
Rasti melihat Gunawan yang masih duduk di teras. Ia pun menghampiri. Namun, seiring gerak langkah kakinya menuju Gunawan, ia mendengar deru suara mobil Kenan yang sudah berada di samping mobil menantunya.
“Gun. Ayo masuk!” Ajak Rasti dan berdiri di depan sang menantu.
Gunawan mengangguk hormat. “Iya, Mam.”
Di seberang sana, Kenan menggandeng tangan Hanin untuk memasuki rumah itu.
“Akhirnya, kalian datang tepat waktu. Mami kira, kalian akan terlambat.”
Kenan tersenyum pada sang ibu. “Tidak dong, Mam.”
Gunawan menatap Hanin sedari tadi. Matanya tak kunjung terlepas dari sosok wanita yang sedang melangkahkan kaki menuju tempatnya berdiri. Gunawan melihat keposesivan Kenan yang tak lepas menggenggam tangan istrinya.
Hanin langsung mencium punggung tangan Rasti, setelah Kenan mengecup pipi ibunya.
“Hai, Gun,” sapa Kenan.
“Hai, Ken,” Gunawan membalas sapaan itu, lalu ia juga menyapa Hanin. “Hai, Han. Apa kabar?”
Kenan melihat senyum yang manis di wajah Gunawan untuk istrinya. Sementara, Hanin melihat ke arah Kenan dan Rasti, sesaat sebelum ia membalas sapaan Gunawan.
Rasti mengangguk. Namun, Kenan hanya terdiam.
“Baik,” jawab Hanin singkat.
Rasti menangkap kecanggungan ini. Ia memang sengaja mengumpulkan anak dan menantunya di sini, karena ia bertekad akan menyatukan kembali keharmonisan keluarganya. Walau sebelumnya, pernah ada yang terjadi antara Kiara, Hanin, Kenan, dan Gunawan. Namun, ia ingin mengubur semua kisah buruk itu dan memulai kembali kisah yang baik. Ia hanya berharap, semoga anak dan menantunya dapat mewujudkan apa yang ia inginkan ini.
“Mam, kami ke kamar dulu.” Kenan menarik tangan sang istri untuk ikut ke kamarnya.
“Langsung makan saja, Kiara dan Gunawan sudah datang dari tadi,” Rasti mengikuti langkah Kenan dari belakang untuk sama-sama masuk ke dalam rumahnya.
Sementara Gunawan pun hanya mengikuti langkah Kenan dan Rasti dari belakang. Sedangkan Kiara, bersama Bi Lastri menghidangkan makanan dan menatanya di meja makan.
Kenan menoleh ke belakang. “Badan kami lengket, Mam.”
“Memang kalian ngapain dulu di mobil?” tanya Rasti meledek putranya yang super duper nakal.
Kenan tertawa. “Dia selalu menggodaku, Mam. Jadi seperti itu lah.”
Hanin membulatkan matanya. “Kok aku, kamu yang mulai.”
“Kamu.”
Kenan tertawa, menunjuk wajah Hanin dengan tetap menggenggam tangan sang istri hingga tangan Hanin pun menunjuk dirinya sendiri.
“Ih, kamu,” rengek Hanin.
Perdebatan mereka di saksikan oleh Gunawan dan Rasti, juga Kiara yang menoleh ke arah riuh suara pasangan yang menikah hampir berjalan lima bulan itu.
Kiara terenyum melihat sang kakak terlihat bahagia bersama wanita yang dulu pernah ia jambak rambutnya, ia hina, dan ia pukul hingga Hanin tersungkur. Sedangkan Gunawan, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia masih tidak terima melihat Hanin bercanda riang dengan Kenan.
“Sudah sudah, kalian ini. Sana bersih-bersih dulu!” Rasti menggeleng melihat kelakuan putra dan istrinya itu. ia pun langsung menuju meja makan dan memastikan semua tersaji di sana.
Kenan melirik ke arah Gunawan yang terlihat kesal. Ia akan memperlihatkan pada Gunawan bahwa Hanin sepenuhnya adalah miliknya, agar Gunawan dapat fokus pada istrinya sendiri yang tengah hamil.
Kemudian, Kenan menarik Hanin menaiki tangga menuju kamarnya. Sementara, Kiara menangkap tatapan Gunawan yang melihat ke arah Hanin. Gunawan menatap punggung Hanin yang tengah berjalan bersama suaminya ke atas.
Kiara tersenyum. Ia berdiri berjauhan dengan Gunawan. Kini, ia tak lagi merasakan sakit hati. Entah mengapa, ia terbiasa melihat Gunawan yang mungkin masih menyimpan rasa pada mantan kekasihnya dulu. Padahal bisa dilihat bahwa mantan kekasihnya itu sama sekali sudah tak memiliki rasa padanya, malah Hanin terlihat bahagia bersama sang kakak.
__ADS_1
Tiga puluh menit, Rasti, Kiara, dan Gunawan menunggu Kenan keluar dari kamar, hingga akhirnya mereka keluar.
Gunawan duduk di taman seorang diri, menikmati udara malam sembari menikmati satu batang rokok. Rasti masih berkutat dengan kue buatannya yang baru saja matang, sedangkan Kiara duduk di ruang televisi.
Kenan turun dari tangga dan bertemu dengan Kiara terlebih dahulu.
“Ra,” panggil Kenan.
Kiara menoleh ke sumber suara itu, lalu berdiri. “Kak.”
Kenan membentangkan tangannya dan Kiara langsung berhambur kepelukan sang kakak.
“Maafin Kiara, Kak.” Selama ini, Kiara masih enggan ke rumah ini, karena ia berfikir Kenan masih marah padanya.
“Sudahlah, semua sudah terjadi. Aku pun bersalah, bukan hanya kamu. Dan, mulai sekarang aku mulai memperbaiki kesalahan itu.”
Kiara Mengangguk di dada bidang Kenan. “Ya, aku juga.”
Hanin tersenyum, melihat keakraban antara kakak beradik ini. Terlihat bahwa Kenan sangat menyayangi adiknya. Ia pun senang melihat itu.
Kiara melonggarkan pelukannya.
“Ra, ini Hanin.” Kenan memperkenalkan Hanin pada Kiara untuk pertama kali dalam keadaan yang baik.
Kiara tersenyum dan mengulurkan tangannya. Hanin menerima uluran tangan itu dan mereka pun berpelukan.
“Maafin aku, Han. Maaf dulu aku sempat berbuat jahat padamu.”
Hanin menepuk punggung Kiara yang sedang dalam pelukannya. “Aku juga minta maaf, Ra. Sungguh dulu aku tidak mengetahui hal itu.”
Kiara dan Hanin melepaskan pelukan. Kiara memukul dada Kenan tiba-tiba.
“Loh, kenapa?” tanya Kenan.
“Waktu itu, aku meminta kakak untuk memberi pelajaran pada Hanin, tapi mengapa malah menikahinya?” Kiara balik bertanya.
“Sama saja, Hanin sudah dapat pelajaran berharga dengan menjadi istriku,” ledek Kenan yang selalu membuat sang istri kesal.
Hanin tertawa dan menyipitkan matanya. “Ya benar. Dia menyebalkan sekali, Ra.”
Kiara pun ikut tertawa, diiringi tawa Kenan. Namun, seketika tawa itu pun terhenti melihat Gunawan yang berdiri di antara mereka.
“Ayo makan!” tiba-tiba suara Rasti memecahkan kecanggungan itu.
Kini, semua duduk di meja makan. Hanin duduk persis di samping Kenan, berhadapan dengan Gunawan yang duduk di samping Kiara. Sedangkan Rasti duduk di sudut meja yang menyisakan satu kursi.
“Gun, bagaimana bisnismu? Lancar?” tanya Rasti basa basi.
“Lancar, Mam.”
“Oh ya, sudah USG? Bagaimana hasilnya? Laki-laki atau perempuan?” tanya Hanin pada Kiara.
“Hmm ... masih belum keliatan, Han. Kelaminnya ngumpet terus kalau lagi USG,” jawab Kiara, sedangkan Gunawan tidak bisa menjawab karena pria itu tidak pernah menemani Kiara ketika pemeriksaan rutin.
“Jenis kelamin apa saja tidak masalah, yang penting sehat.”
“Sehat, Mam,” ucap Kiara.
“Suamimu tidak pernah menemani saat periksa, Ra?” tanya Kenan, membuat gunawan tersedak.
__ADS_1
“Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...” Benar saja, Gunawan tersedak. Entah Kenan memanta-matainya tau hanya sekedar insting seorang kakak.
“Minum dulu, Mas.” Kiara memberikan air putih pada suaminya. “Mas Gun, selalu antar Kiara periksa kok. Kalau bukan Mas Gun yang antar, Kiara naik apa ke rumah sakit,” jawab kiara bohong sambil tertawa paksa.
Kiara mengira, Vicky yang telah memberi informasi pada kakaknya, karena ia pernah bertemu Vicky di rumah sakit. Faktanya, Vicky tak pernah mengatakan apapun. Kenan bertanya karena murni itu adalah insting seorang kakak.
“Baguslah, kalau begitu.” Ucap Kenan.
Mereka pun kembali menikmati hidangan makan malam itu.
Gunawan masih mencuri-curi pandang ke arah Hanin dan Kenan terus melirik ke arah Gunawan yang sering menatap istrinya. Sedangkan Kiara menatap mata sang kakak, sementara Hanin malah asyik menikmati makanan itu dengan memuji masakan ibu mertuanya dan sedikit berbincang tentang bagaimana memasak makanan sebanyak ini.
Selesai menikmati makan malam, Hanin membereskan piring-piring itu dan membawanya ke dapur.
“Mam, saya minta minuman dingin ya,” ucap Gunawan yang langsung berdiri dan hendak menuju dapur.
Kenan tak mau kalah. Ia mengambil piring Kiara yang hanya tersisa sedikit. “Sini, aku bawa piring kotornya.”
Kiara mengeryitkan dahi, baru saja ia akan memakan tulang ayam lunak itu. Namun, Kenan membawa pergi piringnya.
Hanin berdiri di wastafel, sementara Gunawan berdiri di lemari es da membuka lalu menuangkan air putih pada gelasnya. Arah mata Gunawan tertuju pada punggung Hanin yang berdiri membelakanginya.
Kenan yang tahu keadaan ini pun, langsung memeluk istrinya dari belakang. Ia meletakkan piring kotor Kiara di sana.
“Tidak perlu dibersihkan, biar Bi Lastri saja,” ucap Kenan.
Hanin memang sering membantu meringankan pekerjaan Lastri.
“Iya. Hanya cuci tangan aja kok.” Hanin tersenyum dengan sedikit menoleh ke arah suaminya dari samping.
Lalu, Kenan memutar tubuh Hanin dan mencium bibirnya.
Brak
Gunawan menutup pintu lemari es itu cukup kencang. Ia spontan melakukan itu, karena kesal dengan sikap Kenan yang kekanak-kanakan, menurutnya. Gunawan tahu, ia tak akan mungkin bisa meraih Hanin kembali, tapi paling tidak ia hanya ingin berbincang sebentar dengan mantan kekasihnya itu. Apa itu tidak boleh?
“Ra, Ayo pulang!” pinta Gunawan pada istrinya.
“Loh, kalian tidak ingin menginap di sini? semalam saja.” Pinta Rasti.
“Mami sudah lama tidak bertemu Kiara, Gun.” Rasti kembali meminta.
“Iya, Ra. Menginap saja, besok pagi pagi sekali Mas Kenan berangkat ke Amerika. Jadi disini ramai jika kamu menginap,” celetuk Hanin.
Kenan menghampiri Hanin sembari meminum air putih dari gelasnya.
“Kamu besok akan ke Amerika, Ken?” tanya Rasti.
Kenan mengangguk. “Dadakan, Mam.”
“Ya sudah kalau begitu, kamu menginap di sini ya, Ra. Benar kata Hanin, biar ramai. Mami senang kalau rumah ini ramai,” senyum Rasti.
“Bagaimana, Mas?” tanya Kiara pada Gunawan.
Melihat Kenan yang akan pergi besok pagi-pagi, Gunawan pun mengangguk. “Ya sudah kalau begitu.”
“Terima kasih, Gun,” ujar Rasti tersenyum.
Namun, hati Kenan tak tenang meninggalkan istrinya di sini dengan mantan kekasihnya yang masih tidak tau diri itu.
__ADS_1