
Di dalam sebuah rumah minimalis yang tidak terlalu besar, Gunawan duduk di sofa kamarnya. Ia menghempaskan kertas yang semula di pegang dan menyandarkan diri pada punggung sofa itu. Ia memijat pelipisnya. Sedari tadi, entah mengapa bayangan wajah Kiara selalu muncul dalam otaknya. Padahal sebelumnya, ia tak pernah memikirkan sang istri. Jangankan memikirkan, memperdulikannya saja tidak.
Namun malam ini, kamar itu tampak sepi. Biasanya selalu ada suara Kiara yang berceloteh tanpa ia minta atau menanyakan padanya ingin makan apa? Minum apa?
Gunawan sengaja membawa beberapa dokumen ke rumah, agar ada sesuatu yang ia kerjakan jika sedang kesepian.
Tok ... Tok ... Tok ...
Si bibi mengetuk kamar Gunawan. Lalu, Gunawan pun berdiri dan melangkahkan kakinya ke pintu. Ia membuka pintu itu perlahan dan terlihat si Bibi berdiri di hadapannya dengan membawa nampan yang berisikan makanan dan minum.
“Ini, pak. Makan malamnya.”
Gunawan meniram nampan itu. “Iya, Bi. Terima kasih.”
Gunawan sengaja meminta si Bibi untuk membawakan makan malam itu ke kamar, karena ia semakin merasa kesepian jika makan di ruang makan seorang diri.
Memang benar apa kata orang, kehadiran seseorang akan terasa jika sudah tak lagi bersama. Tanpa Gunawan sadari, ia merasakan hal ini. Tanpa ia sadari, ia telah merindukan sang istri, merindukan kehadiran Kiara di rumah ini.
Gunawan mengambil ponselnya. Lalu, ia melihat sosial media milik Kiara, ternyata Kiara baru saja memposting mie dok dok ala Kiara yang sering ia buatkan untuk Gunawan ketika mereka masih bersama, dengan caption “baru tadi makan sop tom yam buatan Mamiku yang super lezat, eh sekarang udah laper lagi. Selamat makan.”
Gunawan menatap makanan yang Kiara posting, karena makanan itu adalah makanan favoritnya. Gunawan sering mereques makanan ini di kala malam dengan udara yang dingin. Ia ingin makanan itu, seketika liur hampir menetes melihat gambar itu.
“Si*l.” Umpat Gunawan, karena menyadari bahwa ia lebih menginginkan makanan yang di posting Kiara di bandingkan makanan yang ada di hadapannya.
Ya, seperti itulah manusia, selalu menginginkan apa yang tidak ia dapati dan tidak bersyukur dengan sesiuatu yang sudah ia dapati. Sama seperti Kiara, Gunawan tidak pernah bersyukur memiliki istri yang cantik, kaya, dan mencintainya dengan tulus walau diawali dengan cara yang salah. Ia malah menginginkan orang lain yang belum tentu bisa ia dapati.
Gunawan menarik nafasnya kasar. Ia bangkit dan meraih jaket, juga kunci mobil. Ia ingin pergi ke klub untuk menghilangkan penat dan rasa sepinya.
“Bi, saya keluar.” teriak Gunawan saat sudah berada di bawah dan hendak keluar dari rumah itu.
Ia memasuki mobil dan terdiam sejenak. Ternyata, malam ini rasa malas lebih mendominasi. Ia kembali keluar mobil dan kembali masuk ke dalam rumahnya.
“Loh, ngga jadi keluar, Pak?” tanya si Bibi yang baru saja akan mengunci pintu itu.
“Ngga,” jawab Gunawan sembari melewati si Bibi dan kembali menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.
Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Namun, satu yang pasti. Ia merasa hampa.
Sedangkan, di kota kembang, di sebuah apartemen yang juga tidak terlalu besar, tapi cukup mewah itu, terdapat dua insan yang masih bergelut dalam peluh. Apartemen yang hanya memiliki satu kamar itu, tengah berlangsung adegan panas. Adegan panas yang kesekian kalinya. Namun, menurut Kenan, ini baru hukuman kedua untuk istrinya yang sering membuatnya kesal.
__ADS_1
Permainan Kenan semakin lama, semakin lembut dan kembali memabukkan Hanin. Walau semula Kenan kesal dan ingin memberi hukuman pada sang istri, tapi ia tak bisa. Ia kembali menghukum sang istri dengan sebuah penyatuan yang lembut.
“Eum .... Ah, Ken.” Hanin melenguh saat bagian miliknya terus di hujam oleh sang suami.
Kenan sepertinya tak pernah puas untuk mendominasi tubuh itu. ia berencana akan menggempur sang istri hingga pagi.
“Ken,” panggil Hanin dengan mata yang sayu.
Kenan tersenyum memandang wajah Hanin yang sexy, serta suara lenguhan Hanin yang terdengar erotis. “Panggil namaku, Sayang.”
Hanin menggigit bibirnya dan merasakan sensasi luar biasa. Kali ini sensasinya jauh lebih luar biasa dari sebelumnya, karena sebelumnya rasa sakit masih mendominasi, sedangkan kali ini sudah tidak lagi.
Hanin masih melayani suaminya dengan tenaga maksimal, karena ia baru saja mendapat energi setelah menikmati fusili bolognese buatan sang suami. Kenan tersenyum, karena Hanin mulai membalas semua sentuhan yang ia berikan. Sang istri juga semakin menikmati permainannya.
“Ken, aku sampai,” teriak Hanin yang sepertinya akan meledakkan sesuatu.
“Bersama, Sayang,” ucap Kenan.
Kamar itu menjadi saksi dari suara Kenan yang menggema dan suara Hanin yang erotis. Mereka melepaskan pelepasan itu bersama. Kenan ambruk di atas tubuh sang istri. Kedua nafas mereka terengah-engah dan tanpa Hanin sadari, ia memeluk tubuh suaminya, merangkul kepala Kenan dan mengelus rambut itu, saat Kenan kelelahan.
Kenan dapat merasakan detak jantung Hanin yang berdetak kencang dengan nafas memburu. Kemudian, ia mencoba sedikit bangkit. Ia melepas penyatuan itu dan hendak membaringkan tubuhnya ke samping. Namun, matanya ingin menatap wajah Hanin yang masih terlihat sayu. Hanin pun sama, ia menatap wajah suaminya,. Mereka saling bertatapan tanpa jarak dan masih dengan nafas tersengal-sengal. Lalu, Kenan mulai menyungging senyum dan Hanin pun membalasnya.
“Kamu ngantuk?” tanya Kenan.
Kenan kembali tersenyum. Ingin rasanya ia mengucapkan cinta dan terima kasih, tapi mulutnya terasa berat mengatakan itu. Lalu, tangan Kenan terangkat dan mengelus wajah sang istri. Ia pun menyapu keringat yang tersisa di kening Hanin dan menyelipkan anak rambut yang menutupi sedikit wajah Hanin ke belakang telinganya.
Hanin menatap wajah Kenan, pria yang telah sah mejadi suaminya itu.
“Ken, tadi kamu memanggilku apa?”
“Yang mana?” Kenan balik bertanya.
“Tadi.”
“Yang mana?” tanya Kenan lagi tersenyum, padahal ia tahu betul apa yang ingin Hanin katakan.
“Hmm ... tadi kamu memanggilku apa? Dua kali.” Hanin menampilkan kedua jarinya tepat di wajah Kenan.
Kenan tersenyum. “Sayang.”
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Hanin.
“Karena aku sayang,” jawab Kenan dengan tetap mengelus wajah itu.
“Sayang apa?”
“Sayang kamu.”
Seketika, wajah Hanin memerah. Sungguh, ia malu dengan apa yang Kenan ucapkan. Ia masih merasa tidak percaya, ini seeprti mimpi, karena hidupnya seperti sedang berputar, yang semula benci mengapa jadi seeprti ini?
Sontak, Hanin memiringkan tubuhnya dan membelakangi Kenan.
“Hei, mengapa membelakangiku?’ tanya Kenan dengan menarik bahu Hanin yang polos.
Hanin menggelengkan kepala. Sementara, di balik tubuh Hanin, Kenan sedang tersenyum senang. Ia tahu bahwa sang istri tengah malu.
Kenan bangkit mendekati tubuh Hanin dan melongok dari atas bahu istrinya. “Kamu malu?”
“Ish, apa sih?’ Hanin mengambil selimut yang menutupi tubuhnya dan hendak menutupi wajahnya. Ia tak ingin Kenan melihat wajahnya yang seperti kepiting rebus.
Kenan tertawa melihat ekspresi itu. “My Good. Lucunya kamu, Han.” Kenan mencubit ujung hidung Hanin.
“Aww..” Hanin menepis tangan Kenan. “Sakit Tau.”
Kenan tertawa dan menyandarkan kepalanya pada bahu polos itu.
“Ish, sana tidur.” Hanin berusah mendorong kepala Kenan yang menempel di bahunya.
“Aku ngga bisa tidur.”
“Kenapa?” tanya Hanin.
"Masih lapar," jawab Kenan santai sembari menelentangkan tubuhnya di samping Hanin.
Hanin membalikkan tubuhnya dan menoleh ke arah Kenan. "Maaf ya, aku memakan sebagian jatah fusilimu tadi."
Kenan menggeleng. "Bukan itu." Ia kembali mendekati Hanin dan berkata persis di telinga wanita itu. "Aku masih ingin memakanmu.”
“Ken,” teriak Hanin kesal sembari memukul dada Kenan.
__ADS_1
Baru saja ia menyelesaikan kewajibannya sebagai istri, belum juga istirahat tapi sang suami sudah meminta haknya kembali.
Kenan tertawa geli. Ia senang sekali membuat Hanin kesal.