminya.


Ia gemas melihat Kenan yang sedang merajuk seperti ini. Hanin memang senang mengerjai Kenan yang sedang menginginkan dirinya. Hitung-hitung balasan karena sang suami pun sering mengerjainya.


“Ck ... kelamaan.”


Kenan langsung membopong Hanin seperti karung beras menuju kamarnya.


“By ... Lepas,” tawa Hanin sembari memukul pelan punggung belakang Kenan.


Saat mereka keluar kamar, Bi Lastri yang akan memasuki kamar anak-anak itu pun melihat kemesraan majikannya dan tersenyum.


“By ... Lepas.”


“Ngga. Kamu kan suka kabur-kaburan. Pokoknya malam ini kamar aku kunci.”


“Nanti kalau Kevin sama Kayla bangun gimana?” tanya Hanin.


Kenan sampai di depan ranjang dan mendudukkan istrinya di sana, lalu ia mengunci kamar itu.


“Ada Bi Lastri kan? Stok Asi buat Kevin dan Kayla juga tersedia di lemari es kan?” Kenan balik bertanya.


Hanin mengangguk.


“Bagus, berarti tidak ada yang akan mengganggu kita sampai pagi,” Kenan menggosokkan kedua tangannya sambil merangkak ke atas ranjang mendekati sang istri.


“Apa? Sampai pagi?”


Kenan mengangguk sembari menaikturunkan alisnya dan menampilkan senyum menyeringai. Ah, tampang Kenan benar-benar mesum.

__ADS_1


“By,” rengek Hanin.


Namun, Kenan tetap melakukan aksinya. Aksi yang semula tidak diinginkan sang istri, tapi lama kelamaan justru sang istri memintanya lebih, bahkan meminta Kenan untuk tidak berhenti.


“Mau apa?” tanya Kenan setelah berhasil membangkitkan gairah sang istri.


“By, lanjutin.”


“Lanjutin apa? Tadi katanya ngga mau sampai pagi.”


“Sekarang mau.”


Kenan pun tertawa dan melanjutkan aksinya hingga tiga jam sebelum subuh.


Hanin tampak terkulai lemah. Tubuhnya seprti tak bertulang. “By, udah aku capek.”


“Sebentar lagi, Sayang.” Kenan terus menghujam milik sang istri dengan ritme agak keras untuk mencapai pelepasan yang sebentar lagi datang.


“By,” rengek Hanin yang tidak tahan dengan goncangan itu.


Tak lama kemudian terdengar suara erangan keras dari mulut Kenan. “Arrgggg ...”


Kenan ambruk di atas tubuh sang istri dan bergulir ke samping. Ia mengusap kening Hanin yang berkeringat, lalu mengecupnya. Mata Hanin sudah tertutup. Ibu dari Kevin itu langsung tertidur dan Kenan pun hendak menyusul sang istri untuk memejamkan mata. Namun, mereka dikagetkan dengan deringan ponsel Kenan.


Dret ... Dret ... Dret ...


“Eum ... Siapa sih By? tengah malem telepon,” gumam Hanin.


“Ngga tahu, Sayang.” Kenan membuka matanya lagi dan mengambil ponselnya yangt ak jauh dari jangkauannya itu.


“Ck ... Vicky,” kata Kenan saat melihat layar ponselnya.


Kenan tak ingin menjawab telepon itu dan kembali menaruhnya di nakas. Namun, ponsel itu kembali berdering.


“Diangkat aja, By!”


Akhirnya Kenan menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.


“Halo ...”


“Halo, Ken. Sorry ganggu.”


“Iya, lu ganggu banget. Gue baru aja mau tidur. ada apa sih?”


“Gue butuh bantuan lu,” kata Vicky.


“Apa?” tanya Kenan.


“Gue minta tolong anak buah lu buat nyari penghulu dan jemput kedua adik Rea ke sini.”


“Apa? penghulu?”


“Iya, nikahin gue sama Rea nanti pagi.”


Kenan terkejut dan langsung bangun. “Lu ngapain anak orang, hah? Ngga ada tobat-tobatnya lu.”


“Justru belom gue apa-apain. Maunya sih gue apa-apain. Makanya gue minta bantuan lu. Mumpung waktunya tepat. Oke, gue tunggu besok jam sembilan.”


Vicky langsung menutup sepihak panggilan telepon itu.


“Dasar gila tuh anak.”


“Vicky kenapa?’ tanya Hanin yang ikut membuka matanya.


“Vicky mau kawin.”


“Bukannya dia emang udah kawin ya?” tanya Hanin.


Kenan tertawa. Benar juga apa yang dikatakan sang istri. “Eh, nikah maksudnya. Dia minta cariin penghulu buat dinikahin nanti pagi.”


Hanin pun menggelengkan kepala. “Teman-teman kamu semuanya gila.”


“Suamimu juga gila, Sayang.” senyum Kenan dan mengajak istrinya kembali tidur, karena besok pagi ia harus mengurus keinginan sahabat sekaligus asisten setianya itu.


Kenan tersenyum sebelum memejamkan mata. Ternyata Vicky mengikuti saran ekstrimnya juga.

__ADS_1


__ADS_2