
“Ah, ****.” Dave lebih dulu menyadari bahwa istrinya tengah berdiri dan memandangnya dari luar.
Dave langsung meletakkan piring itu asal dan berlari menghampiri Vely di luar. Sementara, Gunawan dan Vicky masih belum menyadari bahwa betina merah tengah mengamuk di luar sana. apalagi Kenan yang masih berbincang dengan Jane dan berada cukup jauh dari Gunawan dan Vicky.
“Beib, wait!” Dave megejar Vely yang berjalan cepat.
Kiara, Hanin, dan Rea hanya melihat adegan itu. Mereka pu melihat raut kekhawatiran di wajah Dave.
“Beib, jangan jalan cepat-cepat. Kamu sedang mengandung,” teriak Dave yang masih mengejar istrinya.
Langkah kaki Dave berjalan lebih cepat dari Vely hingga akhirnya pria itu mampu meraih tangan sang istri. “Beib.”
Vely memalingkan wajahnya.
“Beib, Please. Aku hanya menemani Kenan bertemu klien,” ucap Dave.
“Aku lihat kamu tertawa sama wanita itu. Kamu suka?” Hmm?”
“Apa sih? Sama sekali tidak,” jawab Dave tersenyum. Lalu, ia langsung memeluk tubuh istrinya.
Vely mencoba melepas pelukan itu. “Kalau tadi aku ga liat, pasti kalian akan berlanjut ke kamar.”
Dave langsung membungkam bibir istrinya dengan telapak tangannya. “No. Aku tidak akan seperti itu, Beib.”
Vely menarik telapak tangan Dave yang berada di mulutnya. “Basi.” Ia pun kembali melenggang pergi dan diekori Dave.
“Beib, sorry.” Dave berusaha menenangkan istrinya. “Beib.”
Di sana, Kiara, Hanin, dan Rea masih bertolak pinggang dari luar jendela sambil melihat interaksi suaminya di dalam sana.
Gunawan menoleh ke arah jendela dan mendapati Kiara di sana. “Oh, my God.”
Gun meletakkan asal piringnya dan menghapiri Vicky. “Vick, sorry gue duluan. Good luck!”
Vicky bingung dengan sikap Gunawan dan meihat pria itu pergi. Ia tak menyadari bahwa diluar sana ia pun tengah diintai.
“Sayang,” panggil Gun pada Kiara yang sudah membalikkan tubuhnya dan berjalan cepat keluar.
Gun sama seperti Dave tadi. Ia pun berlari mengejar Kiara yang sedang merajuk.
“Tinggal saumi kita ya, Re,” ucap Hanin.
“Sepertinya, mereka asyik banget ya mbak,” sahut Rea.
“Hmm ...” jawab Hanin datar. “Gimana kalau kita samperin mereka dan ikut makan siang bersama,” kata Hanin lagi sambil menaikkan alisnya.
“Good idea.” Rea pun tersenyum menyeringai.
“Hai, Sayang.” Hanin langsung menggandeng lengan Kenan setelah ia sampai pada pria dan wanita yang masih berdiri untuk mengambil minuman dingin.
__ADS_1
Kegiatan Hanin pun diikuti Rea.
“Hai, Sayang.” Rea langsung menggandeng lengan Vicky, membuat pria itu tercekat dan tak lagi tertawa di depan May.
Tampang Vicky langsung menciut takut. “Eh kok tiba-tiba kamu di sini,” ucanya.
“Kenapa? Kaget? Jadi ngga bisa hahah hihihi lagi.”
“Apa sih, Re. Dia ini klien aku.” Vicky memperkenalkan May pada Rea. “May, She is my wife.”
“Oh. My name is May. I ...”
“Dia teman Jane. Dan Jane adalah mita bisnis Kenan.” Vicky memotong perkataan May dan langsung menunjuk ke arah Jane.
“Sorry May, I have to go.” Vicky langsung menggiring Rea ke tempat yang jauh dari May.
“Ih, ngapain sih di tarik-tarik.” Rea berusaha melepas tangan suaminya.
“Ngga usah kenal dia. Kamu duduk di sini aja,” jawab Vicky.
“Kenapa aku ga usah kenal dia? Kamu takut? Apa dia salah satu teman tidur kamu juga.” tanya Rea kesal.
“Re, Please. Jangan mulai lagi! Kita udah sepakat untuk tidak membicarakan masa laluku kan?”
Rea diam, lalu ia duduk di kursi itu.
“Your wife is beautiful,” kata Jane pada Hanin di hadapan Kenan.
Hanin memaksakan bibirnya untuk senyum manis dan ia pun sengaja menempel suaminya, hingga seolah seperti wanita penggoda. Jane dapat merasakan itu. wanita itu hanya tersenyum. Lagi pula ia pun tahu Kenan pria seperti apa. Ia tahu Kenan hanya mencintai istrinya. Ia mengenal Kenan sebelum Kenan menikah dan bertemu Hanin. saat masih berstatus lajang saja, Kenan tidak pernah mau disodorkan wanita paling cantik koleksi club malamnya, apalagi saat ini ketika pria itu sudah menikah. Tapi, Hanin tetap cemburu.
Kenan pun senang dengan sikap Hanin terhadapanya. Ia tahu sang istri tengah cemburu dan ia senang ketika Hanin posesife terhadapnya.
“Kamu mau apa lagi, Sayang?” tanya Kenan dengan membwa piring untuk istrinya.
“Apa saja,” jawab Hanin tersenyum dengan gay yang super elegan.
“Oke.”
Kenan berjalan menuju meja makan di iringi Jane dan hanin di samping kiri dan kanan. Sementara di meja itu Vicky sudah bersama Rea, May, dan kedua wanita yang semula menemani Gunawan dan Dave.
“Hai, Re. Kamu di sini juga?” tanya Kenan pada istri asistennya.
“Ya, tadi saya nyariin Vicky, eh kata mbak Hanin lagi temenin Bapak di sini.”
Kenan tersenyum dan mengangguk. Lalu, pria itu memperkenalkan Jane pada Rea. Ia pun menjelaskan pada Jane bahwa saat ini mereka tengah mengadakan gathering dan berlibur bersama keluarga besarnya.
“Oh, jadi kedua pria tadi juga keluargamu, Ken?” tanya Jane menggunakan bahasa Inggris mengingat keberadaan Gunawan dan Dave tadi.
“Ya, Gunawan adik iparku, dan Dave adik ipar Vicky,” jawab Kenan dengan menggunakan bahasa yang sama.
__ADS_1
“Oh,” Jane mengangguk dan tersenyum.
Mereka pun menikmati makan siang bersama. Walau sebenarnya Hanin dan Rea merasa malas satu meja bersama wanita-wanita ini.
Hanin mengedarkan pandangan. Ia melihat ada sebuah makanan yang tengah dikerubungi banyak orang.
“Re, kita ke sana yuk!” udap Hanin pada Rea.
“By, kamu lanjut aja. Aku sama Rea mau makan itu.” Hanin menunjuk ke arah yang sedari tadi mengundangnya untuk segera ke sana.
“Oke.” Kenan mengangguk. Ia juga masih ada yang ingin dibicarakan dengan Jane.
Rea pun pamit kepada suaminya dan langsung di angguki Vicky.
Hanin menggunakan bahasa Inggris. Untung saja, orang di sana mengerti bahasa universal itu. Hanin dan Rea berbincang dengan pembuat makanan khas pattaya itu. Hanin menanyakan berbagai rempah rempah yang ada di sana.
Kecantikan Hanin dan Rea mengundang dua orang bule yang sedang berdiri berjajar dengan mereka. Ketiga pria bule itu pun baru tiba dua hari yang lalu di negara ini untuk berlibur.
“Kalian pasti dari Indonesia, Right?” tanya salah satu bule itu.
Hanin mengangguk dan tersenyum. “Benar.”
Ketiga bule itu ternyata mahir bahasa Indonesia.
“Kok tahu?” tanya Rea.
“Karena kalian cantik,” teman bule itu berkata.
Hanin tersenyum. “Oh ya?”
“Ya, kulit orang Indonesia itu berbeda. Wajah wanitanya pun cantik eksotik. Kami pasti tahu,” ucap bule itu lagi.
Hanin dan Rea saling berpandang dan tertawa.
Kedua pria bule itu mengajak Hanin dan Rea berkenalan. Hanin dan Rea pun menerima uluran tangan itu dan bersalaman.
Di seberang sana. Dada Kenan bergemuruh. Jika tidak sedang berbincang dengan Jane, mungkin Kenan akan langsung menarik Hanin saat ini. Tapi sayang, Kenan harus sabar karena Jane sedang berbicara dan ia pun harus menanggapinya. Arah mata Kenan dan Vicky terus tertuju pada istri mereka yang berbincang dekat dengan kedua bule itu.
Kenan tidak fokus lagi. Ia panas. Mata Kenan menatap tajam ke arah Hanin yang tengah tertawa dan menampilkan senyumnya pada bule itu.
Begitu pun dengan Vicky. Padahal Rea tidak pernah tertawa selebar itu dengannya. Ia pun geram melihat pemandangan tak mengenakkan itu.
“Jane, sepertinya pertemuan kita sudah selesai. Sudah tidak ada lagi yang dibahas dan semua sudah fix,” ucap Kenan dengan menggunakan bahasa yang Jane mengerti.
“Oke,” jawab Jane.
Vicky pun mengangguk. Ia melihat kecemburuan yang besar di mata Kenan.
Ah, Hanin, Rea. Mereka tidak tahu bahwa ada singa jantan yang kini mengintainya. Senjata makan tuan, mungkin itu yang akan dialami Hanin dan Rea. Alih-alih kesal pada suami dan membuat pelajaran pada suami mereka. Namun sepertinya, jusru mereka yang akan mendapat pelajaran dan hukuman dari suami mereka itu. Hihihihi .....
__ADS_1