Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Semakin berspekulasi negatif


__ADS_3

Tepat di saat Kenan menghampiri istrinya, nama Hanin dipanggil oleh suster untuk memasuki ruangan dokter. Langkah Kenan pun langsung mengikuti Hanin dari belakang dan memegang pinggangnya. Sesaat Hanin menoleh ke belakang dan kembali menatap ke depan, tersenyum ke arah dokter yang sudah menyambutnya.


“Apa kabar ibu Hanin?” tanya dokter itu sembari mengulurkan tangannya.


Hanin pun membalas uluran tangan itu dengan senyum. “Baik, Dok.”


Wanita paruh baya yang berjas putih itu kembali mengulurkan tangan pada Kenan dan Kenan juga membalasnya dengan senyum. Kenan melirik ke arah Hanin yang sama sekali tidak meliriknya. Hanin justru menyibukkan diri dengan berbincang pada dokter itu dan mengeluarkan banyak pertanyaan seputar beberapa keluhan yang ia alami selama kehamilan.


Keluhan itu pun baru di dengar Kenan, pasalnya sang istri tidak pernah mengeluh terhadapnya.


“Ya, perubahan hormon progesteron selama masa kehamilan juga dapat menjadi penyebab ibu mengalami sesak nafas,” jawab dokter itu pada Hanin.


Memang selama trimester ketiga, Hanin sering mengalami sesak nafas, apalagi sejak SMA ia juga penderita maag. Di tambah apa yang terjadi hari ini, membuatnya semakin sesak.


“Apalagi kalau asam lambung saya naik, Dok. Itu rasanya semakin sesak,” ucap Hanin lagi, sembari membaringkan tubuhnya.


“Kamu punya sakit maag, Sayang?” tanya Kenan berbisik. Wajahnya tampak serius.


Hanin mengangguk, tanpa ekspresi dan arah matanya kembali tertuju pada monitor yang menunjukkan bayi yang ada dalam perutnya itu.


“Ya, memang jika asam lambung naik, maka dada akan semakin sesak,” ucap wanita paruh baya itu membenarkan.


“Lalu, bagaimana agar istri saya baik-baik saja, Dok?” tanya Kenan khawatir.


Dokter itu tersenyum. “Saya akan resepkan obat.”


Kemudian, Dokter menjelaskan keadaan bayi mereka di dalam sana.


“Bayi kalian sehat. Semuanya lengkap dan berfungsi normal. Detak jantungnya pun bagus. Beratnya juga sesuai standar,” ucap dokter itu sembari menatap monitor.


Arah mata Kenan dan Hanin pun mengikuti arah mata dokter itu.


“Jenis kelaminnya, Dok?” Kenan masih bertanya hal itu, membuat Hanin melirik ke arah sauminya yang juga sedang meliriknya.


Kenan hanya ingin memastikan dan ia melirik ke arah sang istri pun hanya ingin memastikan pertanyaannya tidak menyungging sang istri.


“Masih sama seperti kemarin, Pak,” jawab dokter paruh baya itu.


Kenan hanya mengangguk sembari mengulas senyum tipis di bibirnya. Ia sudah tidak mempermasalahkan hal itu, hanya sekedar bertanya saja.


Usai menjalankan pemeriksaan, Kenan membawa Hanin pulang. Sepanjang perjalanan hingga di dalam mobil, Hanin tak kunjung bersuara. Padahal biasanya Hanin tidak pelit bicara.


“Kamu kenapa? Masih sesak nafas?” tanya Kenan bertubi-tubi sembari melirik ke arah sang istri dengan tetap fokus menyetir.


“Tidak apa.” Hanin menggelengkan kepalanya.


Kenan langsung menggenggam tangan Hanin. “Sayang, aku tidak tahu kamu punya sakit maag. Kamu tidak pernah mengeluh.”


Hanin menoleh ke arah Kenan dan tersenyum. “Tidak apa, By. Itu penyakit biasa yang umum diderita orang.”


“Tapi tetap aku khawatir, Sayang.” Kenan kembali menggenggam tangan itu erat, lalu menciumnya.


“Kamu harus rutin meminum obat yang diresepkan dokter tadi, ya. Aku akan mengingatkan setiap hari,” ucap Kenan tegas.


“Hmm ...” Hanin hanya menjawab dengan deheman.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen. Hanin masih tetap diam. Entah mengapa ia malas untuk melakukan apapun. Ia hanya ingin diam dan sendiri.


Selang beberapa menit, Kenan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di pinggang dan rambut yang basah. Ia kembali melirik ke arah Hanin yang duduk di atas ranjang dengan menyandarkan punggungnya pada dinding ranjang dan mata ke arah televisi. Mata Hanin tak melirik sekalipun ke arahnya. Biasanya, ketika seperti ini, Hanin dengan sigap bangun dari tempat tidur dan membantunya mengeringkan rambut.


Kenan melangkah mendekati Hanin sembari mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil, membuat Hanin akhirnya tak kuasa untuk melirik ke arah itu. Penampilan Kenan saat ini sungguh menganggu hormonnya.


“Masih sakit?” Kenan menangkup wajah Hanin. “Sudah diminum obatnya?”


“Sudah.” Hanin mengangguk.


Ia sengaja tidak menoleh ke arah sang suami karena ia masih marah dan cemburu melihat sang suami bersama wanita itu di rumah sakit tadi. Ia manahan gejolak hormon yang terganggu akibat penampilan Kenan yang bertelanjang dada dan menampilkan perut sixpact itu, ditambah rambutnya yang basah, sungguh menggoda.


Kenan duduk di tepi tempat tidur, persis di samping sang istri.


“Boleh minta tolong keringkan rambutku?”


Kenan menyerahkan handuk kecil itu dan duduk membelakangi Hanin. Ia menggeserkan tubuhnya untuk lebih mendekat pada tubuh sang istri, hingga menempel. Kenan sengaja menggoda sang istri, karena akhir-akhir ini memang Hanin yang mudah tergoda dan dengan ganas menerkamnya.


Hanin pun menerima handuk kecil yang diberikan Kenan dan perlahan menggosok rambut itu. Sekuat tenaga, ia menahan hormon yang menggoda ini. Ia ingin menunjukkan pada Kenan bahwa dirinya pun bisa marah dan dingin.


“Dari tadi kamu diam saja.” Kenan bingung dengan sikap Hanin.


Ia membalikkan tubuhnya dan kembali bertatapan dengan Hanin. “Jika ada masalah katakanlah.”


Hanin menggeleng. “Tidak ada, aku hanya kangen Kak Nida. Kamu sudah lama janji akan menemaniku ke sana, tapi hingga saat ini kita tidak pernah mengunjungi kakakku.”


Hanin mengalihkan yang sebenarnya ada di pikiran wanita itu.


“Maaf, aku masih belum mendapat waktu untuk meninggalkan pekerjaan dalam beberapa hari.”


“Kalau begitu, bagaimana jika aku berangkat sendiri?” tanya Hanin.


Hanin merengut. Ia pasrah pada keputusan Kenan, karena memang pria itu tidak bisa dibantah. Sejujurnya, saat ini ia ingin rehat sejenak. Pergi sendiri dan berjalan-jalan sendiri, seperti sewaktu ia masih sendiri. Karena seperti itulah Hanin, jika hati dan pikirannya terganggu, ia hanya ingin menenangkannya dengan berjalan-jalan kemana pun sendiri.


Hanin hendak bangkit dan menurunkan kakinya ke lantai. Namun, Kenan menahannya.


“Mau kemana?” tanya Kenan.


“Mengambilkanmu pakaian dan menyiapkan makan malam,” jawab Hanin dingin.


Kenan tersenyum. “Istirahatlah. Aku akan mengambilnya sendiri dan aku akan membuatkan makanan untuk kita.”


Kenan berdiri dan berjalan mendekati lemari besar itu. “Kapan Bi Lasti kembali ke sini?”


“Minggu depan.”


“Oh,” jawab Kenan.


Setelah memakai pakaian, Kenan langsung menuju ke dapur dan menyiapkan makan malam. Selang beberapa menit, pria itu membawa dua piring pasta kesukaan Hanin ke dalam kamar. Ia mencoba menggoda Hanin agar tertawa.


Sungguh, apa yang Kenan lakukan sangat manis dan sebenarnya mampu menepis apa yang ia lihat dan ia dengar tadi. Tapi entah mengapa ia masih tak terima dibohongi, karena ia memang paling tidak suka dengan kebohongan, apalagi dari orang yang sangat ia cintai.


Sepulang dari rumah sakit, ia memilih tetap di kamar. Semua hal dilakukan oleh Kenan. Hanin terus berada di tempat tidur, hanya bangkit sebentar untuk membersihkan diri, lalu kembali lagi ke tempat itu.


Kenan mengangap bahwa istrinya sedang sakit, jadi ia membiarkan Hanin untuk istirahat.

__ADS_1


Malam semakin larut, Kenan menoleh ke arah sang istri yang sudah terlelap dengan posisi memunggungi. Padahal di sana, Hanin masih terjaga, ia hanya mencoba memejamkan mata.


Kenan ikut berbaring di sebelah Hanin. Ia menempelkan tubuhnya pada tubuh sang istri. Seperti malam-malam sebelumnya, biasanya Kenan akan meminta jatah. Namun, melihat sang istri yang sedang sakit, Kenan hanya memeluknya erat dari belakang dan menciumi leher serta bahu Hanin saja.


Gerakan Kenan yang tidak bisa diam, membuat Hanin semakin tak bisa memejamkan matanya. Alih-alih ingin mendiamkan sang suami, kini justru dirinya malah menikmati sentuhan bibir Kenan pada tubuhnya.


“Kamu menginginkannya, By?” tanya Hanin, membuat gerakan Kenan terhenti.


Ia pun bisa merasakan milik sang suami yang terasa mengganjal pada bagian belakang tubuhnya.


“Kenapa bangun?” Kenan malah balik bertanya.


“Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu tidak bisa diam,” jawab Hanin ketus sembari membalikkan tubuhnya.


“Maaf.” Kenan menarik tubuh Hanin untuk dipeluk. “Tubuhmu selalu menggodaku, Sayang. tapi aku bisa tahan, karena kamu sedang sakit. Jadi istirahatlah!”


Hanin menatap wajah Kenan yang sendu, ssejujurnya ia kasihan melihat suaminya, tapi ia masih kesal. Hanin menarik mafasnya kasar dan tertidur di dada itu. Bolehkah kali ini ia egois?


****


Pagi harinya, Hanin masih dingin. Bibirnya merapat, tak ada senyum dan hanya ada suara seperlunya yang keluar dari bibir itu. Kenan bertanya berkali-kali ada apa? Namun, Hanin selalu menjawab ‘tidak ada’.


Kenan bingung dengan sikap Hanin. Ia tak menyadari bahwa di rumah sakit itu, Hanin melihatnya bersama Misya. Mendengar separuh percakapan mereka dan melihat Kenan yang dengan perhatian mengelus tangan Misya yang terluka.


“Hari ini kamu mau kemana?’ tanya Kenan, saat mereka menikmati sarapan di meja makan.


“Tidak ada, aku masih ingin istirahat di rumah,” jawab Hanin santai dengan tetap fokus pada makanannya.


Kenan melihat gerakan sang istri yang berada di depannya. “Kalau kamu bosan, datanglah ke kantor. Sepulang dari sana, kita jalan-jalan.”


Hanin mengangkat kepalanya dan menatap sang suami. Ia sedikit mengulas senyum. “Tidak usah, aku masih ingin istirahat.”


“Dadamu masih sesak?” tanya Kenan.


“Sudah tidak terlalu, tapi masih sedikit lemas.”


Kenan bangkit dari kursi itu dan mendekati Hanin. “Kalau tidak ada pertemuan penting hari ini, aku pasti akan di sini menjagamu.”


“Tidak apa, By. Kamu berangkat saja, aku akan baik-baik saja nanti.”


“Obatnya sudah di minum?” tanya Kenan dan langsung di angguki Hanin.


Akhirnya, dengan berat hati Kenan meninggalkan sang istri sendiri di dalam apartemen ini. berkali-kali ia mengecup wajah dan kening Hanin. Ia khwatir dengan keadaan sang istri, walau kata dokter hal ini biasa, tapi ia tetap khawatir.


“Kalau ada apa-apa telepon aku,” ucap Kenan sebelum ia benar-benar meninggalkan istrinya.


“Iya.” Hanin mengangguk, hingga akhirnya Kenan berjalan keluar dan Hanin kembali menutup pintu itu.


Tiga puluh menit, Hanin menonton televisi setelah keberangkatan suaminya. Ia mulai bosan. Akhirnya ia putuskan untuk datang ke rumah Rasti, karena di sana ada Kayla yang bisa menghibur hatinya saat ini. Keluarga Kenan sudah seperti keluarganya sendiri, apalagi saat ini Rasti tidak lagi menyinggung tentang jenis kelamin bayi yang ia kandung. Rasti lebih berhati-hati dalam bicara dan Kiara sudah seperti teman baginya.


Hanin menaiki taksi online. Ia tidak ingin merepotkan supir Rasti atau supir kantor Kenan untuk menjemputnya. Setengah jam perjalanan, akhirnya Hanin sampai di depan gerbang kediaman Aditama.


Dari depan gerbang itu tampak mobil H*nda J*zz merah yang Hanin yakini adalah mobil milik Misya. Mobil itu terparkir bersebelahan dengan mobil sedan keluaran eropa berwarna hitam yang sangat ia kenal yang merupakan milik Kenan.


Hanin semakin berspekulasi negatif. Otaknya timbul hal-hal buruk tentang suaminya. Ia mengira Kenan memang sering melakukan ini di belakangnya, bertemu dengan Misya diam-diam di rumah ini sebelum ke kantor. Apalagi Hanin merasa Misya sangat dekat dengan Rasti. Hatinya kembali sakit, padahal semalam hati itu sudah sedikit sembuh dengan perlakuan Kenan yang manis.

__ADS_1


“Jalan lagi, Pak!” pinta Hanin pada supir online itu.


Hanin mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil yang ia tumpangi, apalagi memasuki rumah itu. Ia benar-benar ingin sendiri. Saat ini, ia butuh untuk sendiri.


__ADS_2