Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Skandal besar "K" bersaudara - dua


__ADS_3

Rasti masih syok dengan kenyataan yang baru saja terungkap. Ia lebih memilih mengurung di dalam kamar, tanpa mempedulikan Kenan yang berulang kali mengetuk pintu kamar itu. Sedangkan Kiara, juga langsung berlari ke kamarnya dan menangis. Ia menagisi semua kebodohan yang telah ia lakukan, karena semua keributan ini jelas karena ulahnya yang terlalu obsesi dengan Gunawan.


“Mam, please buka pintunya! Dengarkan penjelasan Ken, Mam.” Kenan masih berdiri di depan pintu kamar Rasti. Dengan nada memelas, ia tetap memohon agar di izinkan sang ibu memasuki kamarnya. Ia masih ingin berbicara pada sang ibu berdua, hanya berdua.


Namun, Rasti tak menjawab. Ia lebih memilih diam dan terus menangis, sembari memegang foto almarhum suaminya.


Vanesa juga masih berada di rumah ini. Entah mengapa wanita itu masih berada di sini, padahal Kenan sudah seperti tak menganggapnya. Sementara, Gunawan sudah pergi tanpa pamit. Pria itu meninggalkan kediaman Aditama dengan wajah berantakan.


Sedangkan Vicky, maskih berdiri di dekat Kenan. Ia masih terus memohon maaf pada sahabat sekaligus bosnya itu.


“Ken, biarkan Mami istirahat. Mungkin, beliau ingin menenangkan diri.”


“Diam,’ teriak Kenan. “Jangan pernah lu ngomong lagi depan gua. Pergi lu.”


Vicky menarik nafasnya. Ia mengakui bahwa dirinya bersalah dan sangat pantas jika Kenan kecewa padanya.


“Sorry, Ken. Gue bener-bener cinta sama adik lu,” ucap Vicky.


“Diam! Sekali lagi lu bicara, gue ngga segan-segan buat pukul muka lu.”


“Silahkan! Jika itu bisa menghapus dosa gue. Gue terima, Ken.”


Kenan menghampiri Vicky dan menarik kerah bajunya. “Lu tau, gue sayang banget adik gue dan lu ngencurinnya.”


“Pada saat itu, kita sama-sama mau, Ken. Gue pikir Kiara juga udah mulai suka sama gue.”


“Lu, pikir orang mabok bisa berpikir jernih, Hah? Saat itu Kiara mabuk berat dan lu memanfaatkan keadaan.”


“Sayangnya, gue melakukan itu bukan hanya saat Kiara sedang mabuk. Tapi setelah itu, gue sama Kiara dekat dan kami melakukannya lagi beberapa kali.”


“Stop!” teriak Kenan agar Vicky berhenti bicara.


Bugh

__ADS_1


Dengan terpaksa Kenan melayangkan pukulannya ke wajah Vicky. Mendengar teriakan Kenan sebelumnya, Kiara langsung kelaur dari kamar dan mendapati Vicky yang tengah tersungkur. Ia pun langsung berlari dan menghampiri Vicky. Ia membantu menahan tubuh Vicky yang hampir ambruk di lantai.


“Kak, tolong jangan salahkan orang lain lagi! Di sini, aku yang salah. Aku yang salah. Maafkan aku.” ucap Kiara dengan menangis tersedu-sedu.


Di sana, Vanesa hanya menjadi penonton. Ia bingung harus berbuat apa? Tapi ia tetap di sini, ia tetap ingin menunjukkan keprihatinannya pada Rasti dan tetap ada jika sang calon ibu mertuanya itu meminta bantuan, karena Vanesa tahu persis saat ini Rasti sedang marah besar dengan kedua anaknya itu.


“Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang? Kenapa kamu tidak berpikir dulu sebelum bertindak. Dasar bodoh!” Kenan mengumpat dan mencaci adik kesayangannya untuk pertama kali.


Kiara semakin histeris. Tangisnya kian pecah, karena sang kakak tidak pernah sekalipun bicara kasar dan keras padanya. Vicky memeluk bahu Kiara.


“Dulu, kamu selalu menyebut Hanin dengan sebutan wanita penggoda. Nyatanya, kamu yang menggoda dua pria sekaligus dan kedua pria itu adalah sahabatku.”


Kiara kembali menangis mendengar penuturan sang kakak.


Di dalam kamar, Rasti mendengar semua pertikaian di balik pintu itu. lalu, ia pun bersuara dari dalam.


“Vanesa.” Rasti berteriak menyebut nama mantan tunangan Kenan.


“Masuklah, Mami membutuhkanmu di sini.”


Lalu, Vanesa membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.


“Mam.” Kenan menahan pintu itu agar ia pun ikut masuk dan menemui sang ibu.


Di sana, Vanesa melihat Rasti tengah menggelengkan kepala. Sungguh, Rasti sedang tidak ingin bertemu atau bicara dengan salah satu ‘K’ bersaudara itu.


“Nan, Maaf. Sepertinya Mami hanya ingin bertemu denganku,” ucap Vanesa.


Akhirnya, Kenan pun mengalah. Ia membiarkan pintu kamar itu tertutup kembali. Ia memilih pergi dari sana, meninggalkan Kiara dan Vicky yang masih terduduk di lantai. Lalu, ia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Ruang di mana ada banyak sekali foto-foto kebersamaannya bersama ibu, ayah, dan adik kesayangan. Di sana juga terpajang foto-fotonya bersama sang ayah.


“Papi, maaf. Ken belum bisa sebaik papi dalam mengurus keluarga ini. Maaf, Ken tidak bisa menjaga Kiara dengan baik. Maaf, Ken terlalu memanjakannya.” Tiba-tiba Kenan menangis, ia merasa telah melanggar janjinya pada sang ayah tepat di saat sang ayah mengehmbuskan nafas terakhir.


Seketika, Kenan teringat sang istri. Ia ingin sekali memeluk tubuh Hanin dan meminta maaf karena selama ini, ia telah berbuat kejam pada sang istri. Ia mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


“Maafkan aku, Sayang,’ ucap Kenan lirih dalam gumaman, hingga tak bisa di dengar oleh siapapun.


Kemudian, Kenan bergegas mencari kunci mobil dan mengambilnya. Ia hendak pergi meninggalkan semua keruwetan di rumah ini. Ia hanya ingin menemui sang istri dan meminta maaf padanya. Lalu, memeluk tubuh itu, karena hanya Hanin yang dapat membuatnya lebih tenang.


Di ruang kerja, Kiara mendudukkan Vicky dan mengobati lukanya, setelah habis di pukuli oleh sang kakak. Pria yang selalu ia lukai dengan berbagai macam penolakan. Pria yang hanya dijadikan alat untuk dimanfaatkan agar obsesinya tercapai. Namun, pria itu juga yang tetap selalu menjadi pengobat di setiap sakitnya.


****


Hari mulai menjelang sore. Tidak ada satu pun pria tadi yang berangkat ke kantor, karena urusan mereka pagi ini lebih genting dari tander-tender itu. Gunawan, memilih untuk pulang. Sesampainya di rumah, ia pun membanting foto pernikahannya.


Prank


Si Bibi tersentak dan langsung berlari keluar, padahal ia sedang berada di ruang laundry yang terletak di paling belakang rumah ini.


“Aaa..” Si Bibi teriak. “Ya ampun, Pak. Ada apa?”


Gunawan menghiraukan terakan si Bibi dan langsung naik ke kamarnya. Di sana, ia pun membanting semua foto yang terpampang wajah Kiara.


“Dasar ******! Aku juga tidak akan membiarkanmu bahagia.”


“Dasar bajing*n perempuan. Bisa-bisanya kau menipuku, menghancurkan kebahagiaanku.” Gunawan terus mengumpat sembari melepar foto-foto Kiara.


Prank


Prank


Figura itu hancur berantakan di lantai. Lalu, tubuh Gunawan merosot dan terduduk di lantai bersamaan dengan pecahan kaca dari figura itu. ia meremas rambutnya kasar. Apa ini dosanya? Apa Tuhan sedang menghukumnya? Karena ia pun bukan orang suci.


Sejak SMA, Gunawan sudah dikenal sebagai player. Pria playboy yang suka bergonta ganti pacar dan wanita. Jika berpacaran dengan Gunawan, pasti ia akan mencicipi wanita itu. Walau Gunawan memang selalu berpacaran dengan wanita yang bukan perawan. Namun, pernah satu kali. Ia memacari gadis polos, yang merupakan teman dari salah satu adik sepupunya. Mereka bertemu pada saat Gunawan tengah menyambangi rumah sang paman dan gadis yang baru duduk di kelas sembilan SMP itu bertemu pada Gunawan. Gadis polos yang cantik itu pun menarik perhatian Gun. Dengan sekali jurus, Gun mampu menaklukkan gadis itu dan memacarinya, hingga mengambil kehormatannya.


Lalu, mereka putus karena Gunawan kuliah ke luar kota. Kebetulan, mereka jadian pada saat Gunawan sudah kelas dua belas dan hampir lulus. Setelah putus, Gunawan tak lagi memikirkan wanita itu, karena baginya kepergian wanita seperti hilang satu tumbuh seribu. Namun, tidak untuk gadis polos yang hingga kini tidak tahu dimana keberadaannya.


Gunawan pun lupa akan dosanya pada gadis itu. Mungkinkah, ini adalah doa gadis polos itu. Doa yang selalu dipinta oleh sang gadis, agar Gunawan tidak akan pernah mendapat kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2