Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Memindahkan ke rekening pribadi


__ADS_3

Kenan melambaikan tangannya ke arah sang istri, kakinya terasa berat ketika meninggalkan istrinya yang sedang dalam keadaan sakit sendirian di dalam sana. Ia pun berencana untuk mampir ke rumah sang ibu dan meminta kembali Lastri untuk pulang dan menemani istrinya di sana. Pelayan di kediaman Aditama terhitung cukup banyak, belum lagi ada tukang kebun dan beberapa keamanan. Seharusnya, Rasti tidak perlu meminta Lastri kembali ke rumah itu hanya karena dua pelayan di sana sedang pulang kampung.


Kemudian, Kenan mengemudikan mobilnya menuju rumah sang ibu.


Sesampainya di rumah sang ibu, Kenan mengeryitkan dahi saat ia memarkirkan mobilnya. Ia sudah melihat mobil Misya terparkir di sana.


“Mam,” panggil Kenan saat sudah memasuki rumahnya.


“Hai, Uncle Kenan,” ucap Kiara sembari menggerakkan tangan Kayla yang berada dalam gendongannya.


Kayla di gendong depan. Kenan pun dapat melihat senyum keponakannya yang sangat cantik.


“Hai, princes.” Kenan langsung menghampiri adik dan keponakannya itu. tak lupa ia pun mengecup pipi Kiara dan Kayla bergantian.


“Gunawan sudah berangkat?” tanya Kenan.


“Sudah, dia sudah berangkat pagi-pagi sekali.”


“Suamimu sepertinya sekrang menjadi pria pekerja keras,” ledek Kenan, karena sebelumnya Gunawan memang tidak gigih dan bisanya hanya bersenang-senang saja.


“Jangan menjelekkan suamiku, Kak!” bibir Kiara merengut.


“Iya deh, segitu cintanya sih sama Gunawan.” Kenan kembali meledek adiknya sembari mencubit pipi itu.


Kiara semakin hari memang terlihat semakin cantik. Tubuhnya semakin padat berisi. Aura di wajahnya pun terlihat bahagia dan cerah. Kenan tersenyum, ia turut bahagia.


Kenan kembali tersenyum saat Kayla menyibak rambut ibunya. Di sana terlihat jelas lehr Kiara yang dipenuhi kissmark. Sontak Kiara langsung menutup kembali leher itu dengan rambutnya. Ia khawatir Kenan melihatnya, padahal Kenan memang sudah lebih dahulu melihat itu. Ia hanya tersenyum dan pura-pura tak melihat.


“Mami mana?” tanya Kenan.


“Ada di taman belakang bersama Misya.”


“Apa dia sering ke sini?” tanya Kenan lagi.


Kiara mengangguk. “Dari dulu dia memang sering main ke rumah kita kan kak?”


Ya, semasa kuliah Vanesa sering mengajak Misya jika sedang bertandang ke rumah ini, karena pertemanan Vanesa, Misya, dan Kenan terjalin karena hubungan kerja para ayah mereka.


“Iya, sih.”


“Tenang, Kak. Dia udah ga akan ganggu kakak lagi,” ucap Kiara.


“Kok kamu tahu?” tanya Kenan.

__ADS_1


“Ya, aku sempat menegurnya dan dia cerita kalau kakak juga sudah menolaknya mentah-mentah,” jawab Kiara.


“Harusnya, dia tidak usah mengungkit masa lalu, karena kami sudah sama-sama menikah.”


Kiara mengangguk dan mengerdikkan bahunya. “Kadang cara berpikir perempuan memang suka diluar nalar.”


“Termasuk kamu.” Kenan mentoyor kening adiknya yang juga pernah berpikir pendek hanya karena ingin mendapatkan pria yang ia cintai.


Kiara nyengir.


“Udah aku mau nemuin mama,” ucap Kenan sembari menoel pipi bulat Kayla dan berkata lagi pada adiknya. “Ra, jangan sering-sering begituan, kasian Kayla masih kecil kalau harus memiliki adik.”


“Apaan sih.” Sontak Kiara memukul lengan kakak kesayangannya yang sedang tertawa meledek.


Kemudian, Kenan pergi meninggalkan sang adik dan berjalan ke arah taman untuk menemui Rasti.


“Mam,” panggil Kenan.


“Ken.” Rasti langsung menoleh ke suara itu dengan senyum mengembang.


Misya yang sedang duduk berhadapan dengan Rasti pun langsung menoleh. Ia tersenyum ke arah Kenan.


“Pagi-pagi sudah di sini, Mis.” Sindir Kenan.


“Emm ..” Kenan hanya mengangguk. Lalu, ia kembali beralih pada Rasti. “Oh, iya Mam. Kenan ke sini ingin membawa Bi Lastri kembali.”


“Jangan! Mami butuh dia. Surti dan Maya masih di kampung,” jawab Rasti menyebut kedua pelayannya yang masih belum kembali ke rumah ini.


“Masih ada pelayan yang lain kan, Mam. Di apartemen, Hanin sendirian. Dia lagi hamil tua. Biar Bi Lastri menemani dia selama Kenan tinggal kerja.”


Rasti menarik nafasnya. “Tuh lihat Mis. Kenan sekarang benar-benar bucin 'kan.”


Kenan tertawa. Sedangkan Misya, hanya menyungging senyum tipis.


Misya sadar, Kenan memang pria berhati teguh, dia pria yang tidak mudah tergoda, dia pria yang selalu menjaga apa yang sudah dimiliki dan tidak pernah menoleh pada kepunyaan orang lain. Maka beruntunglah wanita yang mendapatkan cintanya.


“Ya, Mam.” Kenan kembali merajuk.


“Iya, ya sudah. Mami juga kasihan dengan istrimu.”


Kenan langsung menghambur peluk pada tubuh sang ibu dan mengecup wajah itu bertubi-tubi.


Misya tersenyum menatap Kenan. Ia kembali teringat pada Marcel, putranya pun sering melakukan ini jika permintaannya dikabulkan. Ia berterima kasih apda Kenan yang mengingatkan bahwa putranya adalah harta berharga yang elalu ada di sisinya kelak.

__ADS_1


“Terima kasih, Mam. Mami memang ibu terbaik,” ucap Kenan.


“Ya ... Ya ...” Rasti tertawa.


Di luar sana, tanpa di ketahui orang-orang yang ada di dalam, ada Hanin yang hanya terpaku di luar. Hanin membuka jendela mobil taksi online yang ia tumpangi tengah mengamati kedua mobil yang terparkir beriringan. Lalu, kembali pergi.


Di sana hanya ada sekuriti rumah itu yang menyadari kehadiran Hanin di luar tadi.


“De, tadi Non Hanin kan ya? Istrinya Tuan muda,” ucap Joko, salah satu sekuriti kediaman mewah itu.


“Iya kayanya. Tapi kok ga masuk, malah pergi lagi,” sahut Dede, salah satu sekuriti yang menemani Joko.


“Tau, mungkin ada urusan lain.”


“Iya kali.”


Mereka pun tak ambil pusing dan tak mau terlalu mengurusi urusan majikannya lebih dalam.


Di dalam taksi online, Hanin hanya terdiam. Bahkan ia tak memerintahkan supir itu, kemana tujuan mereka sekarang.


“Bu, kita kemana?” taya supir itu yang tak mendapat jawabn dari Hanin.


Hanin larut dalam pikirannya sendiri. Ia benar-benar mengira bahwa Kenan telah berselingkuh darinya. Semua hal baik yang Kenan lakukan selalu berputar dan mengklaim bahwa semua itu hanya kebohongan.


“Kamu cuma memanfaatkan tubuhku, Ken,” gumam Hanin dalam hati sembari menatap ke arah jendela. Air mata itu terus mengalir di pipinya.


Hanin kembali mengingat awal ia bertemu dengan Kenan, memang tidak ada kesan baik. Kenan selalu melecehkannya dan menginginkan tubuhnya saja.


“Bu, kita kemana?” tanya supir taksi itu lagi, kini suara pria paruh baya itu sedikit keras hingga akhirnya Hanin tersentak kaget.


“Oh, maaf, pak. Kita ke Mall dekat sini saja.”


“Sekarang baru jam sembilan bu, belum ada Mall yang buka,” jawab supir itu.


Hanin kembali melihat jam di tangan kanannya. “Oh iya.”


“Kalau begitu kita ke bank xxx aja dulu,” sahut Hanin yang langsung di angguki supir itu.


Di sana, Hanin kembali mengaktifkan rekening tabungannya yang dulu sempat tak ia gunakan, karena hampir satu tahun terakhir ini ia menggunakan kartu debit dan kredit yang diberikan Kenan.


Entah mengapa tiba-tiba terbesit untuk memiliki uang sendiri untuk berjaga-jaga. Hanin mengambil uang dari kartu debit sang suami dan dipindahkannya ke rekeningnya sendiri. Ini adalah kali pertama ia mengambil uang suaminya untuk dirinya sendiri, hampir satu tahun menikah dengan Kenan, ia tak pernah sekalipun menyelipkan uang Kenan untuk mauk ke rekening pribadinya.


“Maaf, Ken, aku hanya berjaga-jaga. Kelak jika kamu sudah bosan denganku, aku akan menggunakan uang ini untuk membiayai anak kita,” gumam Hanin dalam hati.

__ADS_1


Tidak tahu apa yang ada di pikiran Hanin. Mungkin, ini akibat ia sering menonton drama atau membaca novel, hingga ia langsung berpikir demikian. Padahal Kenan tidak seburuk apa yang ia pikirkan sekarang. Entahlah? Mungkin ini ujian untuk Kenan karena sebelumnya ia terlalu mudah mendapatkan Hanin.


__ADS_2