
“Sayang, aku berangkat ya!” ucap Kenan melalui sambungan telepon, sembari berjlan cepat menuju lift dan keluar dari gedung milik Adhitama.
“Ya, aku juga berangkat,” sahut Hanin yang juga berjalan keluar dari kediaman utama sang suami dengan menggunakan mobil dan supir Rasti.
“Hatti-hati, Sayang.”
“Kamu juga, By.”
Kemudian keduanya menutup sambungan telepon itu. Kenan dan Hanin hendak bergegas menuju rumah sakit.
Di lobby, Misya kembali mendatangi gedung ini. ia memaksa pada resepsionis agar bisa masuk ke dalam. Namun, wanita resepsionis itu tetap menahan Misya.
Tring
Lift yang Kenan naiki tepat sampai di lobby dan terbuka setelah bunyi itu. Kenan langsung keluar, berjalan sembari menunduk menggaruk pelipisnya yang sedikit gatal dan satu tangannya lagi berada di saku.
Sedangkan di seberang sana, Misya sudah melihat Kenan yang keluar dari lift.
“Itu dia yang saya cari,” ucap Misya. “Ken.”
Kenan tetap berjalan lurus ke depan dan tidak mengihiraukan panggilan itu.
“Kenan,” teriak Misya sembari berlari ke arahnya.
Kenan menoleh dan langkahnya terhenti. Ia melihat Misya yang berlari menghampiri.
“Kenan.” Misya masih memanggil dengan nafas tersengal-sengal. “Susah sekali bertemu denganmu.”
“Ada apa, Mis?” tanya Kenan sembari berdiri dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Gaya Kenan yang gagah dan maskulin, semakin membuat Misya terpesona.
“Maaf, Ken. aku kesini hanya ingin bertemu denganmu.”
“Ya, kita sudah bertemu, lalu?” tanya Kenan.
“Apa aku dan Marcel berbuat salah padamu?’ Misya balik bertanya, membuat kening Kenan berkerut.
“Maksudmu?”
“Dulu kamu tidak seperti ini, Ken. tapi mengapa sekarang, telepon dan pesanku tidak pernah kau balas. Bahkan aku datang ke kantormu pun tidak boleh. Kenapa?”
“Aku hanya ingin menjaga perasaan istriku,” jawab Kenan tegas.
Lalu, Ia pun segera berjalan kembali menuju mobilnya yang sudah dipersiapkan di depan lobby.
Misya mengejar Kenan. “Tapi Hanin kan tidak tahu?”
Langkah Kenan terhenti dan menatap tajam Misya. Ia tertawa kecut. “Mis, aku semakin tidak mengenalmu. Dulu kau tidak seperti ini.”
Kenan kembali melanjutkan jalannya dan meninggalkan Misya.
“Baiklah, aku minta maaf jika menganggumu. Tapi sebenarnya aku kesini hanya ingin mengucapkan terima kasih, Ken. Aku berterima kasih karena kamu mau menemani Marcel malam itu.” Misya berjalan cepat menyesuaikan langkah Kenan, hingga mereka sampai di depan mobil Kenan.
Kenan membuka pintu mobilnya dan Misya masih menahan pintu itu.
“Oke, aku sudah terima ucapan terima kasihmu. Clear!” Kenan mengangkat bahunya, menyatakan kepada Misya bahwa urusan mereka sudah selesai.
“Kamu banyak berubah, Ken,” ucap Misya dengan tangan yang menyangga pada pintu mobil yang terbuka itu.
Sementara Kenan sudah duduk di kursi kemudi. “Tidak ada yang berubah, Mis. Aku memang seperti ini.”
__ADS_1
Misya menarik nafasnya kasar dan tertunduk lesu. Ia melepaskan pintu mobil yang hendak Kenan tutup. Mungkin sepertinya memang ia tidak perlu penasaran dengan apa yang diucapkan Rasti waktu itu.
Namun, tiba-tiba Misya menjerit. “Aaaaa....”
Sontak, Kenan membuka lagi pintu mobil itu. ternyata ketiga jari tengah Misya masih menempel di bagian pintu mobil yang hendak Kenan tutup.
“Misya, kamu tidak apa-apa?” tanya Kenan panik dan langsung memegang tangan Misya.
“Aaa ... sakit ... sakit, Ken.”
“Maaf, maaf.” Kenan mengelus tangan Misya yang terjepit pintu mobil. “Lagian jari kamu kenapa ada di situ sih, Mis?”
“Aku belum melepaskan tanganku dari sini, tapi kamu malah udah tutup aja pintunya.”
Kenan menghelakan nafas. Ia melihat ketiga jari yang terluka itu dan dua kuku Misya yang rusak, lalu mengeluarkan darah.
“Ayo ke rumah sakit!” Ajak Kenan dan meminta Misya masuk ke dalam mobilnya.
“Kamu ada-ada aja sih, Mis,” gerutu Kenan di dalam mobil.
Misya pun mengerutkan bibir. Ia tak terima diomeli Kenan, padahal mennurutnya ini adalah kesalahan pria itu yang terlalu cuek dan acuh tadi.
“Kamu yang nutup pintu sembarangan. Aduh tanganku sakit.”
“Maaf.” Satu tangan Kenan mengambil tangan Misya dan mengelusnya.
Sementara satu tangannya lagi untuk menyetir dengan pandangan yang sesekali mellirik ke arah jari Misya yang memang terlihat mengenaskan. “Ini pasti sakit.”
“Sakit, Ken. apa jariku patah?” tanya Misya.
Hati Misya kembali berbunga dengan perlakuan Kenan, padahal Kenan melakukan ini murni hanya karena rasa bersalahnya. Apalagi yang menjadi korban adalah wanita.
“Tapi jarimu masih bisa digerakkan ‘kan?”
“Berarti tidak patah.”
Sesampainya di rumah sakit, Kenan langsung merangkul Misya dan memegang tangannya yang terluka menuju ruang instlasi darurat. Ia ingin Misya langsung mendapatkan perawatan agar tidak infeksi. Ia pun khawatir tulang lunak di jari itu retak, karena Kenan menutup pintu mobilnya dengan sedikit kencang.
Di lobby, Hanin baru saja sampai di rumah sakit ini. Entah mengapa, Kenan membawa Misya ke rumah sakit yang sama, karena sebelumnya di otak Kenan memang hendak menuju rumah sakit ini.
Hanin melihat sosok suaminya yang tengah berjalan tergesa-gesa menuju IGD bersama seorang wanita yang tidak tampak jelas. Ia pun sedikit berlari dan berjalan cepat mengikuti Kenan dari kejauhan.
Lima belas menit, tangan Misya langsung diobati. Tepat di depan tempat duduk Misya, Kenan duduk di sana.
“Tidak ada yang retak dan patah kan, Dok?” tanya Kenan.
Dokter itu pun tersenyum dan menggeleng. “Tidak ada.”
“Oh, syukurlah.” Kenan bernafas lega.
Terlihat kuku-kuku Misya yang biru karena darah di dalamnya yang tidak keluar.
“Kuku yang biru ini akan kembali ke semula kan, Dok?” tanya Misya.
“Tentu saja, Bu.”
Ktiga jari Misya diperban dan ia diberi resep agar tidak infeksi.
“Mis, aku minta maaf,” ucap Kenan.
“Aku yang salah, seharusnya tanganku segera kutarik dari pintu mobilmu.”
__ADS_1
Keduanya tersenyum.
“Coba aku lihat?” tanya Kenan dengan mengambil tangan Misya yang di perban. “Sorry, aktifitasmu jadi akan terganggu selama satu minggu ke depan.”
“It’s ok,” jawab Misya tersenyum.
Di luar ruangan itu, Hanin masih berdiri. Ia dapat mendengar percakapan kedua orang yang berada di dalam sana, karena pintu itu pun tidak tertutup dan ruangan itu nampak sepi, sehingga suara mereka sedikit menggema.
“Ken, ada yang ingin aku tanyakan.”
“Apa?’ tanya Kenan dengan mengalihkan pandangan dari tangan Misya ke wajahnya.
“Apa yang dikatakan Mami waktu itu benar? Apa dulu kamu pernah menyukaiku?”
Deg.
Dibalik pintu ruangan itu, Hanin mendengar pertanyaan Misya.
“Ya.” Kenan mengangguk.
Seketika, dada Hanin bergemuruh. Ia langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan itu dengan hati sedih. Hanin pergi dengan penggalan kata yang belum tuntas Kenan jelaskan. Entah mengapa hati Hanin langsung perih ketika mendengar pengakuan dari sang suami akan pertanyaan wanita itu. padahal sebelumnya, Kenan menjawab tidak pernah ada wanita yang ia sukai selain dirinya, ketika ia bertanya tentang masa lalu. Tapi, ternyata Kenan berbohong dan kebohongan itu yang melukai hati Hanin saat ini.
Sungguh, Hanin trauma dengan kebohongan laki-laki, karena ia pernah mendapatkan kebohongan dari Gunawan. Dan kali ini, ia tidak ingin lagi mendapatkan kebohongan dari pria kedua yang ia cintai, bahkan cinta yang ia beri pada pria kedua setelah Gunawan, melibihi dari cinta yang pernah ia berikan pada pria itu.
“Kenapa waktu itu, kamu harus bilang tidak pernah menyukai wanita manapun selain aku. Padahal jika kamu jujur, aku tidak akan sesedih ini mendengarnya,” gumam Hanin di sela lengkahnya menuju ruang dokter kandungan yang biasa memerikasanya.
Di ruang IGD, Kenan masih menjelaskan pertanyaan Misya.
“Aku hanya menyukaimu, Mis. Suka itu bukan berarti mencintai. Dulu, aku hanya mengagumi sosokmu yang lembut dan penurut.”
“Berarti aku adalah wanita pertama yang kamu sukai?’ tanya Misya lagi.
“Dulu. Iya. Tapi sekarang bagiku, aku hanya menyukai dan mencintai istriku saja. Bagiku Hanin adalah wanita pertama dan terakhir yang aku sukai dan aku cintai. Selebihnya tidak ku anggap lagi demikian.”
Jleb.
Hati Misya langsung teriris. Dirinya ditolak. Ya, akhirnya ia mendapatkan penolakan dari Kenan.
“Apa jika dulu aku tahu perasaanmu dan tidak dijodohkan, kita akan bersama?” tanya Misya yang kini mengeluarakn airmata. “Aku menyukaimu sejak dulu, Ken. Tapi tak berani aku ungkapkan hingga akhirnya aku dijodohkan.”
“Itu takdir, Mis. Walau saat itu kita sama-sama tahu perasaan masing-masing, mungkin tetap tidak berjodoh karena memang kita tidak ditakdirkan berjodoh. Lagi pula Excel sangat mencintaimu. Kamu bahagia bersamanya dan saat ini walau Excel sudah tiada, tapi kamu memliki putra yang membanggakan yang kelak akan membahagiakanmu.” Kenan menarik nafasnya.
“Percayalah bahwa semua yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik untuk kita. Sekarang, aku pun bahagia dengan istriku. Mungkin, jika kita bersama, kita tidak mendapatkan kebahagiaan seperti yang kita dapatkan sekarang. Kamu mengerti!” ucap Kenan lagi.
Misya menunduk sembari menangis. Ia malu terhadap Kenan. ia malu karena beberapa minggu terakhir begitu mengejarnya.
Lalu, Kenan melirik arloji di pergelangan tangan kananya. “Oh, ****. Aku melupakan janjiku pada Hanin. pasti dia sudah menunggu.”
Kenan berdiri dari duduknya. Sementara Misya menengadahkan kepala menatap Kenan.
“Hanin jadwal pemeriksaan rutin di rumah sakit ini. Maaf aku tinggal, Mis. Tadi aku sudah menelepon Marcel untuk datang kesini dan menjemputmu. Sekali lagi maaf,” Kenan menepuk pundak Misya.
Misya tersenyum. “Aku yang minta maaf karena sudah menganggumu. Terima kasih atas penjelasanmu, Ken. Aku tidak lagi penasaran.”
Kenan pun ikut tersenyum. “Kau memiliki Marcel, Mis. Aset berharga yang akan selalu ada di sisimu kelak.”
Misya tersenyum dan mengangguk.
Kemudian, Kenan segera keluar dari ruangan itu. kakinya yang panjang, dengan cepat melangkah menuju ruang pemeriksaan sang istri.
“Pasti Hanin sudah menunggu lama di sana,” gumam Kenan di sela langkah kakinya menuju tempat itu.
__ADS_1
Akhirnya, Kenan bisa menyelesaikan Misya. Wanita memang mudah sekali terbawa perasaan, hanya karena perkataan Rasti, Misya menjadi penasaran seperti ini. Tetapi ia lega, karena akhirnya masa lalu itu sudah selesai, Walau ia pun bingung karena ia merasa seharusnya tidak perlu ada kata ‘masa lalu yang belum selesai’ karena ia dan Misya memang belum memulai.
Kenan menyungging senyum, saat dari kejauhan ia melihat sosok wanita yang dicintainya itu tengah duduk sendiri di sana. Kenan semakin berjalan cepat untuk menemani wanitanya yang tengah duduk melamun. Ia tidak mengetahui bahwa hati dan pikiran wanita itu tengah bergelut dalam krisis kepercayaan terhadap dirinya.