
Vicky memang terlalu cepat menuntut sesuatu yang belum bisa Rea lakukan. Padahal semula ia berjanji akan pelan-pelan membawa Rea menjadi dewasa. Namun, hanya dengan masalah seperti ini saja, ia sudah marah.
Vicky langsung menghampiri Rea. Ia berdiri di depan kaamr mandi dan mencoba membuka pintu itu. Namun, Rea menguncinya dari dalam. Tangisan Rea terdengar pilu dan itu membuat Vicky semakin bersalah karena telah membentaknya.
“Re, aku minta maaf.” Vicky mengetuk pintu itu, tetapi tidak ada sahutan dari dalam sana. “Maaf, Re. Maaf kalau aku tadi membentakmu. Sungguh aku tidak bermaksud memarahimu. Aku hanya kesal.”
Vicky kembali mengetuk pintu itu.
“Re, buka. Jangan menangis aku mohon! Aku minta maaf.”
Rea masih diam. Ia meringkuk di lantai, memeluk kedua kakinya yang tertekuk. Ia pun masih mencerna yang terjadi. Ia juga salah karena tidak mendiskusikan hal ini pada suaminya dengan baik-baik. Vicky bukanlah suami yang keras dan banyak menuntu, hanya saja ia terkejut dengan apa yang dilakukan Rea tanpa sepengetahuannya.
“Rea, Sayang,” panggil Vicky lagi sambil menetuk pintu itu. “Buka, Sayang! Maaf. Aku minta maaf karena berkata keras padamu tadi. Maaf, Sayang.”
Vicky menyandarkan tubuhnya pada pintu itu. Ia sadar jika ekrepsinya tadi terlalu keras pada Rea. Benar apa yang dikatakan istrinya, ia yang memaksa pernikahan ini, harusnya ia mengerti kondisi Rea.
Vicky terduduk di lanta dan meringkuk, di depan pintu itu, sama seperti Rea yang meringkuk di balik pintu itu. Keduanya memeluk lutut masing-masing, hingga tak berapa lama Rea mengahpus jejak airmata di pipinya. Ia pun berdiri dan membuka pintu itu.
“Ah.” Rea terkejut ketika tubuh Vicky terhuyung ke belakang karena ia membuka pintu itu.
“Aww ...”
“Ih, ngapain kamu duduk di situ,. Mas.” Rea membantu Vicky berdiri.
“Akhirnya, kamu keluar juga.” Vicky tersenyum menoleh ke arah Rea dan berdiri.
Rea masih terlihat cemberut.
Tangan Vicky terangkat dan mengapus jejak air mata itu. “Maaf, Sayang. Maaf.”
Berulang kali pria itu meminta maaf.
Rea mengangguk dan Vicky menangkup kepala Rea.
“Maaf, Sayang. Maaf, Mas ngga bermaksud membentakmu. Mas hanya kesal.”
“Aku juga minta maaf, tidak bilang ini padamu terlebih dahulu,” ucap Rea.
Vicky menganggukkan kepalanya. “Aku bisa mengerti kondisimu, Sayang.”
“Jadi tidak mengapa kita menunda kehamilan?” tanya Rea dengan melonggarkan pelukan itu dan menatap dekat wajah suaminya.
“Kapan kamu lulus?” tanya Vicky.
“Dua tahun lagi. Janji! Aku akan selesai cepat.”
Vicky tersenyum. “Baiklah, dua tahun lagi.” Ia menghelakan nafasnya, walau berat tapi ia memang harus menerima konsekuensi menikahi wanita yang masih terikat pendidikan.
“Tidak bisa dijeda untuk hamil dan melahirkan? Setelah itu kamu bisa melanjutkan kuliahmu lagi.”
Rea menggeleng. “Ngga. karena banyak teman-temanku yang seperti itu, akhirnya mereka tidak melanjutkan kuliahnya lagi.”
“Baiklah.” Vicky mengusap lagi pipi Rea, menghapus jejak airmata yang masih tertinggal di sana.
Rea pun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Vicky. “Makasih, Mas udah mau ngertiin aku.”
Vicky mnyelipkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu ke belakag telinga. Ia pun tersenyum dan mengangguk. Saat ini, ia menuruti keinginan istrinya. Namun, ia pun berharap semoga belum sampai genap dua tahun, Rea bisa berubah pikiran dan ingin memiliki momongan.
__ADS_1
Tangan Vicky mengusap wajah, bahu, hingga turun ke dada Rea dan meremasnya.
“Kamu belum menggunakan pakaian d*l*m?” tanya Vicky yang juga menyentuh bagian bawah Rea.
Rea menggeleng polos. “Belum.”
“Berarti, kamu harus tanggung jawab lagi,” ucap vicky nakal dan kembali menggendong Rea ke atas ranjang untuk melanjutkan ronde berikutnya.
****
Acara makan malam berlangsung. Semua peserta yang berada di kapal ini pun menikmati makan malam. Mereka duduk dengan keluarga masing-masing. Ada juga beberapa sesama rekan kerja duduk bersama rekan kerja mereka.
Kenan duduk bersama keluarganya. Sedangkan Vicky yang ditemani sang istri duduk bersama Vely dan suaminya.
“Kok ngga bilang bisa dateng ke sini, Vel?” tanya Vicky.
“Aku udah teleponin kamu berapa kali, Kak. Tapi ngga di angakat. Lagi ngapain hayo?” ledek Vely sembari mengangkat garpunya. Arah matanya pun menuju ke arah Rea sambil tersenyum.
“Pengantin baru, Sayang,” ucap Dave meledek Vicky dan Rea.
Rea pun tersipu malu. Baru kali ini ia bercengkrama dengan Vely, adik Vicky yang perempuan. Selama ini, Rea hanya mendengar ceritanya saja dari Vicky tentang Vely dan kecerdasannya hingga mendapat beasiswa di negara itu dan menetap di sana.
Rea juga di dampingi kedua adiknya. Velly berkenalan dengan Rea dan kedau adiknya. Mereka langusng terlihat akrab.
“Vel, aku boleh nimbrung di sini?” tanya Kiara yang menarik kursi dan hendak makan bersama keluarga Vicky.
“Tentu saja, Ra. Aku juga kangen banget sama kamu,” jawab Velly.
Dari kejauhan Gunawan semakin gusar melihat keakraban sang istri dengan adik Velly. Walau ia percaya pada Velly bahwa wanita itu tidak akan memberitahu apapun tentang mereka dulu pada Kiara, tapi Gun tetap khawatir.
Gun pun ikut menghampiri istrinya. “Aku juga boleh duduk di sini?”
“Ya elah, Gun. Lu ngintilin istri mulu,” sahut Vicky.
“Kaay lu ngga aja,” jawab Gun membuat yang lain ikut tertawa.
“Rea, jangan cemburu sama aku ya,” kata Kiara yang menyadari sikap Rea saat pulang dari makan malam di rumahnya waktu itu. “Aku, suamiku, Vicky, dan Velly teman dekat. Keluarga kami sudah seperti saudara.”
Rea tersenyum dan mengangguk. “Iya, Mbak.”
“Dan, satu lagi, Re. Istri aku ngga mungkin suka sama suami kamu. Soalnya dia cinta mati banget sama aku,” sambung Gunawan sambil merangkul bahu istrinya.
“Apaan sih, Mas.” Kiara malu dan langsung menyikut perut suaminya.
“Aw ..” rintih Gunawan pura-pura kesakitan.
Seketika yang lain pun tertawa dan menggelengkan kepala.
“Dasar bucin,” ucap Vicky malas ke arah Gun.
“Udah sih, sesama bucin jangan ganggu!” sahut Velly, membuat Dave etrtawa dan memeluk istrinya juga.
“Kamu juga bucin?” tanya Vely pada suaminya.
Dave mengangkat bahunya. Ia tak mengerti apa itu bucin, membuat Vicky, Kiara, dan Gun tertawa, begitupun Rea. Thia dan Nisa pun tertawa melihat ekspresi bule itu.
Selesai acara makan malam bersama, semua peserta di ajak memasuki ruangan yang lain. ruangan tertutup dengan aula yang sangat luas. Di depannya pun terdapat panggung yang cukup lebar. Di sana para tamu disuguhkan oleh tarian dan nyanyian dari band yang sedang hits di kanal youtube.
__ADS_1
Setelah selingan hiburan itu, kini waktunya Kenan berdiri di podium dan menyampaikan beberapa patah untuk sambutan.
Kenan berjalan menuju podium sembari satu tangannya menggendong Kevin ke depan dan satu tangannya lagi menggandeng istrinya yang tampil cantik dan elegan.
“Ekehm ... Selamat malam. Apa kabar semuanya?” tanya Kenan sebagai kata pembuka.
“Baik, Bos.” Seru para peserta yang duduk di sana.
“Pasti kalian tahu mengapa saya mengadakan acara ini, karena dikantor kita sekecil apapun berita pasti sampai hingga ke bagian Office boy.”
Peserta yang hadir pun tertawa. Ya, di perusahaan Kenan memang gosip mudah sekali tersebar dan semua dinding bertelinga.
Kevin yang lincah pun memainkan mic yang sedang digunakan ayahnya, sehingga Kenan sulit untuk bicara. Namun, Kenan malah tertawa begitu pun para hadirin di sana.
“Sepertinya, putraku sudah tidak sabar untuk menggantikan posisi ayahnya,” ucap Kenan membuat semua yang hadir kembali tertawa.
“Ppp ... Mmm ...” Kevin bergumam di sela keaktifannya mengganggu sang ayah.
“Biar sama aku, By,” kata Hanin pelan meminta Kevin untuk ia gendong.
“Tidak apa, Sayang.” Kenan tersenyum ke arah istrinya dan merangkul bahu itu.
“Pertama, saya selalu berucap syukur atas segala nikmat dan kebahagiaan ini. Saya juga berterima kasih pada Mami yang selalu mendoakan saya hingga menjadi seperti ini. Istri saya yang selalu ada disamping saya untuk mensupport dan menyediakan segala yang saya butuhkan.” Kenan menatap mesra wajah Hanin dan mengecup keningnya, membuat para hadirin pun bersorak.
“Maaf, saya suka tidak tahan kalau di depan wanita penggoda ini,” canda Kenan membuat Hanin merengutkan bibir.
Sontak hadirin yang duduk di sana kembali tertawa. Memang bukan rahasia lagi bagaimana Kenan mencampakkan Vanesa dan memilih Hanin sebagai istrinya. Hanin memang dikenal sebagai wanita penggoda yang berhasil menggoda seorang Kenan hingga pria itu tergila-gila padanya.
Kemudian, Kenan kembali berbicara. Kini, Bos Adhitama Group itu tidak sekaku dan sedingin dulu. Kenan lebih bisa bercanda di depan khalayak ramai bahkan media. Sikap Kenan yang seperti ini semakin disukai para karyawannya. Kenan pantas menjadi panutan.
Setelah sambutan selesai, para peserta yang hadir itu disuguhkan oleh atraksi sulap dan yang lainnya hingga malam semakin larut.
Gunawan duduk berdua bersama Dave. Semula mereka beramai-ramai duduk di sana, tapi akhirnya mereka tinggal berdua.
“Apa mereka tahu?” tanya Dave.
“Uhuk ... Uhuk ...” Gun langsung tersedak saat ia minum. “Maksudnya?”
“Apa Kenan dan Vicky tahu tentang masa lalumu dengan Vely?” tanya Dave lagi.
“Jadi kamu tahu?” Gun balik bertanya.
Dave tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja. Sejak kami berkomitmen untuk pacaran, tidak ada satu hal pun yang kami rahasiakan. Kami saling mengetahui masa lalu masing-masing, karena untuk memulai hubungan yang baik harus diawali dengan hal yang baik pula. Bukan begitu?”
Gun mengangguk. “Tunggu, tapi mengapa kamu mau membantuku?”
“Untuk memastikan hatiku bahwa aku memerima masa lalu Vely. Dan, ya, itu terbukti. Kalian benar-benar sudah tidak memiliki perasaan apapun. Aku senang melihatnya.”
“Ya, karena kami sudah menemukan pasangan kami masing-masing. Itu hanya masa lalu dan memang apa yang aku lakukan dulu terhadap Vely tidak bisa dimaafkan. Aku bajing*n. Tapi semua itu sudah aku tebus. Tuhan sudah menghukumku,” ucap Gunawan.
Dave mengangguk. Ia juga tahu apa yang terjadi pada Gun dan Vicky. Ia pun tahu cinta segitiga itu.
“Tapi paling tidak, Kiara tahu hal ini. Kita tidak pernah tahu musuh-musuh kita, Gun. Kiat juga tidak pernah tahu sampai kapan Tuhan menutup rapat aib kita. Tapi setidaknya jika aib itu terkuak, Kiara tidak terkejut atau bahkan dia bisa menjadi orang terdepan yang membelamu,” kata Dave, membuat Gun terdiam.
Perkataan Dave ada benarnya. Sejenak Gun pun berpikir.
“Aku yakin, Kiara akan menerima penjelasanmu, karena seperti itulah cinta. Selalu bisa menerima dan memberi.”
__ADS_1
Gunawan kembali terdiam dan mencerna setiap saran dari rekan koleganya itu. kemudian, Ia pun mengangguk. Perkataan Dave memang ada benarnya. Vicky dan Kenan memang tidak perlu tahu hal ini, tapi Kiara, dia harus tahu agar tidak kecewa jika dikemudian hari tahu dari orang lain.