Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Aku butuh kamu


__ADS_3

Gunawan masih larut dalam kesedihan. Hampir setiap malam ia pergi ke club untuk mencari hiburan. Ia mengira bahwa dirinya adalah orang yang paling menderita atas kejadian ini. padahal ia pun pernah membuat orang lain menderita. Gunawan masih belum menyadari tingkah lakunya dulu yang menjadi penyebab sakit hatinya kini.


Di kediaman Aditama, Kiara tak di ajak bicara oleh sang ibu. Rasti masih syok atas kenyataan yang terjadi disebabkan oleh putri tercintanya ini.


“Mam.” Kiara menghampiri sang ibu yang duduk di meja makan.


Namun, Rasti berdiri dan berlalu dari hadapan Kiara. Sedangkan, Vanesa masih berada di rumah itu dan menyiapkan makan siang yang terlambat, karena hari sudah semakin sore.


“Van, antar makanan ini ke kamar Mami,” ucap Rasti.


“Iya, Mam.” Vanesa mengangguk sembari memegang piring yang akan ia sajikan ke meja itu.


Vanesa tersenyum ke arah Kiara yang sedang duduk. Ia melihat kekecewaaan di mata Rasti untuk putrinya. Vanesa menepuk bahu Kiara.


“Sabar ya, Ra. Lambat laun Mami pasti akan memaafkanmu. Saat ini, beliau hanya sedang kecewa.”


Kiara mengangguk. “Kak, Nesa ngga kerja?”


“Kebetulan, minggu ini jadwalku lagi kosong." jawab Vanesa di irngi lagi dengan pertanyaan, "Oiya, Kenan kemana, Ra?” Vanesa tak lagi melihat sosok pria pujaannya setelah keluar dari kamar Rasti.


Untung saja, skandal ini tidak di ketahui orang luar. Untunglah kejadian pagi tadi, hanya ada keluarga dan Vicky serta Vanesa yang memang sudah dianggap keluarga oleh Rasti. Jika, media di luar tahu berita skandal yang terjadi di keluarga ini, pastinya yang membocorkan adalah salah satu di antara mereka yang hadir dalam keadaan genting pagi itu.


“Kiara juga tidak melihat kakak, setelah mengantar Vicky pulang tadi.”


Vanesa terdiam. Padahal ia ingin sekali berbincang sebentar dengan Kenan. Vanesa telah lama menunggu kehadirannya. Ia ingin hubungannya dengan Kenan kembali seperti dulu.


Namun, sampai kapanpun Vanesa tidak akan lagi bisa menjalin hubungan dengan Kenan seperti dulu. Walau hanya sebatas teman sekalipun, karena dengan kekerasan hati Vanesa ini justru akan membuat dirinya menjauh dari pria yang ia puja itu. Seharusnya, Vanesa menyadari hal ini sedari awal, karena ia tahu betul bagaimana karakter Kenan. Vanesa berteman dekat dengan Kenan bukan hanya satu atau dua tahun, melainkan sejak mereka sama-sama baru berusia dua tahun.


“Baiklah, aku antar makanan ini dulu ke kamar Mami.” Vanesa menerima satu nampan dari si Bibi.


“Kak,” panggil Kiara pada Vanesa.


“Aku kenal Kak Kenan. Sepertinya dia akan mempertahankan wanita itu.” Kiara menatap wajah Vanesa.


“Lalu, Apa menurutmu aku tidak boleh berjuang?” tanya Vanesa.


“Cinta tidak harus memiliki, Kak. Seperti yang kakak tahu, aku menjadi sumber masalah sekarang karena obsesiku itu. Dan, aku menyesalinya sekarang. Semoga apa yang terjadi padaku, tidak terjadi pada kakak.”


Vanesa terdiam dan berlalu dari hadapan Kiara tanpa menjawab perkataan wanita hamil itu. ia masih tidak rela jika semua usahanya untuk mndapatkan Kenan terlepas begitu saja. Sangat sulit untuk meyakinkan Kenan agar mereka mencoba memulai menjadi sepasang kekasih, walau awalnya status mereka hanya sahabat. Ia tidak mungkin melepas pernikahan yang sudah ada di depan matanya begitu saja. Ia mencintai pria seperti Kenan. Bahkan, pria yang dulu ia pacari sewaktu SMA dan mengambil kehormatannya itu, tidak ada apa-apa dibandingkan dengan Kenan.


****


Setelah mengemudi selama hampir tiga jam lebih, Kenan sampai di apartemennya di Bandung. Ia menekan passcode dan masuk ke dalam perlahan. Kenan melihat sang istri tengah berbincang hangat dengan kedua sahabatnya di meja makan.


Ketiga wanita yang sudah menikah itu tengah asyik di dapur dan membuat kue baru hasil kreasi Karmen.


“Men, bantet kuenya. Hah!” keluh Hanin, saat microwave itu berbunyi dan membukanya.


Karmen menghampiri Hanin. “Lah, kok bisa. Harusnya ngga gini.”


“Ah, resep lu ngga bener.” Hanin kembali mengeluh.


Irma tertawa, karena hasil kue buatan Hanin sangat jelek.

__ADS_1


“Berarti ada yang belum lu masukin.” Karmen melihat ke sekeliling marmer kitchen set itu.


“Ah, lu ngga pake ini, Han. Lihat nih masih terbungkus rapih dan belum lu buka.” Irma memegang botol roombutter.


“Nah, iya. Pantesan, oon banget dah lu Han,” ucap Karmen.


“Ya ampun lupa.” Hanin menepuk keningnya.


Kenan hanya berdiri di ujung sana, melihat Hanin tersenyum cukup membuat hatinya kembali tenang. Ia tak berani mengganggu kebersamaan ketiga sahabt itu. Dulu, ia, Vicky, dan Gunawan pun seperti ini jika bersama. Seketika, Kenan tersenyum kecut.


“Eh, Pak Kenan.” Karmen menangkap sosok suami Hanin berdiri di ujung sana.


“Han, suami lu pulang,” sahut Irma.


“Apa? Emang suami gue udah pulang? Bukannya dia nginep.” Hanin membersihkan tangan di wastafel dan menghampiri tempat Irma juga Karmen yang sudah melihat Kenan datang.


“Ken,” panggil Hanin saat melihat Kenan tengah berdiri. Ia pun berlari menghampiri suaminya.


Hanin mengambil tangan sang suami dan mengecup punggung tangan itu. Kenan tersenyum, sungguh hatinya begitu hangat dengan kehangatan yang diberi sang istri. Lalu, Kenan mengelus rambut Hanin sembari tersenyum.


“Katanya nginap di rumah Mami. Kok ngga jadi?” tanya Hanin.


Kenan menggeleng. “Aku ngga bisa jauh darimu, jadi kuputuskan untuk pulang saja.”


“Uhuk ... uhuk ...” tiba-tiba Irma tersedak mendengar gombalan dari si boss yang terkenal galak dan dingin itu.


“Ir, kayanya kita pulang aja deh,” ucap Karmen berbisik di telinga Irma.


“Yah ngga jadi nginep nih? Kira-kira bonus gue tetep turun ngga ya? Kan ngga jadi nginep di sini.”


Karmen menyentil kening Irma. “Parah lu. Kita bisa lihat keadaan Hanin aja udah seneng. Apalagi sekarang sepertinya doi ada di tangan yang tepat.”


Irma melihat ke arah pasangan suami istri yang sedang berpelukan itu. “Iya, sih. Akhirnya tuh anak ngga jomblo lagi.”


Mereka tertawa. Lalu, menghampiri Hanin dan Kenan untuk berpamitan.


“Ekehm ...” Karmen berdehem, sontak Kenan melepas tangan yang memeluk istrinya.


“Pak Kenan, kalau begitu kami pamit.”


“Oh ya. Maaf, saya tidak jadi menginap di jakarta. Terima kasih sudah menemani istriku.”


“Don’t worry, Sir. Tanpa diminta pun, kami pasti akan senang hati menemani Hanin di sini.” jawab Karmen.


“Tapi Pak Ken, walaupun saya ngga jadi menginap di sini, tetap ada bonus kan?” tanya Irma polos.


Kenan tertawa, sementara Irma mendapat senggolan dari siku Karmen. Hanin pun tersenyum lebar melihat kelakuan Irma.


“Tentu saja, Ir. Malah akan saya tambah karena kamu telah menjaga istriku sebelum aku menemukannya.” Kenan tersenyum menatap sayang pada sang istri.


Hanin tersipu malu, mengingat dahulu ia berusaha kabur dari sang suami.


“Baiklah, kalau begitu kami permisi.” Karmen dan Irma keluar dari apartemen itu setelah bercipika cipiki pada Hanin.

__ADS_1


Kenan mengangguk dan tersenyum. Ia kembali menutup pintu apartemen itu dan menguncinya setelah kedua sahabat Hanin pergi.


“Kamu ingin mandi?” tanya Hanin yang melihat suaminya kusut.


Hanin masih enggan untuk menanyakan apa yang terjadi, karena ia yakin di rumah keluarga Aditama pasti terjadi sesuatu yang cukup.besar hingga sang suami terlihat pusing. Ia membiarkan Kenan tenang dan tetap melayaninya maksimal, setelah itu mungkin Kenan akan bercerita sendiri atau ia akan menanyakan pelan-pelan.


“Boleh.”


Kenan merangkul bahu Hanin dan mereka berjalan beriringan menuju kamar. Kenan menghempaskan tubuhnya di sofa kamar, sementara Hanin berlalu ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


Kenan menyandarkan kepala di punggung sofa itu. Kejadian di rumah besar milik sang ayah tadi, masih berputar di kepalanya. Ia tak habis pikir dengan Vicky, sahabat yang selalu membantunya itu adalah orang yang memngambil kehormatan sang adik.


“Arggg..” Kenan mengusap wajahnya kasar.


Ia tak tahu, bagaimana sikapnya nanti jika bertemu Vicky. Jujur ia kecewa dan ingin sekali memecat sang asisten itu. Namun, tak di pungkiri perusahaannya pun menjadi pesat karena sedikit peran Vicky di sana.


Kenan mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Kakinya melangkah ke sana dan melihat sang istri tengah menyiapkan keperluannya.


Kenan tersenyum. Lalu, Hanin menoleh ke arah Kenan yang masih berdiri di ambang pintu.


“Kamu menyiapkan ini semua untukku?’ tanya Kenan sembari berjalan menghampiri sang istri.


“Hmm ...”


“Kenapa?” Kini Kenan memeluk Hanin dari belakang.


“Karena kamu suamiku. Kamu tidak sendiri lagi karena sekarang aku akan mengurusmu. Aku akan mengabdikan hidupku untukmu dan anak-anak kita nanti.”


“Manis sekali,” ucap Kenan sembari mengecup leher belakang Hanin.


Kenan memutar tubuh Hanin dan mereka saling berhadapan dekat.


“Ngomong-ngomong anak, memang sudah ada tanda-tanda itu?” tanya Kenan.


Hanin tertawa. “Belumlah, Ken. Malah tadi pagi aku baru saja kedatangan tamu. Bukan hanya Irma dan Karmen.”


Kenan menyipitkan matanya. “Siapa?”


“Tamu bulanan,” bisik Hanin.


“Oh, yah.” keluh Kenan. “Jadi aku harus puasa?”


Hanin melepaskan tangan Kenan yang melingkar di pinggangnya. Lalu, menuju bathup. Ia mengangguk sambil tersenyum manis. Kemudian, ia mematikan air hangat yang sedang mengalir.


Kenan mengikuti langkah sang istri sembari membuka pakaiannya untuk masuk ke dalam bathup. “Sampai berapa lama?”


“Satu minggu.” Hanin tersenyum sembari menunjukkan jari telunjuknya ke atas.


“Sabar ya!” Hanin tersenyum jahil dan mengelus punggung suaminya yang terbuka saat Kenan sudah berada di dalam bathup.


Kemudian, Hanin hendak pergi meninggalkan Kenan di sini. Namun, dengan cepat Kenan mencekal lengan sang istri.


“Temani aku di sini! aku butuh kamu,” ucap kenan dengan wajah memelas.

__ADS_1


Wajah yang tak pernah Hanin lihat sebelumnya. Hanin pun tersenyum dan menuruti keinginan sang suami. Sore ini, Kenan sangat manja. Hanin memandikan bayi besar itu dan memijat kepalanya, hingga Kenan sedikit tertidur.


Dalam hati, Kenan sungguh beruntung mempersunting Hanin. Walau semula ia pun menikahi Hanin dengan cara yang salah. Namun, kini mereka malah menemukan cinta.


__ADS_2