
Hari berganti hari, kini Kenan tidak lagi mempermasalahkan jenis kelamin bayi yang sedang Hanin kandung. Baginya anak pertama yang akan mereka miliki berjenis kelamin lelaki atau perempuan sama saja, yang penting anak dan ibunya sehat hingga persalinan nanti.
Sedangkan Rasti, walau ia masih belum bisa menerima kenyataan itu sepenuhnya, tetapi kini ia lebih bisa menjaga perasaan Hanin dan tidak terang-terang mempelihatkan ketidaksukaannya itu, karena walau bagaimanapun Kenan sangat mencintai istrinya dan kejadian waktu itu cukup membuat Rasti memang tidak mmiliki pilihan lain kecuali menerima semua ini dengan lapang dada dan bersyukur.
“Ken, apa kamu ada di kantor? Marcel sangat ingin bertemu denganmu.”
Pesan itu masuk ke ponsel Kenan. Pesan untuk ke sekian kalinya dan untuk kesekian kalinya pula Kenan tak membalas pesan itu.
Satu bulan berlalu sejak kejadian itu, Kenan praktis menghindari Misya. Ia tidak ingin Hanin salah mengartikan kedekatan mereka, padahal selama ini ia dekat dengan Misya hanya sekedar teman dan yang mengapresiasikan bakat putranya.
Kenan mengambil ponsel yang tergeletak persis di samping tangan kanannya yang sedang berada di meja sejajar dengan benda elektronik itu. Ia melihat notifikasi itu dan meletakkannya kembali.
“Siapa?’ tanya Hanin yang menarik kursi di depan sang suami. Ia duduk di sana.
Mereka menikmati sarapan pagi bersama, seperti biasanya. Mereka duduk di meja mini bar itu berhadapan.
“Misya,” jawab Kenan santai sembari tetap menyuapi makanan itu ke mulutnya.
“Mengapa tidak di balas?’ tanya Hanin lagi.
Kenan menatap wajah sang istri dan tersenyum. “Lalu, kamu akan marah dan menghindariku. Menghilang Seperti waktu itu.”
Kenan mengeryitkan dahinya.
Hanin tertawa. Ia ingat lagi saat ia tertidur di ruang baca waktu itu, membuat geger dunia persilatan.
“Kamu terlalu buruk sangka. Aku bukan tipe orang yang mudah cemburu,” jawab Hanin santai sembari menyuapkan makanan itu kemulutnya.
“Oh, ya?” tanya Hanin tak percaya.
Hanin mengangguk. “Iya.”
Kemudian, Mereka terdiam sejenak karena menikmati kunyahan makanan yang tengah berada di dalam mulut masing-masing.
“Memang apa isi pesannya?” tanya Hanin.
“Masih sama, katanya Marcel ingin bertemu denganku.”
__ADS_1
“Kasihan anak itu, By. Balaslah, aku lihat memang anak itu sangat mengidolakanmu.”
Kenan meletakkan sendok dan garpu itu di atas piring dengan menyilang. Lalu, ia menatap wajah Hanin. “Sebenarnya, aku memang senang berteman dengan anak itu, karena anak itu mengingatkan aku dulu. Seusia itu aku pun sudah memiliki bakat dan antusias yang sama.”
“Lalu?”
“Tapi aku tidak ingin kamu merasa terabaikan seperti waktu itu,” jawab Kenan.
Hanin tersenyum. “Maklum, By. Hormon ibu hamil memang sensitif. Saat itu aku memang terlalu sensi.” Lalu, ia kembali nyengir dengan memperlihatkan jejeran giginya itu.
Kenan pun ikut tersenyum. Tangannya terangkat untuk mengelus wajah sang istri. “Jadi, kamu tidak akan cemburu jika aku masih dekat dengan Marcel?”
Hanin menggeleng.
Setelah kejadian itu, ia bertambah yakin bahwa Kenan sangat mencintainya. Sebenarnya tidak ada hal yang patut di takuti atau di cemburui, karena sang suami memang benar-benar sudah takluk padanya.
“Hmm ... Walau aku tak yakin dengan ibu anak itu. Tapi, aku yakin dengan cintamu, By.”
Kemudian, tangan Kenan kembali terangkat untuk mengacak-acak rambut Hanin. “Pintar.”
“Janji.” Kenan mengangkat kedua tangannya ke atas. “Lagian untuk apa? Aku sama sekali tidak tertarik dengan Misya, karena yang ini lebih menarik.” Kenan menarik ujung hidung Hanin.
“Eum ... sakit,” ucap Hanin manja.
Hanin kembali nyengir, membuat Kenan pun melakukan hal yang sama.
“By the way, apa yang akan kamu lakukan hari ini?” tanya Kenan yang kemudian berdiri. Ia hendak berangkat ke kantor.
Hanin ikut berdiri dan mengambil jas serta tas yang berisi beberapa berkas penting yang Kenan siapkan semalam untuk di bawa pagi ini.
Hanin mengantar sng suami hingga sampai di depan pintu.
“Aku ingin ke galery-nya Karmen. Sekalian ingin memilih pakaian ibu hamil. Lihat perutku semakin maju dan bajuku semakin sempit.” Hanin berdiri di hadapan Kenan dengan membusungkan perutnya yang semakin bulat.
Kenan kembali menyungging senyum. Istrinya memang menggemaskan, ditambah saat hamil seperti ini, entah mengapa hasrat Kenan bertambah berkali lipat. Ia mengangkat tangannya dan mengelus perut itu.
Kenan membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan perut bulat Hanin.
__ADS_1
“Papa kerja dulu ya. Sehat-sehat kamu di dalam sana. Muaah.” Kenan mengecup perut itu. Gerakan Kenan di perutnya di iringi usapan Hanin pada kepala sang suami.
Kemudian, Kenan berdiri dan mengecup sekilas bibir ranum sang istri.
“Aku akan mengirimkan supir untukmu,” ucap Kenan yang langsung dianggukkan oleh Hanin.
“Hati-hati, Hubby.” Hanin melambaikan tangannya, setelah Kenan membuka pintu apartemen itu dan tersenyum kembali sebelum menutup lagi pintu itu.
Di dalam, bibir Hanin masih mengulas senyum. Ia sungguh bahagia. Hanin ikut mengelus perutnya. “Terima kasih sayang, sudah hadir dan melengkapi kebahagian mama dan papa.”
****
“Maaf, Mis. Kemarin-kemarin aku sangat sibuk dengan kantor dan keluarga, maklum istriku sedang hamil. So sorry, aku jarang membalas pesanmu,”
Akhirnya, Kenan membalas pesan dari Misya, itu pun ia lakukan karena sudah mendapat izin dari Hanin.
Selang beberapa detik, Misya langsung menjawab pesan itu.
“It’s oke, Ken. aku tahu kau sibuk. Aku juga sudah menjelaskan pada Marcel, tapi anak itu ingin sekali datang ke business expo di gedung xxx malam ini, sementara aku tidak bisa menemaninya. Jika kau ingin ke acara itu juga, bisakah kau mengajak putraku?”
Kenan yang masih memegang ponselnya, lalu kembali menajawab.
“Oke, lusa memang kebetulan aku akan datang ke acara itu pukul tujuh malam.”
Misya menjawab pesan itu lagi. Ia menyungging senyum.
“Thanks, Ken. kebetulan lusa Marcel pulang les pukul enam tiga puluh. Kau bisa menjemputnya langsung di sana. aku akan mengirimkan alamatnya nanti.”
“Oke,” jawab Kenan langsung.
Di sana, Misya sungguh senang. Walau hari ini dan tiga hari ke depan ia sedang berada di kota lain untuk mengurusi bisnis suaminya. Namun, ia lega karena Kenan berkenan menemani putranya.
Setelah kejadian itu hilangnya Hanin, Misya sadar bahwa Kenan sepertinya sangat mencintai Hanin. Tetapi, ia pun penasaran dengan ucapan Rasti yang mengatakan bahwa dulu, Kenan pernah menyukainya, karena dari beberapa teman kuliahnya saat itu memang ada yang mengatakan bahwa Kenan menyukainya. Namun, ia takut untuk menebak perasaan Kenan, walau memang pria itu terlihat perhatian padanya padanya waktu itu.
“Hah, andai dulu aku tidak dijodohkan. Mungkin kita berjodoh, Ken,” gumam Misya sembari memandang wajah Kenan yang ada di dalam laptopnya.
Lebih tepatnya sebuah foto masa lalu, di saat Kenan dan Misya masih kuliah bersama. Saat itu, mereka berfoto usai menjalankan orientasi studi dan pengenalan kampus ketika mereka menjadi mahasiswa baru.
__ADS_1