
Kemudian, Gunawan menceritakan persahabatannya dengan Vicky yang tak lain adalah kakak pertama Vely.
Vely cukup terkejut. “Jadi kamu suami Kiara?”
Gunawan mengangguk dan menceritakan kronologis skandal Vicky bersama istrinya, hingga akhirnya ia menikahi Kiara.
Vely terkejut. Mulutnya menganga tak percaya, karena ia pun tidak pernah tahu urusan percintaan sang kakak, apalagi mereka memang tidak sering bertemu, terutama ketika Vely mulai tinggal di negeri orang.
“Aku sekarang mengerti, mengapa hidupku seperti ini. Semula, aku kecewa dan marah. Terutama pada Kiara, karena dia telah menghancurkan hidupku. Di tambah Hanin yang dengan paksa dinikahi Kenan. Aku semakin dendam dengan kedua bersaudara itu. Namun, ternyata ini terjadi karena ulahku. Tuhan memang adil.”
Velicia mengangguk. “Ya, Tuhan memang adil.”
Sementara, di kediaman Aditama, Kiara sudah mondar mandir di teras menunggu suaminya datang. Namun, hingga pukul tujuh malam sang suami tak kunjung tiba. Padahal sebelumnya, Gunawan berjanji akan menjemputnya tepat pukul empat sore.
Kiara yang sudah berada di dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di ranjang itu pun bangkit. Ia melihat ke arah jendela yang persis pandanganya dapat tertuju pada halaman parkiran luas rumah itu. Ia melihat belum ada mobil Gunawan terparkir di sana. Ia kembali berjalan menuju cermin dan berdiri menatap dirinya di sana.
“Menyedihkan sekali kamu, Ra. Kamu menunggu sesuatu yang tidak pasti,” gumam Kiara lalu tersenyum.
Akhirnya, Kiara memutuskan untuk keluar rumah untuk mencari udara segar. Ia mengambil tasnya dan keluar kamar.
Di bawah, Kiara bertemu dengan sang ibu yang duduk di ruang keluarga.
“Kamu mau kemana, Ra?” tanya Rasti.
“Keluar sebentar, Ma. Kiara sedang ingin vanila latte di cafe xxx.”
“Wah boleh tuh. Mami minta satu ya!” ucap Rasti yang tidak tahu bahwa Gunawan menjanjikan putrinya untuk makan malam di luar.
“Iya, Mam.” Kiara mengangguk.
“Oh iya, Pak Udin masih ada di luar kan, Mam?” tanya Kiara untuk meminta supir sang ibu mengantarkannya.
“Ada, biasanya dia nongrong di pos satpam.”
“Oke,” ucap Kiara sembari menampilkan ibu jarinya pada sang ibu.
__ADS_1
Kiara pun keluar dan memanggil Syamsudin untuk mengantarkan ke cafe itu.
Sesampainya di cafe, Kiara menangkap sosok pria yang ia tunggu sejak sore dari jendela transparan itu. Kiara segaja meminta Syamsudin untuk memarkirkan mobilnya di seberang jalan. Lalu, ia menuju cafe itu dengan jalan kaki.
“Loh, Non. Kok parkirnya di sin? Masih jauh dari cafe itu, Non,” kata Syamsudin.
“Ngga apa pak. Pak Udin tunggu saja di sini. Saya sekalian ingin jalan-jalan. Katanya orang yang mulai hamil besar harus rajin jalan supaya persalinannya lancar.”
“Iya sih, Non.” Syamsudin mengangguk.
Kiara berjalan menyerberang jalan itu dan perlahan mendekati tempat dimana sang suami tengah asyik berbincang dengan seorang wanita. Dari jendela, Kiara hanya melihat wajah wanita itu dari samping. Wajah itu tak terlihat jelas, apalagi wanita itu menutupnya dengan keempat jari yang ditempelkan ke pipi sembari menopang dagunya di atas meja itu.
Di sana, Gunawan dan Velicia sudah nampak cair. Mereka tidak lagi menangis dan tidak lagi canggung/ setelah semua uneg-uneg itu keluar. Velicia juga dengan ikhlas memberi maaf pada Gun dan Gun merasa lega. Akhirnya, ia bisa melangkah hidupnya ke depan dan menata hidupnya menjadi lebih baik. Vely menceritakan hubungannya dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu. terlihat wajah bahagia di sana, saat Vely menceritakan tunangannya.
“Syukurlah, aku senang melihatmu bahagia, Cia.”
“Ya, aku sangat bahagia sekarang. Semoga kamu dan Kiara akan bahagia.”
“Tapi, kakakmu selalu mendekati istriku,” ucap Gunawan.
“Itu deritamu,” ledek Vely.
Kiara tak kuasa melihat itu. Akhirnya, ia menutup kembali pintu cafe dari luar. Ia tidak jadi masuk ke dalam cafe itu.
Di luar, ia masih berdiri dan menatap Gunawan yang juga tengah berdiri di sana bersama wanita itu. Gunawan memeluk Vely.
“Akhirnya kita bisa mengubur masa lalu,” ucap Gunawan ketika berpelukan dengan Velicia.
“Ya, sekarang kita harus fokus pada masa depan.” Velicia mengeratkan pelukannya pada Gunawan. Ia pun merasa kecewa dan sakit hatinya berkurang bahkan mungkin hilang.
“Terima kasih, Velicia Angela.” Gunawan mengucap nama lengkap Vely, sekaligus meledek dirinya sendiri yang baru tahu nama lengkap mantan kekasihnya yang sudah ia pacari selama satu tahun dulu.
Di luar, Kiara masih berdiri menyaksikan kebersamaan sang suami dengan wanita itu. tak terasa, air mata Kiara kembali jatuh. Kiara menunduk dan menghapus jejak air mata itu.
“Kali ini, air mata ini benar-benar yang terakhir,” gumam Kiara sembari menatap jejak air mata yang berada di telapak tangannya.
__ADS_1
Lalu, Kiara kembali berjalan menuju mobil yang terparkir di seberang sana.
“Loh, Kok cepet Non?” tanya Syamsudin.
“Iya, Pak. Minuman yang saya mau, ternyata habis,” jawab Kiara bohong.
Kiara masuk ke dalam mobil dan mereka kembali pulang.
Sesampainya di rumah. Kiara berjalan santai. Ia mnarik nafasnya kasar dan berusaha mengembalikan ekspresi di wajahnya. Ia tak ingin ketika bertemu Rasti, sang ibu akan curiga.
“Loh, kok cepet. Ra?” tanya Rasti.
“Iya, Mam. Cafe nya tutup,” jawab Kiara yang lagi-lagi berbohong.
“Kiara, langsung tidur aja ya Mam. Capek!” ucap Kiara lagi.
“Kamu tidak menunggu Gunawan pulang?” tanya Rasti lagi.
Kiara menggeleng. “Ngga, Mam. Mas Gun juga paling langsung tidur. dia pasti sudah makan malam di luar dengan temannya.”
Kiara langsung berlalu dari hadapan sang ibu, membuat Rasti menarik nafasnya kasar.
Sesampainya di dalam kamar, Kiara langsung mengganti pakaiannya dan menghapus make up natural yang sedari tadi ia oleskan untuk menyambut sang suami. Rasanya mulai hari ini, ia memang tidak perlu mencairkan hati itu kembali. Biarlah untuk selamanya membeku dan tidak akan mengharapkan kehadiran pria yang semual sudah membuat dirinya kembali terbang. Namun, Gun menajtuhkannya lagi untuk kesekian kali. Menurut Kiara, Gunawan mungkin memang tidak bisa memaafkan kesalahannya.
Beberapa menit kemudian, Gunawan sampai di rumah Aditama. Ia pulang ke rumah itu dengan keadaan yang sudah sepi. Ia melewati ruang keluarga, tempat yang biasanya Rasti duduk. Namun, di sana tidak ada satu orang pun. Sepertinya, Rasti sudah berada di kamar.
Gunawan langsung menuju kamar kiara. Ia membuka kamar itu dan melihat Kiara yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Perlahan ia mendekati Kiara yang ebrbaring membelakanginya. Ia duduk di tepi ranjang itu dan menepuk keningnya.
“Ya ampun,” gumam Gun saat ingat bahwa siang tadi ia janji akan menjemput Kiara dan membawanya makan malam di luar.
“Si*l, mengapa lupa.” Gunawan masih mengumpat kecerobohannya.
Namun, malam ini memang penting. Jika haru memilih, ia memang akan memilih untuk bertemu Velicia dan membereskan urusan masa lalunya dulu. Tetapi ia lupa, seharusnya ia memberi kabar pada Kiara.
Gunawan menatap tubuh itu.
__ADS_1
“Maafkan aku, Ra. Mulai detik ini, aku akan membahagiakanmu,” gumam Gunawan dengan suara yang cukup terdengar. Namun, Kiara tak mendengar karena sudah tertidur pulas.
Flashback off