Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Melupakan janji


__ADS_3

Gunawan menatap layar ponselnya sembari tersenyum, setelah berkomunikasi dengan sang istri melalui video call. Ia benar-benar seperti anak abege yang sedang jatuh cinta. Gunawan menatap jam di pergelangan tangan kanannya.


“Ah, masih jam sepuluh. Udah ga sabar nunggu sore,” gumam Gunawan yang tidak sabar ingin bertemu Kiara dan mengajaknya makan malam romantis.


Lagi-lagi, Gunawan tersenyum sendiri. Ia mengusap wajahnya kasar dan mulai memegang kertas-kertas yang berserakan di depannya. Ia semangat untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu tepat waktu, karena ia tidak mau


****


Di Boston, tepat pukul sepuluh malam.


Kenan masih berada di kamar mandi dan kembali mengeluarkan semua isi makanan yang baru saja masuk ke dalam perut. Sejak tadi pagi kepalanya memang pusing, karena ia tak berselera makan. Namun, tetap ia tahan karena sang istri diperbolehkan pulang. Sesampainya di hotel, ia mencoba untuk makan, tapi setiap makanan yang masuk selalu saja ia keluarkan.


Kenan berjalan keluar dari kamar mandi dengan tubuh gontai. Tubuhnya terasa lemas, karena belum ada makanan yang masuk ke dalam. Ia hanya meminum yang manis dan camilan manis.


“Sayang coba minum ini! siapa tahu lebih baik.” Hanin mendekati suaminya dan memberikan lemon hangat untuk meredakan mual yang melanda Kenan sejak sore tadi.


Ia sengaja memesan minuman ini. Lalu, Kenan menerima gelas itu dan meminumnya. Perutnya terasa lebih baik.


“Sepertinya kamu masuk angin,” ucap Hanin sembari memijat pundah dan leher belakang Kenan.


“Ya, sepertinya.”


Hanin menaiki ranjang dan setengah duduk untuk mengambil posisi yang pas untuk memijat pundak Kenan yang lebar. Sedangkan Kenan duduk di tepi ranjang itu.


“Pijatanmu enak, Sayang,” kata Kenan. Ia sangat menikmati pijatan-pijatan itu.


“Katamu memang semua yang ada di diriku itu enak.”


Kenan menoleh ke belakang dan tersenyum. “Iya, itu benar.”


Hanin pun ikut tersenyum. “Kamu sudah mengurus banyak hal, hingga tidak memperhatikan dirimu sendiri.”


Keduanya saling bertatapan.


“Aku beruntung memiliki suami sepertimu, yang sangat bertanggung jawab. Maaf aku merepotkanmu kemarin. Seharusnya, kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu di sini, tapi tertunda karena mengurusku di rumah sakit. Maaf ya,” ucap Hanin dengan senyum manis sambil mengelus rahang yang kokoh itu.

__ADS_1


Kenan mengambil tangan Hanin yang berada di wajahnya. Lalu, ia mengcup tangan itu dan tersenyum. “Aku senang melakukannya.”


“Lalu, apa pekerjaanmu di sini sudah selesai? Bukannya besok kita akan pulang?” tanya Hanin.


“Ya, kita pulang besok malam. Tapi sebelum itu, aku bertemu Mr, Anderson dulu. Sepertinya besok pagi sampai sore, aku akan meninggalkanmu sendiri di sini. Tidak apa-apa kan?”


Kini, Kenan yang mengelus rambut Hanin dan menyelipkan anak rambut itu di belakang telinganya. Ibu jari Kenan terus mengelus pipi Hanin yang mulus.


“Tidak apa. Yang penting kondisimu fit. Makan dulu ya!” Hanin turun dari ranjang dan mengambil sup yang ia pesan berbarengan dengan lemon hangat itu.


“Ayo, aku suapi! Aaa ..” mulut Hanin menganga, membuat Kenan tersenyum dan mengikuti perkataa sang istri.


Kenan memakan sup dari tangan istrinya. Entah, mengapa sup itu pun bisa msuk ke dalam eprutnya dan tak ingin dimuntahkan.


“Masih mual?” tanya Hanin, saat Kenan dengan lahap memakan makanan dari tangannya.


Kenan menggeleng. “Tidak.”


Hanin mengusap air sup yang ada di ujung bibir Kenan. Ia mengurus Kenan dengan telaten, sama seperti saat ia berada di rumah sakit kemarin.


“Aneh, Sayang. Kok aku ga mual ya? Dari sore aku mencoba makan tapi perutku selalu menolak,” ucap Kenan heran dengan perutnya.


Kenan ikut tersenyum. “Sepertinya begitu.”


“Modus.”


****


Di jakarta, Gunawan bersama sekretarisnya berada di sebuah hotel bintang lima untuk menemui Mr. Dave dan menandatangani kesepakatan kerjasama. Kebetulan, Mr. Dave menginap di hotel ini. Gunawan pun tidak keberatana untuk menemui Dave, karena sebelumnya Dave sudah mau meluangkan waktu untuk datang ke kantornya.


Gunawan dan Lala duduk di lobby dengan kursi paling ujung yang jauh dari lalu lalang orang. Mereka menunggu kedatangan Dave dan sekeretarisnya yang masih berada di luar.


“La, saya ke toilet dulu ya,” ucap Gunawan yang sudah berdiri dan hendak meninggalkan Lala.


“Iya, pak.” Lala mengangguk.

__ADS_1


Gunawan ke toilet yang berada di belakang dan melewati lift. Ia berjalan sedikit menunduk, karena membuka kancing kemeja di pergelangan tangannya. Namun saat padangannya tidak fokus ke depan, ia pun menubruk seseorang.


Bruk


Bahu kanan Gunawan bersenggolan dengan bahu kiri seseorang yang ternyata adalah wanita.


Gunawan meluruskan pandangan untuk melihat siapa yang ia tabrak. Ternyata, wanita yang ia tabrak adalah wanita yang juga ia tabrak di toko bayi kemarin. Wanita itu pun terkejut, karena semula ia juga berjalan tanpa melihat lurus ke depan karena sambil memainkan handphone dan mengirim pesan kepada kekasihnya.


“Cia,” panggil Gun pada wanita itu.


Namun, wanita menghiraukan panggilan Gunawan dan segera melangkahkan kaki dengan cepat meninggalkan Gun.


“Cia, tunggu.” Gunawan mengejar wanita itu dan menarik lengan kanannya.


Wanita itu pun sontak menoleh ke arah Gunawan, hingga mereka saling bertatapan.


“Banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu,” Gunawan mulai bersuara.


“Apa itu penting?” tanya wanita itu dengan menatap tajam pada kedua bola Gun.


“Ya.” Gunawan mengangguk. “Sejak dulu, aku mencarimu. Tapi katanya kamu sudah tidak lagi tinggal di sini.”


Ya, setelah Gunawan lulus kuliah, ia sempat mencari keberadaan kekasihnya, karena mereka memang belum putus secara resmi, hanya saja Gunawan terlalu asyik dengan aktifitasnya sendiri sehingga melupakan keberadaan sang kekasih selama ia kuliah di kota itu.


“Kita belum selesai dan aku ingin menyelesaikan hubungan kita, agar tidak ada dosa yang membebaniku.”


Wanita itu tertawa. “Telat, Gun. Semua sudah aku lewati. Sudahlah. Lagi pula, aku baik-baik saja. See!”


“Aku tahu kamu wanita mandiri. Tapi izinkan kita bicara.”


“Baiklah. Aku hanya punya waktu malam ini,” kata wanita itu.


“Ya, malam ini, di cafe xxx. Aku tunggu!”


“Oke,” jawab wanita itu santai, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Gunawan yang masih berdiri dan memperhatikan wanita itu dari belakang.

__ADS_1


Kemudian, Gunawan kembali melangkahkan kakinya ke tempat yang ia tuju. Ia berdiri di depan cermin dan menatap dirinya di sana. Gunawan menyalakan keran dan membasuh wajahnya dengan air itu. Ia akan memulai hidupnya dengan mmeminta kelegaan hati wanita yang pernah ia tinggalkan dulu. Ia sadar bahwa hidupnya berantakan karena dosa yang pernah ia perbuat pada wanita polos itu. wanita yang baru duduk di kelas sembilan SMP, ia ambil kehormatannya tanpa tahu bagaimana nasibnya setelah itu.


Namun, Gunawan melupakan janjinya pada sang istri. Padahal di sana, Kiara tengah mengambang seyum sambil memilih pakaian yang pas untuk makan malam dengan pria yang hingga saat ini masih bertahta di hatinya, walau ia terus menerus membekukan hati itu.


__ADS_2