Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
ingin cucu sepasang


__ADS_3

Di kantor Aditama, Kenan sangat bersemangat, setelah mendapat kabar dari sang istri bahwa adiknya telah melahirkan putri yang cantik. Ia juga segera mengabarkan pada Vicky yang kebetulan sedang berada di luar kantor. Hari ini, Kenan menerima kedatangan Mr. Anderson di kantor, sedangkan Vicky bertemu dengan salah satu bagian kepemerintahan untuk memenuhi beberapa birokrasi sebagai penunjang kelancaran apartemen yang akan digarap oleh perusahaan properti milik Kenan.


Tok .. Tok .. Tok.


Siska mengetuk ruangan Kenan.


“Ya masuk,” ucap Kenan.


Siska pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam dengan membawa begitu banyak makanan di temani Pak Rahmat dan salah satu office boy yang lain.


“Ini, saya taroh di mana, Pak?” tanya Siska.


“Langsung bagikan saja,” jawab Kenan dengan posisi yang masih duduk di kursi kebesarannya.


“Baik, Pak.” Siska dan kedua office boy itu pun tidak jadi membawa makanan yang banyak itu ke ruangan Kenan. Mereka mengeluarkan lagi jinjingan besar itu dan membagikannya pada semua karyawan yang sebentar lagi jam kerjanya usai.


Kenan sengaja memesan makanan dari restoran Jepang dan juga memesan kopi dari cafe temannya. Ia membagikan makanan dan minuman itu ke seluruh karyaawan untuk rasa syukur atas kehadiran cucu pertama pada keluarga Aditama, sekaligus rasa syukurnya karena Gunawan telah pulih dari koma.


Beberapa menit kemudian, Kenan sudah membereskan semua berkas yang tadi berserakan di mejanya. Ia pun mengambil jas dan segera keluar dari ruangan itu.


“Pak, makasih ya,” ucap Siska sembari memperlihatkan makanan dan minuman itu kepada bosnya.


Kenan tersenyum dan mengangguk. Sepanjang perjalanan menuju luar gedung, Kenan tersenyum karena ucapan terima kasih dari para karyawan yang ia lewati.


“Perlu saya antar, Pak” tanya supir yang bertugas mengantar direktur, manager, atau staf yang bertugas keluar kantor ketika jam kantor.


“Tidak, perlu. Saya ingin menyetir sendiri,” jawab Kenan.


Supir itu menyerahkan kunci mobil Kenan yang sudah ia parkirkan tepat di depan lobby.


“Terima kasih,” jawab Kenan setelah menerima kunci mobilnya.


Supir itu pun tersenyum dan membungkukkan separuh tubuhnya. Dulu, Kenan paling tidak pernah mengucapkan dua kata itu kepada karyawa-karyawannya. Ia angat arogan dan angkuh. Namun, setelah menikah, bosnya itu tampak berubah. Kenan tidak terlalu arogan dan lebih sering tersenyum.


Di perjalanan, Kenan membeli satu puket bungan untuk sang adik dan satu tangkai bungan untuk sang istri. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung menuju kamar yang telah diberitahu Hanin. Ia tampak antusias menemui keponakannya. Hatinya sungguh senang.


“Punya ponakan aja udah sesenang ini, apalagi punya anak sendiri.” Ucap kenan dalam hati, membuatnya tersenyum sembari melangkahkan kaki.


Sesaat sebelum ia sampai di pintu ruang perawatan Kiara, Hanin keluar dari ruangan itu. Perlahan Hanin menutup kembali pintu itu. Tubuh Hanin persis berada di depan pintu dan membelakangi Kenan yang ingin masuk.


Kenan pun menjahili istrinya. Satu puket bunga untuk Kiara ia letakkan asal di meja kecil yang kebetulan ada di lorong itu. sedangkai satu tangkai bungan untuk Hanin ia gigit. Ia menutup mata Hanin dari belakang.


“Siapa? Ih, jahil banget.” Hanin meraba tangan yang tak asing itu. ia pun tersenyum.


“Ken Ken Jelek,” ucap Hanin. ia pun merasakan aroma mint yang mendekap tubuhnya. Aroma khas tubuh sang suami.

__ADS_1


Kenan melepas tangan yang berada di mata Hanin. “Kok tahu?”


Hanin membalikkan tubuhnya dan tersenyum. “Aku hafal aroma tubuh kamu dan tahu tangan kekar ini.”


Kenan tertawa, kemudian mengerlingkan senyum licik. “Tangan ini ya, yang buat kamu tidak bisa lupakan aku.”


“Iya, karena tangan ini yang suka melecehkan aku waktu itu.” Hanin mengerucutkan bibirnya.


Kenan kembali tertawa dan memeluk tubuh sang istri. Ia menyerahkan setangkai bungan untuk Hanin.


“Ini untukmu.”


Hanin melirik ke arah satu puket bunga yang ada di atas meja kecil itu.


“Kalau itu buat siapa?”


“Wanita ketiga aku.”


Hanin mngeryitkan dahinya. “Maksudnya?”


“Ya, itu untuk Kiara. Dan ini, untuk kamu.”


“Untukku hanya satu?” Hanin menatap setangkai bunga itu sembari menegrucutkan bibirnya lagi.


“Gombal.” Hanin menepuk pelan dada suaminya.


“Sungguhh.” Kenan tertawa.


“Tapi tadi katanya itu untuk wanita ketigamu. Berarti aku bukan satu-satunya wanitamu,” ucap Hanin.


Kedua tangan Kenan berada di atas pundak Hanin. Ia berdiri sedikit menunduk, agar wajahnya lebih dekat dengan sang istri.


“Wanita pertamaku, Mami. Wanita keduaku, kamu. Dan, wanita ketigaku, Kiara,” Kenan menatap dengan intens kedua bola mata Hanin. “Kamu berhasil masuk di tengah-tengah antara wanita yang aku cintai itu.”


“Seandainya ada kondisi dimana kamu harus memilih dari ketiga wanita itu. kamu pilih yang mana?” tanya Hanin, membuat Kenan terdiam.


“Tidak akan ada kondisi seperti itu.” Kenan melepaskan tangan yang semula berada di pundak sang istri.


Lalu, ia hendak masuk ke dalam ruangan itu dan menngambil satu puket bungan yang tergeletak tadi.


“Ken, pertanyaanku belum dijawab. Jika ada ..”


Jari telunjuk Kenan, langsung menutup bibir Hanin. “Jangan berandai yang buruk!”


“Itu kan semisal.”

__ADS_1


“Ayo masuk!” Kenan langsung merangkul leher Hanin dan menyuruhnya ikut masuk.


“Hai my Sisy,” ucap Kenan kepada Kiara.


Kenan megecup kening adiknya. “Selamat ya, Sayang. kamu telah menjadi ibu.”


Kiara tersenyum. “Sebentar lagi, kakak juga akan menjadi ayah.” arah mata Kiara bergantian menuju Hanin dan Kenan.


Rasti berdiri persis di samping tempat tidur Kiara. Ia menggendong putri Kiara yang baru beberapa jam dilahirkan. Kenan mendekati sang ibu dan bayi cantik itu.


“Cantik sekali putrimu,” ucap Kenan mengelus pipi mungil itu.


Kenan tersenyum senang, bgitu pun Rasti.


“Semoga bayi yang tengah Hanin kandung, adalah anak laki-laki. Jadi Mami memiliki cucu sepasang.”


Sontak Hanin pun tersenyum kecut. Ia tidak tahu, apa jenis kelamin janin yang baru berusia dua belas minggu ini? Apa jika bayi yang ia kandung adalah anak perempuan, Ratih tidak lagi menyayanginya? Semoga saja tidak. Entah mengapa Hanin menjadi takut sendiri.


“Mana Gunawan?” tanya Kenan.


“Dia masih melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui sejauh mana kesenbuhan cidera otaknya itu.”


“Oh.” Kenan membulatkan bibirnya.


“Hai,” ucap Gunawan dari balik pintu.


Ia masih menggunakan kursi roda yang di dorong oleh perawat. Gunawan memang tidak bermasalah pada organ tubuh yang lain, selain kepalanya. Namun, ia masih menjadi pasien yang baru saja sembuh dari koma. Oleh karena itu, ia masih tidak diizinkan untuk kesana kemari sendiri tanpa menggunakan kursi roda dan temani perawat.


“Hai, Gun. Syukurlah, kau sudah jauh baik.” Kenan tersenyum ke arah Gun.


“Ya, ini karena aku baru menyadari bahwa cintaku cukup besar untuk Kiara.” Gunawan menatap wajah sang istri. “Dan, putriku.” Ia pun menoleh ke arah bayi yang tengah di gendong Rasti.


Hanin ikut tersenyum menyaksikan chemistry antara Kiara dan Gunawan. Ia sungguh senang, akhirnya Gunawan menyadari betapa penting keberadaan Kiara di sampingnya.


“Terima kasih atas pengorbanan lu buat adik gue,” ucap Kenan lagi.


“Tidak perlu berterima kasih, Ken. Kiara dan Kayla adalah harta paling berharga yang aku miliki. Dan, aku rela berkorban untuk mereka, walau nyawa sekalipun.”


Rasti menatap Gun dan tersenyum, begitu pun Kenan. Hanin juga melakukan hal yang sama, ia sangat terharu dengan ucapan Gunawan. Pria itu memang sudah sangat berubah, di tambah Gun memang tingga seorang diri. Dia tidak memiliki ibu atau saudara kandung. Oleh karena itu, sudah pasti hidupnya hanya untuk keluarga.


Lalu, bagaimana dengan dirinya? Terlintas pikiran aneh di dalam otak Hanin. Jika keadaan seperti itu ada pada dirinya dan Rasti, dengan waktu bersamaan. Kira-kira, mana yang akan Kenan pilih?


Walau Hanin tidak akan meminta Kenan memilihnya terlebih dahulu, karena ia akan menyuruh Kenan untuk mengutamakan keselamatan sang ibu. Apalagi, Kenan sudah mengikrarkan bahwa wanita pertamanya adalah Rasti.


Hanin pun tersenyum. Semoga doa Rasti terkabul. Semoga janin yang ada di rahim Hanin berjenis kelamin laki-laki, yang menyayangi ibunya seperti Kenan yang amat menyayangi Rasti.

__ADS_1


__ADS_2