
Hari berganti. Akhirnya, Hanin diperbolehkan pulang. Kenan tak meninggalkan sang istri selama di dalam perawatan rumah sakit itu. Walau pekerjaannya banyak. Namun, sebisa mungkin ia tak meninggalkan istrinya sendiri di sini.
“Sayang,” panggil Hanin pada suaminya.
Mereka duduk berdua di kursi penumpang belakang, sedangkan kali ini yang mengemudi mobil itu adalah Hansel. Semula, Riza sudah manawarkan diri, tetapi mendadak ia harus mengurus beberapa pekerjaan penting dan Kenan pun tidak masalah, karena pekerjaan yang Riza lakukan pun untuk menggantika keberadaannya di sana.
“Ya.” Kenan menoleh ke arah sang istri dengan tangan yang tetap menggenggam tangan Hanin.
Hanin tersenyum manis. “Terima kasih, ya.”
“Untuk apa?” tanya Kenan dengan sedikit menunduk, karena Hanin berada di bahunya.
“Untuk semuanya. Untuk waktumu yang tidak absen menemaniku di rumah sakit dan untuk kebesaran hatimu yang memaafkan Vanesa dan mempermudah mereka menikah.”
Kenan mengalihkan pandangan ke depan. “Sebenarnya itu tidak gratis.”
Hanin mengeryitkan dahi.
“Maksudnya?”
“Kamu ingat ketika aku akan menghukum orang-orang yang membuat kamu dan anakku hampir celaka?”
Hanin menggeleng.
“Kamu lupa? Kamu kan bilang kalau kamu akan menggantikan hukuman untuk mereka.”
Hanin tertawa dan menutup tawanya dengan bahu Kenan. “Ya ampun, Ken. kamu inget aja sih.”
“Kalau itu tidak akan lupa.” Kenan menatap wajah Hanin dengan senyum menyeringai.
“Nyebelin.” Hanin memukul pelan dagu Kenan dengan tawa gemas.
Kenan pun ikut tertawa. Sedangkan Hansel, lagi-lagi hanya bisa menjadi penonton dari adegan romantis antara bos dan istrinya.
Hansel melirik Kenan dan Hanin bergantian melalui kaca spion dalam. Namun, Kenan menangkap tatapan Hansel yang masih tertuju pada Hanin.
“Focus,” ucap Kenan pada Hansel sembari memukul pelan kursi mengemudi itu.
“Ken.” Hanin memeringati suaminya agar tidak bersikap seperti itu pada Hansel.
“Sorry, Sir.” Hansel kembali fokus menyetir.
****
“Ra, kapan kakakmu pulang? Kok mereka ga da kabarnya ya?’ tanya Rasti pada Kiara.
“Bukannya mereka pulang besok, Mam. Kakak kan pergi hanya tiga hari. Mungkin nanti malam mereka berangkat,” jawab Kiara.
__ADS_1
“Semua persiapan pernikahan kakak sudah siap, Mam? Minggu depan loh acaranya.”
Rasti mengangguk. “Sudah. undangan juga sudah Mami bagikan.”
“Termasuk ke Daddy James dan Mommy Alin?” tanya Kiara.
Rasti mengangguk. “Walau pun Alin menerima undangan itu tanpa kata. Tapi Mami tetap ingin menjalin hubungan baik kepada mereka.”
Kiara ikut mengangguk dan menarik nafasnya kasar. “Memang, mencari musuh gampang, tapi mencari saudara itu susah.”
“Yah, begitulah. Makanya, kamu dan kakakmu harus selalu rukun, karena setiap yang terjadi pada diri kita, yang terdepan adalah keluarga.” Rasti menepuk pundak putrinya.
Kiara kembali mengangguk. “Benar sekali, Mam. Kak Kenan selalu ada untuk Kiara dalam hal apapun. Dia adalah kakak paling the best sedunia.”
“Bahkan dia membantu lagi perusahaan Gunawan yang saat ini sedang tidak baik.”
“Mami tahu itu?” tanya Kiara tak percaya sembari menoleh ke arah sang ibu.
Seperti biasa, ketika pagi menjelang siang dan Gunawan sudah berangkat bekerja. Rasti bersama sang putri menghabiskan waktu di teras taman belakang sembari berbincang atau pun membereskan tanaman dan bunga-bunga di sana.
Rasti mengangguk. “Tentu saja Mami tahu. Bahkan investornya itu pun Mami kenal.”
“Oh ya?” Kiara terkejut karena dirinya saja tidak tahu siapa investor yang berbaik hati menyelamatkan perusahaan sang suami dengan mendanakan uangnya yang cukup besar di tempat itu.
Di kantor, Gunawan masih teringat pertemuannya dengan wanita di toko bayi itu. laliu, ia berusaha untuk menepiskan wajah wanita itu, karena fokusnya saat ini adalah Kiara dan bayi yang berada dalam perut sang istri. ia sudah bertekad tidak akan bermain-main lagi. Sudah cukup, usianya sudah sangat matang dan kini waktunya ia hidup normal.
Gunawan teringat lagi, bahwa kemarin ia tidak jadi membeli perlengkapan bayi. Ia pun mengambil ponsel dan menekan nomor Kiara untuk mengajak makan malam di luar dan berjalan-jalan membeli perlengkapan bayi. Kebetulan hari ini ia hanya ada jadwal bertemu investor dari Australia itu siang hari, lalu selebihnya kosong. Ia bisa pulang cepat dan mengajak sang istri jalan-jalan berdua.
Dret ... Dret ... Dret ...
Ponsel Kiara berbunyi.
“Ra, ponselmu berdering,” ucap Rastti menunjuk benda yang tergeletak di meja itu.
“Oh, iya.” Kiara bangkit dari kursi dan perlahan merai ponselnya.
“Siapa?” tanya Rasti.
Kiara melihat nama yang tertera di layar itu. “Mas Gun, Mam.”
“Oh, Mami kira Kenan,” kata rasti lesu, karena ia menanti kabar dari putra dan menantunya itu.
“Sebentar ya, Mam.” Kiara berjalan menjauh dari sang ibu, lalu mengangkat panggilan telepon yang melalui video call itu.
“Iya, Mas.”
Terlihat di layar ponsel Gunawan, wajah Kiara yang semakin cantik.
__ADS_1
Gunawan tersenyum.
“Ada apa, Mas?” tanya Kiara lagi, karena Gunawan tidak bicara dan hanya tersenyum saja.
“Kamu lagi apa?” untuk pertama kalinya Gunawwan bertanya pada Kiara dengan pertanyaan yang seperti ini.
“Aku?” tanya Kiara tak percaya.
“Iya, kamu. Masa iya aku tanya Mami lagi ngapain,” jawab Gunawan mengajak sang istri bercanda.
Kiara tersenyum bingung. “Ngga lagi ngapa-ngapain, lagi ngobrol aja sama Mami. Memang ada apa?”
“Memang kalau aku ingin telepon kamu, harus ada keperluan ya?” tanya Gunawan.
“Ya, bukannya memang seperti itu. Kamu kan memang tidak pernah menelpon kalau tidak ada keperluan.”
Sontak Gunawan terdiam.
“Nanti sore, aku ingin mengajakmu makan malam di luar, sekalian ke baby shop lagi, karena kemarin kita tidak jadi membeli perlengkapan bayi.”
Kiara menunduk, menggesekkan kakinya pada lantai. Ia bingung ingin menjawab apa, karena ia khawatir akan terlena dengan sikap manis sang suami. Ia takut Gunawan akan berubah sikap lagi setelah membuatnya merasa disayang.
"Iya, Mas." Kiara mengangguk dan setuju dengan permintaan sang suami.
Gunawan tersenyum. "Kalau begitu, jam empat aku jemput."
Kiara kembali mengangguk. "Ya."
Beberapa detik, mereka sama-sama terdiam, hingga Gunawan kembali bersuara.
"Ra," panggil Gunawan.
Kiara menengadahkan kepalanya, menatap ke arah layar ponsel itu, karena semula ia masih memainkan kaki yang terjuntai ke lantai sembari menggeser-geserkan kakinya di sana.
"Apa?"
Terlihat wajah cantik itu di layar ponsel Gunawan.
"Boleh aku meminta senyum manismu lagi, sebelum aku menutup telepon ini."
Sontak, Kiara tersenyum, menampilkan senyum manis malu malu di layar berukuran 6,1 inci dengan gambar apel bekas gigitan separuh di belakang benda itu. Ini adalah kali pertama Gunawan menggombal.
Gunawan pun tersenyum melihat ekspresi sang istri. "Ternyata, kamu cantik, Ra."
Kiara menggigit bibirnya dan jadi salah tingkah. "Apaan sih."
Gunawan tertawa. Mereka persis seperti abege yang sedang berpacaran.
__ADS_1