Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Keputusan besar


__ADS_3

Tepat di jam yang sama, Kiara sedang membuat sandwich untuk dirinya sendiri. Mulai hari ini, ia tak akan lagi menangisi sang suami. Tak akan lagi meratapi nasibnya dan tak akan lagi mengais cintanya. Ia pun tak tahu, pagi ini Gunawan sudah berangkat ke kantor atau masih di ruang kerjanya. Ua tak peduli.


“Non, kok bikin sandwichnya cuma satu? Bapak ngga di buatin?” tanya si Bibi, ketika berpapasan dengan Kiara di dapur.


“Loh emang Bapak belum berangkat?” Kiara balik bertanya.


“Belum, Non. Dari semalam, Bapak ngga keluar dari ruang kerja.”


“Oh.” Kiara hanya membulatkan bibirnya.


Tak lama, Gunawan pun turun. Wajahnya tampak berantakan dan rambut pun kusut. Gunawan juga masih menggunakan kemeja yang kemarin ia pakai. Sungguh, pria itu seperti pria tak beristri dan tak di urus. Kiara malas menoleh ke arah pria itu. Entah mengapa, hatinya membeku, yang semula cinta dan mengagumi, berubah menjadi benci.


“Ra, maaf aku tidak ke kantor hari ini. jadi aku tidak bisa mengantarmu ke rumah Mami,” ucap Gunawan santai, berjalan menuju lemari es dan melewati Kiara yang sedang duduk di meja makan sambil memakan sandwich.


Kiara hanya mengangguk. Arah matanya tak sama sekali menuju ke arah Gunawan. Ia memakan sandwich sambil membaca artikel tentang kehidupan Lady Diana.


Gunawan menuangkan air dingin ke gelas dan meminumnya. Matanya melirik ke arah Kiara yang sedang duduk manis tanpa menoleh ke arahnya. Selesai menghabiskan air mium tadi, Gunawan ikut duduk di hadapan Kiara.


“Sandwich unttuku mana?”


Kiara tak menjawab pertanyaan Gunawan. Entah ia tak mendengar atau memang pura-pura tak dengar.


“Ra.”


Kiara masih serius membaca bacaan di ponselnya itu.


“Ra.” Panggil Gunawan lagi dengan nada sedikit keras.


“Hmm ...” Kiara baru mendongakkan wajahnya. “Apa?”


“Mana sandwich untukku?” tanya Gunawan lagi.


“Oh, aku hanya buat satu.” Kiara menatap sandwich yang ia pegang dan hanya tersisa sepertiganya saja. “Aku kira, kamu sudah berangkat kerja.”


Kiara kembali memfokuskan kedua matanya pada ponsel yang ia letakkan di atas meja makan itu. Kemudian, Gunawan kembali bangun dari duduknya dan hendak menuju ke arah tangga. Sejak semalam, ia belum membersihkan diri karena terlalu larut dalam kesedihan, mengingat wanita yang ia cintai kini sudah menjadi istri Kenan.


“Mas.” Panggil Kiara.


Gunawan pun menghentikan kakinya yang hendak menaiki satu anak tangga di paling bawah.

__ADS_1


“Sebentar, mumpung aku ingat.” Kiara bangun dari kursi meja makan itu dan bergegas ke sebuah bufet. Setelah keluar dari kamar tadi, ia sengaja meletakkan kertas yang terbungkus amplop hijau itu di sana.


Kiara sedikit berlari kecil menghampiri Gunawan yang berdiri di bawah tangga, sambil membawa map. “Ini! aku sudah tandatangani.”


“Apa ini?” tanya Gunawan bingung, pasalnya ia sudah melupakan kertas itu.


“Dulu kamu pernah memberikan ini padaku, tapi aku bersikeras untuk tidak menandatanganinya dan sekarang aku sudah menadatanganinya,” jawab Kiara tersenyum.


Gunawan melirik ke arah Kiara yang masih tersenyum, lalu membuka amplop itu. Ia mengeryitkan dahi, kertas itu tertera lambang pengadilan agama.


Dengan cepat Gunawan menutup amplop itu. “Kamu lagi hamil, aku tidak bisa menceraikanmu.”


“Terserah. Yang penting aku sudah menandatanginya,” ucap Kiara santai, lalu pergi meninggalkan Guanwan dan kembali duduk di meja makan.


Gunawan menatap wajah santai sang istri. Kiara benar-benar sudah berubah, pikirnya.


Ia kembali melangkahkan kaki untuk naik ke kamar. Ingin rasanya ia marah. Memarahi Kenan, memarahi Kiara, tapi itu tak mungkin karena Gunawan sadar bahwa selama ini dirinya lah yang telah banyak berbuat dosa pada sang istri. Walau semula ia kesal karena Kiara menjebaknya dalam pernikahan ini. Namun, Kiara selalu berusaha untuk menjadi istri yang baik untuknya. Wanita itu pun selalu menyiapkan semua keperluannya.


Gunawan melempar kertas itu asal di atas tempat tidur. Pikirannya benar-benar kalut. Baru semalam ia meratapi kepergian Hanin yang kini sudah menjadi milik pria lain. Sekarang, ia pun harus menerima kenyataan bahwa Kiara sudah tidak lagi seperti dulu. Bahkan, sang istri sudah benar-benar menyerah dan ingin berpisah. Bukankah sekarusnya Gunawan senang? Ini kan yang ia mau sejak dulu.


Ternyata, perpisahan itu sudah tak lagi ia inginkan. Gunawan menarik nafasnya kasar dan menatap kertas yang tergelatak di atas tempat tidur itu. Haruskah ia senang? Gunawan kembali berpikir.


Ia mengabaikan semua kepenatan ini. Ia ingin merehatkan sejenak tubuhnya di dalam bathup. Tak lama kemudian, Gunawan masuk ke dalam kamar mandi.


Saat keluar kamar, Kiara sudah membawa koper dan kertas yang ia tandatangani itu bersamaan. Sesampainya di lantai satu, ia meletakkan koper itu di ujung sofa dan hampir tak terlihat, sementara ia meletakkan kertas itu di lemari dan kini sudah sampai ke tangan sang suami.


“Bi, saya ke rumah ibu dan mungkin tidak akan pulang lagi ke sini. Titip Bapak ya, Bi. Tolong buatkan makan dan siapkan semua keperluannya.”


“Loh, Non. Kok begitu?” Si Bibi tampak sedih.


Sementara di kamar mandi atas, Gunawan tidak mengetahui kepergian sang istri.


“Iya, Bi. Saya sudah menadatangani surat perceraian itu.”


“Tapi tadi Bapak kan bilang tidak akan menceraikan Non, karena Non lagi hamil,” ucap si Bibi yang diam-diam selalu mendengar pertengakaran pasangan suami istri ini.


“Hmm ... paling sampai saya lahiran, Bi. Proses cerai baru akan di gelar, tapi dari sekarang berpisah juga sama aja kan?”


“Non. Kok menyerah? Padahal Non kan sudah berusaha, sayang semua pengorbanan Non Kiara selama ini,” ucap si Bibi lirih

__ADS_1


Kiara menggeleng. “Justru saya menyesal, Bi. Mengapa saya baru sadar sekarang? Saya bodoh telah menyia-nyiakan waktu dan pengabdikan hidup saya hanya untuk orang yang tidak menghargai cinta yang saya berikan.”


Kiara menggenggam tangan si Bibi. “Saya pamit ya, Bi. Saya juga sudah pamit pada Bapak.”


Kiara tersenyum dan meninggalkan rumah itu dengan menggunakan taksi online yang sudah ia pesan setengah jam yang lalu.


“Hati-hati, Non.” Si Bibi melambaikan tangannya, setelah mengantar Kiara hingga halaman rumah dan ikut membawa koper itu ke dalam mobil.


“Selamat tinggal, Mas Gun. Terima kasih karena telah mengajarkanku banyak hal,’ gumam Kiara sembari matanya terus menelusuri rumah yang sudah ia tinggali selama lebih dari empat tahun itu.


Kemudian, ia meraih ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan pada Gunawan.


“Mas, aku pergi. Maaf karena selalu merepotkanmu dan terima kasih karena telah mengajarkanku banyak hal.” Pesan kiara di akhiri dengan emot senyum dan kedua tangan yang di tangkup.


Di kantor Aditama, Kenan mendapatkan telepon dari James, ayah Vanesa.


“Halo Dad,” Kenan menyapa ayah Vanesa melalui panggilan video call.


“Hai, Son. Benar nanti malam kau akan makan malam di rumah?” tanya James, yang merupakan sahabat Kean, ayah Kenan.


Sepeninggal Kean, James menjadi sosok pengganti itu. Pria paruh baya yang seusia dengan almarhum ayah Kenan itu yang selalu mengajarkan Kenan untuk menjadi pebisnis handal. Kenan pun sering meminta nasihat dan petuah dari pria bijaksana itu.


Keputusannya untuk bertunangan dengan Vanesa dan belum juga memutuskan hubungannya hingga saat ini, itu semua karena rasa tak enaknya pada James. Namun, malam nanti ia akan jujur pada pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya itu. Ia bertekad akan mengakhiri hubungannya dengan Vanesa secara gentle langsung melalui orang tuanya.


“Benar Dad. Ada hal penting juga yang ingin saya katakan pada daddy.”


“Sepertinya serius?” tanya James.


“Ya, Dad. Ini serius, karena Daddy sudah seperti Papi bagiku,” jawab Kenan.


“Baiklah.” James mengangguk sembari tersenyum. Kenan memang selalu meminta saran dan petuahnya dalam hal apapun.


“Datanglah, Son. Aku akan menunggumu,” ucap James.


“Terima kasih, Dad. Salam untuk Mommy.” Kenan tersenyum dan panggilan itu di akhiri oleh james setelah membalas senyum dari Kenan.


Kenan akan berbincang empat mata pada James, serta mengakui bahwa dirinya sudah menikahi wanita lain. Ia yakin, James yang bijaksana akan mengerti, karena James dan Kean memiliki prinsip yang sama, bahwa cinta tidak bisa di paksa. Kedua pria itu pula yang sejak awal menolak keras keinginan para istri untuk menjodohkan Kenan dan Vanesa saat mereka kecil dulu, sebelum akhirnya Kenan dan Vanesa dekat dan berpacaran dengan sendirinya saat dewasa.


Kini, Kenan menyadari bahwa perasaannya pada Vanesa sejak dulu hingga saat ini adalah hanya sebagai sahabat, bahkan seperti saudara. Ia tidak bisa menjadikan Vanesa sebagai istri. Apalagi saat ini tengah ada Hanin yang berhasil membuatnya terpesona dan sudah ia persunting menjadi istri.

__ADS_1


Akhirnya, Kenan dan Kiara mengambil keputusan besar dalam hidup. Keputusan yang mungkin nantinya akan membuat sang ibu kecewa dan mungkin akan memberikan reputasi buruk pada bisnis dan citra baik yang sudah di bangun keluarga Aditama sejak dulu. Namun, keputusan itu membawa mereka kedalam hidup yang nyata dan bukan kamuflase belaka.


Apakah ini semua karena Hanin? Entahlah.


__ADS_2