Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
See you again


__ADS_3

Sejak siang Hanin sudah berada di kantor Kenan, menunggu hingga sore untuk bersama-sama menuju rumah sakit. Kenan tampak senang, karena selama bekerja ia ditemani oleh sang istri. Namun, Hanin tampak bosan. Ia sudah membaca berbagai macam buku yang terjejer di sana.


Hanin berdiri dan mendekati suaminya. Ia sedikit menunduk mensejajarkan tubuhnya, pada Kenan yang sedang duduk.


“Sayang, masih lama ya?” tanya Hanin dengan nada manja.


Kenan menoleh ke wajah sang istri dan menangkup wajah itu dengan satu tangannya. “Kamu bosan?”


Hanin mengangguk.


“Oiya, bagaimana kalau aku membantumu?’ tanya Hanin memberi inisiatif agar di ruangan ini ia melakukan kegiatan.


Kenan tersenyum. “Ide bagus.” Ia menyerahkan setumpuk dokumen yang berada di sampingnya. “Tolong, di urutkan sesuai tanggal ya, Sayang. Nanti aku tinggal meng-input.”


Hanin menerima dokumen itu. “Mengapa pekerjaan ini, kamu yang kerjakan? Bukan Siska?”


“Siska hanya memegang proyek kecil, sedangkan ini semua proyek besar. Hanya aku dan Vicky yang menangani ini.”


“Oh iya, ngomong-ngomong Vicky. aku tidak melihatnya sejak sampai di sini. Kemana dia?” tanya Hanin sembari duduk di hadapan Kenan dan merapihkan dokumen sesuai yang diperintahkan.


“Ada tadi pagi. Terus, dia ketemu klien dan setelah itu dia memang tidak kembali ke kantor karena ingin mengunjungi travel milik temannya.”


“Travel? Tumben, kamu menyuruhnya libur.” Hanin tersenyum tipis sembari matanya tetap terarah pada dokumen itu.


“Aku tuh bos yang pengertian, Sayang.” Kenan mem!perhatikan sang istri yang duduk di depannya dengan menopang dagu.


Hanin melirik ke arah sang suami. “Ya, memang seharusnya seperti itu. Dia memang butuh waktu untuk sendiri. Seharusnya, sejak Kiara menjadi istri Mas Gun, Vicky tidak perlu mengharapkan Kiara lagi.”


Kenan mengangguk. “Ya, aku juga tidak menyangka !!sebesar itu cintanya pada Kiara. Tapi seingatku,selama empat tahun Kiara menikah, Vicky memang tidak pernah mengganggu atau mendekati Kiara. Kecuali, jika memang Kiara sendiri yang meminta bantuan. Yang aku tahu, dia iu playboy dan sering menjelajah wanita baru di night club. Aku tidak tahu, ternyata kelakuannya itu hanya bentuk pelarian untuk melupakan Kiara. Dan, setelah Gunawan serius denganmu dulu hingga Kiara mencoba bunuh diri, Vicky mulai mendekati Kiara lagi. Walau semula aku mendukung, karena aku pikir Kiara dan Gun akan bercerai. Dan, yah ... ternyata takdir berkata lain.”


Hanin mengangguk. “Ya, takdir berbicara lain.” Hanin terdiam sejenak, lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap sang suami.


“Tunggu! Vicky sering menjelah wanita baru di night club. Kamu juga?” tanya Hanin.


Kenan mulai mengerjai isrtrnya. Ia menghentikan aktifitasnya sejenak, lalu membalas tatapan sang istri. “Kasih tahu ga ya?”

__ADS_1


“Hmm ... Kenan,” rengek Hanin. “Sudah berapa wanita yang kamu tiduri sebelum aku.”


Kenan tersenyum menyeringai sembari memegang dagunya. “Berapa ya? Sepertinya ngga bisa dihitung dengan jari.”


“Kenaaaaan ...” teriak Hanin dengan suara nyaring dan melengking, membuat Kenan langsung menutup telinga dan tertawa geli.


****


Di jam yang sama, Vicky masih bernegosiasi dengan klien sambil menikmati makan siang. Tidak lama setelah negosiasi itu selesai, Vicky malajukan mobilnya untuk menemui salah satu temannya yang bergerak di bidang jasa travel. Ia masih belum tahu, akan berlibur kemana. Namun, ia memang butuh liburan untuk merefresh fikiran dan hatinya.


Setelah sampai di kantor travel itu, Vicky memarkirkan mobil dan masuk ke dalam. Di sana ia menangkap sosok wanita yang tak asing, saat melewati salah satu ruangan terbuka, ketika ia hendak menemui temannya di sebelah ruangan itu.


“Hai, Vick,” sapa teman Vicky ketika ia keluar dari ruangan dan menemukan Vicky tengah berdiri di belakang wanita yang tak asing menurutnya.


“Hei.” Vicky membalas sapaan itu.


Vicky pun langsung menghampiri Adi yang berdiri di depan pintu ruangannya. Ia sekilas menoleh ke arah wanita yang tak asing itu.


“Rea,” gumam Vicky. Lalu, ia melepas pandangannya terhadap Rea dan kembali mengarah pada Adi.


Rea tidak lagi mengingat pertemuannya dengan Vicky, yang ia sebut sebagai om mesum.


“Gue liat lu merhatiin cewek tadi. Kenapa? Kenal?” tanya Adi, teman semasa kuliahnya dulu.


Vicky mengangguk. “Ya, gue kenal.”


Adi tertawa. “Gila lu, anak masih kecil aja, masih mau di embat juga.”


Vicky tertawa. “Kenal, bukan berarti gue udah nidurin dia kan.”


“Parah.” Adi tertawa dan menggelengkan kepalanya. Ia tahu betul siapa temannya ini.


“Dia kerja di sini? Apa custumer juga?” tanya Vicky lagi.


“Wah, keypoh banget nih romannya.” Adi kembali tertawa.

__ADS_1


Vicky menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki. “Cuma mau tanya aja, Di. Kemarin gue sempet ada masaah sama dia.”


“Dia itu, guide freelance di sini. Anaknya supel dan bahasa inggrisnya fasih. Tapi kasihan, maasih muda udah jadi tulang punggung karena kedua orang tuanya udah meninggal dan sekarang dia menaanggung sekolah kedua adiknya.”


“Oh ya?” tanya Vicky terkejut. Kisah Rea kembali mengingat perjuangannya dulu untuk Vedy dan Vely.


Adi mengangguk. “Ya, jadi kalau ada job, kita selalu mengutamakn buat dia. Anaknya sih gigih, mau kerja apa aja yang penting halal katanya. Dia juga sering nyanyi di cafe xxx atau di wedding organizer.”


“Waw.. wanita tangguh.” Vicky tersenyum mengingat sikap bar-bar Rea. Namun, di balik itu semua ternyata banyak keunggulan dari gadis aneh itu.


“Sekarang dia tugas jadi guide untuk perjalanan kemana?” tanya Vicky.


“Labuan bajo selama satu minggu. Dia juga yang akan membawa customer kita menjelajah alam, seperti di acara tivi yang petualangan alam gitu.”


“Kapan berangkatnya?”


“Lusa.”


Vicky langsung mengembang senyum. “Okey, gue ambil paket liburan itu.”


Adi ikut menyungging senyum. “Wah kayanya ada udang di balik bakwan nih.”


“Enak dong,” jawab vicky asal.


“Awas ya lu macem-macem sama Rea. Masih ting-ting tuh.”


“Hahahahaha ...” Vicky tertawa. “Emang mau gue apain dia. Suudzon lu.”


Adi pun ikut tertawa. “Oke, kalau gitu gue daftarin lu buat ikut ke sana ya.”


“Oke.” Vicky menampilkan ibu jarinya ke atas.


Entah mengapa ia masih tersenyum mengingat gaya Rea yang bar-bar itu. mungkin akan menyenangkan jika berlibur di dampingi guide seperti dia, liburannya mungkin akan semakin seru. Ia kembali menyungging senyum. Lalu berbincang sejenak dengan Adi dan kembali pulang.


“Rea, see you again,” gumam Vicky yang berdiri di dalam kantor sembari melihat Rea dari dalam jendela. Ketika Rea menaiki motor maticnya dan hendak pergi meninggalkan kantor travel itu.

__ADS_1


Rea tidak tahu, bahwa perjalanannya nanti akan mempertemukannya lagi oleh om-om mesum yang melecehkannya, walau hanya dengan kata-kata. Rea memang gadis yang tangguh. Ayahnya meninggal karena gagal ginjal ketika dia duduk di bangku SMA kelas sepuluh. Rea yang semula anak manja karena memang terlahir dari keluarga kaya, kini harus banting setir dan tangguh karena kekayaan sang ayah habis untuk pengobatan ayah dan ibunya yang juga meninggal setelah dua tahun dari kepergian sang ayah karena kanker serviks.


__ADS_2