
“Sudahlah, Mam. Kiara. Kita sedang makan malam. Jangan ribut!” ucap Kenan dingin.
Rasti dan Kiara pun tak lagi berdebat. Mereka melanjutkan menikmati makan malam yang lezat itu. Namun, selera makan Rasti tiba-tiba hilang. Ia tak lagi bersemangat seperti semula yang senang menanti kedatangan Kenan dan Hanin pasca melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.
Ooeek ... Ooeek ..
Terdengar tangisan Kayla dari kejauhan. Si bibi yang menggendong Kayla pun mendekati Kiara.
“Mas, aku belum selesai makan nih,” ucap Kiara yang meminta agar Gunawan menggendong Kayla terlebih dahulu, karena tak satu pun tangan Bibi yang dapat menghentikan tangis Kayla.
Gunawan pun masih dalam keadaan yang sama.
“Sini, aku saja yang gendong. Kebetulan aku sudah selesai makan.”
Hanin berdiri dan segera berlari ke dapur untuk cuci tangan, lalu mengambil Kayla dari gendongan si Bibi.
Seketika Kayla terdiam saat berada dalam gendongan Hanin.
“Tuh kan, sama Non Hanin aja Nona Kayla mau. Dari tadi bibi gantian sama Lastri, Non Kayla masih nangis aja,” ujar si Bibi senang, saat Baby Kayla sudah diam dan tenang.
Kiara tersenyum ke arah Hanin. “Makasih ya, Nin. Soalnya aku tanggung nih, masih laper.”
Hanin mengangguk. “Iya, Ra. Ngga apa-apa. Lanjut aja dulu. Aku bawa Kayla ke taman belakang ya.”
“Jangan! Di sana gelap. Bayi tidak boleh di bawa keluar malam-malam,” ucap Rasti ketus.
“Oh, iya. Mam.” Hanin mengangguk.
Lalu, membawa Kayla ke ruang keluarga. ruang yang cukup jauh dari tempat mereka yang sedang menikmati makan malam.
“Mam, kenapa sih? Kok Mami berubah ke Hanin. Hanya karena Hanin mengandung anak perempuan? Mami kolot,” ujar Kiara kesal.
Rasti diam. Ia pun tak mengerti mengapa jadi sekesal ini dengan Hanin. Mungkin, ia beranggapan bahwa Hanin tidak mematuhi perintahnya yang rajin memakan makanan tertentu sebagai pnunjang agar mendapatkan bayi laki-laki.
Kenan menyapu bersih bibirnya pada sapu tangan putih yang ada di atas meja itu. Kemudian, ia berdiri. Walau ia kecewa, tetapi melihat perlakuan Rasti pada istrinya, ia pun tak tega.
“Kalau begitu, Kenan pulang dulu.”
“Loh, kok buru-buru?” tanya Rasti.
Kenan menarik nafas. “Masih ada pekerjaan yang harus Kenan selesaikan malam ini.”
“Mami kira kalian menginap,” uacap Rasti.
“Bagaimana Kenan bisa menginap? kalau Mami terus menyudutkan Hanin,” jawab Kenan.
Rasti ikut berdiri. Kenan pun melanjutkan langkah kakinya menuju sang istri dan mengajaknya pulang.
“Hanin tidak menuruti perintah Mami, padahal dari awal kehamilan, Mami sudah menganjurkan dia untuk memakan makanan yang mengandung kalium. Istrimu keras kepala.”
“Sudahlah, Mam. Kenan tak ingin melihat Mami menyudutkan Hanin seperti itu,” sahut Kenan ketus. Ia menatap wajah sang ibu dengan kesal.
Rasti pun menjadi kesal pada Hanin, karena hingga sebesar ini Kenan tak pernah bersikap seperti ini pada sang ibu. Apalagi berkata dengan nada ketus. Kenan sangat menyayangi Rasti dan selalu berkata lembut pada ibunya.
Di sana, Hanin sama sekali tak mendengar suaminya tengah membela dirinya dihadapan ibu mertua. Walau Kenan semula dia. Namun, melihat Hanin yang terus menerus disudutkan Rasti, membuat Kenan akhirnya tidak bisa diam lagi.
“Sayang, ayo pulang!” ucap Kenan, saat ia menemukan Hanin tengah bercengkrama dengan Kayla.
__ADS_1
Kayla yang tertawa bersama Hanin pun membuat hati Kenan sejuk, bagai disiram oleh air yang ingin, sehingga rasa panas itu lenyap.
Kiara dan Gunawan hanya bisa menyaksikan kemarahan Kenan pada ibunya. Walau kemarahan itu hanya ia pendam dan dapat dilihat dari ekspresi wajah saja.
“Loh, kok buru-buru. Kita ngga nginep, By?” tanya Hanin polos.
Kenan menggeleng. “Aku masih ada kerjaan.”
“Oh.” Hanin membulatkan bibirnya.
Kiara juga sudah mendekati Hanin dan menyodorkan kedua tangannya agar Kayla dipindahkan ke dalam pelukannya.
“Sini, Sayang,” kata Kiara tersenyum ke arah Kayla.
“Ya, padahal aku lagi asyik main sama Kayla loh,” sahut Hanin.
“Yah, kakak emang gitu, Han. Kalo udah maunya ya maunya, ngga bisa dibantah.” Kiara menoleh ke arah Kenan.
“Hanin saja tidak keberatan untuk menginap, Ken,” celetuk Rasti.
Kenan menatap wajah Hanin yang polos.
“Iya, By. Ngga apa-apa kok.”
Kenan tetap menggeleng. “Kita pulang saja.” Kenan langsung melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah itu tanpa mencium punggung tangan ibunya terlebih dahulu.
“Kenan kenapa, Ra?” tanya Hanin pada Kiara.
Kiara mengangkat bahunya. “Ngga tahu.” Padahal ia tahu bahwa sang kakak kesal dengan sikap ibunya pada Hanin.
Hanin mendekati Rasti dan mengambil tangan Rasti untuk dicium.
“Kenan tak pernah melawanku, tapi karenamu kini dia berani melawanku,” ucap Rasti yang segera berlalu dari hadapan Hanin dan melepas tangan yang hendak Hanin kecup punggungnya.
Gunawan hanya menjadi penonton. Ia juga baru tahu sisi negatif Rasti, karena selama ini Rasti sangat baik. Tetapi ternyata keegoisannya pun cukup tinggi.
Hanin mengejar Kenan yang sudah melangkah keluar lebih dulu. Ia masuk ke dalam mobil itu, lalu Kenan langsung menancap gas dan meninggalkan rumah mewah yang ia tinggali sejak lahir.
Sementara, Kiara dan Gunawan ikut keluar dan berdiri di teras. Mereka melihat mobil Kenan yang sudah melaju.
“Itu yang aku tidak suka dengan sikap Kenan. Dia selalu ingin mendapatkan apa yang dia mau,” ucap Gun, yang memang mengnal sisi negatif Kenan yang terkesan ambisius.
“Karena memang dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan, Mas,” sahut Kiara.
Mereka menatap mobil Kenan yang semakin lama, semakin meninggalkan rumah itu.
“Ya, tapi tidak semua hal bisa kita dapatkan, Ra. Aku sudah melalui masa-masa itu. Dan ternyata, Tuhan sangat baik, karena apa yang kita mau belum tentu yang terbaik. Sementara, apa yang Dia takdirkan, sudah pasti yang terbaik.”
Kiara menyadarkan kepalanya pada dada Gunawan. “Kamu makin pinter, Mas.”
“Karena aku sudah melalui masa-masa itu, Ra. Sementara, Kenan belum. karena sejatinya semua pria itu egois. Pria selalu ingin mendapatkan apa yang dia mau. Tidak seperti wanita yang memang memiliki jiwa pasrah.”
“Oh, gitu? Tapi aku pernah menjadi orang egois seperti pria,” ucap Kiara.
“Ya, berarti keluarga Aditama memang terlahir oleh sifat egoisnya.”
“Kamu,” rengek Kiara mencubit pinggang Gun, membuat pria itu meringis walau tetap tertawa.
__ADS_1
****
“Kamu kenapa, By?” tanya Hanin, saat mereka berada di mobil.
“Tidak apa,” jawab Kenan dengan pandangan lurus ke depan.
Hanin yang semula menggeserkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Kenan, kini, ia lurukan dan menatap pandangannya ke depan.
Beberapa menit, mereka saling terdiam. Tidak ada yang memulai untuk bicara. Hanin pun enggan memulai pembicaraan, karena sepertinya wajah Kenan kurang bersahabat.
“Kamu sudah minum obat?” tanya Kenan. ia menoleh sekilas ke arah Hanin dan kembali fokus menyetir.
Kemudian, tangan Kenan meraba untuk mengambil air mineral dan obat yang ia taruh tadi, sepulang dari rumah sakit.
“Ini, minum obatmu.” Kenan menyerahkan bungkusan obat vitamin ibu hamil yang diberikan bagian Farmasi siang tadi. “Obatnya harus diminum setelah makan, kan?”
Hanin mengangguk dan memgambil benda itu dari tangan Kenan.
“Kamu dan anak kita harus sehat,” kata Kenan lagi.
Hanin menoleh ke arah Kenan dan tersenyum. Ia pun melakukan apa yang diperintahkan Kenan.
Sesampainya di apartemen. Kenan langsung menuju ruang kerjanya, sedangkan Hanin berada di kamar.
Hanin membersihkan diri. Kata-kata Rasti masih terus terngiang di kepalanya. Ia tak tahu apa yang melatar belakangi sikap Kenan yang seperti itu pada Rasti tadi. Tetapi, ia tetap tidak ingin melihat sikap kurang ajar Kenan pada ibunya.
Usai membersihkan diri, Hanin keluar dari kamar mandi. Matanya mngedarkan keseluruh isi kamar, tidak ada sosok sang suami di ruangan ini. Hanin pun segera memakai baju tidur bahan satin tipis lengkap dengan jubahnya. Lalu, ia berlalu ke dapur untuk memberikan minuman ke ruag kerja Kenan.
Saat sampai di ruang kerja itu, ternyata Kenan tidak berada di sana. Hanin pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Dan, ia melihat Kenan sedang melepaskan pakaiannya, menyisakan boxer yang melekat di tubuh itu.
“Aku kira, kamu masih di ruang kerja,” kata Hanin dengan meletakkan gelas itu di nakas.
“Aku belum membersihkan diri,” ucap Kenan.
Hanin dengan cepat mendekati Kenan. “By, ada apa denganmu dan Mami?”
“Tidak apa-apa.” Kaki Kenan bergerak menuju kamar mandi.
“Tapi tadi, kamu pulang ga pamit sama Mami.” Hanin mengejar langkah Kenan dan menarik lengannya. “By, kamu ga boleh gitu sama Mami. Kenapa sih?”
“Aku tidak bisa membiarkan Mami bersikap seperti itu padamu. Walau aku diam, aku kecewa dengan hasil pemeriksaan itu, tapi tetap aku tidak bisa membiarkanmu disudutkan.”
Seketika Hanin mematung. Ia baru tahu, bahwa ini semua karenanya, karena ia yang tidak sedang mengandung anak laki-laki dari putra mahkota keluarga Aditama.
Hanin terdiam dan menunduk. Air mata itu tiba-tiba lolos dan mengalir. Kenan yang hendak meninggalkan Hanin dan masuk ke dalam kamar mandi itu pun, menoleh lagi ke arah istrinya. Ia membalikkan tubuhnya dan kembali menghampiri Hanin. Ia memeluk tubuh sang istri.
“Jangan difikirkan! Kamu ga boleh stres. Istirahatlah!”
Kenan mengelus rambut Hanin dan menuntun tubuh ke tempat tidur. perlahan ia mendudukkan Hanin dan merebahkannya.
“Istirahatlah, Sayang. ini sudah malam. Jangan difikirkan. Oke!” Kenan kembali mengelus rambut dan wajah Hanin.
Hanin hanya mengangguk.
“Selesai mandi. Aku juga akan tidur,” ucap Kenan lagi dengan senyum, mencoba menenangkan hati sang istri.
Hanin kembali mengangguk dan memejamkan mata. Kenan pun kembali ke kamar mandi.
__ADS_1
Hanin pun kembali membuka mata setelah Kenan pergi. Ia kembali menitikan air mata. Sungguh, ini adalah hal yang paling ia takutkan. Ia takut Rasti memberi pilihan antara dia dan dirinya. Hanin sadar bahwa wanita pertama dalam hidup Kenan dalah Rasti. Oleh karena itu, jika Rasti dan Kenan berseteru karena dirinya, maka memang pilihan Hanin adalah pergi untuk melerai perseteruan itu. Atau jika Rasti akhirnya harus memberi pilihan antara dia dan dirinya, maka Hanin tidak akan membiarkan Kenan memilih, karena ia lebih baik menyerah dan pergi sebelum dipilih.