
Setelah meninggalkan gedung Aditama, Rasti beralih ke kediaman Alin. Ia ingin bertemu dengan calon menantu yang katanya sedang syok akibat ulah putranya.
“Din, antar saya ke rumah keluarga James!” pinta Rasti pada sang supir.
“Baik, Bu.” Syamsudin mengangguk patuh, lalu dengan kecepatan sedang melajukan mobil itu ke tempat yang diperintahkan Rasti.
Sebelum sampai di rumah James, Rasti meminta supirnya untuk berhenti di sebuah toko buah segar. Ia membeli beberapa parsel buah sebagai buah tangan untuk menemui sahabatnya.
Beberapa menit kemudian, Rasti tiba di depan gerbang kediaman James. Ia keluar dari mobil sesaat setelah sang supir memarkirkan mobilnya di dalam pekarangan rumah yang cukup luas itu.
“Bu Rasti,” sapa salah satu maid Alin yang sangat mengenal Ibunda Kenan itu.
“Iya, Bi. Di dalam Bapak dan Ibu ada?” tanya Rasti.
“Ada, Bu. Bapak malah dari kemarin tidak ke kantor, karena Non Vanesa sakit.”
Rasti menunduk sembari melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju pintu utama rumah mewah itu.
“Bibi melihat kejadian itu?” tanya Rasti lagi, mengorek insiden yang telah putranya lakukan.
Si Bibi mengangguk. “Malah saya dan Ibu yang memegang Bapak supaya tidak memukul Den Kenan lagi.”
“Apa? James memukul putraku?”
Si Bibi mengangguk lagi. “Den Kenan juga mengembalikan cincin pertunangan pada Bapak.” Ia menceritakan semua yang ia lihat pada insiden itu.
“Kenan. Apa yang kamu lakukan?” gumam Rasti geram mendengar kelakuan putranya yang memalukan.
“Silahkan duduk, Bu. Saya akan panggil Nynonya,” kata si Bibi.
Rasti hanya mengangguk.
Tak lama kemudian, James datang. “Ada tamu rupanya.”
“Mas,” sapa Rasti pada James. Ia pu mengulurkan tangannya. Namun, James tidak menyambut uluran tangan Rasti.
“Mas, aku datang kesini untuk melihat keadaan Vanesa. Aku juga ingin memohon maaf atas apa yang telah putraku lakukan.”
__ADS_1
James tersenyum getir. “Kenan yang menyuruhmu datang ke sini? mengapa tidak dia yang datang menemui Vanesa dan meminta maaf langsung?”
“Kenan sedang mengurusi perusahaannya di Bandung, ada trouble di sana dan mungkin akan memakan waktu yang cukup lama.”
“Kenan yang menyuruhmu datang atau memang ini inisiatifmu sendiri?” tanya James lagi.
Rasti menunduk. “Ini inisiatifku.”
“Sudah ku duga.” James tersenyum sinis. “Ternyata anak itu benar-benar telah mengambil keputusan ini.”
“Mas, aku masih tidak yakin kalau Kenan sudah menikah. Kenan selalu memberitahu apapun padaku, apalagi sebuah perikahan. Jika dia menikah pasti dia akan meminta izin dariku.”
“Anakmu laki-laki, Ras. Tidak perlu izin darimu pun dia bisa menikah sendiri.” James duduk santai di seberang Rasti. “Aku sangat mengenal putramu. Tapi yang aku tidak habis pikir, siapa wanita yang Kenan nikahi, karena sejauh ini anak itu tidak pernah dekat dengan wanita manapun kecuali putriku.”
“Itu yang ingin aku tanyai tadi, tapi Kenan tidak ada di kantornya.”
“Aku bisa mencari tahu sendiri,” ucap James dingin.
“Rasti,” panggil Alin dari kejauhan, langkah kakinya berjalan menuju Rasti yang langsung berdiri melihat kedatangan sahabatnya.
“Alin.” Rasti berusaha hendak memeluk sahabatnya seperto biasa saat mereka bertemu. Namun, Alin tidak menyambut pelukannya dan memilih langsung duduk di samping sang suami.
“Dad, Vanesa masih belum mau makan,” ucap Alin pada suaminya.
“Lin, aku mau melihat keadaan Vanesa.” Rasti menyela pembicaraan antara Alin dan James.
Alin dan James tak menyahuti perkataan Rasti. Mereka hanya berjalan menuju kamar Vanesa, lalu Rasti mengikutinya.
Tepat di ambang pintu, Rasti berdiri dan melihat kondisi Vanesa yang mengenaskan. Rambut yang berantakan, mata yang sembab dan pucat, begitulah kondisi Vanesa paska di putuskan oleh Kenan.
“Van.” Rasti memanggil calon menantu yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Ia memeluk tubuh ringkih Vanesa.
“Mami Rasti.” Vanesa membalas pelukan itu, sembari menangis. Semakin lama, tangisan Vanesa semakin kencang.
“Sayang, maafkan Kenan. Dia tidak bersungguh-sungguh mengatakan itu,” ucap Rasti.
“Benarkah, Mam?” tanya Vanesa dengan mata berbinar.
__ADS_1
Rasti mengangguk. “Mami yakin, dia hanya tertekan dengan pekerjaannya, sehingga melakukan ini.”
“Ras, jangan beri Vanesa harapan yang mungkin tidak akan terjadi,” seru James, sembari melipat kedua tangannya di dada.
“Mas, beri aku waktu untuk menyelesaikan ini dengan putraku. Aku yakin ini hanya kesalahpahaman saja dan mereka akan kembali lagi seperti dulu.” Rasti menoleh ke arah James dan Alin.
“Benarkah, Mam? Kenan akan kembali padaku?” tanya Vanesa lagi.
Rasti mengangguk dan tersenyum.
“Tapi putramu mengatakan kalau dia telah menikah, Ras.” Kali ini Alin bersuara.
“Belum ada bukti untuk pernikahan itu. Aku sudah menyuruh orang untuk melacak semua kantor urusan agama, tapi nama Kenan tidak tercatat di sana.”
James terdiam. Ia juga mengiyakan itu karena ia pun sudah menyuruh orang untuk melacak kantor urusan agama dan tidak ada nama Kenan Aditama yang tercatat telah menikah.
“Aku yakin itu hanya akal-akalan putraku untuk tidak menikah. Dia memang paling sulit untuk di ajak komitmen,” ungkap Rasti.
“Mami. Terima kasih.” Vanesa kembali memeluk calon ibu mertua yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
“Iya, sayang. sekarang, jangan menyiksa dirimu seperti ini ya! Makanlah, nanti kamu sakit.” Rasti meraih piring yang ada di nakas, dekat dengan Vanesa duduk.
Vanesa tersenyum dan mengangguk. Lalu, perlahan Rasti menyuapkan makanan itu ke mulut Vanesad dan mantan tunangan Kenan itu menerima suapan Rasti.
James dan Alin meninggalkan kedua wanita itu di sana. Orang tua Vanesa cukup senang karena akhirnya sang putri mau makan, setelah dua hari dia tak mau menyentuh makanan apapun. Bahkan semua kegiatan modelingnya terbengkalai karena ia tak mau keluar kamar.
“Sekarang, Kenan di mana, Mam?” tanya Vanesa di sela-sela menikmati suapan dari calon ibu mertua.
“Di Bandung, kata Siska ada masalah saat pengiriman barang ke Amerika.”
“Sampai kapan dia di sana, Mam?”
“Mungkin tiga hari, atau paling lama lima hari.”
“Lama sekali.” Rengek Vanesa.
“Siska bilang seeprti itu. Tenanglah, Van. Sesampainya di sini, Kenan akan menemui. Oke.” Rasti terseyum dan Vanesa pun ikut tersenyum.
__ADS_1
“Terima kasih, Mam.” Vanesa kembali memeluk Rasti dan Rasti menerima pelukan itu dengan sayang.