
Hanin mengerjapkan kedua matanya dan perlahan terbuka. Arah matanya tertuju pada sebuah jam dinding cukup besar yang menempel di sisi kiri tempat tidurnya.
“Ah, jam delapan?” tanya Hanin terkejut. Pasalnya ia belum menyiapkan sarapan atau bekal makan siang suaminya.
Setelah subuh tadi, Kenan dengan beringas memintanya mengulang kenikmatan tadi malam. Alhasil ia pun kembali melayani hasrat sang suami yang tidak pernah puas itu. apalagi, Kenan sudah puasa satu minggu lebih karena minggu kemarin Hanin sedang kedatangan tamu bulanan. Baru saja masa itu selesai, Kenan langsung menerkamnya.
Hanin bangun, tapi matanya masih lengket. Ia masih duduk di ranjang ditemani sang suami yang masih berbaring di sampingnya. Ia mencoba menetralkan diri agar terjaga sempurna. Namun, kedua tangan kekar itu kembali memeluk pinggangnya diiringi hembusan nafas pada bahu mulus Hanin yang terbuka dan sesekali bahu itu dikecupnya.
“Jangan bangun dulu, Sayang!” ucap Kenan di ceruk leher istrinya.
“Sudah siang, By. Aku belum membuatkanmu sarapan dan bekal makan siang,” jawab Hanin lembut sembari mengusap kepala suaminya.
Kenan masih menaruh kepalanya di bahu itu. Pria itu sangat manja, selalu ingin dimanjakan Hanin dan Hanin tidak keberatan akan hal itu, justru ia senang memanjakan suaminya.
“Aku juga belum lihat Kevin. Dia pasti sudah bangun,” kata Hanin lagi.
“Ada Bi Lastri.”
Bi Lastri memang tidak pernah menganggu Hanin ketika Kenan sedang berada di rumah. Jika Kenan sedang ingin dilayani istrinya, maka Bi Lastri yang menjaga dan merawat Kevin penuh. Untungnya, Hanin selalu stock ASI yang cukup di lemari es untuk Kevin jika sewaktu-waktu bayi itu masih kelaparan.
Hanin menoleh ke wajah suaminya yang masih berada di bahunya. “Kamu manja banget sih, By.”
Kenan hanya tersenyum nyengir.
“Gemesnya ngelebihin Kevin tau ngga.” Hanin mencubit ujung hidung Kenan yang mancung.
“Mandi yuk!” ajak Hanin.
“Mandiin.” Pinta Kenan dengan wajah memelas.
Hanin tertawa. “Iya. Ayo!”
“Asyik.” Kenan langsung bangkit dari ranjang dan bergegas menggendong sang istri.
Hap
“Ah, ngga usah digendong, By,” rengek Hanin, ketika tubuhnya melayang ke udara.
“Telat. Udah aku gendong baru merajuk.”
Hanin tertawa dengan tetap mengalungkan kedua tangannya pada leher kokoh itu. begitu pun dengan Kenan. Mereka begitu bahagia dengan saling bertatapan, lalu menurunkan tubuh candunya itu setelah sampai di dalam kamar mandi.
Hanin di dudukkan di atas marmer wastafel. Sementara, Kenan mengisi air di alam bathup dengan air hangat. Ia juga memberi aroma terapi di dalamnya, aroma favorit sang istri yang juga ia sukai.
Hanin menoleh sedikit ke cermin yang berada tepat di belakangnya. Ia mendengus kesal, karena lagi-lagi Kenan mencetak banyak tanda kepemilikan di lehernya.
“By, kok banyak banget sih,” rengek Hanin sembari memlihat ke arah cermin. “Nanti malam kan mau makan malam di rumah Mami. Hmm ... malu, By.”
Kenan tersenyum. “Abis gimana lagi. Aku gemas, Sayang. Aku tidak bisa tidak menggigit lehermu apalagi bahumu itu.”
“Ish, nyebelin banget sih.” Hanin merengutkan bibirnya.
Lalu, Kenan mendekati sang istri yang ia duduki di sana. Ia kembali menggendong Hanin seperti koala. Kedua tangan Hanin pun otomatis melingkar di leher itu.
__ADS_1
Kenan memiringkan kepalanya untuk mencium bibir ranum sang istri. Dengan sigap, Hanin membalas ciuman itu hingga kedua lidah mereka saling membelit dan terdengar kecapan demi kecapan menggema di ruangan itu.
Kenan membawa Hanin dengan tetap berciuman, hingga ia menurunkan tubuh itu ke dalam bathup, Kenan baru melepas pautan itu. Kemudian ia pun ikut masuk kedalam bathup yang sama.
“Sayang, temani aku sampai tua,” ucap Kenan.
Mereka saling menyabuni tubuh pasangannya masing-masing dan duduk berhedapan di dalam bathup itu.
Hanin tersenyum dan mengangguk. “Iya, Hubby. Aku akan menemanimu hingga mataku tidak bisa lagi terbu ...”
Kenan langsung membungkam bibir istrinya lagi dengan ciuman. Tiba-tiba matanya menggenang. Tak pernah terbayang sedikitpun jika suatu saat nanti mereka akan dipisahkan oleh maut. Hanin adalah separuh hidupnya, belahan jiwanya. Ia teringat saat dulu, ketika sang ayah pergi meninggalkan dirinya dan sang ibu juga adiknya. Saat itu Rasti seperti yang kehilangan arah. Untung saja ada dirinya yang menguatkan sang ibu.
“Jangan diteruskan! Aku selalu berdoa agar Tuhan memberi kesempatan kita untuk bersama lebih lama, melihat anak-anak tumbuh besar, menikah dan menjadi sepasang kakek nenek.”
“Aamiin.” Hanin tersenyum, lalu memajukan tubuhnya dan mencium bibir sang suami. “I love you, Hubby.”
“Love you more, Honey.”
****
Di kamar berbeda dan rumah berbeda, Gunawan baru saja keluar dari kamar mandi dan mendekati istrinya yang tengah duduk di meja rias sambil mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut.
Gunawan melingkarkan kedau tangannya pada pinggang itu dan sedikit membungkuk. “Aku suka wangi rambutmu.”
Kiara melihat wajah suaminya dari balik cermin sembari tersenyum. Gunawan tampak menikmati aroma rambut dan bagian lehernya.
“Shampo yang kamu gunakan tidak pernah berubah,” kata Gunawan lagi.
Wangi rambut Kiara memang selalu seperti ini dan itu sangat memabukkan untuknya. Ia ingta saat dulu ketika hatinya masih membeku, wangi ini yang membuat libidonya naik seratus delapan puluh derajat.
“Walau aku sering menyakitimu.” Gunawan menatap wajah cantik istrinya dari balik cermin.
Keduanya saling melihat dari cermin itu.
“Itu dulu, semua orang bisa berubah, Mas.”
Gunawan kembali mengecup bahu Kiara lembut. “Aku beruntung sekali mendapatkanmu. Untung saja, aku sadardi saat yang tepat. Kalau tidak mungkin aku sudah ada di rumah sakit jiwa sekarang.”
Kiara memutar tubuhnya dan Gunawan pun berjongkok dihadapan sang istri.
Kiara mencium sekilas bibir sang suami. “Jangan berkata seperti itu! Aku akan selalu berada di sisimu hingga maut memisahkan kita.”
“Dan, aku selalu berdoa agar Tuhan memberi kita waktu yang lama untuk bersama, melihat Kayla dan adik-adiknya tumbuh besar, menikah. Lalu, menjadi kakek nenek.”
“Adik-adiknya? Memang kamu ingin adik Kayla berapa?”
“Dua atau tiga mungkin.”
“Mas,” rengek Kiara dan Gunawan tertawa.
Gunawan menarik tubuh istrinya untuk dipeluk. “Aku cinta kamu, Sayang.”
“Aku juga cinta kamu, Mas.” Kiara menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu.
__ADS_1
****
Di sebuah apartemen, Rea tengah menyiapkan sarapan untuk pria yang baru beberapa hari menyandang status suaminya.
Thia dan Nisa sudah berangkat ke sekolah pukul enam pagi. Mereka sudah disiapkan oleh Vicky supir untuk antar jemput. Supir yang Vicky ambil dari penjaga keamanan apartemen yang sudah sangat ia kenal. Dari keenam penjaga keamanan apartemen yang berjaga bergantian itu, ada dua yang bisa mengemudi dan Vicky memberdayakan mereka di saat mereka sedang tidak bertugas.
Rea berkutat di dapur Vicky. Ia mencoba berbagai peralatan di sana. Walau Rea juga terlahir dari keluarga kaya, tetapi ia sudah lama tidak menggunakan peralatan dapur mahal seperti yang ada di dapur Vicky.
Dulu, almarhum ibunya juga memiliki panggangan roti. Namun, Rea tidak pernah menggunakannya karena sang ibu yang selalu menyiapkan itu. Sedangkan ketika bersama Nisa dan Thia paska sepeninggla kedua orang tuanya, Rea memanggang roti dengan menggunakan teflon atau penggorengan biasa.
Ketidaktahuan Rea menggunakan alat panggang itu, membuat roti itu terlihat hitam semua.
Vicky tertawa, melihat dapurnya berantakan. Ia juga tertawa melihat Rea yang frustasi karena lagi-lagi ia mnggosongkan roti.
Vicky mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang. “Kamu kenapa?”
Rea langsung membalikkan tubuhnya. “Mas, Maaf dapur kamu berantakan. Terus rotinya gosong semua.”
Vicky pura-pura sedih sembari melihat ke arah roti yang tak lagi berwarna putih. “Yah, sayang banget.”
“Maaf, Mas. Aku udah coba, tapi gosong terus,” rengek Rea.
“Seperti ini menggunakannya, Sayang.” Vicky mengajari Rea untuk tidak memaksimalkan tombol itu.
Rea mengernyitkan dahinya. “Ooo.. gitu. Terus ini gimana?”
“Ya, dibuang,” jaab Vicky santai.
“Hmm ... sayang banget. Maaf ya.” Rea menunduk.
Lalu, Vicky langsung mengangkat wajah Rea dengan menjepit ujung dagunya. “Hei, tidak apa-apa. It’s oke. Kamu sudah berusaha.”
Rea pun langsung menatap wajah Vicky yang tersenyum manis padanya.
“Eum ... It’s oke,” ucap vicky lagi dan Rea tersenyum.
“Tapi kamu nanti sarapan apa?” tanya Rea.
“Aku sudah kenyang sarapan kamu tadi.”
Rea memukul dada suaminya. “Aku serius, Mas.”
“Kamu khawatir aku kelaparan?” tanya Vicky dan Rea mengangguk. “Iya. Nanti kamu makan apa? Aku ngga mau kamu sakit.”
“Oh, so sweet.” Vicky langsung mengambil kepala Rea dan memeluknya. “Sarangheo, Sayang.”
Vicky tahu kalau Rea pecinta drama korea. Walau pun baginya ungkapan ini terdengar menggelikan tapi untuk Rea hal itu dikecualikan.
Rea melonggarkan pelukan itu dan menatap suaminya. Ia tersenyum manis. “Aku juga sayang kamu, Mas.”
Kemudian, mereka kembali berpelukan dan saling melontarkan senyum di tengah pelukan erat itu. terlihat senyum bahagia di wajah masing-masing.
“Temani aku sampai tua ya, Sayang.”
__ADS_1
Rea mengangguk. “Bantu aku juga buat jadi lebih dewasa ya, Mas.”
Vicky mengangguk. “Tentu saja, Sayang.” Lalu, ia mengecup pucuk kepala Rea.