Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Mengubur masa lalu 2


__ADS_3

Velicia terdiam cukup lama. Ia menunduk dan menitikan air mata. Sungguh, sebenarnya ia enggan untuk menceritakan masa-masa kelam itu. Hatinya sangat sakit jika mengingat kejadian mengerikan yang memang terjadi karena kebodohannya sendiri.


“Cia, Maaf. Maafkan aku,” ucap Gunawan lirih.


Ia melihat betapa beratnya masa yang telah di lalui Velicia saat itu.


Velicia mengadahkan kepalanya dan kembali menatap Gunawan. “Aku kira aku sudah melupakan masa-masa itu. Namun ternyata, rasa sedih dan kecewa itu masih ada, jika harus menceritakan kembali kisah itu.”


Gunawan menatap Velicia dengan wajah sendu dan berkaca-kaca.


“Tapi, kamu memang harus tahu,” ucap Velicia.


Gunawan mengangguk. “Ya, aku memang harus tahu.”


Gunawan dan Vely berpacaran hingga satu tahun. Enam bulan pacaran, mereka sangat dekat dan sering bertemu. Vely semakin mencintai Gun dan percaya pada pria itu, apalagi Gun adalah pacar pertama Vely. Lalu, Gun berhasil menjadi mahasiswa di sebuah Universitas Negeri ternama di kota lain. sedangkan Vely berhasil di terima di sebuah SMA negeri favorit di Jakarta. Mereka pun harus menjalin hubungan dalam jarak jauh dan sering kali sibuk dengan urusan masing\=masing. Namun, Gunawan masih sering berkomunikasi dan satu bulan sekali menyempatkan diri untuk ke Jakarta khusus menemui kekasihnya.


Tepat di hari anniversary itu, Gunawan memberi kejutan spesial. Vely bagai bidadari yang dipuja oleh kekasihnya. Gun memang paling pintar membuat hati wanita berputar-putar kegirangan. Dan, pada malam itu, Vely terbuai oleh rayuan Gun, hingga merelakan kehormatannya dinikmati oleh pacar pertamanya itu. Satu bulan, dua bulan berukutnya, Gunawan masih belum berubah. Ia masih datang ke Jakarta satu bulan sekali bahkan lebih hanya untuk menemui Veli. Dan, di saat bertemu mereka tidak pernah absen untuk melakukan lagi dan lagi.


Namun, satu bulan setelah itu, Gunawan agak jarang menghubunginya. Lalu, semakin hari semakin jarang. Bahkan, ia tak lagi datang ke Jakarta seperti biasanya. Sampai pada akhirnya, Gunawan tidak menelepon Vely hingga satu bulan. Pria itu tidak ada kabar sama sekali.

__ADS_1


“Satu bulan kamu tidak meneleponku sama sekali, Kak. Bahkan kamu tidak lagi datang menemuiku lagi. Aku mencoba berpositif thinking. Aku pikir kamu di sana sedang benar-benar sibuk. Sampai satu ketika aku terpeleset di toilet yang sedang dibersihkan di sebuah mall. Ketika itu, aku sedang bersama salah satu temanku.” Saat SMA, Vely tidak lagi satu sekolah dengan sepupu Gunawan.


Gunawan mendengarkan dengan seksama cerita Vely dan Vely bercerita sembari menunduk. Ia tak kuasa menatap wajah Gunawan, karena khawatir kebencian dan sakit hati itu masih ada.


“Aku terpeleset cukup kencang, hingga terjatuh duduk dan mengalirkan darah yang cukup deras di kakiku. Petugas toilet itu terkejut, begitu pun temanku dan aku pingsan karena melihat darah yang terus mengalir. Akhirnya, aku sadar ketika sudah berada di rumah sakit. Saat itu aku baru tahu bahwa aku sedang hamil dua bulan. Namun, bayi itu tidak selamat. Aku bersyukur karena pada saat itu, aku memiliki teman yang baik. Dia yang membantuku melunasi biaya rumah sakit dan menguburkan bayi itu. Dia pun menyimpan rahasiaku kepada semua teman-teman di sekolah dan keluargaku. Aku sangat sedih waktu itu, di tambah kamu tidak pernah ada kabar.” Vely menitikan air mata.


Gunawan pun menangis. “Jadi bayi itu gugur?”


Velicia mengangguk. “Pada saat itu semua rasa campur aduk. Sedih, kecewa, dan terkadang aku merasa bersyukur karena bayi itu gugur, jika tidak mungkin aku tidak tahu bagaimana masa depanku nantinya. Bagaimana pertanggung jawabanku pada keluargaku?”


Vely menjeda perkataannya untuk mengambil tisu dan menghapus jejak air mata di pipi nulus itu.


“Maaf, Cia. Maaf.” Gunawan ikut menangis. Ternyata ia benar-benar pria baj*ng*n. Ia telah merusak anak perempuan orang. Bahkan, anak perempuan yang sudah tidak memiliki orang tua.


“Ingin rasanya aku mengakhiri hidupku. Namun, semua tidak aku lakukan karena aku tidak ingin mengecewakan keluargaku. Selama dua bulan, aku tinggal bersama temanku untuk memulihkan keadaan. Dan masa-masa itu, adalah masa yang paling berat dalam hidupku.” Velicia kembali mengambil sehelai tisu dan mengusapkannya ke pipi.


Gunawan menunduk.


“Dosaku terlalu banyak padamu, Cia. Aku tidak tahu apakah maaf ini masih mungkin dimaafkan. Tapi sungguh, aku memang brengs*k saat itu. Aku tidak pernah berfikir akan ada efek atas apa yang sudah aku lakukan padamu. Mungkin aku memang tidak merasakan apa yang kamu rasakan pada masa-masa itu. Namun, Tuhan membalasnya dengan keadaanku yang sekarang. Aku tidak pernah bahagia, Cia dan itu karena dosaku yang besar terhadapmu. Maafkan aku.”

__ADS_1


“Mungkin, jika kamu meminta maaf pada waktu itu, aku akan berteriak mencacimu, memukulmu atau membunuhmu. Tapi kini, semua sudah aku lewati. Dan, Tuhan telah memberi seseorang yang begitu sempurna untuk menyempurnakan kebahagiaanku, hingga aku lupa bahwa dulu aku pernah mengalami hal buruk itu,” ucap Vely.


“Kamu sudah menikah?” tanya Gunawan, sembari menghapus jejak air mata di pipinya.


“Minggu depan kami akan menikah.”


“Lalu, pakaian bayi yang kau beli saat itu?” tanya Gunawan lagi.


“Oh, itu. Aku membelinya untuk kakak kembarku Vedy. Kebetulan istrinya baru saja melahirkan.”


“Vedy? Kakak kembarmu bernama Vedy? Vedy Angelo?” tanya Gunawan dengan satu ekspresi yang tidak bisa diartikan.


Vely mengangguk. “Ya, karena aku Velicia Angela.”


Sontak Gunawan tertawa kecut. Lagi-lagi ia berada dalam lingkaran setan itu. “Kakak pertamamu adalah Vicky?”


Velicia mengangguk bingung. “Ya, memang kenapa?”


Gunawan mengusap wajahnya kasar. Memang, ia memang pantas untuk mendapatkan hukuman ini. ternyata, apa yang dilakukan Kiara dan Vicky adalah buah dari dosanya di masa lalu. dan, ia baru menyadarinya.

__ADS_1


Sontak Gunawan menutup wajahnya. Ia terisak semakin kencang. rasanya ingin sekali ia berteriak. Namun, tempat ini tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Bodohnya, saat berpacaran dengan Cia, ia tak pernah menanyakan tentang keluarganya. Bahkan ia tak tahu nama lengkap Cia. Gunawan hanya terpesona oleh kecantikan Cia dan kepolosannya, karena pada saat itu ia memang masih belum bersungguh-sungguh untuk mencintai wanita.


__ADS_2