Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Vicky dan Rea 5


__ADS_3

“Maaf, mbak. Anda tidak bisa memasuki ruangan ini sembarangan,” ucap seoang wanita yang menggunakan blouse hitam.


“Saya itu teman dekatnya, Pak Attar,” teriak gadis manis dengan body semok tengah memakai rok kotak-kotak di atas lutut serta kaos putih polos.


“Tapi anda harus ada janji jika ingin bertemu,” kata wanita berpakaian bluse hitam itu yang merupakan resepsionis kantor ayah Attar.


Di dalam sana, Attar mendengar dengan samar suara bising dari luar. Lalu, ia pun berdiri dari duduknya dan membuka pintu untuk memastikan keadaan yang bising itu.


“Lia, ada apa sih?” tanya Attar dengan suara lantang pada pegawainya.


Sontak gadis yang semula membelakangi Attar pun menoleh. “Kak.”


Mata Attar langsung membulat, ternyata yang berada dihadapannya adalah pacar kedua Attar yang berada di Bandung. Dia bernama Sila, adik kelas Attar di kampus yang berbeda dua tingkat.


“Kak.” Sila langsung menghambur peluk ke Attar, tetapi dengan cepat pria itu menepisnya.


“Ini di kantor Sila,” bisik Attar agar wanita itu bersikap biasa.


Pasalnya di kantor ini, ayah Attar masih menjabat sebagai di rektur, sedangkan dirinya hanya seorang manajer biasa. Ayah Attar sangat menyukai Rea dan kedua orang tua Attar pun hanya tahu bahwa putranya memiliki satu kekasih yaitu Rea. Kedua orang tua Attar juga sudah mempersiapkan pertunangan untuk putra dan kekasihnya itu dalam waktu dekat.


“Dia tamuku,” ucap Attar pada gadis rssepsionis itu dan memerintahknnya untuk pergi.


Gadis resepsionis itu pun mengangguk patuh dan meninggalkan kedua orang itu.


“Cepat masuk!” Attar menarik lengan Sila dan memasukkannya ke dalam ruangan. “Ngapain sih kamu ke sini?”


“Galak banget sih, Kak. Emangnya ngga kangen sama aku?” tanya sila dengan melenggak lenggokkan pinggulnya dan berjalan menuju Attar yang sudah duduk di kursi miliknya.


Attar hanya diam. Gadis di depannya ini memang paling bisa menyenangkan Attar. Gadis itu juga selalu memuaskan hasrat Attar. Sejak pertama mereka berpacaran, Attar sudah mengambil kehormatan Sila cuma-cuma, karena Sila memang sangat mencintai Attar.


Sila duduk di pangkuan Attar. “Aku ke sini tuh, mau maganga jadi asisten kamu. Kamu masih belum punya asisten atau sekretaris kan?”


Attar mengeryitkan dahinya. “Nanti Rea curiga.”


“Makanya, aku jadi asisten kamu, supaya dia ngga curiga. Lagian dia juga tahunya aku adik teman kamu kan? Jadi tidak ada yang mencurigakan. Kita bisa sama-sama tiap hari. Bahkan aku bisa memberikan jatah untukmu setiap saat.”


Attar tersenyum menyeringai. Ternyata gadis di depannya ini sungguh licik, tetapi ia suka. Ia tidak perlu susah payah untuk menyalurkan hasratnya sendiri karena sekarag ada Sila setiap hari.


“Kamu memang paling bisa.” Attar mencubit ujung hidung Sila.


“Jadi aku di terima kan?” tanya Sila.


“Tetap ajukan cv-mu, agar papa ku tidak curiga.”


“Baik, sayang.” Sila mengelus wajah Attar.


Ia di pangkuan Attar dengan menghadap pada pria itu hingga dada mereka menempel. Kemudian, Sila ******* bibir kekasihnya. Ia tak peduli menjadi yang kedua, yang penting ia bisa berada dalam tubuh pria yang ia cintai itu. Buruk sekali memang.


Attar berdiri dan berjalan menuju sofa dengan pautan yang belum terlepas. Bibir merasa masih menyatu dan saling membelit.


Sebelum menuju sofa, Attar memastikan pintu ruangan itu terkunci sempurna. Kemudian, perlahan ia membuka kaos oblong Sila dan menaikkan rok pendeknya itu ke atas.


“Ah, Ayo lakukan, Kak!” Sila tidak sabar untuk berada di dalam tubuh sang kekasih. “Aku rindu sentuhanmu.”


Attar tersenyum. “Sabar, Sayang. kita akan melakukannya setiap hari, karena mulai malam ini kamu akan tidur di apartemenku.”

__ADS_1


Bibir Sila langsung menyungging senyum. Justru ini tujuannya datang, ia ingin benar-benar memiliki Attar seutuhnya dan menyingkirkan Rea yang tidak pernah bisa memuaskan Attar.


Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel Attar berdering ketika mereka masih melakukan aktifitas panas itu. Attar duduk di sofa sedangkan Sila berada di atasnya.


“Kak, ponselmu berbunyi,” kata Sila.


Attar meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di sana dengan nama “Kekasihku.” Sejak tadi, Rea memang terus menghubunginya, tetapi tidak di angkat oleh Attar karena ia sedang sibuk bersama Sila.


“Jangan berisik!” Attar memperingatkan Sila semabri mnutup bibirnya dengan jari telunjuk. Ia hendak mengangkat panggilan telepon itu.


Sila merengutkan bibir. Ia tidak suka kesenangannya terganggu dan yang paling ia tidak suka ketika ia melihat nama Rea yang tertera pada ponsel pria yang ia cintai itu dengan nama “Kekasihku.” Sementara dirinya hanya dinamai “Sila” saja.


“Iya, Rea.” Attar membuka suara terlebih dahulu.


“Kak, maaf aku ganggu.”


“Iya tidak apa,” jawab Attar. “hmm ..." ia mati-matian menahan ******* yang Sila lakukan.


Gerakan pinggul yang Sila lakukan sungguh nikmat dan tak tertahankan. Lagi-lagi, Attar membulatkan matanya ke arah Sila agar berhenti sejenak.


“Kakak sibuk ya?” tanya Rea.


“Ya,” jawab Attar singkat.


“Kalau begitu tidak usah menjemputku.”


Semula, Rea memang ingin menelepon kekasihnya untuk menanyakan jam berapa ia akan menjemput, pasalnya pagi tadi Rea tidak membawa kendaraannya karena Attar menjemputnya ke kampus.


“Tapi kamu ngga bawa kendaraan, Sayang.” kata Attar.


“Ah, kamu memang paling pengertian. Terima kasih, Babe.”


Mendengar hal itu, Sila lamgsung menghentakkan miliknya keras.


“Ah,” desah Attar.


“Kenapa kak?” tanya Rea di seberang sana.


“Ngga apa, Re. Aku menjatuhkan berkas.”


“Oh, ya sudah. kalau begitu lanjutkan lagi kerjaanmu. Sekali lagi maaf ya kalau aku menggangguk.”


“Tidak apa, sayang,” jawab Attar sembari meringis merasakan sensasi yang luar biasa.


Lalu, Attar langsung menutup sambungan telepon itu, saat Rea baru saja ingin mengucapkan salam.


“Kesel sama kamu," ucap Sila dengan terus menghentakkan penyatuan itu, hingga Attar tak berdaya.


“Oh, kamu hebat banget, Sayang.”


“Nyebelin.” Sila memukul dada Attar, lalu keduanya tersenyum dan berpelukan.


“Pokoknya kamu cuma punya aku.” Sila memeluk erat tubuh Attar dengan masih dalam aktifitas menggairahkan itu.

__ADS_1


****


Usai mendapatkan pelajaran, Rea langsung berpamitan kepada beberapa temannya di kelas itu untuk pulang. Ia memang tidak pernah berlama-lama di kampus selain urusan kegiatan belajar mengajar. Ia tidak pernah terlibat dalam kegiatan kampus, karena baginya mencari uang lebih penting.


Beberapa minggu ini ia tidak ada jadwal sebagai guide. Pundi uangnya minggu-minggu ini berasal dari menyanyi di cafe milik om temannya saat SMA. Sejak SMA, ia memang sudah bernyanyi di cafe itu.


Kini, Rea tengah berjalan di area pengguna pejalan kaki. Ia ingin menaiki busway. Namun, tiba-tiba terdengar bunyi klakson dari pinggir trotoar. Sontak, Rea pun menoleh.


“Sendirian?” tanya pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Vicky,


Rea hanya menoleh sekilas dan kembali berjalan.


“Sssttt ...” panggil Vicky pada Rea, tetapi Rea masih tetap tak menoleh ke arahnya. “Ngga dijemput?”


Vicky masih menjalankan mobilnya perlahan, mengikuti langkah Rea yang santai.


“Ayo naik! Biar aku antar.”


Akhirnya, Rea menghentikan langkah kakinya, ia mengarahkan tubuhnya pada Vicky dan melihat senyum om jelek itu yang semakin mesum. Sungguh Rea sangat tidak menyukai senyum Vicky, karena senyum itu persis seperti om-om mesum yang sering Rea lihat di cafe.


“Kamu ngga ada kerjaan ya? Buntutin aku terus, emangnya ngga capek?” tanya Rea sembari mellipat kedua tangannya di dada.


Vicky malah tertawa. “Jangan ge-er ya Rea. Kbetulan aku lewat dan liat kamu lagi jalan sendirian. Karena aku kenal sama kamu jadi, jadi ya ... aku tegur kamu. Lagi pula aku tuh pria baik dan tidak sombong.”


“Ish, narsis” Rea mencibir.


Kemudian dengan cepat, Vicky keluar dari mobilnya dan menarik Rea untuk masuk ke dalam.


“Apaan sih, Om. Maksa banget. Aku bisa pulang sendiri.” Rea mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang di tarik oleh Vicky.


“Udah masuk. Ayo! Nanti keburu ada polisi karena disini tidak ada rambu-rambu untuk berhenti.” Vicky mengajak Rea untuk mengedarkan pandangannya ke rambu-rambu jalan.


“Iya tapi lepasin tangan aku.”


Kemudian, vicky melepaskan tangan Rea setelah ia membuak pintu kursi penumpang dan memastikan Rea sudah duduk di sana.


Bibir Vicky menyungging, lalu dengan cepat ia memutar dan duduk di kursi kemudi.


“Apa senyum-senyum?” tanya Rea kesal melihat ekspresi Vicky.


“Kenapa? Ngga apa-apa?” Vicky balik bertanya.


“Jangan macem-macem! Aku tahu yang ada di otak kamu isinya begituan.”


“Begituan apa?” tanya Vicky dengan mengeryitkan dahinya.


“Setiap sama kamu, aku selalu berakhir mengenaskan.”


Vicky tertawa terbahak-bahak.


Rea yang selalu bersikap galak dan acuh, membuat libido seorang Vicky bangkit. Entah mengapa, ia ingin sekali mengungkung gadis galak ini, membuatnya lemah tak berdaya di bawah kungkungannya. Saat ini, Rea memang selalu menajdi fantasi liar seorang Vicky, akrena Vicky tidak lagi menggunakan jasa wanita sewaan. Ia benar-benar ingin tobat dan ingin memiliki keluarga, seperti kedua sahabatnya. Rea adalah target utama yang akan ia persunting menjadi istri.


“Kamu mau bawa aku kemana?’ tanya Rea saat Vicky tidak melewati jalan yang sesuai dengan jalur ke arah rumahnya.


“Ke KUA. Kita langsung nikah aja, Gimana?” tanya Vicky dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


“Dasar, om jelek mesum. Turunin aku ngga!” teriak Rea yang membuat Vicky kembali tertawa.


Padahal ia hanya menggertak Rea, ia hanya ingin membawa Rea menuju restoran sekalian membawakan makanan untuk kedua adik Rea di rumah.


__ADS_2