
Selesai makan malam, Kenan langsung ke ruang kerja. Ia membenahi semua dokumen yang terbengkalai hari ini. Sudah puluhan email dari Siska, tapi baru satu yang ia buka. Di sana juga terlihat Vicky mengirimkan beberapa dokumen ke email itu.
Kenan membuka satu persatu email dari Siska dan mulai mengerjakannya. Sesekali, ia pun menelepon Siska untuk koordinasi pada sang sekretaris mengenai pekerjaan.
Di dalam kamar, Hanin bingung harus berbuat apa. Ia berjalan mondar mandir sembari menggigit kukunya. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Kenan, tapi ia masih enggan untuk bertanya. Sikap Kenan hari ini terlihat berbeda. Ia lebih pendiam dan manja. Seperti tadi saat Hanin menyiapkan makan malam, Kenan terus menyandarkan kepalanya di punggung Hanin. Ia terus menempel dan ketika sedang tidak menempel, arah matanya selalu tertuju pada Hanin dengan bibir yang menggembang senyum.
Setelah itu, Kenan menghilang ke ruang kerja. Hingga larut malam, pria itu tak kunjung keluar dari sana. Hanin sudah tertidur dan bangun lagi. Namun, tak mendapati sang suami ada di sampingnya. Hanin masih segan pada Kenan. Ia bingung ingin memulai dari mana untuk bisa membantu sang suami.
Perlahan, Hanin pun keluar dari kamar untuk menuju ruang kerja. Ia melihat lampu di ruangan itu masih menyala. Hanin beralih ke dapur untuk membuatkan sang suami teh hangat. setelah itu, ia kembali ke ruang kerja dan membuka pintu perlahan.
Hanin membuka pintu itu sedikit dan mengintip.
“Kenapa mengintip? Masuk saja,” ucap Kenan tersenyum melihat sang istri yang ingin masuk seperti maling.
Hanin membuka pintu itu lebar sembari membawa nampan kecil. Ia menampakkan jejeran giginya yang rapih.
“Maaf, Ken. Aku mengganggu. Aku hanya ingin memberimu ini.” Hanin menunjukkan nampan yang berisi secangkir teh hangat.
“Sini!” Kenan menyuruh Hanin untuk mendekat.
Hanin patuh dan menaruh secangkir teh hangat itu, sedikit jauh dari meja Kenan karena meja itu terserak banyak kertas.
“Sini!” Kenan menyuruh Hanin agar semakin dekat sembari menepuk kedua pahanya.
Hanin menurut. Ia pun duduk menyamping di pangkuan sang suami.
“Tidak seperti ini! aku ingin kamu duduk menghadapku.”
Hanin kembali berdiri dan duduk di pangkuan Kenan dengan posisi berhadapan. Kedua kakinya mengapit kedua paha Kenan.
Kenan dengan leluasa merengkuh tubuh sang istri. Memeluk perutnya dan mengelus rambut serta wajahnya.
“Mengapa belum tidur?” tanya Kenan lirih.
“Karena kamu belum tidur.” Hanin mengalungkan kedua tangannya di leher Kenan
Kenan tersenyum dan kini kedua tangannya memeluk pinggang sang istri sembari mengelus punggung belakangnya. “Kamu menungguku?”
Hanin mengangguk.
Keduanya terdiam. Lalu, Kenan menempelkan keningnya pada kening Hanin.
“Sayang, maafkan aku. Maaf kalau dulu aku selalu menyakitimu.”
Hanin memeluk kepala Kenan. Ia tahu bahwa suaminya saat ini sedang rapuh.
“Dulu, aku memang membencimu. Benci sekali, karena kamu selalu membuatku susah.”
“Tapi sekarang?” tanya Kenan, setelah ia mengendurkan pelukan itu.
Kenan menatap lekat wajah sang istri tanpa jarak.
“Sekarang?” Hanin pura-pura berpikir.
__ADS_1
Kenan menyipitkan matanya. “Kamu masih membenciku?”
Hanin tertawa. “Kalau aku masih membencimu, aku tidak akan mau duduk di pangkuanmu seperti ini, tuan Kenan.”
Bibir Kenan tersenyum lebar. “Syukurlah.”
“Hmm ... satu lagi,” ucap Kenan serius. Ia menatap kedua bola mata Hanin. “Apa kamu mencintaiku?”
Hanin terdiam. Jujur, ia masih bingung dengan pertanyaan itu. Walau saat ini rasa sayang itu sudah ada, tapi untuk cinta, ia harus lebih menelusuri hatinya.
“Belum?” tanya Kenan lagi dengan menatap wajah Hanin yang menunduk.
“Eum ... Hari ink, aku khawatir melihatmu. Aku tidak bisa tidur tanpamu. Aku nyaman di dekatmu. Aku nyaman berada dalam pelukanmu dan Aku suka kamu menyentuhku. Apa itu cinta?”
Kenan langsung memeluk tubuh Hanin erat dan terus tersenyum. “Itu cinta." Kenan mengulangi kata-katamya. "Itu cinta, Sayang. sama seperti yang aku rasakan.”
Hanin membalas pelukan itu. ia pun tersenyum karena ternyata apa yang ia rasakan pada Kenan lebih dari apa yang ia rasakan pada Gunawan dulu.
Kenan mengendurkan pelukan dan kedua tangannya terangkat untuk menangkup wajah lembut itu. keduanya tersenyum. Hati mereka berbunga. Rasanya lega, setelah mengutarakan apa yang mereka masing-masing rasakan.
Cup
Kenan ******* bibir lembut Hanin dan Hanin pun membalasnya. Penyatuan bibir yang semula lembut dan ringan, kini menjadi ganas. Kenan mulai membelit lidah Hanin, hingga suara kecapan itu terdengar nyaring di ruang yang sunyi itu.
Kenan yang memang menggilai bibir sang istri pun, masih terus menikmati pangutan itu. Kemudian, ia melepas pangutan itu, setelah nafas Hanin mulai tersengal.
“Mmpphh ...” dada Hanin naik turun. Ia menghirup udara banyak setelah Kenan melepaskan pangutan.
“Semakin bisa mengimbangiku,” goda Kenan, sembari mengusap sisa saliva yang menempel di bibir Hanin dengan menggunakan ibu jarinya.
Kenan tertawa. “Sebenarnya aku ingin mengajari hal lain lagi, tapi lagi puasa, jadi ngga bisa.”
Hanin tertawa. “Dasar mesum akut.”
Akhirnya, kedua insan ini tertawa bersama. Kenan sangat terhibur dengan kehadiran Hanin, karena wanita itu selalu membuatnya bahagia. Mungkin, jika ia belum menemukan Hanin. Ia pasti akan memarahi setiap orang yang bertemu dengannya dan mungkin Siska semakin menjadi bulan-bulanan si macan tutul ini.
“Terima kasih, Sayang.” Kenan memainkan wambut lurus Hanin. Ia melinting ujung rambut itu.
“Untuk?” tanya Hanin.
“Untuk maaf yang kamu berikan dan untuk rasa bahagia ini. kamu selalu membuatku tertawa. Aku seperti tidak memiliki beban, jika berada di sini. tapi keluar dari apartemen ini, beban itu kembali menghampiri.”
“Apa yang terjadi tadi?” tanya Hanin lagi.
Kenan terdiam. Jari telunjuknya masih melinting ujung rambut Hanin dengan gerakan perlahan. Cukup lama, keduanya terdiam.
“Jika masih belum ingin cerita, tidak apa?” Hanin menepuk dada suaminya dan tersenyum. “Sekarang istirahat yuk! Sudah malam.”
Hanin hendak bangkit dari pangkuan itu. Namun, Kenan menahan pinggang Hanin.
“Aku ingin cerita.”
Hanin kembali duduk sempurna menghadap sang suami dan mendengarkan dengan seksama setiap kata yang di ucapkannya.
__ADS_1
“Vicky? Vicky asistenmu?” tanya Hanin.
Kenan mengangguk. “Aku kecewa padanya. Selama ini dia adalah satu-satunya orang yang aku percaya. Namun, menusukku dari belakang dengan apa yang dia lakukan ini.”
Lalu, Kenan kembali bercerita tentang persahabatannya dengan Vanesa, Vicky, dan Gunawan. Lama Kenan bercerita, hingga Hanin pun mengerti. Ia pun dapat menarik kesimpulan. Ternyata ia juga menjadi salah satu korban dari benang kusut ini.
“Ya, Tuhan. Mengapa jadi serumit ini,” ucap Hanin.
“Ya, ini sangat rumit. Aku pun tidak tahu bagaimana keluar dari masalah ini,” sahut Kenan lesu.
“Kasihan juga Mas Gun,” ucap Hanin lirih.
Kenan mengangguk. “Aku selalu menyebutnya pria brengsek. ternyata ada sebab dari kebrengsekkannya. Dan, sekarang wanita yang dia cintai telah aku nikahi.”
Hanin menarik nafas. “Semua sudah di takdirkan. Jalannya memang seperti ini.”
“Ehmm ...” Kenan mengangguk dan kembali mengusap lembut wajah Hanin.
“Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Vicky?” tanya Hanin.
Kenan mengerdikkan bahunya. “Entahlah, aku masih enggan bertemu dengannya.”
“Hmm ... satu-satu jalan adalah memaafkan.”
Kenan menatap Hanin lekat.
“Ada dua kata sederhana yang sebenarnya mudah di ucapkan, tapi sulit di praktekkan,” kata Hanin lagi.
“Apa?” tanya Kenan.
“Maaf dan terima kasih,” jawab Hanin. “Vicky sudah mengakui dosanya. Kiara sudah mengakui kesalahannya dan sepertinya dari ceritamu dia sudah berubah. Jadi maafkanlah mereka. Dan, kita juga harus berterima kasih pada Mas Gun, Vicky, Kiara, karena dari benang kusut cinta mereka, malah melahirkan cinta baru. Aku dan kamu.” Hanin menunjuk pada dirinya sendiri dan Kenan.
Kenan tersenyum. “Jadi aku harus memaafkan?”
Hanin mengangguk. “Harus.”
“Tapi aku tetap merasa bersalah pada Papi. Aku tidak bisa menjalankan pesan Papi. Aku gagal menjadi kakak yang baik, Sayang. aku tidak bisa menjaga Kiara,” ucap Kenan lesu.
Hanin tersenyum. Ternyata di balik jiwa Kenan yang angkuh, arogan dan kejam, terdapat sisi yang lembut. Pria itu sangat bertanggung jawab dan memegang teguh janji, karena itulah yang di ajarkan Kean pada putranya. Kean selalu mengajarkan Kenan untuk menjadi pria berjiwa ksatria. Sedari kecil, Kenan sudah di ajarkan untuk tanggung jawab, berani mengakui kesalahan dan tidak pantang menyerah. Hal itu juga yang membuat Vanesa tergila-gila pada sosok Kenan yang ‘cowok banget’.
“Yang penting kamu sudah berusaha. Tuhan tidak menilai manusia dari hasilnya, tapi prosesnya,” jawab Hanin.
Bibir Kenan kembali tersenyum. Ia benar-benar tidak salah menjadikan wanita di pangkuannya ini sebagai istri. Hanin adalah wanita sempurna untuknya. Dia cantik, lembut, baik, dan dewasa. Mungkin jika bersama Vanesa, ia tidak mendapatkan kenyaman seperti ini.
Kenan kembali memeluk Hanin erat. “Aku semakin mencintaimu. Terima kasih, Sayang.”
“Sama-sama, Sayang” Hanin menepuk-nepuk pelan punggung suaminya saat mereka berpelukan.
Kemudian, Kenan mengajak sang istri untuk tidur. Ia memeluk dan mengusap kepala Hanin, hingga wanita itu terlelap. Lalu, Kenan kembali ke ruang kerja, karena masih banyak perkerjaan yang belum ia selesaikan. Ia pun mengerjakan pekerjaan itu hingga menjelang subuh dan kembali ke kamar. Ia mendekati wajah Hanin dan mengelusnya.
"Dia wanita baik. Jika Mami mengenalnya, Mami pasti setuju," gumam Kenan lirih.
Satu hal yang masih mengganjal di pikiran Kenan hingga ia terus berpikir selama di ruang kerja dan mungkin masih tidak akan bisa tidur nyenyak. Ia memikirkan restu dari sang ibu.
__ADS_1
Kemudian, perlahan ia membaringkan tubuhnya di samping sang istri dan memeluk Hanin dari belakang. Ia pun mulai sedikit terlelap.