
Vicky mengendarai mobilnya menuju rumah Rea. Entah mengapa ia seakan ingin segera sampai ke rumah itu.
Benar saja, sesampainya di depan gang rumah Rea. Nisa menangkap sebuah mobil yang terparkir persisi di depan mobil Vicky yang sedang memarkir.
“Mama Gina,” gumam Nisa yang terdengar Vicky.
“Siapa Mama Gina?” tanya Vicky sembari membenarkan mobilnya yang sedang ia parkirkan.
“Mamanya Kak Attar,” jawab Nisa datar.
“What?”
Vicky langsung panik dan segera keluar dari mobil. Ia berjalan cepat masuk ke dalam gang itu. sementara, Nisa mengikuti dengan berlari di belakang Vicky.
Di dalam rumah, Rea sudah di keroyok oleh Mama dan Papa Attar.
“Kamu tahu, akibat ulah kamu, Attar ngga keluar kamar. Dia ngga mau makan, ngga mau kerja, ngga mau ngapa-ngapain,” ujar Mama Attar yang masih saja menyalahkan Rea yang telah menerima pinangan orang lain padahal statusnya tunangan sang putra.
“Maaf, Ma.” Rea masih terisak. Ia bingung menjelaskan pada wanita paruh baya itu harus mulai dari mana.
“Kamu mempermalukan keluarga kami, Re. Padahal Papa sudah gembar gembor ke relasi Papa, kalau sebentar lagi kalian akan menikah.”
“Kamu memang keterlaluan. Mama kecewa.”
Papa dan Mama Attar terus menghardik Rea.
“Re,” panggil Vicky yang langsung membuka lebar pintu yang semula setengah terbuka itu.
“Itu suamimu?” tanya Mama Attar dengan pandangan sinis ke arah Vicky.
Vicky berlari ke arah Rea dan berjongkok di depannya. “Hei, kamu tidak apa-apa?”
Rea hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya. Sementara Papa Attar memperhatikan betul wajah Vicky.
“Halah so romantis banget,” kata Mama Attar dengan tatapan jijik pada Rea dan Vicky. “Jadi kamu yang telah merebut calon istri anak saya.”
“Maaf Tante, tapi saya memang harus menyelamatkan Rea dari anak Tante.”
“Hei, maksud kamu apa?” tanya Mama Attar dan langsung berdiri menantang.
“Sebentar, sepertinya Om dan Tante harus tahu seperti apa putra kalian di belakang kalian.” Vikcy berjalan ke dalam kamar dan mengambil sebuah amplop berwarna coklat.
Selang beberapa menit, Vicky keluar dari kamar itu dan melempar amplop itu ke atas meja. “Semua tentang putra kalian ada di situ. Jadi jangan menuduh orang sembarangan! Atau saya akan menuntut kalian dengan pasal pencemaran nama baik.”
Perlahan, Papa Attar mengulurkan tangan untuk mengambil amplop itu. Ia membuka dan melihat isi di dalamnya. Matanya terbelalak, bibirnya menganga melihat berbagai macam pose Attar dan Sila yang sedang bercinta.
“Foto itu saya ambil dari adegan video yang ada di dalam disk itu,” kata Vicky.
Mama Attar langsung menarik lembar demi lembar foto yang berada di tangan suaminya. “Apa-apaan ini, Pa?”
Papa Attar menggeleng. “Papa juga tidak tahu, Ma. Yang Papa tahu wanita ini sekretaris Attar yang baru.”
“Apa?” Mama Attar tampak tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
Nisa hanya menjadi penonton. Sungguh, ia tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi. Yang ia tahu, kekasih kakaknya berselingkuh.
“Bisa saja kamu merekayasa foto dan video ini,” sahut Papa Attar.
“Silahkan anda tanya ke pakar telematika, video ini asli atau tidak. Pasti jawabannya asli, karena Rea pun melihat adegan itu dengan kedua matanya sendiri.”
Sontak Papa dan Mama Attar kembali terkejut.
“Ini tidak mungkin, Pa.”
Kondisinya kali ini Mama Attar yang panik dan sedih, padahal sebelumnya dengan angkuhnya ia menyudutkan Rea, seakan putranya paling benar. Sedangkan, rahang Papa Attar mengeras. Bukan marah pada Rea, tapi pada putranya sendiri.
“Mulai sekarang jangan ganggu kami! Bilang pada anak anda, jangan ganggu lagi istri saya! Jika tidak, saya akan menyebarkan video itu, karena saya menyimpan video asli mereka.”
“Si*l. Ayo, Ma. Kita pulang!” Papa Attar semakin kesal. Ia tidak bisa membayangkan jika video itu tersebar, ingin taruh dimana mukanya dan bagaimana dengan karir perusahaannya nanti.
“Dasar anak tidak tahu di untung,” gerutu Papa Attar saat ia berjalan cepat menuju mobilnya.
“Papa, tunggu!” Mama Attar berjalan cepat di belakang suaminya, hingga berlari agar tidak tertinggal dari langkah suaminya itu.
Papa Attar ingin cepat-cepat pulang dan menanyakan semua ini pada putranya. Ia kesal karena merasa di bohongi oleh anaknya sendiri.
“Kak,” panggil Nisa pada sang kakak.
Adik bungsu Rea itu langsung duduk di samping sang kakak dan mengelus punggungnya. Sementara Vicky kembali berjongkok di hadapan Rea dan menggenggam tangan yang terasa sangat dingin itu.
“Tenanglah, semua sudah berlalu,” ujar Vicky mencoba menenangkan sang istri, tapi Rea masih menangis.
“Nis, tolong buatkan kakakmu teh hangat!”
“Sayang,” panggil Vicky lembut.
Namun, Rea masih menangis. Entah apa yang ditangiskan wanita itu, membuat Vicky bertanya-tanya. Lalu, sesaat kemudian, Rea memeluk tubuh suaminya.
“Terima kasih, Mas. Terima kasih. Kamu datang di waktu yang tepat.” Rea masih sesegukan.
“Tidak perlu berterima kasih, karena apapun yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku. Juga yang terjadi pada Nisa dan Thia adalah tanggung jawabku sekarang.”
“Huwaa ....” Rea kembali menangis kencang.
Tak pernah terbayang di otaknya, bahwa ia akan bertemu pria sebaik Vicky. Walau semula ia mengira Attar adalah pria paling baik di muka bumi ini.
“Mengapa kamu begitu peduli padaku? Begitu menyayangi kedua adikku?” tanya Rea di sela pelukan erat itu.
“Karena aku sangat mencintaimu, Rea.”
Rea melonggarkan pelukan itu.
“Kamu masih belum percaya?” tanya Vicky.
Rea menggeleng dan mengusap pipinya yang basah.
“Kenapa masih tidak percaya?” tanya Vicky lagi.
__ADS_1
“Karena aku menemukan foto ini di dompermu.” Rea menunjukkan foto Kiara.
Rea tidak sengaja melihat foto itu, saat Vicky yang sedang berada di kamar mandi meminta dibelikan alat cukur jenggot dan menyuruh Rea untuk mengambil uangnya di dompet.
“Oh, ya ampun. Aku lupa mengembalikan foto itu pada pemiliknya,” kata Vicky.
Rea memandang suaminya sambil cemebrut. Hal itu sontak membuat Vicky gemas. Ia mendekatkan wajahnya pada sang istri dan ...
Cup
Vicky memcium bibir itu dan **********. Di luar dugaan, ternyata Rea membalas ciuman itu. Rea sudah mulai mengimbangi penyatuan bibir dan lidah itu, hingga akhirnya mereka menyudahi pangutan itu.
Vicky mengusap sisa saliva yang menempel pada bibir istrinya seraya berkata, “dia itu Kiara, adik Kenan. kamu tahu Kenan kan? Bos aku sekaligus sahabat aku yang mempersiapkan pernikahan kita.”
Rea mengangguk.
“Sayangnya, Kiara tidak bisa datang ke pernikahan kita kemarin karena dia dan suaminya sedang menikmati second honeymoon di Bali. Kamu tahu anak kecil yang digendong Kenan dan istrinya, yang namanya Kayla?”
Rea kembali mengangguk. “Iya.”
“Itu anak mereka.”
“Aku memang pernah mencintai Kiara, tapi Kiara tidak mencintaiku. Dia mencintai pria yang sekarang menjadi suaminya. Dan, kamu hadir mengisi lagi hatiku yang kosong. Kini di hati ini hanya ada namamu.”
Seketika bibir Rea mencibir. “Gombal.”
“Ih, ngga percaya.”
Rea tetap menggeleng. Walau di ahtinya ia percaya dengan semua yang suaminya katakan tadi.
“Percaya dong, Sayang.” Vicky memeluk dan sengaja mengelitiki pinggang Rea.
“Mas, Ih.”
“Ekhem.” Nisa berdehem sembari membawa nampan yang berisi teh hangat.
“Tuh kan, ada Nisa,” bisik Rea.
Lalu, Vicky mengambil jarak dan memilih duduk di samping istrinya. Ia pun meraih gelas yang dibawakan Nisa. “Ayo minum dulu, tanganmu tadi dingin sekali.”
Rea menerima gelas itu dan meminumnya.
“Arrggg ...” pekik Rea ketika menyeruput minuman itu. “Kok asin sih, Nis?”
“Ah, masa? Perasaan Nisa kasih gula kok bukan garam,” sanggah adik bungsu Rea.
Vicky hanya tertawa.
“Ini tuh asin, Nisa.”
Lalu, Nisa ikut menyeruput minuman itu. “Arrgg .... iya asin.” Nisa meletakkan kembali gelas itu di meja. “Maaf tadi Nisa ngga fokus karena ngeliatin kakak dan Om Vicky ber ...” Nisa memautkan kedua jari telunjuknya.
“What?” Rea menepuk jidatnya.
__ADS_1
Sedangkan Vicky masih nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Kamu udah buat Nisa terkontaminasi, Mas." teriak Rea pada suaminya yang super mesum.