
Di rumah berbeda, Kiara sudah berkutat di dapur. Pagi-pagi sekali, ia memasak untuk suaminya yang masih tertidur pulas. Ia pun memasak untuk dirinya sendiri, karena selama mengandung, ia mudah lapar.
Selesai memasak dan sarapan, Kiara kembali ke kamar. Ia membersihkan diri. Kiara menoleh ke arah Gunawan yang masih terlelap. Suaminya memang jarang berangkat pagi, untuk menghindari kemacetan.
Kiara keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk yang hanya menutupi dada dan sedikit b*k*ngnya. Bentuk bulat itu pun tercetak jelas. Kiara berdiri di depan lemari besar yang membelakangi ranjang. Ia tak sadar bahwa sang suami sudah terbangun dan duduk sembari menatap lekuk tubuh indah itu dari belakang.
Entah mengapa, kini Gunawan merasa mudah tersulut gairah melihat tubuh itu, padahal dulu ia sangat cuek jika Kiara menggodanya. Gunawan tidak menyadari bahwa sudah ada benih cinta di dalam hatinya untuk sang istri. Cinta yang menimbulkan sebuah hasrat, di tambah kondisi fisik Kiara yang sedang hamil, membuat gairah Gunawan semakin terpacu cepat. Memang ada sebagian pria yang melihat wanita hamil terkesan lebih sexy. Perut Kiara yang membuncit memiliki daya tarik tersendiri untuk Gunawan.
Kiara melepas handuknyadan mulai memakai pakaian dalam. Namun, saat gerakan tangannya tengah ke belakang untuk mengaitkan ikatan bahan yang menutupu dadanya. Gunawan langsung menangkup tangan itu dan melepaskan bahan yang semula ingin Kiara pasang.
“Pagi ini, kamu belum melayaniku,” ucap Gunawan tepat di telinga Kiara.
Kiara menggigit bibir bawahnya, saat sang suami menelusuri punggung dan leher Kiara yang harum seperti bayi, karena akhir-akhir ini Kiara lebih senang menggunakan sabun dan cologne baby membuat Gunawan semakin gemas akan tubuh itu.
Kiara hanya diam.
“Tubuhmu semakin sexy, Ra,” ucap Gunawan lagi dengan suara yang berat.
Kiara pasrah dan hanya memejamkan mata. Ia berdoa agar semuanya cepat selesai. Lalu, Gunawan menggiring Kiara menuju ranjang. Kaki Kiara pun mengikuti kemauan suaminya. Ia hanya pasrah dan yakin, jika semua akan indah pada waktunya.
Kiara melayani hasrat suaminya. Dulu, ia mungkin akan sangat bahagia, jika diperlakukan seperti ini oleh Gunawan. Namun, kini rasa itu tidak sama seperti dulu. Ekspresi Kiara datar dan pasif. Ia melayani hanya semata-mata karena kewajiban seorang istri, bukan karena cinta. Entah kemana cinta itu pergi, mungkin seiring perlakuan buruk yang ia terima dan puncaknya pada sore itu.
“Eum, ternyata kamu semakin nikmat, Ra.” Racau Gunawan sembari terus bergerak mencapai kenikmatannya sendiri.
Kali ini, Gunawan sedikit melakukan penyatuan itu dengan pelan, walau terkadang tanpa sadar ia bergerak dengan cepat sehingga membuat tubuh Kiara terguncang. Gunawan pun menggigit gemas put*ng Kiara yang bulat sempurna.
“Aww .... Ssss ....” Kiara tak tahan untuk tidak menjerit, walau ia berusaha untuk memelankan jeritan itu, ketika Gunawan menggigit dengan keras put*ng Kiara.
Setelah tiga puluh menit, akhirnya Gunawan mengerang mencapai puncak kenikmatan yang sedari tadi ia rengkuh. Hasrat itu pun tertuntaskan. Gunawan langsung menggulingkan tubuhnya di samping Kiara dan Kiara langsung terbangun seolah ia tak merasakan lelah dan sakit, akibat pergulatan itu.
__ADS_1
Kiara bergegas ke kamar mandi. Perutnya pun terasa mual, padahal pada masa trimester pertama, ia tak mengalami morning sickness, mula-mual, atau ngidam.
Gunawan hanya menatap sang istri yang berlalu melewatinya. Ia masih berbaring merasakan tubuhnya yang lelah karena aktifitas panas itu.
****
Setelah menyelesaikan urusan dengan orang tua Vanesa, Kenan melajukan mobilnya ke kantor. Di sana ia langsung bertemu dengan Vicky.
“Gimana tanggapan om James?” tanya Vicky.
Kenan mengangkat bahunya. “Mereka hanya diam.”
“Mereka pikir putrinya malaikat,” ledek Vicky.
Kedua pria ini berjalan beriringan menuju ruangan masing-masing.
“Vick, gimana kabar Kiara? Lu udah suruh orang buat memata-matai rumah Gunawan?”
Vicky mengangguk. “Sudah. tapi sepertiny semua baik-baik saja.”
Vicky tertunduk lesu. Ia pasrah, jika Kiara menolaknya untuk kedua kali. Ia pasrah, jika Kiara lebih memilih Gunawan lagi dan lagi. Bagi Vicky, yang penting Kiara bahagia, itu saja sudah cukup.
“Vick,” panggil Kenan.
Entah mengapa, jika di suruh memilih, Kenan lebih memilih Vicky yang menjadi adik iparnya di banding Gun. Mungkin karena, ia lebih dekat dengan Vicky, sehingga ia lebih tau karakter asistennya itu. Walau Vicky juga bukan pria baik-baik, tapi dia jauh lebih bertanggung jawab dibandingkan Gun. Dan, yang utama ketulusan Vicky pada adiknya lebih terlihat dibandingkan dengan suami sang adik.
“Hmm ....’ Vicky menatap kedua bola mata Kenan.
“Lu yakin, Gunawan maafin Kiara?”
__ADS_1
Vicky terdiam. “Hmm ... tapi sepertinya begitu. Orang suruhan kita tidak melihat keributan di rumah itu. semua berjalan normal.”
Vicky mengeluarkan ponselnya dari saku. “Ini, gue dapet foto Kiara dan Gunawan sepuluh menit yang lalu.”
Vicky memperlihatkan foto Kiara yang tengah mengantarkan Gunawan hingga teras, mencium punggung tangan suaminya saat Gunawan hendak pergi ke kantor dan menunggu serta melambaikan tangan hingga mobil Gunawan berlalu dan tak terlihat lagi.
Vicky menscrool lima foto yang diberikan orang suruhannya itu dalam momen yang berbeda.
Kenan manarik nafasnya. Ia antara percaya dan tidak percaya melihat semua ini termaafkan begitu mudah, karena ia tahu, Gunawan bukanlah tipe orang yang mudah memaafkan, apalagi ia pun merasa bahwa di sini pria itulah yang tersakiti.
“Lu yakin, adik gue bahagia sekarang?” tanya Kenan lagi.
Vicky mengangkat bahunya. “Gue udah tanya langsung sama Kiara, dia bilang dia baik-baik saja. Malah dia minta gue ga usah menghubunginya lagi atau khawatir padanya. Dan, sekarang gue lihat foto ini. So, antara yakin dan tidak tapi beginilah faktanya.”
Saat membuka kaca jendela kamar, Kiara tidak sengaja melihat seorang pria tengah menatap rumahnya dari kejauhan. Satu kali melihat, Kiara pikir memang hanya orang yang sedang berdiri di sana. Namun, Kiara menangkap sosok itu lagi dua kali, membuat wanita itu yakin bahwa sosok pria yang berada di luar sana adalah suruhan sang kakak untuk memantaunya. Kiara yakin walau Kenan kecewa padanya, tapi dia adalah kakak terbaik yang selalu ada untuknya dalam hal apapun. Hingga, akhirnya Kiara memerankan akting pagi ini, mengantarkan sang suami dengan manis hingga mobil Gunawan pergi. Tersenyum riang, seolah tidak terjadi apapun pada dirinya, karena tekadnya sudah bulat, ia tak akan lagi mengeluh atau pun meminta bantuan pada sang kakak.
Langkah kaki Kenan dan Vicky terhenti, saat mereka sampai di depan ruangan Kenan. Kenan terdiam.
“Tetap terus pantau keadaan adik gue, Vick. Kalau perlu pasang cctv di rumah itu tanpa sepengetahuan Gunawan. Gue pengen mastiin Kiara akan selalu baik-baik saja di sana.”
Vicky mengangguk. “Itu pasti.”
Lalu, Vicky kembali berjalan menuju ruangannya yang masih berada jauh dari ruangan Kenan.
“Vick,” panggil Kenan lagi.
Vicky pun langsung membalikkan tubuhnya.
“Kalau bisa gue memilih. Gue lebih percaya, lu yang jadi suami Kiara,” ucap Kenan.
__ADS_1
Vicky tersenyum. “Sayangnya adek lu ga pernah cinta sama gue.” Kemudian, Vicky kembali membalikkan tubuhnya.
Kenan terdiam sembari memegang handle pintu. Ya, cinta memang rumit. Sungguh beruntung dirinya, yang mencintai wanita yang juga bisa langsung mencintainya. Lalu, Kenan pun masuk ke dalam ruangan itu.