Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Ini kesalahan Kenan


__ADS_3

“Arrggg ...” teriak Kenan, saat ia merasakan pelepasan untuk kedua kalinya.


Kenan mengerang tepat di telinga Hanin, sembari menempatkan kepalanya di ceruk leher jenjang itu. Ia menumpukan kedua tangannya agar tidak ambruk di atas tubuh sang istri. Ia tak ingin menindih perut Hanin yang buncit. Walau Hanin memeluk kepala Kenan agar sang suami memeluknya.


“Eum ...” Hanin mengerakkan tubuhnya dalam keadaan milik mereka yang masih menyatu.


“Jangan menggodaku, sayang!” Wajah Kenan yang sayu nampak tersenyum.


Hanin tersenyum sembari menggigit bibirnya. Ia memang sengaja membuat menggoda sang suami, agar hasrat itu kembali meningkat.


“Siapa yang menggoda? Ih ge-er,” ucap Hanin masih dengan ekspresi sebelumnya.


Kenan tersenyum, lalu menyambar bibir bawah Hanin yang semula digigit oleh Hanin sendiri. Kenan menggigit kecil bibir itu, hingga mulut Hanin terbuka dan mereka mulai berbelit lidah.


Setelah puas menikmati bibir ranum dan menggigit kecil, Kenan melepaskan pangutan itu.


“Hmm ... bibirku sakit,” rengek Hanin manja. Ia protes dengan apa yang dilakukan suaminya tadi.


“Lagian siapa suruh gigit bibirmu, Hmm ...”


“Kenan jelek, sebel.” Hanin memukul dada suaminya. “Ya udah lepas.”


Hanin meminta Kenan untuk melepaskan penyatuan itu. Namun, Kenan malah tersenyum dan menggeleng.


“Susah lepasnya.”


“Hubby ...” teriak Hanin manja. “Aku lapar.”


Kenan tertawa. “Lagian siapa suruh tadi menggodaku, Huh? Akhirnya dia menginginkanmu lagi kan?”


“Hubby ...” rengek Hanin lagi.


Akhirnya Kenan menyerah. Ia pun melepaskan miliknya dari milik sang istri. Kenan tidak akan tega menggempur Hanin dalam keadaan lapar, apalagi sang istri memang membutuhkan nutrisi lebih.


Kenan membantingkan diri di samping sang istri. Nafasnya masih tersengal, terlebih saat ini sepertinya ia masih dalam keadaan ‘on’ dan Hanin pun mengetahui itu.


Hanin dan Kenan bertatapan. Kenan tersenyum ke arah sang istri dengan satu tangannya terangkat mengelus pipi mulus itu.


“Udah ya, aku lapar sekali.”


Kenan tersenyum dan mengangguk. “Iya.”


Mereka beristirahat sebentar. Lalu, Hanin perlahan bangkit, sedangkan Kenan sudah lebih dulu bangkit dan memakai kembali boxernya.


“Ssshh ...”


Mendengar Hanin merintih, Kenan langsung mendekati sang istri.


“Sakit?’ tanya Kenan yang membantu Hanin berdiri.


Hanin tersenyum dan menggeleng. “Ngga, Cuma pegel aja.”


“Di sini?” tanya Kenan dengan memegang pinggang Hanin. “atau di sini?” tangan Kenan beralih menyentuh milik sang istri.


“By,” rengek Hanin lagi. Ia kesal karena sang suami benar-benar mesum.


Kenan pun tertawa dan langsung menggendong sang istri, karena gerakan Hanin terlalu lambat. Kemudian, Kenan mendudukkan Hanin di atas bath up. Ia langsung mengambil selang di sana dan membersihkan sisa percintaan yang melekat di area sensitif sang istri. Kenan melakukan itu dengan gerakan yang lembut dan telaten.


Hanin hanya dapat menikmati perhatian itu dengan senyum bahagia. Mungkin menurut sebagian orang perhatian adalah perhatian kecil, tetapi bagi Hanin perhatian ini sudah lebih dari cukup membuat ia sangat bahagia.

__ADS_1


Masih dengan aktivitas itu, sesekali Kenan mengangakt kepalanya dan tersenyum ke arah Hanin. Hanin pun membalas senyum itu dengan manis sembari meletakkan satu tangannya di pundak Kenan.


“Kamu mau makan apa? Mau aku buatkan?” tanya Kenan sembari mengelap tubuh Hanin yang selesai dibersihkan.


Hanin menggeleng. “Tidak usah, kamu pasti lelah.”


“Tidak. Aku tidak lelah. Bahkan aku masih sanggup jika satu ronde lagi setelah kamu makan.”


“By,” rengek Hanin.


Kenan kembali tertawa.


“Aku ingin makanan tadi siang. Apa menu acara tadi sudah habis? Ikan asam manisnya enak,” ucap Hanin.


“Hmm .. aku tidak tahu, tapi nanti aku akan minta Bibi untuk menyiapkan.” Kenan melilitkan handuk pada tubuh sang istri.


Kenan membawa Hanin keluar kamar mandi dengan kembali menggendongnya, lalu mendudukkan Hanin di atas ranjang.


“Aku keluar cari Bibi, ya!” Kenan mengelus rambut Hanin.


Hanin mengangguk dan masih menampilkan senyum yang manis. Lalu, Kenan hendak meninggalkan istrinya.


“By.” Dengan cepat Hanin menarik tangan Kenan yang hendak keluar.


“Hmm ...” Kenan menoleh ke arah Hanin lagi.


“Terima kasih ya,” ucap Hanin karena perlakuan manis sang suami tadi.


Kenan tersenyum. “Aku yang terima kasih.” Kemudian, Kenan mengacak-acak rambut sang istri. “Tunggu! Awas kalau kabur.”


“Ish, siapa juga yang kabur?”


Hanin mengerucutkan bibirnya, membuat Kenan tersenyum dan meninggalkannya.


Setelah Kenan selesai memberi perintah di dapur. Ia kembali hedak melangkahkan kakinya ke kamar. wajahnya tak lagi kusut. Justru Kenan nampak bahagia.


“Ken,” panggil seseorang di sana, saat Kenan hendak menaiki satu anak tangga.


Kenan menoleh ke sumber suara itu.


“Eh, Mami belum tidur.”


Rasti menggeleng. Lalu, ia bertanya pada putranya, “bagaimana Hanin? kamu sudah menemukannya?”


Saat Kenan akan menjawab, Kiara hendak menuruni anak tangga dan berpapasan dengan kedua orang di bawah sana. Kiara hendak mengambil minum ke dapur.


“Kakak,” panggil Kiara yang melihat wajah Kenan tidak kusut lagi. “Hanin sudah ketemu?”


Kenan melirik ke arah Kiara dan Rasti bergantian. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Rasanya bibirnya sulit untuk menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.


“By, makanannya sudah dihang ..” tiba-tiba suara Hanin tercekat, saat melihat Kiara dan Rasti di bawah sana.


Sontak Rasti dan Kiara menoleh ke atas, karena posisi Hanin yang masih berada di sana dan hendak turun.


“Hanin? kamu tidak menghilang?” tanya Rasti dengan mengerutkan dahinya.


“Kamu dari mana, Han?” Kiara pun bertanya.


Hanin melangkahkan kakinya perlahan sembari nyengir.

__ADS_1


“Hmm ... anu, Mam. Hmm ...”


Kenan menahan tawa melihat ekspresi sang istri yang sulit menceritakan apa yang terjadi.


“Anu ... anu apa? Kamu tahu, gara-gara kamu Kenan kebingunan seperti orang gila. Marahin semua orang, teriak-teriak ga jelas, semua orang kena omel,” ucap Rasti membulatkan matanya ke arah Hanin.


Hanin masih menampilkan jejeran giginya yang putih, sembari menautkan kedua telunjuknya. “Maaf, Mam.”


“Hanin di umpetin jin di ruang baca, Mam,” sahut Kenan asal.


“Hush, apaan sih kamu. Ngomong sembarangan!” bentak Rasti pada putranya.


“Jelasin, Han. Tadi tuh kamu kemana?” tanya Kiara.


Tak lama, Gunawan pun ikut keluar dari kamarnya, karena suara mereka cukup terdengar, apalagi suara Rasti. Gunawan perlahan mendekati orang-orang yang sedang menanyakan keberadaan Hanin siang tadi.


“Hmm ... Itu, Ra. Aku .. Aku tuh ketiduran di ruang baca.”


“Apa?” sontak Rasti dan Kiara terkejut.


Lalu, Kiara tertawa tanpa suara sembari menutup mulutnya. Sedangkan Rasti memiliki ekspresi berbanding terbalik dengan Kiara. Walau Rasti tahu, putranya sangat mencintai menantunya ini, tetapi kelakuan Hanin siang tadi memang membuat semua orang teralihkan padanya. Acara itu bukan lagi acara Aqiqah Kayla, tapi acara pencarian Hanin yang menghilang.


Gunawan pun ikut tertawa. “Kok bisa, Han?”


“By, bantuin aku!” Hanin memberi kode pada sang suami, agar ia tak diam saja saat dirinya dicecar banyak pertanyaan seperti ini.


Kenan tertawa dan hanya mengangkat bahunya. Ia memang berlebihan, tapi ia suka dengan kepolosan sang istri dan sekarang wajah polos itu pun tampak kebingungan.


“Tadi itu, setelah makan, aku mencoba untuk bergabung dengan Kenan, tapi dia sepertinya asyik sekali berbincang dengan teman wanitanya itu." Hanin melirik kesal ke arah Kenan dan memberi penekanan pada kata 'teman wanitanya' yang tak lain adalah Misya.


"Dan karena semua asyik berbincang dengan para tamu hingga aku merasa terabaikan. Lalu, aku ke atas niatnya memang ingin istirahat karena lelah, tapi aku lebih memilih ke ruang baca dan tertidur di sana. Eh, ternyata tidurku terlalu pulas ,” jelas Hanin sembari menunduk, lalu mengangkat kepalanya dan nyengir saat berkata di akhir kalimat.


Rasti terdiam. Ia memang merasa keterlaluan, karena mengajak Kenan berbincang dengan Misya dan mengabaikan menantunya sendiri.


Hati Kenan pun ikut mencelos. Istrinya memang benar-benar polos. Ia merasa sangat bersalah karena memang telah mengabaikan sang istri pada saat itu.


Hanin mengangkat kepalanya dan menatap ke empat orang itu bergantian yang menatapnya.


“Maaf,” ucap Hanin.


Kenan langsung mendekati sang istri dan memeluknya. “Aku yang minta maaf. Maaf aku mengabaikanmu.”


Kiara ikut mendekati Hanin dan mengelus lengannya. “Maaf ya, Han. Aku dan Mas Gun sibuk menyambut tamu.”


“Tidak, tidak Kiara. Ini bukan salahmu,” sahut Hanin. “Aku hanya kesal pada Kenan.” Ia melirik suaminya yang tengah memeluknya.


“Maaf,” ucap Kenan manja.


Rasti ikut mendekati Hanin dan Kenan. Ia menghelakan nafasnya. “Mami juga minta Maaf.”


“Tidak perlu Mami. Hanin hanya kesal pada putra Mami saja,” jawab Hanin.


“Berarti ini kesalahan Kenan?” tanya Gunawan sembari menunjuk ke arah orang yang disebutkan. Gunawan berdiri persi di samping Kiara dan memeluknya dari samping.


Hanin mengangguk.


“Lalu, mengapa kamu yang terkena hukuman?” tanya Gunawan lagi dengan melirik ke arah leher Hanin yang dipenuhi gigitan dengan warna merah keunguan.


Semua orang menatap ke arah yang sama. Sontak Hanin menutupnya dan sangat malu,

__ADS_1


“Kenaaaan,” rengek Hanin, yang ingin menceburkan diri ke sungai dan ingin timbul saat orang-orang itu sudah tak ada di sana.


Rasti, Kiara, dan Gunawan pun tertawa. Begitu juga dengan Kenan. pria itu nampak tak bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap istrinya.


__ADS_2