
Dua minggu kemudian.
Pagi hari di kediaman Aditama, seperti biasa Kiara menyiapkan keperluan suaminya yang hendak berangkat kerja. Sedangkan Gunawan masih menggendong Kayla, berdiri di depan jendela dengan sorotan matahari pagi yang masuk ke dalam kamar itu hingga menyinari tubuhnya.
“Mas, udah sini, Kayla sma aku. Mas, mandi gih!”
Kiara membentangkan tangannya untuk mengambil Kayla dari gendongan sang suami. Namun, Gunawan msih saja menciumi putrinya yang sudah wangi khas seorang bayi.
“Mas, udah. Nanti kamu telat,” ucap Kiara sembari tersenyum.
“Muah, Muah.” Gunawan masih saja menciumi Kayla yang semakin berisi.
“Gemes, abis kamu masih belum bisa aku gemesin sih,” jawab Gun.
Kiara tersenyum. “Sebentar lagi, sabar ya.”
Lalu, Gunawan memindahkan Kayla ke tangan Kiara.
“Oh, iya. Bagaimana persiapan akikah Kayla?” tanya Gun pada istrinya.
“Semua disiapin Mami. Nanti aku tanya Mami,” jawab Kiara sembari membenarkan posisi gendongan Kayla.
Tiga hari lagi, kediaman Aditama akan ramai dengan tamu undangan. Pasalnya, Gunawan dan Kiara akan mengadakan syukuran atas kelahiran Kayla tepat di hari ke dua puluh satu kelahiran sang putri. Mereka baru bisa melaksanakan syukuran ini, mengingat sebelumnya, Gun masih bolak balik ke rumah sakit untuk pemeriksaan pemulihan dirinya, belum lagi keadaan Kiara yang baru saja melahirkan, di tambah Gun juga yang masih sibuk mengurus usahanya yang sudah satu buln ia tinggalkaan.
Gunawan mengangguk. “Oke.”
Gunawan masih saja berdiri dan memandangi istrinya.
“Ish, kok malah bengong. Sana mandi!” ujar Kiara.
“Mandiin,” kata Gun manja.
Kiara tertawa. “Apaan sih, Mas.”
“Please, Sayang. Dari semalam Mas, udah ga tahan nih.” Gunawan memegang miliknya.
Kiara pun melihat ke arah itu dan tampak ada sesuatu yang membesar di sana. Kiara memang sering memuaskan suaminya dengan cara yang lain, yang penting hasrat suaminya tersalurkan dan Gunawan pun merasa senang.
“Kayla gimana?” tanya Kiara.
“Titip si Bibi dulu. Ya.. ya..” Gunawan menaikturunkan alisnya. “Aku tunggu di dalam ya, Sayang.”
Gunawan terlebih dahulu masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian, kembali menoleh ke arah sang istri dan mengedipkan matanya sebelum ia benar-benar masuk ke dalam sana.
Kiara tertawa dan menggelengkan kepala. Memang lelaki kalau ada maunya, tidak bisa terbantahkan. Kiara pun keluar dari kamar itu dan mencari si Bibi. Ia menitipkan Kiara padanya, lalu kembali lagi ke kamar itu untuk memenuhi janjinya pada sang suami.
Kiara memasuki kamar mandi dan sudah disuguhkan oleh pemandangan yang tak asing. Gunawan pun langsung mendekati Kiara. Ia mencium lembut bibir sang istri, mengecap semua bagian itu dan mulai menuntut. Kiara pun membalas perlakuan sang suami. Bibir Gun mulai turun ke bagian leher itu dan memberi tanda di sana.
“Sekarang, aku harus berbagi,” ucap Gunawan lirih sembari meremas kedua gunung kembar sang istri.
Kiara tertawa melihat ekspresi lucu suaminya. “Kamu tuh Mas, ada-ada aja.”
Kiara berjongkok dan mulai melakukan aksinya, hingga Gunawan pun merasakan nikmat dari kelincahan mulut sang istri yang selalu berhasil menuntaskan hasratnya.
“Arrggg ...”
Gun mengerang melepaskan pelepasan itu dan Kiara pun langsung berdiri membersihkan wajah serta mulutnya.
__ADS_1
Kiara berdiri di depan cermin, membelakangi Gunawan yang masih menetralkan diri setelah pelepasan. Ia melihat Gun dari balik cermin itu. Kemudian, Gun pun menoleh ke arah cermin itu. Ia tersenyum dan mendekati sang istri.
“Terima kasih, Sayang.” Gun memeluk Kira dari belakang. “Maaf merepotkanmu.”
Tangan Kiara menangkup wajah Gun dengan tetap pada posisi itu. Mereka saling bertatapan lewat cermin.
“Aku yang minta maaf karena belum bisa melayanimu dengan sempurna untuk hal itu.”
Gun mengecup bahu Kiara. “Kamu memang selalu mengerti aku. Terima kasih.”
Gun mengeratkan pelukannya dan keduanya tersenyum. Mereka kembali bertatapan dari balik cermin itu.
****
Di tempat yang berbeda, Hanin tengah menyiapkan sarapan di dapur.
"Sayang."
Kenan mengalungkan kedua tangannya pada pinggang Hanin. Ia paling senang menganggu sang istri ketika memasak, karena Hanin selalu pasrah dijamah sang suami ketika dalan keadaan itu.
Hanin menoleh ke arah Kenan. Ia tersenyum.
"Ish, kok masih belum mandi?" Tanya Hanin melihat ke arah Kenan yang masih mengenakan boxer dan kaos dalam.
"Aku tidak ke kantor."
Hanin mematikan kompor dan membalikkan tubuhnya. "Kenapa?"
"Bukannya hari ini, kita akan memeriksa dia?" Kenan balik bertanya, sembari mengelus perut Hanin. "Dan, nanti malam Mami mengajak makan malam bersama."
Hanin mengangguk. Ia memang tidak lupa dengan acara hari ini.
Hanin terdiam dan tersenyum kecut. "By, kita belum tahu, dia laki-laki atau perempuan. Tapi kamu selalu memanggilnya boy."
Kenan berdiri dan tersenyum menatap istrinya. "Itu harapan, Sayang. Dan, feelingku mengatakan dia laki-laki."
Kenan kembali mengelus perut Hanin.
"Bagaimana jika bukan?" tanya Hanin menatap ke kedua bola mata Kenan.
Kenan terdiam dan tidak menjawab. Ia malah mengalihkan pandangan ke arah masakan sang istri.
"Kamu masak apa?" tanya Kenan. "Hmm ... harum sekali, pasti enak."
Hanin menghelakan nafas. Ia tahu bahwa Kenan tidak ingin membahas hal ini. Ia semakin dag dig dug, mengingat pemeriksaan yang akan ia lakukan hari ini kemungkinan sudah bisa memastikan jenis kelamin bayi yang ia kandung karena usianya sudah semakin besar.
Hanin hanya berharap semoga Tuhan mengabulkan doanya dan harapan sang suami. Di setiap doa yang Hanin panjatkan, hanya kebahagiaan suaminyalah yang inginkan, karena jika sang suami bahagia maka dirinya pasti ikut bahagia.
Lalu dengan cepat hidung Kenan mengarah ke sang istri. "Kalau ini harum ngga?" Ia menendus-ngendus leher Hanin.
"Apaan sih kamu," rengek Hanin manja dengan menepuk pelan dada Kenan.
"Hmm ... bau bawang. Sepertinya kamu harus mandi lagi," ucap Kenan berbohong. Itu hanya alibinya saja yang ingin mandi ditemani sang istri.
Hanin yang polos pun malah mencium bajunya. "Masa' sih? Aku udah mandi."
Kenan tersenyum licik. "Kamu tetap harus mandi lagi"
__ADS_1
Hanin menatap Kenan dengan senyum yang ia pahami. "Dasar, pasti mau mengerjaiku."
Kenan langsung membopong tubuh istrinya dan membawa Hanin ke dalan kamar.
"Aku udah mandi, By," rengek Hanin, yang kini berada dalam gendongan Kenan.
"Biarin, mandi lagi."
"Hubby."
"Apa?"
Kenan tetap melangkahkan kakinya ke dalam kamar, lalu ke dalam kamar mandi.
"Ken ken jelek," kesal Hanin, membuat Kenan malah tertawa.
Kemudian Kenan menutup pintu kamar mandi itu dan mendudukkan Hanjn di atas marmer wastafel. Ia mengungkung tubuh sang istri untuk mencium bibir ranum itu.
"By." Hanin menahan dada Kenan.
"Hmm .."
"Siapa wanita yang bersamamu dengan anak kecil itu? Apa anak itu anaknya?" Tanya Hanin yang ingin mengetahui Misya lebih lanjut.
"Oh iya, aku belum menceritakan dia ke kamu ya? Dia itu anak slaah satu relasi Papi." Kenan menceritakan awal mula pertemuannya dengan Misya dulu, juga menceritakan pertemanannya dengan anak-anak relasi sang ayah yang terbilang dekat.
"Dia juga teman kuliahmu?" tanya Hanin lagi.
Kenan mengangguk. "Ya, tapi tidak lama, karena dia pindah ke Jerman dan melanjutkan kuliahnya di sana, karena dia menerima perjodohan orangtuanya."
"Oh."
"Tapi sayang, Excel tidak berumur panjang." Kenan kembali menceritakan Misya yang saat ini sudah berstatus single parent karena baru saja ditinggal suaminya meninggal.
"Oh, jadi dia janda."
Entah mengapa Hanin menjadi khawatir jika suaminya berdekatan dengan wanita itu. Padahal semula ia senang mendengar Misya memiliki suami.
Kenan pun menceritakan semua dengan jujur pada Hanin, termasuk ketertarikannya dulu pada Misya. Namun, ia langsung mengklarifikasi bahwa ketertarikan itu hanya ketertarikan biasa dan memang benar, hingga sekarang rasa itu telah hilang jauh sebelum Misya dinikahi Excel.
****
Di rumah sakit, Kenan dan Hanin sudah berada di dalam ruangan dokter. Hanin pun sudah berbaring di tempat tidur itu.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Kenan antusias.
Wanita berjas putih yang duduk di depan Hanin sembari menutar alat di perut itu menatap layar monitor. Hanin dan Kenan pun mengikuti arah mata sang dokter.
"Sehat. Bayi anda sehat, Pak. Dan, Ini jantungnya."
Dokter itu menunjukkan alat ke arah monitor itu.
"Bulatan yang baru berbentuk titik itu, Dok?" Kenan kembali bertanya. Ia tampak sangat serius dan antusias. Terlihat binar di wajahnya.
Kenan menggegam tangan Hanin seraya senyum yang terus mengembang dengan sesekali melihat ke arah Hanin dan monitor itu. Hanin pun sangat senang.
"Wah, anak anda perempuan, Pak," celetuk dokter itu.
__ADS_1
Deg.
Jantung Hanin seolah akan copot. Ia langsung memandang ke arah Kenan untuk memastikan ekspresi wajahnya.