
“Non Kiara, Maaf. Kayla nangis dan ngga bisa saya diamkan,” tiba-tiba suara si Bibi memecah ketegangan permainan ini.
Kiara langsung menoleh ke arah wanita paruh baya yang menjadi pengasuh putrinya sejak lahir.
“Ayo, Sayang. Kita ke kamar temuin Kayla.” Gunawan langsung berdiri dan mengajak istrinya untuk meninggalkan permainan yang mungkin akan membuat masa lalunya terbuka.
“Oh, Kevin.” Tiba-tiba Hanin juga mengingat putranya yang lama telah ia tinggalkan.
“Baiklah, permainan kita kali ini stop sampai di sini. Lain kali, kita teruskan lagi,” ucap Kenan yang juga berdiri dan mengajak istrinya.
Vicky pun menghela nafasnya. “Oke! Mari kita ke kamar masing-masing. Kalau Kenan dan Gun sibuk dengan bayinya. Kami sibuk membuat bayi.” Vicky menaik turunkan alisnya sambil menatap istrinya.
Rea pun melengos. Ia malas melihat wajah mesum suaminya. Sedangkan yang lain hanya tertawa, mereka tahu betul bagaimana konyolnya seorang Vicky.
“Bye ...”
“Bye ...”
“Sampai ketemu besok.”
“Oke.”
Hanin, Kiara, Rea, dan Vely saling bercium pipi kanan dan kiri, sedangkan para pria hanya berdiri sambil menunggu para istri bercipika cipiki. Kemudian, mereka melambaikan tangan dan berjalan menuju kamar masing-masing.
Sesampainya di kamar, Kiara langsung menggendong Kayla. Ya, putrinya tengah menangis padahal botol Asi itu sudah berada di tangan mungilnya.
“Sayang, sini biar aku yang gendong. Kamu bersih-bersih aja dulu,” ucap Gunawan mengambil alih Kayla dari gendongan sang ibu.
Kiara tersenyum. “Makasih ya, Mas.”
Lalu, Kiara mengecup sekilas bibir suaminya sebelum beranjak ke kamar mandi. Malam ini, Kiara tidur bersama orang tuanya. Biasanya, bayi mungil itu tidur di temani oleh si Bibi.
Di kamar Vely dan Dave, Vely baru saja membuka pakaiannya untuk berganti baju, menampilkan perut yang sedikit buncit sambil berdiri di kaca kamar mandi. Lalu, kedua tangan Dave memeluknya dari belakang.
“Hampir saja semua terungkap,” ucap Dave dengan menenggelamkan wajahnya di cerug leher sang istri.
“Aku tidak akan setega itu pada Kiara, Dave.”
“Dan, persahabatan Vicky dengan Gun kembali retak. Aku juga tidak ingin melihat itu,” sahut Dave.
“Belum lagi ekspresi Kenan nanti. Aku tidak bisa bayangkan jika Kenan meminta Kiara untuk menceraikan Gun.”
Dave menghela nafasnya. Untuk Gun, hal ini memang rumit, karena mereka salingberhubungan. Berbeda dengannya yang tidak punya keterkaitan dengan masa lalu Vely. Sehingga semua mudah untuk dimaafkan.
Dave mengelus perut buncit istrinya. “Anak Daddy sehat-sehat di dalam ya.” Terlihat wajah Dave sumringah ketika berinteraksi dengan calon bayi yang masih berad di perut istrinya.
Vely tersenyum dan memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan wajah sang suami.
“Dave.”
“Hmm ...”
“Terima kasih untuk semuanya,” ucap Vely, karena kehadiran Dave bagai pria berkuda yang mampu membangkitkan kepercayaan Vely akan cinta, setelah sebelumnya kandas oleh ulah Gunawan.
Dave tersenyum. “Sama-sama, Sayang. Aku juga berterima kasih padamu. Peri kecilku yang memiliki sejuta kehebatan. Aku mengagumimu.”
Dave mengecup bibir dan kening Vely. Keduanya berpelukan erat dan saling mengutarakan cinta.
Ketika vely bertemu Dave, Dave memang sedang terpuruk dalam bisnisnya. Lalu, Vely bergabung di sebuah perusahaan yang hampir bangkrut itu dengan gaji yang dibawah dari standar gaji di negara itu. Ide-ide brilian Vely bersama tim mengantarkan perusahaan Dave kembali berjaya. Mereka mampu melewati keterpurukan dan ketidakpercayaan diri Dave untuk membangun bisnisnya itu. Vely memberi semangat pada Dave yang terpuruk pasca ditinggal tunangannya yang meninggal karena sebuah kecelakaan tunggal. Sedangkan Dave memberi semangat pada Vely bahwa cinta sejati itu ada.
__ADS_1
Di kamar Vicky dan Rea, Rea duduk di meja rias. Ia baru saja selesai membersihkan diri dan kini Vicky yang berada di dalam kamar mandi.
Rea menarik tasnya, lalu mengambil sebuah obat yang sejak dua minggu lalu ia konsumsi. Rea menimbang-nimbang perkataan Vely tadi. Ia banyak mendapat ilmu dari para istri pembesar itu. Kemudian, Rea mengelus perutnya. Ia tersenyum sendiri.
“Gimana rasanya, jika ada yang hidup di sini.” Rea membayangkan jika dirinya hamil. “Pasti, Thia dan Nisa akan senang punya keponakan.”
Rea kembali tersenyum.
“Sudah siap!” Tiba-tiba Vicky memeluk istrinya dari belakang. Sedari tadi ia memperhatikan gerak gerik istrinya.
“Eh.” Rea terkejut dengan kehadiran Vicky yang tiba-tiba.
Kemudian, Rea dan Vicky saling berpandangan di balik cermin yang berada di depannya.
“Siap apa?” tanya Rea.
“Jadi ibu.”
“Bagaimana dengan kuliahku?” tanya Rea lagi.
“Semua tergantung padamu, Re. Jika bisa, maka akan bisa dijalani. Kuliah sambil memiliki anak memang berat. Tapi jangan khawatir! Aku akan membantumu. Kita akan bekerja sama untuk itu. mendidik anak dan tetap menggapai mimpimu.”
Rea menatap wajah suaminya yang begitu dewasa, mengingat usia mereka yang terpaut cukup jauh. Usia Vicky dan Rea terpaut lima belas tahun. Oleh karena itu, Vicky bisa menjadi sosok ayah untuk Rea dan kedua adiknya.
“Menikah denganku bukan berarti berhenti mengejar mimpimu, Sayang. Aku akan ada untuk itu. Aku akan ada untuk mendukungmu. Percayalah,” ucap Vicky lagi membuat Rea tersenyum lebar.
Hal ini yang membuat Rea luluh pada suaminya. Ada beberapa kesamaan antara Vicky dan almarhum ayahnya dulu. Dulu, sang ayah yang memang terpaut usia yang cukup jauh dengan ibunya, tampak begitu dewasa. Rea dapat merasakan walau saat ayahnya masih hidup, ia terbilang masih kecil. Tapi ia sempat merasakan bagaimana sang ayah yang selalu mendukung setiap mimpi ibunya.
Rea menganggukkan kepala. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan membuang obat satu strip obat yang msih tersisa lebih dari separuh itu ke tong sampah.
“Kamu yakin?” tanya Vicky lagi.
Rea kembali menganggukkan kepala. “Aku menyukai anak kecil. Aku ingin merasakan ada yang hidup di sini.”
Rea pun tertawa. Keduanya tampak ceria. Tidak ada tekanan, tidak ada keterpaksaan. Cinta mengalir apa adanya.
Malam semakin larut. Kenan dan Hanin pun sudah terlelap. Kenan memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. Pria itu memang selalu tidur pulas jika berada dalam dekapan sang istri. Justru ia tidak bisa tidur jika tidak memeluk istrinya. Begitu pun sebaliknya.
Di kamar Gun dan Kiara, Gun membaringkan tubuhnya dengan gelisah. Ia masih saja membolak balikkan tubuhnya ke kanan dan kiri.
“Mas, ngga bisa diem banget sih,” ucap Kiara yang merasakan ranjang itu bergerak sehingga tidurnya pun terganggu.
“Maaf, Sayang.”
Kiara membuka matanya perlahan. “Kenapa? Kamu ngga bisa tidur?”
Gunawan pun mengangguk.
“Ke pengen?” tanya Kiara.
Gunawan tersenyum tipis dan menggeleng.
Kiara memiringkan tubuhnya ke arah sang suami yang sedang terlentang. Lalu, Gun Pun ikut memiringkan tubuhnya menghadap Kiara.
“Sayang, ada hal yang ingin aku sampaikan.” Gun menjeda ucapannya sebentar dan berkata lagi, “tapi .. ah sudahlah.” Gun kembali menelentangkan tubuhnya.
“Hei, ada apa?” tanya Kiara bingung dan sedikit bangkit untuk mendekati suaminya. “Ada apa, Mas?”
Gun bangkit dari tidurnya dan duduk di atas ranjang itu. Kiara pun melakukan hal yang sama. Mereka duduk berhadapan tanpa jarak.
__ADS_1
“Ra, kamu kenal aku kan?”
Kiara mengangguk.
“Kamu tahu masa lalu ku?”
Kiara mengangguk lagi.
“Kamu tahu aku pria brengsek?”
“Iya.”
“Kalau kamu tahu bahwa dulu, aku pernah lebih bejat dan brengsek lagi. Apa kamu juga akan menerimaku?”
Sontak, Kiara terdiam. “Maksudnya?”
“Ada masa laluku yang belum kamu tahu. Aku pikir kamu tidak perlu tahu karena semua hanya masa lalu. Tapi berhubung orang masa lalu ku itu adalah teman terbaikmu. Jadi sepertinya, kamu harus tahu.”
Gun menggenggam erat tangan Kiara.
“Sungguh, Kiara. Saat ini dan hingga tua nanti, aku mencintaimu, hanya kamu. Semua wanita masa laluku adalah masa lalu. dan seperti yang pernah aku bilang. Kamu adalah masa kiniku dan masa depanku. Kamu percaya kan?” tanya Gun dengan wajah serius.
Keheningan malam di tengah-tengah laut itu menjadi hening di dalam kamar Gunawan yang menegangkan. Kiara bingung dengan apa yang ingin Gun sampaikan. Hatinya pun bedetak kencang. Ia tahu, suaminya memang bukan pria baik, bahkan dulu ia pernah menyaksikan Gunawan yang sering membawa wanita dari club ke rumah mereka.
Gunawan memeluk tubuh istrinya erat. “Kiara, aku mencintaimu. Sangat. Semoga apa yang aku sampaikan tidak akan merubah apapun. Aku hanya ingin kamu tahu dari aku. Bukan dari orang lain.”
Kiara terdiam. Raut wajahnya amat tegang. Ia siap mendengarkan hal terburunk itu. Ia memasangkan telinganya.
“Pacar Vely dulu adalah aku.”
Jedar
Kiara terkejut.
“Bayi yang pernah dikandung Vely adalah anakku.”
Kiara menunduk. Dadanya sesak. Ia ingat betul saat-saat keterpurukan Vely. Ia pun mengumpat lelaki tak bertanggung jawab yang membuat sahabatnya menderita.
“Dan, semua kekacauan hidupku dulu karena itu. Aku mendapatkan balasan dari ketidak tanggung jawabanku. Aku mendapat karma atas kebejatanku yang telah membuat orang lain menderita tanpa aku sadari. Dan dari situlah, aku ingin berubah.” Gun menatap kedua mata Kiara yang kini tengah menatapnya.
Tidak ada kebohongan dari balik mata suaminya. Kiara bisa merasakan kesungguhan Gunawan.
“Jadi wanita yang ada di cafe waktu itu adalah Vely?” tanya Kiara.
Gun mengangguk.
Sontak Kiara pun menangis, airmata itu tak terbendung lagi.
“Maafkan aku, Sayang. Maaf aku baru mengatakannya sekarang. Aku tidak cukup kuat untuk mengatakan ini padamu.”
Gun memeluk Kiara erat. Kiara menangis sesegukan di dada bidang suaminya. Kiara tak menolak pelukan itu. Ia tidak tahu harus bagaimana bersikap. Di satu sisi, ia pun bukan wanita baik. Mana ada wanita baik yang hamil anak orang lain tapi meminta pertanggung jawaban pada pria berbeda.
“Sayang, maafkan aku,” ucap Gunawan lirih.
Kiara pun melepas pelukan itu dan ia merebahkan diri. Ia menarik selimut tebal itu dan memiringkan tubuhnya dengan membelakangi Gun.
Gun tetap mendekati istrinya. Ia tetap memeluk tubuh kiara dari belakang dengan terus mengucapkan kata maaf.
“Aku hanya tidak ingin kamu tahu dari orang lain, Sayang. Padahal bagi aku dan Vely. Ini semua sudah tidak berarti.” Gun berbisik di telinga Kiara. Ia terus mencium rambut Kiara.
__ADS_1
“Aku cinta kamu, Ra. Sangat.”
Kiara masih terdiam. Ia pun tidak ingin rumah tangganya hancur hanya karena masa lalu yang sudah lewat. Namun, ia butuh waktu untuk bisa menerima kenyataan ini. Hanya butuh waktu.