
Semua orang menunggu Gunawan di ruang instalasi gawat darurat. Hanin menemani Kiara dan duduk di kursi tunggu yang berada persis di depan kamar tempat Gunawan diberi tindakan oleh medis. Sementara, Kenan dan Vicky berdiri di depan pintu itu.
Tap ... Tap ....
Suara sepatu Rasti terdengan berlari ke arah mereka. suara itu semakin terdengar saat Rasti semakin mendekati ruangan itu.
“Kiara,” panggil Rasti.
Kedua tangan Kiara langsung terbentang untuk menerima pelukan dari sang ibu.
“Kiara.” Rasti memeluk tubuh sang putri dengan erat.
“Mas, Gun. Mam. Mas Gun,” ucap Kiara terbata-bata.
“Sabar, Ra. Semua akan baik-baik saja. Percayalah.” Rasti mengelus punggung rapuh sang putri.
Lalu, menghampiri Kenan. Di sana, Kenan berdiri bersama sang ibu dan asistennya. Kenan pun akhirnya menceritakan permasalahan ini kepada sang ibu. Kenan menceritakan semua hal yang terjadi sebelum dan sesudah kejadian ini.
“Jadi ini semua karena rivalmu itu?” tanya Rasti.
Kenan mengangguk. “Mami juga harus hati-hati. Saat ini Ken memiliki musuh.”
Rasti menarik nafasnya dalam. Sungguh, ia tidak menyangka bahwa sang putra memiliki permasalahan yang tidak ringan. Namun, betapa bertanggung jawabnya Kenan, yang menelan masalah ini sendiri dan menyelesaikannya sendiri. Bahkan ia tidak pernah tau apa yang terjadi pada putranya.
“Kamu yang harus hati-hati, Ken. Jaga Hanin!” Rasti melirik ke arah Hanin yang sedang duduk di samping Kiara dan tengah memeluk adik iparnya itu.
Kenan mengangguk. “Tentu, Mam. Kenan juga tidak akan tinggal diam. Orang itu akan mendapatkan balasan yang setimpal.”
__ADS_1
Selang beberapa jam berlalu, akhirnya pintu itu pun terbuka, membuat seua orang berjalan menuju pintu yang terbuka itu. Kiara pun berdiri di bantu dengan Hanin ikut mendekati pria yang menggunakan jas putih itu berdiri.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Kenan.
“Pasien masih belum sadarkan diri. Benturan di kepalanya sangat keras, sehingga mengalami pendarahan di otak. Saya tidak dapat memastikan kapan dia akan bangun. Namun, alat-alat ini akan membantunya untuk bertahan.” Dokter itu melihat ke arah Gunawan.
“Untuk selanjutnya, kami akan melakukan pemeriksaan radioliogi dan pemeriksaan saraf. Untuk memastikan sejauh cedera kepala yang dialami pasien. Kemi juga akan melakukan pemeriksaan GCS untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien,” kata dokter itu lagi.
Kenan menepuk pundak pria berjas putih itu. “Lakukan yang terbaik, Dok.”
“Baik, Pak Kenan.” Dokter itu pun mengangguk.
“Mas Gun,” teriak Kiara histeris. Ia melihat dari ambang pintu, keadaan Gun yang tubuhnya banyak dipasang alat-alat bantu.
“Sabar, Ra.” Kenan memeluk adiknya.
Kiara meraung-raung. “Maafin aku, Mas.”
“Kiara, Mami mohon jangan seperti ini! berdoalah!” bentak Rasti pada putrinya.
“Ya, benar. Berdoalah!” ucap dokter itu. “Semoga akan ada keajaiban dan suami ibu bisa bangun kembali.”
“Mas Gun,” ucapan Kiara semakin lirih, hingga akhirnya tubuhnya pun tumbang.
Kiara pingsan dan harus masuk ke ruang perawatan. Detak nadinya tidak stabil. Keadaan mentalnya yang sedikit terganggu, karena kejadian itu, hingga Kiara harus mendapatkan perawatan intensif. Hanin dan Rasti selalu menemani Kiara bergantian. Sedangkan Kenan dan Vicky menjenguk setiap malam, setelah mereka pulang dari kantor.
Satu minggu kemudian, Rical Kenan pun akhirnya di bui, karena bukti-bukti yang Vicky berikan sangat kuat untuk menjebloskannya ke penjara. Pria paruh baya itu di penjara dengan beberpa pejabat yang terlibat. Hal itu membuat Kenan tenang dan dapat fokus pada keluarganya. Namun, ia puntetap berhati-hati dan tidak ingin kecolongan lagi.
__ADS_1
Kenan berjongkok di depan Hanin yang tengah tertidur duduk, persis di samping tempat tidur yang Kiara tempati.
Kenan mengusap wajah lelah sang istri. Hanin pun sedang mengandung. Namun, wanita itu tak mengeluh mengurus Kiara. Ia tak pernah menolak jika dimintai tolong bergantian menjaga Kiara. Untung saja, mual-mual yang semula di alami Kenan sedikit berkurang.
Kenan mengangkat tubuh Hanin ala bridal dan memindahkannya ke sofa. Perlahan, ia membaringkan tubuh itu dengan pelan. Namun, pergerakan itu tetap mengusik sang istri.
“Hmm ...” lenguh Hanin dengan mata yang masih terpejam.
“Ssssttt ... tidur lagi ya!” Kenan mengelus kening Hanin, agar sang istri tetap tertidur.
Bukan kembali tertidur, justru Hanin membuka matanya.
“Kamu sudah pulang?” tanya Hanin dengan mata yang terbuka separuh.
Kenan mengangguk dan tersenyum. Tangannya terus mengelus rambut sang istri.
“Sudah makan?” tanya Hanin.
“Sudah.” Kenan mengangguk lagi. “Jangan pikirkan aku! Sekarang tidurlah, kamu pun lelah.” Kenan mengecup kening Hanin. lalu, ia mengusap lagi kening itu hingga Hanin kembali terlelap.
Kenan meninggalkan ruangan itu, setelah memastikan kedua wanita yang ia cintai di sana tengah tertidur pulas.
Kemudian, ia beralih ke ruangan Gunawan. Ia menatap Gun yang tengah berbaring di dalam sana. Ia menatap tubuh sahabatnya yang tergulai lemah dengan di bantu alat medis yang menempel di bagian-bagian tubuhnya yang vital.
Kenan sedih. Ia merasa bersalah atas apa yang ia lakukan terhadap Gun. Walau ia kesal karena pria itu telah memperlakukan adiknya dengan buruk saat beberapa tahun di awal pernikahan sang adik. Namun, ia pun bukan orang baik karena telah mengambil paksa wanita yang pernah sahabatnya itu cintai.
“Sorry, Gun. Maaf gue selalu membenci lu selama ini. Terima kasih atas pengorbanan yang telah lu lakuin buat Kiara. Gue janji, kalau lu bangun. Hubungan kita akan semakin baik. Gue bakal ngakuin lu sebagai adik ipar gue,” gumam Kenan lirih sembari menarik nafasnya kasar.
__ADS_1
Lalu Kenan berjalan kembali menuju kamar Kiara.