
Rea sampai di depan rumahnya, Ia memasukkan sekuter matiknya ke dalam rumah dan di parkir tepat di teras yang tidak terlalu besar. Rumah yang Rea tinggali bersama kedua adiknya sekarang bukan di sebuah perumahan, melainkan rumah kampung yang antara rumah satu dengan lainya saling berdekatan. Beruntung, Rea memiliki tetangga yang baik dan peduli dengan anak yatim. Tetangga yang tinggal di sebelah rumah Rea untungnya adalah ketua rukun tetangga. Pak RT dan keluarganya sangat baik, apalagi Bu RT, wanita yang usianya baru memasuki empat puluhan itu selalu memberikan makanan padanya, jika selesai memasak.
“Assalamualaikum,” ucap Rea ketika kakinya masu ke dalam rumah.
“Waalaikumusalam,” jawab Thia.
“Eh, Kak Lea wudah wulang.” Nisa berkata dengan mulut yang dipenuhi makanan.
Rea melihat kedua adiknya yang tengah menikmati makanan berlebel restoran yang cukup terkenal.
“Kalian beli makanan ini?” tanya Rea. “Atau dikasih bu RT?”
Thia dan Nisa kompak menggelengkan kepalanya.
“Ini dari Om Vicky,” jawab Nisa lantang setelah makanan yang ada dimulutnya tadi tertelan habis.
Rea mengeryitkan dahinya.
“Kalian kok terima aja sih,” kata Rea tak terima dengan pemberian om mesum itu.
“Sayang, Kak. Kalau tidak mau,” jawab Thia.
“Iya, Kak. Kapan lagi kita makan makanan enak dan gratis.”
Rea menyambar box makanan yang ada di tangan Thia dan Nisa.
“Sejak kapan kalian menjadi matre seperti ini? Huh! Om-om itu ada maunya. Tidak ada orang yang berbuat baik tanpa pamrih. Kalian dengar!” teriak Rea, membuat kedua adiknya terdiam menganga, pasalnya sang kakak tidak pernah semarah ini.
“Om Vicky baik, Kak,” kata Nisa.
“Iya, Kak. Malah kalau boleh Thia memilih. Om Vicky lebih baik di banding Kak Attar.” Entah mengapa Thia mengucapkan hal itu. walau Thia tidak pernah melihat Attar dengan wanita lain. Namun entah mengapa feeling Thia lebih condong pada Vicky dan ketulusannya.
__ADS_1
“Oh, begitu. Baru aja kamu dikasih ini itu sam om mesum itu langsung memihak padanya. Padahal sedari dulu Kak Attar dan keluarganya selalu membantu kita.”
“Bukan begitu, Kak,” jawab Thia lirih. Ia tidak ingin membantah sang kakak.
Nisa masih menatap kotak berwarna putih yang dipegang oleh Rea.
“Kak, boleh ngga Nisa abisin makanannya dulu.”Nisa memandang bungkus makanan itu dengan tatapan memelas.
Rea melihat adiknya dengan wajah tak tega. Lalu, memberikan kembali bungkus makanan itu pada kedua adiknya.
“Ini kali pertama dia memberikan sesuatu. Lain kali jangan kalian terima! Ngerti?”
Thia dan Nisa mengangguk. “iya.” Mereka menjawab bersamaan.
Kemudian, Rea berjalan menuju kamarnya. Hari ini ia merasa lelah. Lelah karena ia melihat sang kekasih bercengkrama dekat dengan wanita yang pernah ia kenalkan sebagai teman kampusnya, juga lelah karena bertemu dengan Vicky yang ia sebut dengan om mesum jelek.
“Kak,” panggil Thia pada sang kakak, sebelum Rea memasuki kamarnya.
Rea pun menoleh.
Rea hanya terdiam dan melanjutkan langkahnya untuk memasuki kamar.
Vicky memang memesan makanan online yang ia tuju pada rumah Rea. Pria itu memang cerdas, sebelum mengambil hati Rea, ia sudah mengambil hati kedua adiknya. Bahkan saat ini kedua adik Rea lebih mendukungnya dibanding Attar yang sudah mereka kenal sejak dulu.
****
Di apartemen, Vicky masih tersenyum kala mengingat kebersamaannya dengan Rea di labuan bajo. Seketika rasa lelah yang ia rasakan sejak semalam menemani bosnya di rumah sakit hilang, ketika mengingat kejadian manis di sana.
#Falshback On#
Vicky sampai di bandara. Ia melihat rombongan travel yang menuju Laboan bajo tengah berdiri di depan pintu terminal 2D. Ia langsung ikut dalam gerombalan itu. arah matanya pun tak henti memperhatikan seorang gadis yang sedang memberi beberapa arahan di depan sana. namun, gadis itu tidak menyadari kehadiran Vicky.
__ADS_1
“Baiklah, saya akan sebut nama pesertaa satu persatu,” ucap gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Rea.
Rea yang bertugas menjadi guide dalam touring ini di temani oleh Adi, pemilik travel itu langssung, yang merupakan teman kuliah Vicky. Adi memang sangat ingin berlibur ke tempat ini juga. oleh karenanya ia memegang langsung tanggung jawab perjalanan kali ini, terlebih karena dalam rombongan ini ada Vicky yang merupakan teman dekatnya itu.
Rea menyebut satu persatu nama orang-orang yang ikut dalam touring ini. Tiba-tiba arah mata Rea menangkap sesosok pria yang masih lekat dalam ingatan, ketika saalah satu peserta yang berdiri tepat di samping Vicky mengacungkan tangannya saat Rea memanggi nama orang itu.
Rea melirik ke arah Vicky yang langsung di sambut dengan senyuman manis dari pria penggoda itu.
“Vicky Prayoga,” panggil Rea lantang, kini nama Vicky yang disebut.
“Hadir.” Vicky mengacungkan tangannya sembari tersenyum menyeringai.
Rea menyadari senyum menyebalkan itu, karena bagi Rea itu adalah senyum peperangan.
Setelah semua nama peserta disebut, mereka berjalan ke dalam bandara. Lalu memasuki bagian boarding pass. Mereka satu persatu berdiri mengantri untuk memeriksakan barang bawaannya,
Tanpa Rea sadari ternyata Vicky berdiri di belakangnya saat mengantri. Vicky sengaja memajukan tubuhnya untuk menyapa gadis aneh itu.
“Hai gadis aneh, kita ketemu lagi,” kata Vicky tepat di belakang telinga Rea.
Sontak Rea menoleh dan menatap Vicky dengan sorot mata yang tajam sembari merenngutkan bibir, seolah Vicky adalah makhluk yang harus dimusnahkan.
“Biasa aja kali liatnya. Nanti suka loh,” kata Vicky menggoda Rea, karena gadis itu memang pantas untuk digoda. Selain cantik, gayanya yang galak membuat Vicky gemas.
“Ngga akan, gue udah punya pacar. Lagian ngapain suka sama om-om. Ngga banget.” Rea menekankan kata-kata terakhirnya.
Vicky tertawa. “Om-om lebih pengalaman, Rea. Kamu akan ketagihan nanti,” bisiknya lagi.
Rea kembali menoleh. Ia kembali menyorotkan tatapan tajam ke arah Vicky dan kembali membalikkan tubuhnya. Rea tidak habis pikir dengan kepala si om itu. sejak pertama kali bertemu, mengapa yanga da di otaknya hanya kemesuman saja? Rea menggelengkan kepalanya.
“Jangan bengong! Ayo maju.” Vicky mendorong b*k*ng Rea saat melihat di depan Rea sudah maju untuk mendapatka giliran memeriksa barang bawaannya.
__ADS_1
Rea kembali menoleh dan melotot ke arah Vicky, lalu mengusap b*k*ngnya, menghapus jejak yang sudah di sentuh oleh om mesum itu.
Rea kesal, baru saja ia bertemu pria itu lagi. Namun, Vicky sudah berani menyentuh tubuhnya. Rea akan mengantisipasi jika Vicky mencoba menyentuhnya lagi, maka ia akan mengeluarkan keahliannya. Vicky tidak tahu, bahwa Rea dahulu pernah ikut olahraga beladiri taekwondo walau hanya sampai pada sabuk biru, dua tingkat sebelum mencapai sabuk hitam.