Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Semangat, Ken. Kamu bisa


__ADS_3

“Vick, nanti sebelum pulang, lu mampir ke rumah Mami dulu ya. Kemarin beliau pesan ini dan gue belum sempet antar ke rumah,” ucap Kenan pada Vicky.


Kenan menunjuk pada satu kotak besar yang bergambar alat pijat modern, sengaja Kenan pesan langsung dari Jerman.


“Oke.” Vicky menampilkan ibu jarinya ke atas. Lalu, ia kembali menoleh ke arah Kenan. “Emang lu mau kemana?”


“Gue mau ke rumah Vanesa.”


“Ken, sampai kapan lu mau kucing-kucingan? Lu harus ambil keputusan dari sekarang,” tegas Vicky.


Pasalnya ia tak tega melihat Hanin, walau sebenarnya Vicky sudah mengetahui keberadaan Hanin. Namun, ia ingin Kenan menyelesaikan dahulu urusannya dengan Vanesa. Ia tak ingin Hanin menjadi korban seperti dirinya yang di manfaatkan oleh Kiara dan di tinggalkan pas lagi sayang-sayangnya.


“Iya ini gue udah ambil keputusan. Makanya gue mau ke rumah Vanesa dan bicara jujur ke Daddy James. Kalau gue ngomong ke Vanesa tentang status gue yang udah nikah. Vanesa bisa ngga terima, tapi kalau Daddynya yang ngomong itu beda,” jawab Kenan panjang.


“Bagus kalau begitu. Gue doakan semua berjalan lancar.”


“Thanks.” Kenan menepuk bahu Vicky. Lalu Vicky mengambil barang yang akan ia serahkan pada Rasti.


Hari semakin sore, Vicky sekalian pamit pada Kenan untuk pulang tepat waktu, mengingat hari ini mereka tidak ada pertemuan penting lagi dan pekerjaan pun tidak ada yang bermasalah.


“Oh iya, Vick. Gimana bini gue? Udah ketemu?” tanya Kenan lagi, saat Vicky hendak meninggalkan ruangannya.


“Belum,” jawab Vicky bohong, sambil menggelengkan kepala.


“Kok belum sih,”


“Udah lu urus aja dulu Vanesa. Nanti kalau Hanin ketemu, pasti gue kabarin.”


Kenan mengangguk, ia setuju dengan apa yang di ucapkan Vicky. Ia menarik nafasnya kasar. Sungguh ia sudah sangat merindu istrinya. Jika bertemu Hanin, sudah di pastikan ia akan mengurung wanita itu.


Vicky meminta tolong Pak Rahmat untuk membawakan alat kesehatan itu ke mobilnya. ia pun tak lupa memberi uang tip pada karyawan office boy itu.


“Makasih, PaK Vicky.” Senyum Rahmat melebar saat mendapatkan uang tip dari Vicky yang cukup besar.


Vicky memang perhatian pada Pak Rahmat dan keluarganya. Ia selalu memberikan kado, jika ada anak Pak Rahmat yang ulang tahun. Melihat Pak Rahmat mengingatkannya kepada orang tua Vicky yang sudah tiada.


Vicky melajukan mobilnya menuju kediaman Aditama. Sedangkan, Kenan masih berada di kantor, ia berencana untuk ke toko kue dan membawakan kue kesukaan Mommy Alin, ibunda Vanesa.


Setibanya Vicky di kediaman Aditama, ia tersenyum melihat wanita yang hingga saat ini masih ada dalam hatinya. Siapa lagi kalau bukan Kiara. Kiara tengah berada di halaman depan untuk menata bunga-bunga di sana. Tidak biasanya Kiara menemani tukang kebun yang bekerja pada sang ibu. Namun, Kini wanita yang sedang hamil muda itu, terjun langsung merapihkan bunga dan rerumputan di sana.


“Hai, Ra.” Sapa Vicky, mendekati Kiara.


Kiara menoleh ke sumber suara itu dan menegakkan tubuhnya yang sedang membungkuk. “Hei, apa kabar?”


Vicky tersenyum. “Baik. Sepertinya kau terlihat semakin segar.”


“Oh, ya. Memang dulu aku ngga seger ya?” tanya Kiara meledek.

__ADS_1


“Bukan begitu, terakhir kita bertemu, kamu kan sedang sakit.”


Kiara menarik nafasnya. “Oh, iya. Waktu itu aku lagi bodoh.” Kiara tersenyum.


“Jadi sekarang udah ngga bodoh?” tanya Vicky meledek.


Kiara melirik ke arah Vicky dengan tatapan tajam. “Maksudmu?”


“Sorry, aku ngga ada maksud.” Vicky mengangkat bahunya sembari tersenyum.


Kiara tahu betul dengan kata-kata yang di maksud Vicky. Dahulu, berulang kali Vicky meminta Kiara untuk melepaskan Gunawan dan tidak menyakiti dirinya sendiri. Namun, ia mengabaikan itu.


“Bye the way. Kamu mau apa ke sini?” tanya Kiara cuek, sambil melanjutkan aktifitasnya.


“Pak Endang, yang di sana rumputnya masih panjang!” Kiara menunjuk ke arah rumput itu sembari memerintah pada tukang kebun yang di gaji oleh ibunya.


“Baik, Non.” Pak Endang menunduk patuh.


Vicky terdiam sejenak, hingga Kiara selesai berinteraksi pada tukang kebun itu.


“Kamu ngapain di sini?” tanya Vicky.


“Hei, aku tadi yang tanya kamu. Kenapa jadi tanya aku sekarang. Lagian ini rumah ibuku, bebas dong aku mau ngapain,” sungut Kiara.


Vicky tertawa. Gaya Kiara yang seperti ini yang membuat Vicky rindu. Gadis itu sebenarnya galak sama seperti kakaknya, tapi di depan Gunawan Kiara seperti bukan dirinya.


Kiara mengerucutkan bibirnya. “Gombalanmu sudah tidak berlaku, Mr. Vicky. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ibu, sudah tidak ada lagi kamus cinta untuk diriku sendiri.”


“Oh, ya?” Vicky tersenyum menyeringai.


“Hei, Vicky.” Tiba-tiba suara Rasti datang dari dalam rumah. “Kamu bawa pesanan Mami?”


Vicky mengangguk. “Iya, Mam.” Vicky langsung berlari ke dalam mobilnya dan mengangkat barang itu, lalu menyerahkannya pada Rasti.


“Terima kasih, Vick,” ucap Rasti.


“Sama-sama, Mom.”


“Kamu belum mau pulang kan? Makan malam dulu di sini ya! sudah lama kamu tidak datang ke sini.” pinta Rasti pada Vicky.


Vicky melirik ke arah Kiara yang tak menoleh ke arahnya. Ia pun mengangguk. “Tentu, Mam.”


Rasti terlihat senang dengan jawaban sahabat putranya yang dulu sering menginap di rumah ini. Rasti sebenarnya orang yang baik. Ia tak pernah menyuruh Kenan untuk berteman dengan kalangan atas saja. Terbukti, saat Kenan memilih sahabat seperti Vicky yang dari keluarga biasa bahkan yatim piatu, Rasti tidak masalah, karena Rasti melihat Vicky sebagai pria yang baik dan bertanggung jawab. Itu terbukti dengan cara dia membesarkan kedua adiknya sendiri, hingga sukses dan mencapai cita-citanya.


“Kamu kabur dari rumah?’ tanya Vicky yang menemani Kiara di kebun depan yang cukup luas itu.


“Ngapain kabur? Kan dari dulu emang udah di usir. Tapi aku nya aja yang bodoh,” jawab Kiara santai.

__ADS_1


Gunawan tidak pernah mengusir Kiara, hanya saja pria itu sering berkata cerai. Menceraikan Kiara sama saja untuk menyuruhnya meninggalkan rumah itu, bukan?


Vicky tertawa. “Jadi sekarang udah puas ngejar Gunawan?”


Kiara terdiam dan menoleh ke arah Vicky. “Kamu suka doain aku yang jelek ya? Sampai nasib aku jadi seperti ini.” Kiara menatap Vicky tajam.


Ia tahu betul, pria yang sering ia sakiti satu-satunya adalah pria yang tengah berdiri di depannya ini, karena Kiara selalu menolak cinta Vicky, bahkan memanfaatkan cintanya yang tulus.


Vicky kembali tertawa dan menggeleng. “Mana mungkin aku melakukan itu. Aku selalu mencintaimu, Ra. Dan, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”


“Basi.” Kiara tersenyum.


Kebersamaan Kiara yang dapat terlihat dari luar jalan itu, di saksikan oleh Gunaqan yang hendak menjemput sang istri di rumah mertuanya. Namun, senyum Kiara dan tawa riang yang ia tunjukkan untuk Vicky, membuat hatinya seperti tercubit. Entah mengapa ia seperti ini, karena sudah lama ia tak melihat sang istri tersenyum dan tertawa riang di hadapannya.


Akhirnya, Gunawan melajukan kembali mobilnya dan beralih ke sebuah club. Hari-harinya semakin buruk. Ia ingin menenangkan pikiran dan hatinya yang sedang kacau.


Di sisi lain, Kenan sampai di kediaman James, orang tua Vanesa. Ia membawa tiramisu cake dari toko kue terkenal dan memberikannya pada Alin.


“Kenan.” Alin mencium pipi dan memeluk calon menantunya itu.


“Mommy kangen kamu.”


“Mommy apa sih ganjen banget.” Ledek Vanesa pada ibunya.


“Wah, sepertinya Daddy kalah saing.” Ledek James yang melihat kedua wanita yang ia sayangi itu memperebutkan anak dari sahabatnya.


Sedangkan, Kenan hanya tersenyum di rebutkan oleh ibu dan anak itu.


“Habis, makin lama kamu makin ganteng aja, Ken. Pantes Vanesa klepek-klepek sama kamu,” ucap Alin.


Kenan tersenyum paksa, sembari menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


“Sudah-sudah, suruh Kenan masuk dulu. Ayo, Ken!” ajak James pada Kenan untuk mengikuti langkahnya dan masuk ke dalam rumah yang juga cukup terbilang mewah itu.


“Sebelum makan malam, ayo kita ke ruang kerja! Katanya ada hal penting yang ingin kamu katakan,” ucap James.


“Daddy, jangan lama-lama menahan Kenan-ku di ruang kerja Daddy!” seru Vanesa manja bergelayut di tangan Kenan.


“Vanesa, jangan manja! kamu sudah besar dan sebentar lagi akan menjadi seorang istri,” ucap James lembut.


Vanesa melepaskan kedua tangannya yang bergelayut di lengan Kenan dan mengerucutkan bibirnya ke arah sang ayah. “Baiklah.”


“Ayo, Ken.” James menyuruh Kenan mengikuti langkahnya menuju ruang kerja.


Jantung Kenan berdebar kencang. Sungguh, ini adalah keputusan terbesarnya. Ia tak tahu bagaimana reaksi James, jika ia mengatakan statusnya kini. Memutuskan hubungan yang sudah terjalin dengan putri semata wayangnya. Ia tak tahu bagaimana hubungan kedua keluarga ini, jika James tak terima? Namun, semua harus ia hadapi.


“Semangat Ken, kamu bisa. Kamu sudah melewati hal yang lebih sulit dari ini,” ucap Kenan dalam hati, sembari mengikuti langkah James.

__ADS_1


“Tuhan permudahkan semuanya. Papi, bantu aku!" gumam Kenan lagi, seraya menengadahkan kepalanya ke atas.


__ADS_2