Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Menyukai bukan berarti mencintai


__ADS_3

Hari semakin gelap, Kenan sudah kembali ke rumah sejak sore hari, tetapi ia kembali ke ruang kerja untuk meneruskan pekerjaan yang sedikit belum terselesaikan. Setiap hari kerja, Kenan selalu pulang tepat waktu. Pukul empat sore, biasanya ia sudah berada di apartemen ini. Walau sekarang Hanin tidak sendirian di apartemen ini ketika ditinggal Kenan bekerja. Namun, tetap saja ia tidak bisa berlama-lama meninggalkan sang istri.


Setelah kejadian itu, Kenan meminta pada sang ibu untuk mengikhaskan Lastri, pelayan yang bekerja di rumahnya untuk di bawa ke apartemen, agar ketika ia ke kantor, di sini Hanin tidak sendirian, sekaligus untuk menjaga sang istri, karena baginya kehilangan Hanin waktu itu adalah untuk pertama dan terakhir.


“Hubby.”


Hanin membuka pintu kamarnya dan membawa satu piring kecil yang berisikan kue hasil kreasinya tadi sore, tepat ketika Kenan pulang dan tak lama kemudian kembali bekerja di ruang kerjanya.


“Ini hasil kreasimu tadi?” tanya Kenan.


Hanin mengangguk dan duduk di sofa persis di samping sang suami. Kenan tengah bersantai sambil menonton tivi dan menikmati teh hangat bautan Hanin.


Kenan menerima piring kecil itu dari tangan Hanin.


“Cobain ya, By. Enak apa ngga?” tanya Hanin tersenyum ke arah suaminya.


Kenan menatap pupil Hanin yang bersinar menant jawaban darinya. Ia pun tersenyum, karena Haanin memang selalu membuatnya gemas.


“Semua yang ada di dirimu enak, Sayang,” jawab Kenan sebelum ia memakan kue yang Hanin buat.


“Hmm ... ngga, pokoknya cobain dulu. Ayo!”


Kenan tersenyum dan menyuapkan makanan itu ke mulut.


“Eum ... Mamami lezatos,” ucap Kenan dengan membuat lingkaran pada ibu jari dan telunjuknya ke atas.


Sontak Hanin mendorong pelan dada Kenan. “Apaan sih, udah kaya iklan aja.”


“Beneran, Sayang. Ini enak banget.” Kenan anusias menyuapkan lagi kue itu ke mulutnya.


‘Beneran?” tanya Hanin dengan mata berbinar.


“Eum ... bwener, Sayang,” jawab Kenan dengan makanan yang masih memenuhi mulutnya.


Hanin tertawa. Ternyata ia berhasil membuat kue itu.


“Apa nama kue ini?” tanya Kenan setelah m ulutnya sudah tak lagi penuh.


“Red velvet cake.”


“Oh. Aku pernah memakan kue ini, tapi tidak seenak ini, sumpah!” kenan menaikkan dua jarinya ke atas.


“Ish, kamu tuh bisa banget gombalnya sih.” Hanin terus mengembang senyum.

__ADS_1


“Mungkin kalau ini lebih enak karena kamu membuatnya dengan cinta. Iya kan?” Kenan mencubit pipi Hanin yang sedikit chubby.


“Iya, deh. Ini dibuatnya bukan dengan cinta lagi, tapi dengan *******.”


“Ih, udah mulai mesum ya. Nakal!”


Kini Kenan mencubit kedua pipi Hanin hingga wajah itu bergoyang ke kanan dan kiri. Kenan sudah meletakkan piring kecil itu, karena semua kue yang ada di sana tadi telah pindah ke dalam perutnya.


“Karena udah berani nakal, jadi sepertinya kamu harus kena hukuman dulu.” Kenan mulai mendekati tubuh sang istri, hingga Hanin mundur dan terpojok oleh ujung penyangga sofa.


Tubuh Hanin kini menjadi terbaring di atas sofa itu.


“Hubby ...” teriak Hanin manja, menahan dada Kenan yang mulai naik dan menindih tubuhnya.


Namun, Kenan tetap menyangga tubuhnya agar tidak menindih perut Hanin yang bulat.


“Kenapa aku kena hukuman terus?” tanya Hanin kesal.


“Karena kamu nakal.”


“Kan kamu yang ngajarin aku nakal. Sekali-kali aku yang mau hukum kamu,” ucap Hanin.


“Oke, dengan senang hati.” Kenan tersenyum menyeringai dan merebahkan diri seolah pasrah oleh keinginan sang istri terhadap tubuhnya, membuat Hanin tertawa.


“Ish, ken ken jelek. Nyebelin!


Hanin menggigit bibirnya dan tersenyum. Ia mulai merangkak menindih tubuh sang suami dan memulai aksi liarnya.


“Aku menyukai semua yang ada di dirimu, Sayang. kamu benar-benar perempuan spesial yang hadir di hidupku.” Kenan mnarik tengkuk Hanin dan mengecup keningnya, saat sang istri dengan semangat memacu kenikmatan dengan posisi mendominasi.


Namun, posisi seperti ini yang Kenan sukai, karena ia dapat melihat dengan jelas wajah Hanin yang sexy dan diselimuti kabut gairah. Sungguh, ia sangat menyukai istrinya, sangat.


Setelah lama berada di sofa, Kenan bangkit dan menggendong sang istri. Hanin pun sigap dengan melingkarkan kedua kakinya di pinggang Kenan. Perlahan, Kenan membawa sang istri ke ranjang dan merebahkannya di sana dengan keadaan masih dalam penyatuan.


Kini, Kenan yang mengambil alih, karena ia melihat Hanin sudah semakin lelah.


“Sekarang giliranku, Sayang. Nikmati ya!” senyum Kenan.


Hanin ikut tersenyum dan mengangguk. Kini ia pasrah menerima sentuhan yang tidak pernah bisa ia tolak, walau semula sentuhan itu adalah sebuah sentuhan yang melecehkan. Namun, tubuhnya tetap selalu menerima dan menginginkannya lagi.


Setelah hampir dua jam bergelut, akhirnya Kenan melakukan pelepasan. Sedangkan Hanin, jangan ditanya. Ia sudah berkali-kali merasakan itu. tetapi suaminya memang memiliki tenaga kuda, hasratnya berada di luar rata-rata.


“By,” panggil Hanin sembari menoleh ke arah suaminya.

__ADS_1


“Hmm ...”


Kenan yang terlihat lelah setelah melakukan aktifitas yang menguras tenaga itu, tapi tetap menarik tubuh Hanin untuk masuk dalam pelukannya.


“Kamu kuat banget sih,” ucap Hanin yang kini kepalanya sudah berada di dada Kenan.


“Ngga tau. Mungkin karena lawannya kamu.”


“Masa?” tanya Hanin yang pura-pura tak percaya sembari mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Kenan.


Mata Kenan turun untuk membalas tatapan itu. Ia tersenyum dan membelai lembut rambut Hanin yang panjang.


“Beneran. Aku juga ga tau kenapa? Punyaku tidak bisa dijinakkan setiap kali bertemu denganmu. Makanya tanpa pikir panjang dan di luar rencana, aku putuskan untuk menikahimu dengan paksa.”


Hanin tertawa. “Sebegitu cintanya kamu ke aku.” Ia menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, makanya jangan coba-coba kabur.” Kenan mecubit ujung hidung Hanin.


“Asal kamu ga nakal, aku ga bakal kabur.”


“Aku bukan pria nakal,” tukas Kenan.


Ia memang bukan pria nakal, justru Rasti sangat membanggakan putranya karena Kenan memang putra yang bisa di andalkan. Sejak kecil hingga remaja, Kenan selalu berprestasi dan tidak pernah sekalipun membuat Rasti pusing dengab kenakalam remaja pada umumnya. Bahkan Kenan tidak pernah bermain-main dengan yang namanya wanita.


“Kamu sama sekali tidak pernah menyukai perempuan?” tanya Hanin.


Kenan menggeleng. “Tidak pernah.”


“Sama sekali?” tanya Hanin lagi.


“Oh, ya. Pernah.”


“Dengan siapa?” tanya Hanin yang kini wajahnya terlihat serius.


Kenan tersenyum, karena istrinya benar-benar keypoh.


“Dengan kamulah. Siapa lagi?”


Bibir Hanin langsung mengembang. Padahal ia sudah melebarkan telinga untuk mengetahui masa lalu sang suami. Tapi ternyata, hidup Kenan memang lurus-lurus saja.


Hanin langsung mengeratkan pelukannya dan menidurkan kepalanya di dada bidang itu.


“Aku mencintaimu, By.”

__ADS_1


“Aku juga sangat mencintaimu, Sayang.”


Kenan tidak ingin menceritakan bahwa dulu ia pernah menyukai Misya. Karena baginya itu adalah masa lalu dan sekarang tidaklah penting. Lagi pula menyukai itu bukan berarti mencintai bukan? Buktinya ia pun biasa saja saat Misya dinikahi Excel. Ia tetap datang ke pernikahan itu, bahkan menjadi bagian dari panitia yang berdiri menyambut para tamu di acara itu.


__ADS_2