
Kenan menemani sang istri di dapur. Hanin sengaja memasak rawon daging sapi, kesukaan ibu mertuanya. Mereka tengah menyiapkan makan malam, sedangkan Rasti beristirahat di kamar pengantin baru ini, karena apartemen ini memang hanya memiliki satu kamar.
"Ken, kira-kira enak ngga ya? Aku belum pernah buat makanan ini," ucap Hanin, yang mengandalkan youtube untuk memasak makanan kesukaan ibu mertua, menurut sang suami.
Hanin merebus daging dan dengkul sapi, sementara Kenan membantu Hanin mengupas bawang merah.
"Pasti enak," jawab Kenan sembari beberapa kali mengusap matanya yang perih.
Hanin menoleh ke arah Kenan yang berdiri persis di sampingnya. Ia tersenyum melihat kesungguhan sang suami untuk membantunya di dapur. Hanin memeluk Kenan dari samping, kedua lengannya memeluk erat pinggang sang suami.
"Sudah sini, aku saja yang menyiapkan bumbunya. Kasihan, sampe sedih begini," ledek Hanin, sambil mengusap mata Kenan yang berair.
Kenan tersenyum. "Ini bukan pertama kali aku mengusap bawang, Sayang."
Kenan mengambil tangan Hanin dan mengecupnya. "Ketika kuliah di LN, aku sering membuat nasi goreng sendiri. cuma memang setiap kali mengupas bawang, selalu seperti ini."
Hanin menengadah, menatap wajah suaminya. Sungguh, pria yang telah menjadi suaminya ini sangat jauh berbeda dengan Kenan yang pertama kali Hanin kenal.
"Apa?" tanya Kenan, saat menangkap mata Hanin yang tertuju padanya.
Hanin tersenyum. Ia mengingat lagi keromantisan Kenan saat melindungi dirinya yang ingin disakiti.
Hanin menggeleng. "Ngga apa-apa. Emang ga boleh liatin suami sendiri."
"Boleh dong, dipegang, diraba, dicium juga boleh," jawab Kenan santai.
"Ish, itu sih mau kamu." Hanin memukul pelan lengan kekar yang tengah ia sandarkan.
Kenan tertawa dan Hanin melepas pelukan itu. Ia hendak kembali ke depan kompor dan melihat panci yang sedang merebus daging hampir satu jam.
"Loh kok pergi sih, sini peluk aku lagi!" pinta Kenan dengan tatapan jahil ke arah sang istri.
Hanin menggeleng dan tersenyum dengan tetap arah matanya berada ke panci. "Ogah, abis kamu mesum."
"Hmm, ini mah malah minta dimesumin." Kenan meninggalkan bawang merah dan putih yang hendak ia masukkan ke dalam blender untuk dihaluskan.
Lalu, Kenan langsung menghampiri Hanin dan memeluknya dari belakang. Bibirnya mulai menelusuri leher jenjang Hanin yang terbuka karena mencepol rambutnya ke atas.
Hanin mengangkat kepalanya, agar Kenan dapat leluasa mencium dan menggigit lehernya hingga biru keungu-unguan.
"Ken." lenguh Hanin menikmati sensasi saat Kenan memberinya kissmark.
Tangan Kenan pun tak tinggal diam. Kedua tangan itu meremas gunung kembar Hanin yang menegang dan menelusurinya hingga ke bagian sensitif itu.
"Sudah tidak pakai?" tanya Kenan ketika menyentuh milik sang istri yang tak lagi menggunakan pembalut.
"Tidak, aku juga ga tau kenapa cepat sekali, biasanya tidak secepat ini selesainya."
__ADS_1
Kenan tersenyum. "Dia mengerti, kalau pemiliknya sudah rindu."
"Eum ..." rengek Hanin dengan suara manja.
Tanpa meminta persetujuan dari si empunya, Jari kenan menelusup memainkan milik sang istri di bawah sana, sedangkan satu tangannya lagi masih setia meremas bagian bulat di atasnya.
"Aku kangen ini," bisik Kenan dengan suara berat.
Hanin menggigit bibir bawahnya, merasakan geli bercampur nikmat akibat ulah jari Kenan yang nakal.
"Tapi kamar kita di pakai Mami," kata Hanin.
"Kita bisa melakukannya di sofa." Arah mata Kenan menunjuk ke ruang televisi.
"Kalau Mami keluar kamar gimana?" tanya Hanin, ragu dengan ide yang Kenan tawarkan.
"Bukan sekarang, tapi nanti malam setelah Mami tertidur pulas." Kenan kembali menelusuri dan mencium bahu Hanin berkali-kali.
Jari Kenan semakin gencar memainkan milik sang istri hingga tubuh Hanin bergetar.
"Ken ... Eum ... sudah, aku ingin ... Ah."
"Lepaskan saja, Sayang."
Kenan tersenyum. Ia sungguh menyukai ekspresi sang istri yang sedang ingin meledak akibat ulah jari nakalnya itu.
"Ken .... Nggghhh." Hanin menahan erangannya saat tangan Kenan merasakan sesuatu yang hangat membasahi jari.
"Ken, kamu nakal," rengek Hanin dengan tubuh yang lemas.
Kenan menahan pinggang Hanin, agar tubuh wanita itu tak terjatuh. Ia pun melepas jarinya dan membalikkan tubuh itu. Kenan menghimpit tubuh Hanin dengan marmer kitchen set.
"Kamu Banjir, Sayang." Kenan menunjukkan jarinya pada Hanin. "Sepertinya kamu pun rindu sentuhanku."
"Eum .... Ken" Hanin merengek malu dan menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang suami.
Kenan tertawa. Ia memeluk Hanin dan satu tangannya yang kering mengelus rambut lurus berwarna cokelat.
"Hmm .... Aku malu," rengek Hanin dengan nada yang sangat manja.
Kenan terus tertawa. "Tapi aku suka."
Hanin menengadahkan kepalanya untuk manatap wajah Kenan. "Jangan seperti itu lagi."
"Tapi kamu suka kan?" tanya Kenan dengan tetap mengulas senyum.
"Hmm ...." Hanin pura-pura berpikir, padahal ia pun menikmati sentuhan itu.
__ADS_1
Sentuhan jari Kenan yang dulu melecehkannya. Namun, ia tak pernah busa menolak sentuhan itu.
"Diam tandanya suka. Aku akan melakukannya lagi, tanpa meminta izin dari mu." Kenan melonggarkan pelukan dan meninggalkan Hanin untuk mencuci tangan, lalu melihat keadaan ibunya di kamar, karena saat di tinggalkan, Rasti sedang tertidur di dalam sana.
"Ish, Ken Ken .... Jelek," sungut Hanin.
Kenan menoleh ke arah sang istri, setelah sedikit menjauh. "Mau lagi." bibirnya tersenyum licik sembari menunjukkan jari telunjuknya.
"Nyebelin." Hanin mengerucutkan bibir dan menatap tajam ke arah Kenan yang terus meledeknya.
Hanin memang mudah terbuai oleh sentuhan sang suami. Ia pun merutuki itu. Namun, tidak dapat di pungkiri bahwa permainan Kenan sangat melenakan.
Puk
Hanin melempar jeruk nipis ke arah Kenan. Ia kesal dan melihat ada sesuatu yang bisa meluapkan kekesalannya pada pria itu.
"Aww ..." Keluh Kenan saat jeruk nipis yang masih bulat sempurna itu mengenai persis kepalanya.
"Uuuhhh .... maaf." Hanin nyengir, ketika Kenan membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Hanin.
Kenan kembali menghampiri sang istri. Namun, Hanin dengan cepat menghindar. Ia tahu bahwa dirinya sedang dalam bahaya.
"Maaf." Hanin menampilkan jejeran giginya. "Maaf ga sengaja. Sakit ya?"
Kenan mematikan kompor. "Minta dimakan sekarang ya." Ia kembali mengejar sang istri.
Hanin berlari ke meja makan. Mereka pun saling kejar-kejaran berputar di sana.
"Maaf, Ken. ngga sengaja. lagian kamu nyebelin."
"Ngga bisa, kamu harus di hukum sekarang."
"Jangan! Nanti malam aja."
Mereka masih saling kejar mengejar, hingga Hanin melihat Rasti keluar dari kamar.
"Mami ..." Hanin berlari ke arah Rasti dan berlindung di belakang tubuh ibu mertuanya.
"Ada apa sih? kalian kejar-kejaran seperti anak kecil," ucap Rasti.
"Mami, anaknya nakal." rengek Hanin, menunjuk ke arah Kenan.
"Salah sendiri kenapa bangunin macan tidur."
"Sudah-sudah." Rasti menengahkan. "Apa masakannya sudah matang? Mami lapar."
Kenan dan Hanin menggeleng. "Belum."
__ADS_1
Rasti menarik nafasnya dan menggelengkan kepala. Ia melihat kedua insan yang tengah kasmaran ini. Bertengkar kecil, kejar-kejaran, dan bercanda ria, mengingatkannya pada masa ketika ia berada di usia mereka, bersama dengan pujaan hatinya, Kean.