
Tut... Tut... Tut...
Kenan menelepon Vicky. Namun, tak kunjung di angkat. Ini adalah panggilan ke lima belas Kenan untuk sang asisten. Vicky sengaja menghindar dari bosnya dengan alasan bertemu dengan klien dari perusahaan kecil yang memang sejak awal menjadi pegangannya.
Kenan dan Vicky memang partner kerja yang solid. Mereka selalu berbagi tugas dengan kemampuan masing-masing. Jika menjalin kerjasama dengan investor baru, mereka akan jalan bersama, tetapi untuk pertemuan dengan perusahaan yang memang sudah bekerjasama bertahun-tahun, mereka berbagi tugas. Vicky menjalin hubungan dengan perusahaan-perusahaan yang tidak besar, ia pun biasanya akan bertemu sendiri tanpa Kenan. Sedangkan Kenan, menjalin hubungan dengan perusahaan-perusahaan yang besar dan ia pun akan bertemu sendiri tanpa Vicky. Kenan akui, perusahaanya yang sudah semakin besar ini pun atas dedikasi Vicky.
Malam semakin larut. Hari ini praktis Kenan hanya bertemu vicky satu kali. Ia tak sabar ingin mendengar laporan dari mulut asistennya itu. Kenan kembali meletakkan ponselnya dan berdiri. Ia akan menyambangi flat Vicky yang terletak di lantai 20.
Kenan melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari kamar. Saat membuka pintu itu, ia terkejut melihat sosok sang kekasih yang tengah berdiri di depannya.
“Vanesa.”
“Baru aku mau tekan pascode. Eh, pintunya sudah terbuka,” seru Vanesa dengan senyum mengembang.
Kenan pun tersenyum paksa, memang sudah cukup lama ia tidak menemui wanita ini dan praktis sejak kehadiran Hanin, wanita ini sudah tak lagi ada di hati dan pikiran Kenan.
“Hei kok bengong.” Vanesa melambaikan tangannya di depan wajah Kenan.
“Kamu ngapain malam-malam kesini?” tanya Kenan.
“Kamu juga ngapain malam-malam keluar?” Vanesa balik bertanya.
“Aku mau ke lantai 20, mau ketemu Vicky.”
“Kamu tuh ya, kerjaaaan terus. Udah sampe apartemen aja masih nyariin Vicky. Udah istirahat aja dulu, Ken.” Vanesa mendorong dada Kenan untuk kembali masuk.
“Tapi ini penting, Van.” Lirih Kenan.
“Terus aja, Nan. Terus pentingin kerjaan kamu dari pada aku. Aku bingung sebenarnya aku tuh kamu anggap apa?” Vanesa mulai terisak. Dadanya sesak, ia sadar bahwa akhir-akhir ini Kenan sudah mulai mengabaikannya.
Bahkan di hotel waktu itu, Vanesa sudah memesan kamar dan menunggu kekasihnya bertemu klien. Namun setelah itu, Kenan malah pergi.
Kenan menutup kembali pintu itu. Ia tak jadi menemui Vicky dan memilih merangkul Vanesa.
“Kok kamu nangis sih?” tanya Kenan mencoba menenangkan wanita yang masih berstatus tunangannya itu.
“Aku sedih, Nan. Semakin hari kamu semakin jauh dariku.”
__ADS_1
Kenan merangkul Vanesa dan mendudukkannya di sofa. “Itu perasaan kamu aja.”
Vanesa menggeleng. “Kamu terlalu sibuk, Nan.”
“Aku memang sibuk, Van,” jawab Kenan.
“Tapi aku bingung alasan apalagi jika Mami dan daddyku bertanya tentang kamu.” Vanesa masih terisak.
“Ya udah besok malam, aku akan makan malam di rumahmu.”
“Kamu janji terus, Nan. Tapi ngga ada yang di tepati.” Rengek Vanesa.
“Maaf, Van.” Kenan tak pernah memanggil Vanesa dengan sebutan sayang satu kali pun selama mereka berpcaran hingga tunangan.
“Ya udah, aku buatin minum dulu ya.” Kenan berdiri dan hendak meninggalkan Vanesa yang duduk di sofa tamu.
Vanesa dengan cepat menggenggam tangan Kenan. “Nan.” Mata Vanesa menatap tepat ke ekdua bola mata tunangannya itu.
“Apa?”
“Apa maksudmu, Van? Sudahlah, aku buatkan minum untukmu dulu.” Kenan melepaskan genggaman yang tadi di pegang erat oleh Vanesa. Ia pun beralih ke dapur untuk membuatkan jeruk hangat madu kesukaan Vanesa.
Vanesa ikut melangkahkan kakinya ke dapur. Ia melihat Kenan sedang membuatkan minum dan membelakanginya. Tib-tiba Vanesa memeluk Kenan dari belakang. ia menempelkan kepalanya pada punggung kekar kenan.
“Nan, jangan tinggalin aku! Aku sangat mencintaimu.”
Deg
Jantung Kenan seperti berhenti sepersekian detik. Baru saja otaknya mencoba merangkai kata-kata yang bisa Vanesa terima ketika Kenan memutuskan hubungannya ini.
“Nan, aku tidak bisa hidup tanpamu.” Vanesa kembali menangis.
Kenan memutar tubuhnya dan mengusap air mata yang jatuh di pipi Vanesa. “Hei, kau tidak pernah menangis, kecuali pada saat kamu kehilangan keperawananmu.”
Kenan ingat betul pertama kali melihat Vanesa menangis, saat wanita itu pertama kali kehilangan keperawanannya sewaktu SMA oleh pacar pertamanya. Kala itu, Kenan dan Vanesa masih bersahabat.
Vanesa tertawa kecil dan memukul dada Kenan sembari mengusap air matanya. “Ish, kamu nyebelin.”
__ADS_1
Kenan dan Vanesa memang berteman sejak kecil. Kedua orang tua yang saling bersahabat dan sering bertemu di kala libur, membuat anak-anak mereka pun bersahabat dan dekat. Vanesa menjadikan Kenan tempat curhatnya, walau hanya melalui telepon dan terkadang Vanessa mendatangi rumah Rasti. Kedekatan mereka pun semakin terjalin ketika berada di Universitas yang sama. Vanesa semakin menyukai Kenan karena pria itu tidak pernah bilang tidak jika dimintai pertolongan. Hingga satu waktu Vanesa menyatakan cintanya pada Kenan dan Kenan pun mengiyakan karena pada saat itu Kenan belum menemukan wanita yang membuatnya dekat melebihi kedekatannya dengan Vanesa.
Kenan menyerahkan gelas yang berisi air hangat dengan perasan jeruk lemon dan satu sendok madu itu pada Vanesa. “Minumlah!”
Vanesa menerima gelas itu dan meminumnya. Sedangkan Kenan menatap wajah Vanesa. Namun, yang terlihat di sana adalah wajah Hanin. Ia seolah melihat Hanin yang tengah minum di depannya, sama seperti pada saat Hanin sakit dan ia menyuapinya. Hanin meminum minuman yang ia berikan hingga kandas dan tersenyum ke arahnya dengan manis, hingga Kenan pun tersenyum.
Namun, Kenan lupa bahwa saat ini ia tengah tersenyum di depan Vanesa, bukan Hanin.
“Nan, jeruk madu buatanmu memang paling enak,” kata Vanesa tersenyum membalas senyum Kenan padanya, walau sebenarnya Kenan tersenyum dengan bayangan wajah Hanin di otaknya.
“Nan.” Vanesa kembali melambaikan tangannya ke wajah Kenan.
Seketika, Kenan pun tersadar. “Eh sorry.”
“Apa yang kamu pikirkan? Pekerjaan?” tanya Vanesa lesu.
“Hmm ... maaf, Van.” Kenan berjalan meninggalkan Vanesa menuju kamarnya. Ia kembali membuka jaket hoodie yang semula ia pakai untuk keluar menuju flat Vicky.
Vanesa membantu Kenan melepaskan jaketnya. “Kamu sudah mandi?”
Kenan mengangguk. “Aku istirahat duluan.”
Ia membuka celana panjangnya dan langsung membaringkan diri di atas tempat tidur.
Kenan tahu, pasti Vanesa akan menginap dan tidur bersamanya.
“Aku kira kamu ingin mandi bersamaku, Nan.”
Kenan menggeleng. “Sudah malam, Van.”
Vanesa menghela nafasnya kasar. Ini bukan kali pertama mendapat penolakan dari kekasihnya itu. Vanesa pun beralih ke kamar mandi sendiri. Setelah berendam sebentar, ia memakai lingeri paling sexy yang hanya menutupi bagian vitalnya. Lalu, ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Kenan dan memeluk tubuh pria itu dari belakang.
Kenan yang belum bisa memejamkan mata itu pun, merasakan tangan wanita yang melingkar di pinggangnya.
“Maaf, Van. Aku mencintai wanita lain dan wanita itu sekarang sudah menjadi istriku,” kata Kenan dalam hati.
Kenan memejamkan mata dan menarik nafasnya kasar. Ia kembali berkata pada dirinya sendiri, “dimana kamu sekarang, Hanin?”
__ADS_1